Suasana diluar masih redup. Mentari mulai menyibakan malam. Lalu-lalang suara motor datang silih berganti. Ihshan masih tetap tertegun dalam ruangan sepi. Ia mencoba untuk menggoreskan tinta dan mendeskripsikan siapa aku. Walu ia tahu ini tak seutuhnya dapat menggambarkan siapa dirinya. Mentari semakin meninggi. Suara AC masih tetap silih berganti masuk menggetarkan gendang telinga yang terkedang tak terasa. Seorang pria berkulit hitam manis masih tertegun di depan meja yang besar. Ia mencoba untuk menulis siapa dirinya.
“Dalam suatu malam aku mulai bertanya siapa diriku ?”, pria hitam manis itu mulai meggoreskan tintanya di atas kertas putih.
“Aku tak dapat menjawabnya”, tulisnya lagi pada baris selanjutnya.
Hingga akhirnya seorang teman dihadapannya yang menjadi rekan sejawatnya memecahkan kesunyian dalam pikirannya.
“Mas, saya reza”, temannya yang sudah lebih dahulu bekerja di ruangan itu mengenalkan diri.
“Oh iya, mas…saya Ihshan”, lelaki kelahiran Jakarta dan besar di jawa barat itu langsung memperkenalkan dirinya sekaligus menyodorkan tangganya untuk berjabat tangan sebagai tanda perkenalan.
“Bisa tolong ceritakan siapa mas sebenarnya ”, pertanyaannya menohok bak peluru yang dihujamkan oleh James Holmes, pelaku penembakan membabi buta di sebuah bioskop di Denver, Colorado.
Ihshan terheran-heran dengan pertanyaanya seperti seorang polisi yang menginvestigasi maling sandal di masjid yang tertangkap masyarakat. Pertanyaan yang telah menjadi gulatan di dalam pikirannya menjadi nyata. Lidahnya sekonyong-konyongnya menjadi kelu. Baginya hal itu pertanyaan yang simpel tapi susah untuk dijawab.
“ Aku ini….”, ia agak gugup untuk mulai menjawab.
“Aku adalah seorang pria yang menyukai musik dan sangat keranjingan dengan yang namanya membaca plus menulis. Aku lebih banyak menuangkan tulisanku di dalam blog dan buku harianku. Berbagai macam buku aku lahap semenjak kecil. Tapi begitu aku tumbuh menjadi seorang lelaki dewasa. Aku mengekslusifkan diriku untuk mempelajari tentang psikologi. Karena psikologi sangat menarik bagiku”, Ihshan menjawab dengan pembukaan yang agak panjang.
“Mengapa tidak kamu coba lebih kerucutkan lagi, apa interest penelitiannmu atau apa yang kamu suka pelajari ?”, Tanya teman satu ruangannya sambil membetulkan kaca matanya yang sering turun karena membaca buku-buku criminal psychology. Wajar saja nada bertanyanya seperti reserse.
Ihshan mencoba untuk membetulkan tempat duduknya.
“Aku senang melakukan penelitian di bidang self-regulation/ self-control, dimana area ini masuk dalam kategori personality and social psychology. Self-regulation adalah bagaimana seseorang mampu untuk menahan dirinya untuk melakukan hal-hal yang bersifat untuk kepuasan sementara demi tujuan jangka panjang.”, ia mencoba untuk menjelaskan topik utama yang menjadi penelitiannya.
Ihshan mencoba melanjutan lagi setelah menelah air ludahnya karena kehausan akibat puasa hari ini yang hanya di ganjal oleh 2 gepok roti gandum sebelum azan subuh berkumandang.
“Kegagalanku masuk ITB jurusan Teknik Informatika tak mampu untuk mengurungkan kegemaranku untuk “melihat-lihat” teknologi. Dengan background psikologi yang aku punyai sekaligus interest terhadap teknologi. Aku mencoba memahami bagaimana Self-control berperan dalam penggunaan teknologi. Ataupun sebaliknya bagaimana teknologi mempengaruhi self-control”. Cowo yang suka berpakain urakan itu mencoba memberkan background hingga menuju pada penggabungan interest nya pada Psikologi dan teknologi.
“Lalu, mengapa kamu tertarik dengan teknologi dan self-control ?”, Tanya reza yang sedari tadi asik berkutat dengan computer kecilnya yang ber-merek Acer. Sembari meng-aktifkan kemapuan multi-taskingnya: Ngobrol, main game, baca email, dan menulis sekaligu dalam waktu yang bersamaan.
“Mengapa ?”, Ihshan mengulang pertanyaan kawannya tersebut sambil mencoba untuk mengkonfirmasi.
“Ia dong….”, tandas reza dengan nada ambon sedikit melayu yang mendayu-dayu.
“Kehadiran teknologi saat ini menyebabkan unique pattern behaviour, (seperti: online game or internet dependency (addiction), Social networking use related issues, the emergence of technological devices (e.g. iphone, BB, and ipad) that affect the way people think and relate to their surrounding), yang tidak pernah ada sebelumnya menjadi sebuah fenomena-fenomena yang telah merebak. Bak nyamuk yang berkeliaran ketika musim panas datang.”, Pria yang besar di tanah parahyangan tersebut memberikan penjelasan agak sedikit panjang sambil menatap pria pendiam yang ada di hadapannya itu.
**
Terik mentari semakin menyegat. Suasana diluar semakin tak bersahabat karena ia dapat mengeringkan tenggorokan orang-orang yang berpuasa. Jurusan Psikologi-pun mulai terasa senyap. Tiga orang mahasiswa magang yang bederetan di tengah ruangan jurusan duduk seperti para serdadu yang menunggu genderang perang di dentum.
Temannya yang besar di daerah Indra giri itupun melontarkan pertanyaan lagi. Sepertinya ia tidak puas akan jawaban yang diberikan tentang kawan satu ruangannya itu.
“Terus, apalagi yang interest kamu?”, reza bertanya lagi.
“Hanya itu saja, mas ?”, Tandasnya lagi kata pria yang sangat terkesan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta itu. Hingga memanggil orang sunda, batak, padang,melayu, hingga papuapun dengan sebutan “mas”.
Ihshan bergumam sejenak. Sambil melihat ke berbagai arah di ruangan kerjanya. Ia membetulkan jaketnya karena ia tidak tahan dengan dinginnya AC di ruangan. Ia mencoba fokus karena ia tidak dapat berpikir dengan jernih ketika keramaian silih berganti masuk ke telinganya.
“Ada, mas”, jawab Ihshan dengan nada sumringah karena masih punya jawaban untuk kawannya itu.
“Saya juga tertarik di bidang social psychology, lebih detailnya adalah aku tertarik bagaimana self-control berperan dalam kehidupan sosial manusia. Seperti contoh, bagaimana manusia bisa menahan dirinya untuk tidak melakukan tindakan asusila,marah yang berlebihan, kekerasan, dan mengambil keputusan yang gegabah (rushed decision-making) yang dapat merugikan banyak orang”, Ihshan mencoba untuk menjelaskannya dengan tenang.
Selang beberap detik Ihshan kembali menambahkan, “Saya juga tertarik bagaimana perilaku-perilaku asusila terjadi dalam dunia virtual termasuk personaliti yang deviant dalam dunia internet”.
Hari semakin siang. Jarum Jam menunjukan pukul 11.01. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Mereka saling berkenalan dan bertukar pikiran. Keheningan masih juga belum tercipta dalam ruangan yang sempit itu. Kegiatan masih berjalan seperti biasanya. Suara-suara burung sesekali terdengar berkicau dari seberang musola kampus kijang di hari ke 4 puasa. Siup-siup angin terasa menyelinap masuk melalui kaca jendela yang sedikit tersibak. Mentari semakin terik. Tugas-tugas lain telah menunggu. Dua orang kawan itu kembali menghadapi jurnal-jurnal yang ada di hadapan mereka, sambil melambaikan tangan kearah yang sama sebagai tanda mereka harus kembali lagi menyelesaikan tugas mereka masing-masing.
1 comment:
hahaha, jadi teringat ketika diajar oleh Pak Reza, suasana interogasinya sangat terasa :D
Post a Comment