Friday, July 20, 2012

Terapi Jiwa dalam angkutan umum

 

 

Disebuah kereta yang aku tumpangi. Aku menemukan banyak pelajaran di sebuah kereta api commuter yang merupakan “hibah” dari pemerintah Jepang. Apapun itu tak apa, yang terpenting saat ini adalah aku menemukan karakteristik penumpang Indonesia.

Ketika kereta tersebut baru sampai, maka orang berebutan untuk mendapatkan tempat kursi. Aku tak pernah mencoba untuk menjadi bagian dari mereka seolah mereka sangat egois terhadap sesamanya. Perilaku penumpang Indonesia mencerminkan bahwa bangsa ini sudah kehilangna rasa tenggang rasa dan masyarakatnya telah tercabut dari nilai-nilai kemasyarakatan yang ada.

Ketika ada sebuah bangku kosong dan ada 2 orang laki-laki saling melihat bangku kosong tersebut. Lalu mereka pun mencoba untuk saling mendapatkannya dan aku berada di antara mereka. Aku tidak bermaksud untuk menghalangi. Tetapi seseorang dari mereka berlari sekencang mungkin dalam keadaan panik. Setelah ia mendapatkan tempat duduk tersebut ia merasa tidak ada perasaan bersalah sedikitpun. Ia berlagak bahwa itu adalah haknya.

Aku melihat betapa manusia di negeri ini sudah-sudah benar-benar kehilangan rasa untuk saling memberi dan menghargai dengan sesama. Tidak ada rasa saling berbagi lagi. Perubahan karateristik manusia indonesia ini sudah dibawah garis moralitas yang cukup rendah. Jika kita bandingkan dengan penduduk dari negeri yang bukan muslim seperti jepang, amerika, atau Kanada. ENgkau akan merasakan sebuah kenyamanan ketika menaiki angkutan umum.

Angkutan umum pun sudah menjadi sebuah indikator bahwa bangsa ini sudah mengalami sebuah dekadensi moral yang cukup parah. Mungkin kita tidak seharusnya pesimis dengan bangsa ini 100 % untuk membenahi karateristik dan moralnya. Bangsa jahiliyah saja yang suka menghabisi darah dagingnya sendiri ketika baru lahir bisa dirubah menjadi sebuah negeri yang kaya raya, makmur, dan sejahtera.

Mungkin Indonesia sedang mengalami “kejahiliyahan” karakter, sudah barang tentu kita harus merubah kemungkinan tersebut menjadi sebuah kepastian bahwa bangsa yang sakit dengan gejala kejahiliyan ini perlu diobati dengan berbagai macam terapi. Dan yang terpenting adalah terapi jiwa.

Jakarta, 19 Juli, 2012.

06.47 pagi

1 comment:

Vania Antonia said...

Saya sangat setuju Ka, bahkan yang parahnya terkadang penumpang-penumpang kendaraan umum yang lansia atau wanita hamil tidak dipedulikan oleh para kaum lelaki dan kaum muda, rasa tenggang rasa dan empati masyarakat Indonesia sudah luntur :(