Dalam sebuah buku yang yang dikarang oleh Prof.Hamka “kenang-kenangan hidup”. Ia mengutip Al-ghazali “Tidak ada yang lebih baik daripada apa yang telah terjadi”. Sebuah perkataan yang simple akan tetapi menyimpan sebuah makna yang sangat dalam. Kata-kata itu membuatku berpikir lebih lama dan lebih bijak tentang hidup ini. Hamka menceritakan dalam bukunya bahwa ia telah mengalami gunjangan yang sangat besar di mulai ketika orang tuanya bercerai dan kemudian sang Ibu pergi menghadap Ilahi. Setelah itu tak henti-bentinya ia difitnah oleh musuh-musuh nya. Termasuk telah melakukan plagiat hingga akhirnya ia dituduh ingin melakukan makar terhadap soekarno yang menyebabkan ia harus berdiam di dalam bui.
Banyak coba-cobaan yang dialami oleh manusia baik, walaupun terkadang memang harus berakhir di tiang gantungan. Segala sesuatu yang terjadi itu telah digariskan oleh sang Ilahi. Manusia ada di bumi bukan untuk memikirkan hidupnya akan tetapi untuk menjalankan apa yang telah ditorehkan oleh Ilahi dalam hidupnya. Dalam setiap perjalanan manusia, kemanapun ia pergi walaupun ke kutub utara. Ia akan selalu menemukan sedih dan senang, susah dan mudah, tawa dan tangis. Hingga bermacam-macam pasangan-pasangan sifat yang selalu kontradiksi antara yang satu dan lainnya. Itu pelengkap hidup.
Keadaan yang dialami sehari-hari sepatutnya dapat membuat siapapun untuk dapat mengerti bahwa hidup selalu penuh dengan warna-warni. Hari berganti malam. Malam berganti pagi. Begitulah siklus yang ada di bumi ini hingga kesenangan berganti dengan kemalangan. Dunia selalu menawarkan berbagai nuansa yang berbeda, yang terkadang kita tak mengerti mengapa itu bisa terjadi. Akan tetapi dunia telah menawarkan sesuatu yang pasti, yaitu mati. Karena pada akhirnya sebuah kutipan yang menggugah , “Fa ayna Tazhabuu” (Where will you go ? Kemana kamu apa pergi). Sejauh apapun dan kemanapun manusia berjalan tetapi pada akhirnya ia akan menuju pada tujuan yang sama : kematian.
Apapun yang terjadi dalam hidup. Jangan terlalu disesali karena pikiran manusia terbatas untuk dapat melihat dan memprediksi dengan pasti apa yang akan terjadi di masa depan. Maka terima saja yang terjadi dengan ikhlas dan prasangka yang baik karena :
“Tidak ada yang lebih baik daripada apa yang telah terjadi”
Jakarta, 24 Juli 2012
6.24 am
No comments:
Post a Comment