Puasa kali ini cukup berkesan ketika tahun lalu aku memulai puasaku di Kanada dan Jepang. Puasa di Kanada memberikan seni tersendiri dikarenakan waktu yang sangat panjang dan juga agak panas (summer season).Puasa bisa dimulai dari pukul 4.30 am hingga 21.20 pm. Benar-benar sebuah cobaan yang sangat super. Selain tidak makan dan minum, godaan-godaan lain pun juga semakin menantang. Tapi itu menjadi bagian perjalanan hidup yang telah tergores.
Puasa memberiku banyak pelajaran. Mulai kesempatan untuk belajar agama lebih banyak, lebih sabar, dan lebih konsisten. Akan tetapi sesuatu hal yang sangat berkesan kali ini adalah ramadhan mengajarkanku tentang sebuah arti Self-regulation (kontrol diri).
Dilihat dari kacamata scientific, Self-regulation (kontrol diri) adalah sebuah kemampuan untuk menahan diri dari kepuasan sementara demi mencapai tujuan jangka panjang. Tanpa self-regulation maka manusia tidak akan pernah mempunyai budaya dan tidak dapat hidup berdampingan antara yang satu dan lainnya. Contoh lain, tanpa kemampuan mengkontrol diri orang akan selalu melanggar aturan, mencontek, plagiat, berperilaku mesum, nge-Drug, kebut-kebutan di jalan, dan masih banyak segudang perilaku lainnya yang merefleksikan kemampuan self-regulation yang rendah.
Secara fisiologi, sumber energi untuk mengkontrol diri itu adalah glukosa, yang didapatkan dari makanan-makanan yang kita lewatkan melalui tenggorokan kita. Jika seseorang tidak makan dan minum selama satu hari, maka kadar glukosa-nya akan berkurang. Tidak heranlah jika kita pernah mendengar istilah “Hungry man is angry man”. Melihat istilah tersebut, bukanlah rasa lapar yang menyebabkan seseorang marah. Akan tetapi rasa lapar tersebut mengurangi kemampuan untuk menahan diri dari langsung merespon terhadap stimulus-stimulus yang ada tanpa pikir panjang. Maka, dengan lemahnya kemampuan untuk self-regulation, seseorang akan mudah marah jika disinggung dengan hal-hal yang kecil dan tidak signifikan.
Lalu bagaimana dengan orang yang puasa, yang sudah pasti mempunyai kadar glukosa yang rendah, apakah mereka rentan terhadap kehilangan self-regulation ?
Ramadhan adalah sebuah training center, agar seseorang dapat melatih self-regulation nya menjadi sebuah habit.Kemampuan self-control itu seperti sebuah otot. Jika ia sering digunakan maka semakin lama akan semakin kuat. Seperti halnya otot para atlit. Pada awal latihan memang terasa letih, akan tetapi otot tersebut dapat bertahan lama dengan terus berlatih dan berlatih.
Setelah dari kecil aku dididik untuk menjalani puasa, baru kali ini aku dapat melihat makna yang tersirat dari sebuah puasa yang tidak mudah untuk dijalani. Aku dapat melihat apa arti sebuah puasa dari kacamata psikologi. Maka benar puasa itu melatih kesabaran sekaligus mengurangi perbuatan-perbuatan mungkar. Maka tidaklah aneh jika semua agama mempunyai yang namanya puasa untuk melatih ketahanan mental.
Self-regulation adalah hal yang sangat signifikan dalam pembentukan jiwa dan karakteristik manusia. Jika self-regulation dan rasa lapar terus dilatih setiap hari selama satu bulan, maka kemampuan untuk menahan diri, terlebih dalam kondisi emergency, akan menjadi melejit. Dengan harapan manusia dapat mempunyai kontrol diri yang lebih baik selama 11 bulan ke depan setelah ramadhan sirna diterkam bulan baru.
1 Ramadhan 1433 H / 20 Juli 2012
11.35 pm
No comments:
Post a Comment