Goenawan Mohamad menorehkan “Luka”, 3 Nopember 1984. Tulisan yang berjudul “Luka” tersebut adalah tentang peradaban islam yang baru saja runtuh di awal abad ke 20 dan menyebabkan rasa pedih yang mendalam di kalangan umat Islam, wounded civilization, meminjam istilah V.S. Naipaul. Jika siapapun umat islam yang diceritakan tentang Ibnu Khaldun atau Ibnu Sina, perasaannya akan tergiris seperti luka yang disayat dengan silet lalu ditaburi oleh garam.
Islam adalah sebuah ajaran agama yang komprehensif karena ia mencakup segala aspek kehidupan manusia mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Ketika kemasyhuran agama itu jatuh, maka bukan berarti ajaran itu berubah dan menyebabkan ia tak lagi shinning. Akan tetapi lebih kepada karakteristik orang-orang yang menganut ajaran tersebutlah yang telah berubah drastis. Karena islam tidak bisa terlihat indah jika ajarannya hanya berada dalam sebuah kertas yang bagus dan ditulis dengan tinta yang mahal.
Islam telah jatuh luluh lantah dari sebuah kejayaan yang tinggi, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun budaya pada zamannya. Tapi apa mau dikata, itu semua telah terukir dan menjadi bagian dari sejarah manusia. Sejarah itu penting untuk dilihat dan dipelajari agar tidak terulang lagi. Dua hal yang pasti dan selalu ada dalam naik turunya sebuah peradaban: Politik dan Ekonomi. Kedua hal ini bersumber dari keinginan dasar manusia dimana ia sangat gemar mengumpulkan harta dan menggenggam kekuasaan.
Peradaban akan selalu naik dan turun dalam perjalannya. Keadaan seperti ini bukan seharusnya membuat muslim manapun hanyut dalam kesedihan dan nostalgia yang ada. Keadaan susah dan sulit sepatutnya membuat manusia berpikir bagaimana ia dapat bangkit dan menyembuhkan luka yang ada. Hingga suatu saat ia menjadi bagian dari healed civilization. Sebuah peradaban yang telah sembuh. Islam memang belum mati, tapi ia hanya terseok-seok untuk bernafas dalam gemerlap kehidupan dunia yang tak memenentu. Ia tetap mencoba menampakan dirinya ditengah-tengah keramaian yang ada, walau terkadang ia harus jatuh tersungkur. Tapi satu hal yang pasti, ia tak pernah menyerahkan nadinya untuk mati, ia tetap bangkit, segetir apapun kenyataan yang ia hadapi. Keyakinan untuk bangkit itu masih tetap terpancang disamping luka yang masih menganga. Walau lama, tapi ia simpan keyakinan itu dalam-dalam, agar tak tererosi oleh warna-warna yang ada.
Jakarta, 16 Juli, 2012
06.30 pagi
No comments:
Post a Comment