Mungkin malam tak bergeming ketika embun mulai turun dari langit. Aku masih tetap terpaku di depan pintu kamarku, sewaktu azan subuh telah aku sambut dengan dua rakaat solat yang aku tunaikan. Malam yang hanya berteman sepi kini terasa damai. Entah mengapa, kedamaian itu masih saja menyisakan beribu-ribu pertanyaan di dalam dada.
Di dalam kamarku yang penuh dengan buku dan kertas usang, mulai dari partitur musik klasik hingga buku teknologi, aku dekatkan tanganku ke sebuah buku yang dianggap suci oleh orang-orang muslim di seluruh dunia. Aku mulai jarang menyentuh buku itu. Mungkin dunia.yang melarutkanku...atau mungkin diriku yang mengizinkan untuk dilarutkan oleh dunia. Hingga aku telah jauh dari buku itu. Aku beranikan diri untuk membukanya random. Mataku langsung tertuju pada sebuah tinta yang tergores di pojok kiri atas. Guratan tinta itu mengukir kalimat seperti ini :
"...Follow not Evil's footsteps: if any will
follow the footsteps of Evil he will (but) command what is
shameful and wrong".
Aku terdiam sejenak, mungkin semua aliran-aliran listrik dalam otakku juga ikut terdiam. Hati yang kosong hanya bisa melongo keheranan. Rasionalitas seolah beku. Lidahku mulai kelu. Jiwa ini terasa semakin kosong. Ia menjerit di tengah keheningan subuh.Aku tak mampu menahan jeritan itu. Hingga akhirnya, aku hanya bisa menunduk sebagai sebuah simbol kekalahan di dalam jiwa. Bayangan kehidupan kelam datang silih berganti memberikan ku ejekan yang puas. Euphoria kesenangan sementara kini berubah menjadi gambaran neraka. Aku masih tetap tertunduk dan tembok kamarku masih tetap terhias oleh lukisan-lukisan berbagai negara yang aku singgahi. Iya... aku hanya bisa menunduk untuk detik ini. Tak mampu untuk menyeka air mata yang jatuh menyentuh bumi hingga ia menyeruak bersama embun di pagi hari.
Kamar usangku, 29 Oktober 2012.
Jakarta, 04.32 dini hari
No comments:
Post a Comment