Oh....This morning when i woke up and opened my eyes....a weather seems to be very gloomy but nice. Yeah, it is nice because a snow is falling down gradually from a sky. Every single place has turned into white. As if all roads in this city have been changed to become a white carpet.
Now my mind is being enlightened to understand why there is a specific depression that only occurs during winter. Ibn khaldun has mentioned in his Muqaddimah (introduction) that one's level of temperament can be influenced by a temperature of place where he or she lives in. In fact, If we look at a current psychological disorder , winter that is related to gloomy, cold and less amount of sunlight can enhance a level of affective disorder.
A mood and spirit can also be affected by “snow”. Being able to monitor and regulate one's emotion is a very significant method so that human can function properly in his daily life. The weather can help us to understand what human is all about to some extent. Human is never fully understood since the beginning of his existence. In fact, the existence of relationship between environment, e.g. winter, and human condition should bring man to think about a creator of such relationship. In other words, varied relations between weather and one's emotion should bring human to contemplate more the one who has created such complexity and variability of relationship that changes according to a weather.
May Allah shed light on our mind as we contemplate all creations in the universe. Thinking of a beauty of creation without tying it to the creator is similar to people know a path without knowing where they are heading to. Yet, thinking of the creator without being able to think a beauty of His creations is similar to people who know a destination but know not to find a path.
December 31, 2009
9.22 am
Thursday, December 31, 2009
Saturday, December 5, 2009
Salju yang tak pamrih
Malam ini salju mulai turun untuk pertama kalinya....
warnanya putih seputih hati yang baru terlahir dan belum pernah tergurat oleh dosa-dosa yang diperbuat anak manusia.
Biarkan salju itu jatuh hingga menutupi segala apa yang ada di permukaan bumi....
Salju....
Engkau memberikan ketenangan
Engkau kibaskan semua yang ada di sisimu...
Dan engkau jatuh secara perlahan ke atas bibir bumii...
Namun...
Putih mu kini telah lenyap..
Warnanya telah berubah menjadi kecoklat-coklatan dan kehitam-hitaman...
Karena engkau telah terinjak-injak oleh kaki manusia yang semakin beringas !!
Maaf....
Engkau turun dari ribuan kilometer diatasku untuk membuat manusia merasa tenang,...karena segalanya menjadi putih, setelah engkau terjun bebas ke bumi....
Para manusia tak menghargai putihnya tubuh mu wahai salju....
Sekali lagi aku mohon maaafff atas nama anak cucu adam dan hawa.
Mereka hanya menerima putihmu yang polos dan lugu dengan hentakan-hentakan kaki mereka yang kasar...kasar..dan semakin kasar...
Manusia....
Salju.....
Putih mu tanpa pamrih...
Tapi hanya terbalas oleh kaki-kaki yang angkuh.....
Kanada,
Jumat, 4 desember 2009
23.33 pm
Friday, November 13, 2009
Chikita mencari dj jumper
Suasana kampus terlihat masih sunyi. Bangunan-bangunan Multimedia University menjulang tinggi ke atas seolah hendak menggapai angkasa bebas. Langit di atas cerah. Tersenyum manis ke suluruh mahasiswi-mahasiwi modis di kampus itu. Miri dan Fadli selalu datang awal ke kampus. Tujuan utamanya agar tidak mengantri panjang-panjang waktu membeli nasi lemak dan segelas teh tarik untuk mengganjal usus di pagi hari.
“Selamat Pagiii..........”, suaranya terdegar dari jarak yang agak sedikit jauh oleh Miri dan Fadli yang tengah menguyah sarapan paginya.
“Pagiii...”, balas miri dan fadli serentak persis seperti paduan suara tingkat nasional.
“Wahh....pagi-pagi ini kalian udah duluan yah nongkrong di kampus.....”, sergah chikita yang membuat suasana agak sedikit ramai.
“Aku titip yah tas sama buku ku....aku mau pesen teh tarik dulu”, pinta chikita yang hanya diamini oleh anggukan kepala mereka yang masih ngantuk.
“Eh...kamu tau ngga sih...tadi malem aku dengerin radioppidunia lo......!!!”, cerocos chikita yang berusaha membuka bahan obrolan di pagi itu.
“Memangnya siapa yang siaran waktu kamu dengerin radio ?”, tanya miri sambil menyeruput teh tariknya yang masih berbusa-busa.
“Aku ngga tau yah....tapi aku suka lo topiknya....”, jawab chikita sambil mencoba mengingat-ngingat suasana malamnya ditemani oleh dj radioppidunia saat itu.
“Emangnya dia ngomongin apa ?”, sambung Fadli sambil mencelupkan roti canay-nya ke dalam bumbu dal- masakan india.
“Aduh apa yaahhh.....???”, bola mata chikita berputar-putar membuat cahaya yang jatuh ke retinanya agak kurang fokus.
Matahari makin tersenyum lebar disebelah timur malaysia. Para mahasiswa mulai berdatangan. Ada yang di hantar oleh pacar, orang tua, atau juga sopir. Mobil-mobil kelas tinggi bergantian memasuki gerbang kampus Multimedia University. Embun-embun pagi mulai menetes hingga terserap ke bumi. Seperti memori chikita bersama sang dj radioppidunia yang melai terserap hingga masuk ke alam bawah sadarnya.
“Oh iya.....tentang fisika gitu deh...pokoknya menarik deh”, suara chikita tiba-tiba masuk mengejutkan miri dan fadli yang masih terkantuk-kantuk.
“Oh pasti dj patma”, sambung miri.
“Bukan....”, sangkal chikita
“Siapa lagi ?”, tanya miri
“Suara nya laki-laki kok.....”, chikita mencoba membela pendapatnya.
“Katanya dia dari Korea.......”, ingat chikita sambil mendekatkan Tea-O suam (Teh manis hangat) ke bibirnya yang dipoles oleh lip gloss.
“Wah kalo dari korea mah bannyak atuhhhh”, sambung fadli dan miri yang saling bertatapan mata. Bingung untuk menentukan sang dj, sambil mengingat-ngingat dj yang siaran tadi malam .
***
Satu minggu kemudian chikita sudah siap nongkrong di depan radio. Chikita rela tidak mengerjakan tugas kuliah demi mendengarkan sang dj yang mulai menempati 1 cm, ruang dalam hatinya. Jarum jam terus bergulir. Menit berganti menit. Detik berganti menuju detik. 53 menit telah berlalu yang ada hanya lagu dan lagu di radio streaming itu. Tak ada suara sang dj.
“Halo sobatradioppidunia......”, tiba-tiba sebuah suara terdegar dari seberang sana.
“Yesssss......”, chikita merasa puas setelah penantiannya hampir satu jam terasa tidak sia-sia karena akhirnya dj yang dinanti-nantikannya muncul sambil mengepalkan dan menarik ke belakanga sikutnya sebagai tanda keberhasilan.
“Semuanya apa kabar yah.....kangen banget lo udah lama ngga ketemu dan chatting sama sobatradioppidunia......”, sapa sang dj sambil memutarkan lagu bang rhoma yang berjudul Bergadang.
“Kabar baikkkkk dijeeehhhh”, jari jemari chikita yang lentik mulai menari-nari di atas keyboard dan langsung menekan tombol enter.
“Oh iya aku mau sapa-sapa dulu ah....disini ada mela, miri, fadli, dilla, selvi, indri, meity, firman, yoshi dan ANON 9230, 8456, 7546”, sambung sang dj yang mencoba megakrabkan diri dengan para pendengar di chatbox.
“Sobatradioppidunia.....sekarang ini sesi jumper lo...aku cuma ngisi slot yang kosong..karena dj yang seharusnya siaran hari ini, dj HILMY, lagi ngga bisa siaran...cuz dia harus buat laporan di lab.”, ungkap dj jumper saat itu yang tengah siaran.
Perasaan chikita campur aduk. Senang dan kesal. Senang karena bisa tahu nama sang dj yang di nantinya semenjak satu minggu yang lalu. Kesal karena dj hilmy diganti sama dj jumper yang ngga jelas. Hati chikita terperanjat mendengar dj yang sedang siarang adalah bukan dj hilmy yang minggu kemarin nyerocos tentang fisika dan teknologi-teknologi mutakhir.Hmmh...terpesona !!
Kesal, remuk redam, geram karena merasa impianya yang telah terpendam satu minggu hilang ditelan suara dj jumper yang sedang siaran saat itu. Malam itu terasa agak suram oleh chikita yang hanya tinggal sendirian di apartemen kampus yang sangat sepi. Sepi yang seakan bisa membunuhnya secara perlahan tapi pasti.
“Uhuhhh.....bilang kek dari tadi kalo kamu tuh dj jumper”, gerutu chikita karena dj kesayangannya ngga bisa siaran. Tanpa basa-basi chikita mengarahkan mouse nya ke sebuah tanda silang di ujung browser. Jrettttt...! program siaran saat itu ia putuskan.
Langit malam bertambah kelam. Malam ikut bersedih karena chikita menautkan jutaan rasa diangkasa. Kesedihannya yang mengarahkan dunia menjadi bermuram durja. Ia semakin digulung sepi selama 3 jam dalam apartemennya yang sunyi. Chikita kembali menyalakan radioppidunia hanya untuk sekedar mengusir sepi.
“Manusia terlahir tanpa seni....”, kalimat pertama kali yang chikita dengar ketika ia membuka radioppidunia itu lagi. Perasaanya semakin kesal dan agak emosi.
“Apaaann sih nih radio....ngga asik banget sih ....asal ngomong aja nih dj...”, gerutu chikita yang merasa terhina sebagai seorang perempuan yang menyukai seni.
“Hi dj maksud lo apa sih ...kok ngomong gituh ??”, jari-jari chikita semakin lihai berlari-larian diatas keyboard menulis pesan singkat kepada dj melalui Yahoo Messengger.
“Manusia tidak pernah terlahir dengan seni....tapi ia terlahir dengan hati nurani”, jawab sang dj melalui radio. Chikita tertegun. Seperti orang sedang mengheningkan cipta di taman makam pahlawan kalibata.
“Seni tidak pernah terlahir sewaktu bayi mulai menginjakan kakinya ke dunia tetapi seni adalah sesuatu yang terpancar dari hati seiring dengan berjalannya waktu”, kata-kata dj jumper saat itu terdengar makin sakral. Persis seperti sabda alam yang membisukan seluruh marga satwa.
“Seni tak dapat datang begitu saja tanpa hati nurani.....seni berhubungan dengan rasa, mata dan telinga...jika saja salah satu dari mata atau telinga tidak berfungsi....maka manusia masih akan tetap merasakan keindahan sebuah seni....Iya, keindahan yang dapat dirasakan oleh hati nurani...akan tetapi, jika saja hati nurani yang tidak berfungsi.....maka tak ada seorangpun yang dapat memaksakan seseorang untuk dapat merasakan sebuah seni...karena seni adalah sebuah refleksi imaginasi yang terpancar dari lubuk hati”, kalimat dj jumper makin membuat chikita merasa tak sadarkan diri karena kata-katanya menyelinap diam-diam ke dalam hati dan tetap terpasung di relung hati.
Belum lagi chikita membalas dan menghubungi sang dj jumper. Penyiar selanjutnya sudah masuk.Ia tak sempat lagi memberikan kontak pada sang dj jumper. Kata-katanya tertinggal dan terpatri di lubuk hati chikita. Suaranya masih terngiang-ngiang. Chikita merasa agak berdosa telah berburuk sangka kepada sang dj jumper ketika membuka radio. Minggu-minggu berikutnya chikita dengan setia menunggu di waktu yang sama dengan harapan dapat bertemu dengan dj jumper. Kini ia sudah tak peduli lagi dengan dj hilmi. Sudah terhapus dari memorinya. Yang ada dalam benaknya hanyalah sang dj jumper. Ia merasa membran hatinya telah tergetar sampai memberikan sedikit celah kepada kalimat sederhana sang dj jumper hingga akhirnya mengalir di setiap pembuluh darahnya.
“Kapan yah..saya bisa dengerin dan bertemu dengan sang dj jumper lagi ?”, chikita bertanya dalam hati dengan agak sedikit menyesal sekaligus menaruh simpati pada sang dj jumper. Iya, sang dj jumper yang tak pernah diketahui.
“Hmhmmh....Akan aku cari si dj sampai kemanapun juga...”, chikita membatin sekaligus berjanji pada dirinya, seperti sumpah palapa yang diucapkan Gajah Mada pada saat pelantikan menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit.
Rasa penasaran semakin menggunung di dalam hatinya. Hingga ia melamar dan memasukan aplikasi untuk menjadi penyiar di radioppidunia. Demi mencari sang dj jumper. Chikita diterima !!!. Sampai beberapa hari setelah penerimaannya sebagai seorang dj, chikita masih saja penasaran dengan sang dj jumper. Hasilnya masih saja nihil.Ia tak menemukan sang dj jumper.
Suasana Multimedia University masih tetap tegar berdiri di daerah putrajaya, pusat pemerintahan malaysia. Jembatan cyberjaya masih terlihat melintang diatas air. Suasana hati chikita masih tak menentu. Satu bulan telah berlalu semenjak siaran itu. Dj jumper tak pernah ada lagi. Yang ada hanya suaranya yang masih tetap terngiang-ngiang dia auditory system sang chikita. Chikita masih tetap menjadi pendengar setia radioppidunia. Hatinya resah...gelisah...hingga ia tak merasa bahwa semuanya telah berubah...siang berganti malam...malam berganti siang....dj jumper tak pernah nyata...yang ada hanya chikita rasa, dan asa.
Arak-arak awan tipis terlukis di atas langit. Ingin rasanya chikita melukis awan yang tergantung diatas sana. Melukis sang dj yang tak pernah kembali. Hati kecilnya berkata: “izinkan aku melukismu...walau hanya sekedar bayang-bayangmu”. Diatas sana lagit saling memantulkan warna biru, menyerap cahaya mentari sebelum jatuh menyetuh bumi. Chikita masih tetap mencari.....Sang dj yang tak pernah kembali.
(Dj Jumper)
“Selamat Pagiii..........”, suaranya terdegar dari jarak yang agak sedikit jauh oleh Miri dan Fadli yang tengah menguyah sarapan paginya.
“Pagiii...”, balas miri dan fadli serentak persis seperti paduan suara tingkat nasional.
“Wahh....pagi-pagi ini kalian udah duluan yah nongkrong di kampus.....”, sergah chikita yang membuat suasana agak sedikit ramai.
“Aku titip yah tas sama buku ku....aku mau pesen teh tarik dulu”, pinta chikita yang hanya diamini oleh anggukan kepala mereka yang masih ngantuk.
“Eh...kamu tau ngga sih...tadi malem aku dengerin radioppidunia lo......!!!”, cerocos chikita yang berusaha membuka bahan obrolan di pagi itu.
“Memangnya siapa yang siaran waktu kamu dengerin radio ?”, tanya miri sambil menyeruput teh tariknya yang masih berbusa-busa.
“Aku ngga tau yah....tapi aku suka lo topiknya....”, jawab chikita sambil mencoba mengingat-ngingat suasana malamnya ditemani oleh dj radioppidunia saat itu.
“Emangnya dia ngomongin apa ?”, sambung Fadli sambil mencelupkan roti canay-nya ke dalam bumbu dal- masakan india.
“Aduh apa yaahhh.....???”, bola mata chikita berputar-putar membuat cahaya yang jatuh ke retinanya agak kurang fokus.
Matahari makin tersenyum lebar disebelah timur malaysia. Para mahasiswa mulai berdatangan. Ada yang di hantar oleh pacar, orang tua, atau juga sopir. Mobil-mobil kelas tinggi bergantian memasuki gerbang kampus Multimedia University. Embun-embun pagi mulai menetes hingga terserap ke bumi. Seperti memori chikita bersama sang dj radioppidunia yang melai terserap hingga masuk ke alam bawah sadarnya.
“Oh iya.....tentang fisika gitu deh...pokoknya menarik deh”, suara chikita tiba-tiba masuk mengejutkan miri dan fadli yang masih terkantuk-kantuk.
“Oh pasti dj patma”, sambung miri.
“Bukan....”, sangkal chikita
“Siapa lagi ?”, tanya miri
“Suara nya laki-laki kok.....”, chikita mencoba membela pendapatnya.
“Katanya dia dari Korea.......”, ingat chikita sambil mendekatkan Tea-O suam (Teh manis hangat) ke bibirnya yang dipoles oleh lip gloss.
“Wah kalo dari korea mah bannyak atuhhhh”, sambung fadli dan miri yang saling bertatapan mata. Bingung untuk menentukan sang dj, sambil mengingat-ngingat dj yang siaran tadi malam .
***
Satu minggu kemudian chikita sudah siap nongkrong di depan radio. Chikita rela tidak mengerjakan tugas kuliah demi mendengarkan sang dj yang mulai menempati 1 cm, ruang dalam hatinya. Jarum jam terus bergulir. Menit berganti menit. Detik berganti menuju detik. 53 menit telah berlalu yang ada hanya lagu dan lagu di radio streaming itu. Tak ada suara sang dj.
“Halo sobatradioppidunia......”, tiba-tiba sebuah suara terdegar dari seberang sana.
“Yesssss......”, chikita merasa puas setelah penantiannya hampir satu jam terasa tidak sia-sia karena akhirnya dj yang dinanti-nantikannya muncul sambil mengepalkan dan menarik ke belakanga sikutnya sebagai tanda keberhasilan.
“Semuanya apa kabar yah.....kangen banget lo udah lama ngga ketemu dan chatting sama sobatradioppidunia......”, sapa sang dj sambil memutarkan lagu bang rhoma yang berjudul Bergadang.
“Kabar baikkkkk dijeeehhhh”, jari jemari chikita yang lentik mulai menari-nari di atas keyboard dan langsung menekan tombol enter.
“Oh iya aku mau sapa-sapa dulu ah....disini ada mela, miri, fadli, dilla, selvi, indri, meity, firman, yoshi dan ANON 9230, 8456, 7546”, sambung sang dj yang mencoba megakrabkan diri dengan para pendengar di chatbox.
“Sobatradioppidunia.....sekarang ini sesi jumper lo...aku cuma ngisi slot yang kosong..karena dj yang seharusnya siaran hari ini, dj HILMY, lagi ngga bisa siaran...cuz dia harus buat laporan di lab.”, ungkap dj jumper saat itu yang tengah siaran.
Perasaan chikita campur aduk. Senang dan kesal. Senang karena bisa tahu nama sang dj yang di nantinya semenjak satu minggu yang lalu. Kesal karena dj hilmy diganti sama dj jumper yang ngga jelas. Hati chikita terperanjat mendengar dj yang sedang siarang adalah bukan dj hilmy yang minggu kemarin nyerocos tentang fisika dan teknologi-teknologi mutakhir.Hmmh...terpesona !!
Kesal, remuk redam, geram karena merasa impianya yang telah terpendam satu minggu hilang ditelan suara dj jumper yang sedang siaran saat itu. Malam itu terasa agak suram oleh chikita yang hanya tinggal sendirian di apartemen kampus yang sangat sepi. Sepi yang seakan bisa membunuhnya secara perlahan tapi pasti.
“Uhuhhh.....bilang kek dari tadi kalo kamu tuh dj jumper”, gerutu chikita karena dj kesayangannya ngga bisa siaran. Tanpa basa-basi chikita mengarahkan mouse nya ke sebuah tanda silang di ujung browser. Jrettttt...! program siaran saat itu ia putuskan.
Langit malam bertambah kelam. Malam ikut bersedih karena chikita menautkan jutaan rasa diangkasa. Kesedihannya yang mengarahkan dunia menjadi bermuram durja. Ia semakin digulung sepi selama 3 jam dalam apartemennya yang sunyi. Chikita kembali menyalakan radioppidunia hanya untuk sekedar mengusir sepi.
“Manusia terlahir tanpa seni....”, kalimat pertama kali yang chikita dengar ketika ia membuka radioppidunia itu lagi. Perasaanya semakin kesal dan agak emosi.
“Apaaann sih nih radio....ngga asik banget sih ....asal ngomong aja nih dj...”, gerutu chikita yang merasa terhina sebagai seorang perempuan yang menyukai seni.
“Hi dj maksud lo apa sih ...kok ngomong gituh ??”, jari-jari chikita semakin lihai berlari-larian diatas keyboard menulis pesan singkat kepada dj melalui Yahoo Messengger.
“Manusia tidak pernah terlahir dengan seni....tapi ia terlahir dengan hati nurani”, jawab sang dj melalui radio. Chikita tertegun. Seperti orang sedang mengheningkan cipta di taman makam pahlawan kalibata.
“Seni tidak pernah terlahir sewaktu bayi mulai menginjakan kakinya ke dunia tetapi seni adalah sesuatu yang terpancar dari hati seiring dengan berjalannya waktu”, kata-kata dj jumper saat itu terdengar makin sakral. Persis seperti sabda alam yang membisukan seluruh marga satwa.
“Seni tak dapat datang begitu saja tanpa hati nurani.....seni berhubungan dengan rasa, mata dan telinga...jika saja salah satu dari mata atau telinga tidak berfungsi....maka manusia masih akan tetap merasakan keindahan sebuah seni....Iya, keindahan yang dapat dirasakan oleh hati nurani...akan tetapi, jika saja hati nurani yang tidak berfungsi.....maka tak ada seorangpun yang dapat memaksakan seseorang untuk dapat merasakan sebuah seni...karena seni adalah sebuah refleksi imaginasi yang terpancar dari lubuk hati”, kalimat dj jumper makin membuat chikita merasa tak sadarkan diri karena kata-katanya menyelinap diam-diam ke dalam hati dan tetap terpasung di relung hati.
Belum lagi chikita membalas dan menghubungi sang dj jumper. Penyiar selanjutnya sudah masuk.Ia tak sempat lagi memberikan kontak pada sang dj jumper. Kata-katanya tertinggal dan terpatri di lubuk hati chikita. Suaranya masih terngiang-ngiang. Chikita merasa agak berdosa telah berburuk sangka kepada sang dj jumper ketika membuka radio. Minggu-minggu berikutnya chikita dengan setia menunggu di waktu yang sama dengan harapan dapat bertemu dengan dj jumper. Kini ia sudah tak peduli lagi dengan dj hilmi. Sudah terhapus dari memorinya. Yang ada dalam benaknya hanyalah sang dj jumper. Ia merasa membran hatinya telah tergetar sampai memberikan sedikit celah kepada kalimat sederhana sang dj jumper hingga akhirnya mengalir di setiap pembuluh darahnya.
“Kapan yah..saya bisa dengerin dan bertemu dengan sang dj jumper lagi ?”, chikita bertanya dalam hati dengan agak sedikit menyesal sekaligus menaruh simpati pada sang dj jumper. Iya, sang dj jumper yang tak pernah diketahui.
“Hmhmmh....Akan aku cari si dj sampai kemanapun juga...”, chikita membatin sekaligus berjanji pada dirinya, seperti sumpah palapa yang diucapkan Gajah Mada pada saat pelantikan menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit.
Rasa penasaran semakin menggunung di dalam hatinya. Hingga ia melamar dan memasukan aplikasi untuk menjadi penyiar di radioppidunia. Demi mencari sang dj jumper. Chikita diterima !!!. Sampai beberapa hari setelah penerimaannya sebagai seorang dj, chikita masih saja penasaran dengan sang dj jumper. Hasilnya masih saja nihil.Ia tak menemukan sang dj jumper.
Suasana Multimedia University masih tetap tegar berdiri di daerah putrajaya, pusat pemerintahan malaysia. Jembatan cyberjaya masih terlihat melintang diatas air. Suasana hati chikita masih tak menentu. Satu bulan telah berlalu semenjak siaran itu. Dj jumper tak pernah ada lagi. Yang ada hanya suaranya yang masih tetap terngiang-ngiang dia auditory system sang chikita. Chikita masih tetap menjadi pendengar setia radioppidunia. Hatinya resah...gelisah...hingga ia tak merasa bahwa semuanya telah berubah...siang berganti malam...malam berganti siang....dj jumper tak pernah nyata...yang ada hanya chikita rasa, dan asa.
Arak-arak awan tipis terlukis di atas langit. Ingin rasanya chikita melukis awan yang tergantung diatas sana. Melukis sang dj yang tak pernah kembali. Hati kecilnya berkata: “izinkan aku melukismu...walau hanya sekedar bayang-bayangmu”. Diatas sana lagit saling memantulkan warna biru, menyerap cahaya mentari sebelum jatuh menyetuh bumi. Chikita masih tetap mencari.....Sang dj yang tak pernah kembali.
(Dj Jumper)
Thursday, November 5, 2009
Catatan harian para perempuan
Bulan itu bulan purnama. Cahayanya jatuh tepat diatas gelombang laut yang tertiup oleh angin malam. Air lautpun tak kuasa menahan sang cahaya yang jatuh hingga ia menjadi nakal untuk menjilati pasir-pasir yang ada di tepi pulau Texel,Belanda. Seorang wanita cantik dan sering kesepian tengah tertegun di pinggir pantai dan tampak tersirami cahaya bulan. SALVIENTY MAKARIM namanya, sebuah nama yang dahsyat !!!. Rambutnya yang panjang kini mulai terkibas-kibas oleh angin laut yang datang sesekali menyapa. Namun tak digubrisnya. Sombong deh !!. Wajahnya nampak tengah menyimpan berjuta kenangan-kenangan manis tapi juga membawa sejuta kepedihan.
“Aku benci diaaaaaaaaaaa......”, emosinya tiba-tiba melambung yang ditumpahkan pertama kali diatas secarik kertas.
“Aku tak mau hidup seperti ini...kau sapa aku di dalam pesawat lalu kau tinggalkan untaian kata-kata manis yang membuat ku melayang.....tapi kini engkau hilang entah kemana....tak jelas dan tak ada bekas...”, ia menyambung kalimatnya di dalam catatan hariannya tentang seorang laki-laki yang ia pernah kenal di dalam sebuah pesawat tujuan Indonesia-Amsterdam.
“Ugghh....dasar laki-laki !!..aku geram...”, kalimat yang ia tuliskan terakhir, sebelum melempar jauh pandangannya ke laut yang sedang menyerap cahaya bulan purnama.
***
Suasana malam di Kuala Lumpur sangat meriah menjelang perayaan Deepavali- hari raya orang-orang Hindu di Malaysia. Tapi malam itu tetap saja akan menjadi malam yang durjana dan penuh nista bagi seorang wanita yang berdarah minang dan haus akan belaian para pria. DINITA MELANI CANIAGO namanya.
“Cukup paggil saya mela...titik”, kalimat pertama yang ia goreskan untuk malam itu membuka catatan hariannya 4 november 2009.
“Hi Lelaki...kau memang tak punya perasaan....kau beri aku harapan...lalu kau gantung perasaanku...tapi tak hanya sampai disitu...kini engkau pergi...dengan alasan ke Saudi untuk naik haji...”, kembali ia mencoretkan kekesalanya di atas kertas putih yang tak bergaris.
“Kau boleh pergi ke saudi dengan berbagai alasan yang kau punya...untuk agama lah...untuk travel lah..untuk bisnis agensi mu lah...bahkan untuk mencari wanita lain yang lebih muda pun aku sudah tak peduli.....”, kalimat-kalimatya penuh emosi tertuang dalam buku harianya.
“Uggh...aku ingin muntah mendengar namamu....sekali lagi aku mendengar namamu, rasanya ingin pecah air ketubanku...”, sambung wanita yang tengah hamil tujuh setengah bulan ini meneruskan beberapa alinea.
“Aku tak sudiiiiii.......pergi sana ke saudi dan tak usah engkau kembali.....”, kalimat terakhir yang ia tuliskan sebelum menyeka air matanya yang jatuh diatas catatan harianya dan mebuat luber tinta-tinta yang telah ia goreskan.
***
Dimalam yang bersamaan ketika mela tengah terserap batin yang berkecamuk, suasana ibu kota juga nampak begitu suram bagi seorang mahasiswi kedokteran UI yang tengah dilanda gundah gulana. Jalan salemba masih saja ramai dengan mikrolet, metromini, bajaj dan lalu lalang tuk-tuk yang sesekali timbul dari arah cikini. Ramainya suasana jalanan tetap saja menjadi sepi buatnya, sekalipun 10 sirine mobil pemadam kebakaran meraung-raung di depan kost-an nya. Iya, tetap sepi....dan sepi...bagi RATIH MAULINA DEWI.
“Aku biasa dipanggi Ratih....”, ia mencoba untuk mengetikan jarinya diatas keyboard laptopnya.
“Terkadang aku resah dan merasa kesepian...karena calon suami ku tak kunjung datang.....karena bagiku lelaki itu harus menjadi suamiku dahulu baru menjadi pacarku.”, tulisnya dalam software microsoft word 2003.
“Apakah aku bisa percaya dengan laki-laki...langsung menikah tanpa harus mengenalnya lebih dulu ??....”, kalimatnya mengundang jutaan bertanyaan yang saling berdesakan memenuhi dendrit (jaringan sel-sel saraf) di otaknya.
“DIJODOH KAN...? Bukan zaman siti nurbaya lagi saat ini.....”, tulisnya kembali.
“Aku tak mau punya pacar tapi aku mau punya suami....tapi.......tapi aku bingung.....”, kebingunganya disaksikan oleh simbol-simbol huruf di atas laptopnya.
“Aghh......aku benciiiiiiiiiiiiii”, jari jemarinya semakin lincah menari-nari diatas keyboard.
***
Disebelah kutub utara, tepatnya sebuah kota kecil yang bernama Tula di daerah Rusia sana, ada sesosok wanita berjilbab yang tinggal sebatang kara. Entah apa yang membawanya hingga sampai kesana. Mungkin karena kegilaannya pada fisika dan ingin mengejar cita-cita, hingga ia rela untuk berpisah dengan keluarganya di jakarta. Ia memilih hidup di tengah-tengah kesepian yang semakin menggigit pori-pori kulitnya.
“Tuhan....berikan aku kepastian dan keteguhan hati untuk memilih....”, kalimat pertama yang ia tuliskan dengan pulpennya di atas buku catatan hariannya ketika malam mulai merangkul kutub utara.
“Tuhan...mengapa aku harus larut dan mati dalam ketidakpastian untuk memilih ?...aku tak mau mati dalam pilihan-pilihan....ya tuhaaaaaaannnn.....berikan hatiku keteguhan untuk memilih lelaki mana yang harus aku jadikan ayah bagi anak-anakku...”, jerit hati PATMAH FATONI yang tertulis di atas kertas putih diiringi dengan tetesan air mata yang membuat kertas itu terkesan nampak diciumi rintik-rintik hujan di musim kemarau.
***
Malam tetap bergulir menuju pagi, tapi perasaan tetap tak mau hengkang dari setiap sudut sisi sanubari. Dinginya malam bak hendak menghentikan aliran-aliran darah di jaringan Nervous system (saraf-saraf otak). salvi masih saja tetap duduk tertegun menatap debur-debur ombak yang datang silih berganti menciumi ujung kakinya. Romantis bukan......(Cihuyyy). Matanya berbinar terang seakan hendak meredupkan cahaya bulan.
“Cintaku mungkin seperti cinta Newton”, tulis salvi yang tengah mengejar impian menjadi ahli fisika kelautan.
“Iya, tepatnya hukum Newton 3.” wanita yang juga keranjingan fisika inipun masih saja sempat-sempatnya menuliskan rumus tersebut disela-sela gundah hatinya.
“Rumus itu mengatakan...Jika kita memberikan sejumlah AKSI dalam nilai tertentu maka akan sebesar itu pulalah REAKSI yang akan kita dapatkan ”, rumusnya ganas.
“Mungkin seperti itulah anomali cintaku saat ini....aku terlalu banyak berharap pada lelaki itu....maka ketika pesawat membawanya pergi dan tak pernah kembali...maka sebanyak itu pulalah rasa kekecawaan dan penderitaaan yang menggetarkan setiap membran-membran hatiku...”, ungkapnya dalam catatan hariannya yang telah mencapai dua halaman muka surat.
“Tapi satu hal yang aku tak mengerti.....Kenapa engkau pergi dan tak pernah kembali sedangkan aku masih merindukan untaian-untaian kata manismu yang membuatku terbang melambung menembus semua permukaan atmosfer yang ada di bumi....”, tanganya kini mulai gemetar dan air matanya tak terasa menetes, terserap pasir, dan menyatu bersama air laut.
“Biarlah...semua ini akan aku pendam hingga akhir hayat...tak akan ada yang tau...hanya aku dan tuhanku....biarlah engkau pergi dan tak perlu lagi kembali...karena kehadiramu hanya akan mencabik-cabik lukaku yang semakin menganga”, kalimatnya syahdu, penuh guratan-guratan tinta kehidupan.
***
Mela yang tengah berusaha menghentikan jutaan galon air matanya yang tertumpah masih tetap menari-narikan jarinya diatas kertas putih yang tak bergaris itu. Kertasnya nampak hampir basah setengah halaman oleh tetesan air matanya yang tercampur make-up bermerek avon.
“Sudah lah....rasanya laki-laki di dunia ini memang sama saja.....semuanya hanya pandai membuat kata-kata manis yang mampu membuat para wanita terbang melambung tinggi...”, ungkapnya semakin kesal dalam buku harian.
“Apakah ini nasib menjadi seorang wanita ? . Yang selalu menjadi korban kegananasan nafsu biadab para lelaki. Ahh...aku mual.....andaikan janin ini tak terpancang di dalam rahimku...sudah aku hentikan nyawanya dari awal-awal....janin ini akan lebih baik jika ia tidak terlahir ke dunia...kasihan dia...dunia ini penuh dengan senda gurau dan tipu daya”, tulisanya makin membatin dan penuh dengan nilai-nilai filsafat aristotel dan plato.
“Mungkin hatinya akan sedih ...jika kelak jika ia terlahir dan tahu bahwa bapaknya tak lebih dari binatang jalang...yang hanya nafsu... dan nafsu”, tulisnya mengawali paragraf pertama di halaman ke 4.
“Hatiku sakit....sakit yang tak akan pernah terobati....Kau boleh lukai fisik-ku karena dokter bisa berikan obat yang menyembuhkan seiring berjalanya sang waktu...tapi jika psikis-ku yang kau lukai...mungkin sangkitnya akan aku bawa sampai mati”, sambungnya dalam paragraf baru.
“Lingkungan selalu membuat wanita menjadi makhluk yang hanya bisa menunggu dan menunggu...jika saja wanita menyumbangkan suara nuraninya yang terjepit...maka ia akan segera di labelisasi dengan kata AGRESSIF dan TAK TAHU SOPAN SANTUN”, hatinya semakin terasa makin teriris-iris oleh silet yang sudah berkarat.
“Aku masih sayang kamu...hatiku masih menaruh harapan padamu...tapi jika kau sayat-sayat hari demi hari maka jantungku akan bocor dan tak mampu lagi menampung sedikit rasa sayangku padamu”, ungkapnya penuh emosi yang memuncah.
“Ingat mas...jangan sampai aku kehilangan batas kesabaran.....orang dendam pikiranya tidak stabil karenanya ia tak mampu menahan emosi...asal engkau tau...orang dendam bisa memindahkan gunung dan mengeringkan samudra ”, jari-jarinya semakin goyah untuk menulis.
“Engkau pikir...hanya kamu saja mas yang bisa mencari wanita lain yang lebih muda di Saudi...aku juga bisa mencari laki-laki lain...akan aku buktikan...” tegasnya dengan tinta merah.
“Kini aku sedang dekat dengan lelaki lain yang lebih muda dari ku...karena seleraku adalah selera berondong.....wajahnya tampan....otaknya brilian...lulusan ITB....tidak seperti engkau mas...Lulus SMP saja sudah untung”, tulisanya penuh dendam.
“Dia suka mengirimkan ku lagu lewat radioppidunia (www.radioppidunia.com/listen)...dia amat perhatian dan penyabar...dan juga suka mengirimkan lagi kesukaanku..“WHAT CAN I DO TO MAKE YOU LOVE ME ? by the Corrs.”, tulisanya penuh kerinduan.
“Iya hanya sekali mengunjungiku ke malaysia”, pikiranya melayang jauh ,teringat waktu menjemputnya secara diam-diam di Bandara Internasional Kuala Lumpur.
“Tapi lagi-lagi....dia suka menggantung perasaanku....dia tak pernah mengungkapkan perasaanya...entah dia malu, entah takut, entah pengecut...entah......”, mela menuliskan kebingungannya.
“Agghhh....laki-laki membuatku merasa jadi seperti roaler coster yang lepas kendali.....pergi sana wahai para lelaki....aku muaaaaaakkkk”, kalimat terakhirnya ia goreskan diatas catatan hariannya.
***
“Kenapa...laki-laki tak kunjung juga datang melamarku?....wahai para lelaki aku ini adalah calon dokter....jika saja engkau menjadi suamiku akan aku rawat segala kesehatanmu dan obati segala lukamu.....aku tahu bagaimana mengobati dan merawat luka fisik...tapi bukan berarti aku tidak mampu untuk belajar untuk menjaga dan merawat hatimu jika terluka”, tulis ratih dengan nada penuh harapan.
“Hatiku sepi... penuh dengan tautan-tautan tanda tanya kehidupan yang menggantung di awan tinggi yang tak dapat aku gapai sendirian....aku perlu pendamping untuk menggapainya di langit ke 7...jiwaku masih merah semerah jambu monyet yang menarik siapapun yang melihatnya untuk memetik...tapi jika tak ada yang berani memetik, maka jambu itu akan membusuk dan tak akan pernah terasa manis walau sampai di pangkal lidah”, Ratih semakin lihati menari-narikan jarinya
“Oh lelaki ...dimanakah engkau bersembunyi....aku tak tahu siapa laki-laki yang aku suka...dan siapa laki-laki yang tidak aku suka...karena aku suka semua laki-laki...”, tulisannya mengungkapkan sisi abu-abu seorang ratih.
“Aku bingung...aku tidak ingin pacaran... aku hanya ingin suami ”, tulisnya.
“ Tapi jika aku menikahi seseorang tanpa mengenalnya lebih dulu...itu sama saja aku sedang bermain judi...karena aku tak tahu seperti apa nantinya....karena aku juga tak tahu apa dan bagaimana asal-muasalnya lelaki itu”, kembali ia mencurahkan isi hatinya di atas laptop.
“Aku percaya bahwa jodohku akan datang suatu hari.....tapi apa makna dari kata jodoh...? kebanyakan orang menyebut jodoh adalah ketika ia bertemu “pasangan”nya lalu mereka menikah....tapi kenyataanya menikah tidak cukup untuk mendefinisikan jodoh ”, hati kecilnya berbicara.
“Sudah jutaan yang terekam dalam sejarah manusia...mereka menikah dan kemudian berakhir dengan kata Talak yang kemudian tidak pernah rujuk hingga akhir hayat”, bayang-bayang yang mengerikan itu ia curahkan dalam tulisannya.
“Lalu seperti apa makna dan konsep jodoh ?...aku bingung...aku takut...!!”, sebuah ketakutan yang ia coba terjemahkan ke dalam bahasa manusia.
“Konsep jodoh yang selama ini kebanyakan orang pahami, sudah cukup menggetarkan setiap otot-ototku jantungku hingga akhirnya aku merasa aorta-ku telah menyempit”, tanganya semakin cepat memencet tombol-tombol diatas laptop.
“Tak ada definisi yang jelas tentang kata jodoh buatku...hanya ada satu cara mendifinisikan jodoh bagiku....dimulai dari ijab qobul hingga akhir hayat....selama nyawaku masih ada terpatri di rongga dada...maka selama itu pulalah konsep jodoh masih tetap harus dipertanyakan dan diuji ke konsistensiannya....jodoh bukan sampai ijab qobul...tetapi jodoh adalah memaknai perjalanan hidup bersama, dikala suka maupun duka...hingga salah satu darinya meregang nyawa”, kalimatnya syahdu penuh makna dan tak akan tergoyahkan oleh badai katrina sekalipun.
Jalan salemba masih saja penuh dengan hiruk pikuk suara bajaj, mikrolet dan metromini yang menuju jurusan Kampung Melayu- Senen. Tapi suasana hati ratih masih sunyi senyap tak seramai jalanan salemba di malam itu.
****
Patmah Fatoni masih tetap menangis dibawah cahaya bulan yang menembus masuk lewat kaca jendela kamarnya. Air matanya masih tergumpal diatas meja belajar yang agak sedikit berdebu hingga akhirnya terbiaskan oleh cahaya bulan purnama. Biasan-biasan air matanya memberikan warna yang berbeda, membuat bumi sekan bertekuk lutut ikut mengheningkan cipta.
“Tuhan...kalau boleh aku meminta...tolong engkau cabut nyawaku ketika aku tidur, agar aku tak lagi merasakan pedih dan sakit dalam ketidak pastian untuk memilih”, coretan-coretannya menambah dunia semakin nampak bermuram durja.
“Aku tak pernah tau apa yang terjadi padaku nanti.....semua pria-pria yang menaruh harapan padaku hanyalah ilusi...bagaimana bisa ilusi ? Iya, karena cintaku adalah cinta virtual....sudah semua benua aku datangi, mulai dari afrika hingga australia....tapi hatiku terkadang tertambat di benua amerika”, ungkapan perasaanya tertulis di atas kertas yang tergeletak di meja belajar.
“Ahhhh....penat..l.etih....ketika aku harus berpikir tentang cinta dan semua perasaanku...aku mungkin terkadang tidak bersyukur...aku hanya tinggal memilih....wanita-wanita lain bahkan teramat sulit bagi mereka untuk mendapatkan seorang lelaki yang mau mendekatinya”, tulisnya coba menenangkan diri.
“Aku kufur nikmat....aku tak pernah menghargai apa yang sudah tuhan berikan”.
“Berikan aku secercah cahaya Mu tuhan agar aku dapat melihat yang terbaik dalam hidupku.....aku tak mau mati dalam ketidakpastian. Karena jika aku terkubur diantara pilihan-pilihan yang tak pernah aku pilih maka itu adalah kepedihan yang abadi”, tulisnya lagi.
“Wahai lelaki....jangan engkau permainkan perasaan kami...hati kami lemah tapi hati kami dapat merasa jutaan kilometer yang berada jauh di luar bumi.....kami mungkin tak berdaya tapi bukan berarti kami tak bernyawa...kami mungkin tampak bisu...tapi bukan berarti kami tak punya lagu....kami mungkin nampak tidak pasti...tapi bukan berarti kami tak punya visi dan misi...kami mungkin nampak tidak berarti tapi kami punya hati nurani...sekali lagi... izinkan aku mengatakan....wahai lelaki !! mungkin engkau tak akan pernah paham seutuhnya tentang kami...karena kami adalah wanita yang sering bermain dengan sanubari dan bersyair dengan elegi”, kalimatnya mengakhiri catatan hariannya malam itu.
Awan-awan hitam nampak mulai menghalangi cahaya bulan yang melintas merentas statosfir. Angin malam nampak mulai tak sabar menyentil siapapun yang ada dihadapanya. Hembusannya semakin dingin serasa hendak menguliti dan membuka lebar pori-pori. Salvi masih tetap duduk tertegun menatap ombak ditengah malam yang saling berkejaran. Mela mencoba menyandarkan tubuhnya ke atas sofa empuk sambil mencoba menghentikan tangisnya yang masih tersedu-sedu. Kelenjar air matanya sudah kering-kerontang, tapi dendam masih tetap menyelinap di setiap rongga dada. Ratih tetap tertegun di depan laptopnya dan masih tetap dilingkari oleh beribu-ribu pertanyaan tentang jodoh . Patma masih tetap menangisi akan kebodohan dirinya yang tak pernah menjatuhkan pilihan. Malam mencoba secara perlahan undur diri dan membiarkan dirinya ditelan sang fajar yang akan segera mengintip dari ufuk timur. Malam semakin jauh meninggalkan mereka. Walau malam agak sedikit enggan dan sungkan untuk berpamitan dengan mereka. Karena malam takut mengusik perasaan mereka yang sedang di runung kesedihan.
“Wahai malam !! jangan engkau tinggakan aku...biarkan aku menyatu bersamamu...dan bawalah aku ke haribaanmu...karena jika pagi datang...pedih ku terasa semakin menjadi-jadi karena dengan cahayanya ia akan menunjukan bahwa lukaku semakin menganga”, serentak para wanita itu memohon dalam hati.
Malam menjawab : “Maaf, aku tidak bisa”.
Kanada,
00.01 am
“Aku benci diaaaaaaaaaaa......”, emosinya tiba-tiba melambung yang ditumpahkan pertama kali diatas secarik kertas.
“Aku tak mau hidup seperti ini...kau sapa aku di dalam pesawat lalu kau tinggalkan untaian kata-kata manis yang membuat ku melayang.....tapi kini engkau hilang entah kemana....tak jelas dan tak ada bekas...”, ia menyambung kalimatnya di dalam catatan hariannya tentang seorang laki-laki yang ia pernah kenal di dalam sebuah pesawat tujuan Indonesia-Amsterdam.
“Ugghh....dasar laki-laki !!..aku geram...”, kalimat yang ia tuliskan terakhir, sebelum melempar jauh pandangannya ke laut yang sedang menyerap cahaya bulan purnama.
***
Suasana malam di Kuala Lumpur sangat meriah menjelang perayaan Deepavali- hari raya orang-orang Hindu di Malaysia. Tapi malam itu tetap saja akan menjadi malam yang durjana dan penuh nista bagi seorang wanita yang berdarah minang dan haus akan belaian para pria. DINITA MELANI CANIAGO namanya.
“Cukup paggil saya mela...titik”, kalimat pertama yang ia goreskan untuk malam itu membuka catatan hariannya 4 november 2009.
“Hi Lelaki...kau memang tak punya perasaan....kau beri aku harapan...lalu kau gantung perasaanku...tapi tak hanya sampai disitu...kini engkau pergi...dengan alasan ke Saudi untuk naik haji...”, kembali ia mencoretkan kekesalanya di atas kertas putih yang tak bergaris.
“Kau boleh pergi ke saudi dengan berbagai alasan yang kau punya...untuk agama lah...untuk travel lah..untuk bisnis agensi mu lah...bahkan untuk mencari wanita lain yang lebih muda pun aku sudah tak peduli.....”, kalimat-kalimatya penuh emosi tertuang dalam buku harianya.
“Uggh...aku ingin muntah mendengar namamu....sekali lagi aku mendengar namamu, rasanya ingin pecah air ketubanku...”, sambung wanita yang tengah hamil tujuh setengah bulan ini meneruskan beberapa alinea.
“Aku tak sudiiiiii.......pergi sana ke saudi dan tak usah engkau kembali.....”, kalimat terakhir yang ia tuliskan sebelum menyeka air matanya yang jatuh diatas catatan harianya dan mebuat luber tinta-tinta yang telah ia goreskan.
***
Dimalam yang bersamaan ketika mela tengah terserap batin yang berkecamuk, suasana ibu kota juga nampak begitu suram bagi seorang mahasiswi kedokteran UI yang tengah dilanda gundah gulana. Jalan salemba masih saja ramai dengan mikrolet, metromini, bajaj dan lalu lalang tuk-tuk yang sesekali timbul dari arah cikini. Ramainya suasana jalanan tetap saja menjadi sepi buatnya, sekalipun 10 sirine mobil pemadam kebakaran meraung-raung di depan kost-an nya. Iya, tetap sepi....dan sepi...bagi RATIH MAULINA DEWI.
“Aku biasa dipanggi Ratih....”, ia mencoba untuk mengetikan jarinya diatas keyboard laptopnya.
“Terkadang aku resah dan merasa kesepian...karena calon suami ku tak kunjung datang.....karena bagiku lelaki itu harus menjadi suamiku dahulu baru menjadi pacarku.”, tulisnya dalam software microsoft word 2003.
“Apakah aku bisa percaya dengan laki-laki...langsung menikah tanpa harus mengenalnya lebih dulu ??....”, kalimatnya mengundang jutaan bertanyaan yang saling berdesakan memenuhi dendrit (jaringan sel-sel saraf) di otaknya.
“DIJODOH KAN...? Bukan zaman siti nurbaya lagi saat ini.....”, tulisnya kembali.
“Aku tak mau punya pacar tapi aku mau punya suami....tapi.......tapi aku bingung.....”, kebingunganya disaksikan oleh simbol-simbol huruf di atas laptopnya.
“Aghh......aku benciiiiiiiiiiiiii”, jari jemarinya semakin lincah menari-nari diatas keyboard.
***
Disebelah kutub utara, tepatnya sebuah kota kecil yang bernama Tula di daerah Rusia sana, ada sesosok wanita berjilbab yang tinggal sebatang kara. Entah apa yang membawanya hingga sampai kesana. Mungkin karena kegilaannya pada fisika dan ingin mengejar cita-cita, hingga ia rela untuk berpisah dengan keluarganya di jakarta. Ia memilih hidup di tengah-tengah kesepian yang semakin menggigit pori-pori kulitnya.
“Tuhan....berikan aku kepastian dan keteguhan hati untuk memilih....”, kalimat pertama yang ia tuliskan dengan pulpennya di atas buku catatan hariannya ketika malam mulai merangkul kutub utara.
“Tuhan...mengapa aku harus larut dan mati dalam ketidakpastian untuk memilih ?...aku tak mau mati dalam pilihan-pilihan....ya tuhaaaaaaannnn.....berikan hatiku keteguhan untuk memilih lelaki mana yang harus aku jadikan ayah bagi anak-anakku...”, jerit hati PATMAH FATONI yang tertulis di atas kertas putih diiringi dengan tetesan air mata yang membuat kertas itu terkesan nampak diciumi rintik-rintik hujan di musim kemarau.
***
Malam tetap bergulir menuju pagi, tapi perasaan tetap tak mau hengkang dari setiap sudut sisi sanubari. Dinginya malam bak hendak menghentikan aliran-aliran darah di jaringan Nervous system (saraf-saraf otak). salvi masih saja tetap duduk tertegun menatap debur-debur ombak yang datang silih berganti menciumi ujung kakinya. Romantis bukan......(Cihuyyy). Matanya berbinar terang seakan hendak meredupkan cahaya bulan.
“Cintaku mungkin seperti cinta Newton”, tulis salvi yang tengah mengejar impian menjadi ahli fisika kelautan.
“Iya, tepatnya hukum Newton 3.” wanita yang juga keranjingan fisika inipun masih saja sempat-sempatnya menuliskan rumus tersebut disela-sela gundah hatinya.
“Rumus itu mengatakan...Jika kita memberikan sejumlah AKSI dalam nilai tertentu maka akan sebesar itu pulalah REAKSI yang akan kita dapatkan ”, rumusnya ganas.
“Mungkin seperti itulah anomali cintaku saat ini....aku terlalu banyak berharap pada lelaki itu....maka ketika pesawat membawanya pergi dan tak pernah kembali...maka sebanyak itu pulalah rasa kekecawaan dan penderitaaan yang menggetarkan setiap membran-membran hatiku...”, ungkapnya dalam catatan hariannya yang telah mencapai dua halaman muka surat.
“Tapi satu hal yang aku tak mengerti.....Kenapa engkau pergi dan tak pernah kembali sedangkan aku masih merindukan untaian-untaian kata manismu yang membuatku terbang melambung menembus semua permukaan atmosfer yang ada di bumi....”, tanganya kini mulai gemetar dan air matanya tak terasa menetes, terserap pasir, dan menyatu bersama air laut.
“Biarlah...semua ini akan aku pendam hingga akhir hayat...tak akan ada yang tau...hanya aku dan tuhanku....biarlah engkau pergi dan tak perlu lagi kembali...karena kehadiramu hanya akan mencabik-cabik lukaku yang semakin menganga”, kalimatnya syahdu, penuh guratan-guratan tinta kehidupan.
***
Mela yang tengah berusaha menghentikan jutaan galon air matanya yang tertumpah masih tetap menari-narikan jarinya diatas kertas putih yang tak bergaris itu. Kertasnya nampak hampir basah setengah halaman oleh tetesan air matanya yang tercampur make-up bermerek avon.
“Sudah lah....rasanya laki-laki di dunia ini memang sama saja.....semuanya hanya pandai membuat kata-kata manis yang mampu membuat para wanita terbang melambung tinggi...”, ungkapnya semakin kesal dalam buku harian.
“Apakah ini nasib menjadi seorang wanita ? . Yang selalu menjadi korban kegananasan nafsu biadab para lelaki. Ahh...aku mual.....andaikan janin ini tak terpancang di dalam rahimku...sudah aku hentikan nyawanya dari awal-awal....janin ini akan lebih baik jika ia tidak terlahir ke dunia...kasihan dia...dunia ini penuh dengan senda gurau dan tipu daya”, tulisanya makin membatin dan penuh dengan nilai-nilai filsafat aristotel dan plato.
“Mungkin hatinya akan sedih ...jika kelak jika ia terlahir dan tahu bahwa bapaknya tak lebih dari binatang jalang...yang hanya nafsu... dan nafsu”, tulisnya mengawali paragraf pertama di halaman ke 4.
“Hatiku sakit....sakit yang tak akan pernah terobati....Kau boleh lukai fisik-ku karena dokter bisa berikan obat yang menyembuhkan seiring berjalanya sang waktu...tapi jika psikis-ku yang kau lukai...mungkin sangkitnya akan aku bawa sampai mati”, sambungnya dalam paragraf baru.
“Lingkungan selalu membuat wanita menjadi makhluk yang hanya bisa menunggu dan menunggu...jika saja wanita menyumbangkan suara nuraninya yang terjepit...maka ia akan segera di labelisasi dengan kata AGRESSIF dan TAK TAHU SOPAN SANTUN”, hatinya semakin terasa makin teriris-iris oleh silet yang sudah berkarat.
“Aku masih sayang kamu...hatiku masih menaruh harapan padamu...tapi jika kau sayat-sayat hari demi hari maka jantungku akan bocor dan tak mampu lagi menampung sedikit rasa sayangku padamu”, ungkapnya penuh emosi yang memuncah.
“Ingat mas...jangan sampai aku kehilangan batas kesabaran.....orang dendam pikiranya tidak stabil karenanya ia tak mampu menahan emosi...asal engkau tau...orang dendam bisa memindahkan gunung dan mengeringkan samudra ”, jari-jarinya semakin goyah untuk menulis.
“Engkau pikir...hanya kamu saja mas yang bisa mencari wanita lain yang lebih muda di Saudi...aku juga bisa mencari laki-laki lain...akan aku buktikan...” tegasnya dengan tinta merah.
“Kini aku sedang dekat dengan lelaki lain yang lebih muda dari ku...karena seleraku adalah selera berondong.....wajahnya tampan....otaknya brilian...lulusan ITB....tidak seperti engkau mas...Lulus SMP saja sudah untung”, tulisanya penuh dendam.
“Dia suka mengirimkan ku lagu lewat radioppidunia (www.radioppidunia.com/listen)...dia amat perhatian dan penyabar...dan juga suka mengirimkan lagi kesukaanku..“WHAT CAN I DO TO MAKE YOU LOVE ME ? by the Corrs.”, tulisanya penuh kerinduan.
“Iya hanya sekali mengunjungiku ke malaysia”, pikiranya melayang jauh ,teringat waktu menjemputnya secara diam-diam di Bandara Internasional Kuala Lumpur.
“Tapi lagi-lagi....dia suka menggantung perasaanku....dia tak pernah mengungkapkan perasaanya...entah dia malu, entah takut, entah pengecut...entah......”, mela menuliskan kebingungannya.
“Agghhh....laki-laki membuatku merasa jadi seperti roaler coster yang lepas kendali.....pergi sana wahai para lelaki....aku muaaaaaakkkk”, kalimat terakhirnya ia goreskan diatas catatan hariannya.
***
“Kenapa...laki-laki tak kunjung juga datang melamarku?....wahai para lelaki aku ini adalah calon dokter....jika saja engkau menjadi suamiku akan aku rawat segala kesehatanmu dan obati segala lukamu.....aku tahu bagaimana mengobati dan merawat luka fisik...tapi bukan berarti aku tidak mampu untuk belajar untuk menjaga dan merawat hatimu jika terluka”, tulis ratih dengan nada penuh harapan.
“Hatiku sepi... penuh dengan tautan-tautan tanda tanya kehidupan yang menggantung di awan tinggi yang tak dapat aku gapai sendirian....aku perlu pendamping untuk menggapainya di langit ke 7...jiwaku masih merah semerah jambu monyet yang menarik siapapun yang melihatnya untuk memetik...tapi jika tak ada yang berani memetik, maka jambu itu akan membusuk dan tak akan pernah terasa manis walau sampai di pangkal lidah”, Ratih semakin lihati menari-narikan jarinya
“Oh lelaki ...dimanakah engkau bersembunyi....aku tak tahu siapa laki-laki yang aku suka...dan siapa laki-laki yang tidak aku suka...karena aku suka semua laki-laki...”, tulisannya mengungkapkan sisi abu-abu seorang ratih.
“Aku bingung...aku tidak ingin pacaran... aku hanya ingin suami ”, tulisnya.
“ Tapi jika aku menikahi seseorang tanpa mengenalnya lebih dulu...itu sama saja aku sedang bermain judi...karena aku tak tahu seperti apa nantinya....karena aku juga tak tahu apa dan bagaimana asal-muasalnya lelaki itu”, kembali ia mencurahkan isi hatinya di atas laptop.
“Aku percaya bahwa jodohku akan datang suatu hari.....tapi apa makna dari kata jodoh...? kebanyakan orang menyebut jodoh adalah ketika ia bertemu “pasangan”nya lalu mereka menikah....tapi kenyataanya menikah tidak cukup untuk mendefinisikan jodoh ”, hati kecilnya berbicara.
“Sudah jutaan yang terekam dalam sejarah manusia...mereka menikah dan kemudian berakhir dengan kata Talak yang kemudian tidak pernah rujuk hingga akhir hayat”, bayang-bayang yang mengerikan itu ia curahkan dalam tulisannya.
“Lalu seperti apa makna dan konsep jodoh ?...aku bingung...aku takut...!!”, sebuah ketakutan yang ia coba terjemahkan ke dalam bahasa manusia.
“Konsep jodoh yang selama ini kebanyakan orang pahami, sudah cukup menggetarkan setiap otot-ototku jantungku hingga akhirnya aku merasa aorta-ku telah menyempit”, tanganya semakin cepat memencet tombol-tombol diatas laptop.
“Tak ada definisi yang jelas tentang kata jodoh buatku...hanya ada satu cara mendifinisikan jodoh bagiku....dimulai dari ijab qobul hingga akhir hayat....selama nyawaku masih ada terpatri di rongga dada...maka selama itu pulalah konsep jodoh masih tetap harus dipertanyakan dan diuji ke konsistensiannya....jodoh bukan sampai ijab qobul...tetapi jodoh adalah memaknai perjalanan hidup bersama, dikala suka maupun duka...hingga salah satu darinya meregang nyawa”, kalimatnya syahdu penuh makna dan tak akan tergoyahkan oleh badai katrina sekalipun.
Jalan salemba masih saja penuh dengan hiruk pikuk suara bajaj, mikrolet dan metromini yang menuju jurusan Kampung Melayu- Senen. Tapi suasana hati ratih masih sunyi senyap tak seramai jalanan salemba di malam itu.
****
Patmah Fatoni masih tetap menangis dibawah cahaya bulan yang menembus masuk lewat kaca jendela kamarnya. Air matanya masih tergumpal diatas meja belajar yang agak sedikit berdebu hingga akhirnya terbiaskan oleh cahaya bulan purnama. Biasan-biasan air matanya memberikan warna yang berbeda, membuat bumi sekan bertekuk lutut ikut mengheningkan cipta.
“Tuhan...kalau boleh aku meminta...tolong engkau cabut nyawaku ketika aku tidur, agar aku tak lagi merasakan pedih dan sakit dalam ketidak pastian untuk memilih”, coretan-coretannya menambah dunia semakin nampak bermuram durja.
“Aku tak pernah tau apa yang terjadi padaku nanti.....semua pria-pria yang menaruh harapan padaku hanyalah ilusi...bagaimana bisa ilusi ? Iya, karena cintaku adalah cinta virtual....sudah semua benua aku datangi, mulai dari afrika hingga australia....tapi hatiku terkadang tertambat di benua amerika”, ungkapan perasaanya tertulis di atas kertas yang tergeletak di meja belajar.
“Ahhhh....penat..l.etih....ketika aku harus berpikir tentang cinta dan semua perasaanku...aku mungkin terkadang tidak bersyukur...aku hanya tinggal memilih....wanita-wanita lain bahkan teramat sulit bagi mereka untuk mendapatkan seorang lelaki yang mau mendekatinya”, tulisnya coba menenangkan diri.
“Aku kufur nikmat....aku tak pernah menghargai apa yang sudah tuhan berikan”.
“Berikan aku secercah cahaya Mu tuhan agar aku dapat melihat yang terbaik dalam hidupku.....aku tak mau mati dalam ketidakpastian. Karena jika aku terkubur diantara pilihan-pilihan yang tak pernah aku pilih maka itu adalah kepedihan yang abadi”, tulisnya lagi.
“Wahai lelaki....jangan engkau permainkan perasaan kami...hati kami lemah tapi hati kami dapat merasa jutaan kilometer yang berada jauh di luar bumi.....kami mungkin tak berdaya tapi bukan berarti kami tak bernyawa...kami mungkin tampak bisu...tapi bukan berarti kami tak punya lagu....kami mungkin nampak tidak pasti...tapi bukan berarti kami tak punya visi dan misi...kami mungkin nampak tidak berarti tapi kami punya hati nurani...sekali lagi... izinkan aku mengatakan....wahai lelaki !! mungkin engkau tak akan pernah paham seutuhnya tentang kami...karena kami adalah wanita yang sering bermain dengan sanubari dan bersyair dengan elegi”, kalimatnya mengakhiri catatan hariannya malam itu.
Awan-awan hitam nampak mulai menghalangi cahaya bulan yang melintas merentas statosfir. Angin malam nampak mulai tak sabar menyentil siapapun yang ada dihadapanya. Hembusannya semakin dingin serasa hendak menguliti dan membuka lebar pori-pori. Salvi masih tetap duduk tertegun menatap ombak ditengah malam yang saling berkejaran. Mela mencoba menyandarkan tubuhnya ke atas sofa empuk sambil mencoba menghentikan tangisnya yang masih tersedu-sedu. Kelenjar air matanya sudah kering-kerontang, tapi dendam masih tetap menyelinap di setiap rongga dada. Ratih tetap tertegun di depan laptopnya dan masih tetap dilingkari oleh beribu-ribu pertanyaan tentang jodoh . Patma masih tetap menangisi akan kebodohan dirinya yang tak pernah menjatuhkan pilihan. Malam mencoba secara perlahan undur diri dan membiarkan dirinya ditelan sang fajar yang akan segera mengintip dari ufuk timur. Malam semakin jauh meninggalkan mereka. Walau malam agak sedikit enggan dan sungkan untuk berpamitan dengan mereka. Karena malam takut mengusik perasaan mereka yang sedang di runung kesedihan.
“Wahai malam !! jangan engkau tinggakan aku...biarkan aku menyatu bersamamu...dan bawalah aku ke haribaanmu...karena jika pagi datang...pedih ku terasa semakin menjadi-jadi karena dengan cahayanya ia akan menunjukan bahwa lukaku semakin menganga”, serentak para wanita itu memohon dalam hati.
Malam menjawab : “Maaf, aku tidak bisa”.
Kanada,
00.01 am
Saturday, October 31, 2009
Guratan sebelum tidur
Jarum jam berdetak, mengaung, sesekali mengais sambil menyeret badanya tepat ke arah 00.10 menit. Dari dalam apartemen aku menatap keluar, rintik-ritik hujan datang dan membasahi pepohonan yang sudah nampak tak berdaun. Persis seberti rumah yang temboknya baru saja di jilat si jago merah. Kayunya hitam tapi tak berhiaskan daun. Dari atas apartemen ini terlihat hanya ada sebuah mobil yang tengah terpakir di bahwa sana. Iya, mobil itu berwarna gelap dan masih tegar ditetesi rintikan-rintikan air hujan yang terkadang merasa sangat mempunyai rasa belas kasih untuk menghujani setiap orang yang ada di bawahnya. Ah...namanya juga hujan !
Musim gugur yang kini mulai datang memasuki setiap sendi-sendi kehidupan yang membawa kepada perubahan psikologi. Banyak orang mengalami stress ketika musim salju datang. Entah apa yang sebenarnya terjadi sebenarnya, gloomy day. Banyak cara orang sudah lakukan untuk menjega penyakit ini.
Ah malam....
Engkau terlalu cepat datang untuk hari ini, dan terlalu serakah untuk mengulum siang yang hanya sebentar menemani kami. Malam semakin senja dan mataku juga mulai terasa agak sedikit lelah seperti sedang di gelayuti baja dengan ke kuatan 28 ton. Aliran darah ku seolah-olah sudah tak teratur, mataku sudah mulai terbuka-tutup....kepalaku mulai terantuk-antuk ke atas meja belajarku....Uuuhh...bagian dari perjalan hidup
Aku lelah...
Aku ingin merebah...
Izinkan aku wahai sang malam...
selamat tinggal memori-memoriku di siang hari...
Biarkan aku terlelap, walau hanya sejenak...
Karena esok, aku akan “memberontak” terhadap nasibku yang akan menyingsingkan legan bajunya.
Kanada,
Sabtu, 31 Oktober 2009
00.20 EST
Musim gugur yang kini mulai datang memasuki setiap sendi-sendi kehidupan yang membawa kepada perubahan psikologi. Banyak orang mengalami stress ketika musim salju datang. Entah apa yang sebenarnya terjadi sebenarnya, gloomy day. Banyak cara orang sudah lakukan untuk menjega penyakit ini.
Ah malam....
Engkau terlalu cepat datang untuk hari ini, dan terlalu serakah untuk mengulum siang yang hanya sebentar menemani kami. Malam semakin senja dan mataku juga mulai terasa agak sedikit lelah seperti sedang di gelayuti baja dengan ke kuatan 28 ton. Aliran darah ku seolah-olah sudah tak teratur, mataku sudah mulai terbuka-tutup....kepalaku mulai terantuk-antuk ke atas meja belajarku....Uuuhh...bagian dari perjalan hidup
Aku lelah...
Aku ingin merebah...
Izinkan aku wahai sang malam...
selamat tinggal memori-memoriku di siang hari...
Biarkan aku terlelap, walau hanya sejenak...
Karena esok, aku akan “memberontak” terhadap nasibku yang akan menyingsingkan legan bajunya.
Kanada,
Sabtu, 31 Oktober 2009
00.20 EST
Saturday, October 17, 2009
KaosMu=KaosKu
Hari berganti demi hari. Beranjak mengganti bulan, hingga berajak mengganti tahun. Tak terasa semuanya begitu cepat berlalu. Jika mela menghitung hari dan melihat masa lalunya ke belakang , terkadang semuanya nampak begitu mustahil yang penuh dengan tantangan dan rintangan. Terlebih waktu menyelesaikan tesisnya. Ia sempat terguyur air hujan dan membasahi tesisnya sewaktu motornya mogok di jalan tol sungai besi. Tapi hal itu bukan mengapa, karena yang terpenting adalah sebuah proses perjalanan hidup harus terus bergulir. Baginya hasil bukan hal yang terpenting tapi proses mendapatkan hasil itulah yang lebih penting. Karena ia percaya bahwa hasil akan berbanding lurus dengan usaha proses mendapatkan hasil tersebut. Kini mela berada di Korea, tepatnya di Seoul. Karena ia mendapat beasiswa untuk program S3 nya dari seorang laki-laki korea yang siap mempersuntingnya dalam waktu 3 minggu.
“Hi...perkenalkan nama saya DINITA MELANI SARI MASOEDY ”, tukas mela sambil menyodorkan tanganya ke sekumpulan mahasiswa indonesia di korea yang sudah lebih dahulu datang ke korea.
“Wowww...nama yang menakjubkan, biasa di panggil siapa neng ?”, sambung hadi yang nampak terkagum-kagum sambil membetulkan kain sarungnya yang sedikit melorot karena baru bangun tidur dan langsung makan di kantin kampus.
“Hmm..hmm...gimana yah...banyak sih..biasa dipanggil mel, lani, ani, elani......bahkan “i” aja, juga pernah....tapi kalo untuk di Korea ELA aja deh, biar kedengeran agak sedikit elegan”, jawab mela dengan gayanya yang perlente.
“Ela disini ngambil jurusan apa ?”, tanya hadi yang agak sedikit terkagum-kagum dengan paduan warna jilbab yang bersentuhan dengan kulit ela.
“Oh biasa aja....aku disini ngambil jurusan tekhnik industri...”, jawab ela denga gayanya yang mecolok mata dengan sepatu kuning, rok merah ngenjreng, dan jilbab warna biru metalik yang sedikit dicampur oleh warna perak. Dan tidak lupa emas-emas yang melingkar disemua jarinya, persis seperti orang jualan batu akik di jatinegara.
Wah kamu pasti hebat yah ela....kesini datangnya pake pesawat pribadi ? “, sambut byan yang dari tadi diam-diam memperhatikan percakapan ela dengan beberapa teman-teman indonesia.
“Oh iya dunkkk....ela gitu lohhhhhh....karena mama takut kalo naek pesawat komersil biasa itu...kadang-kadang sebenarnya sertifikat ISO nya ngga begitu bisa dipercaya dan standard operating procedur-nya....rada gimana gituh...”, ngomongnya makin melangit dan tetap mengebas-ngebas kipas persis seperti ibu-ibu PKK KBRI yang ngga punya kerjaan. Cuaca sudah agak dingin tapi entah kenapa masih tetep pake kipas-kipas. Baru pertama keluar negeri !!!
Ela pun melirik kesana kemari tanda ingin keluar dari lingkaran-lingkaran dan helaan-helaan para lelaki Indonesia yang wajahnya dibawah rata-rata kalo menurut selera ela. Apalagi kalo dalam masalah finansial, no contest man....dibanding dengan seorang ela yang datang dengan naik pesawat jet yang biasanya diparkir dipulau komodo. Nampak dari kejauhan seorang wanita indonesia yang tengah menikmati makan siangnya di kantin. Wajahnya diam, tenang dan selalu duduk sendiri dipojok kampus. Temannya hanya buku-buku dan kacamata yang masih setia bertengger diatas batang hidungnya.
Ela tertegun dan agak sedikit kaget, karena wanita pendiam yang sedang makan itu memakai kaos yang bertuliskan bahasa indonesia “JAGALAH KEBERSIHAN..!!”.
Ela denga sedikit agressif nya memperkenalkan diri sebagai mahasiswi baru di kampus itu.
“Kamu mahasiswi indonesia juga yah ?”, tanya ela dengan gaya sok akrab nya.
“Iya mba....”jawabnya dengan santun.
“Oh iya... kenalkan nama saya Ela...sebenarnya sih banyak nama saya,...tapi ela aja deh kalo untuk nama internasional-ku apalagi untuk di seoul....”,tukas ela.
“Wah senang sekali bisa berkenalan dengan mba ela, nama saya vira, mba..!!”, senyumnya melebar dan nampak sangat santun bahasanya.
“Vir, aku tertarik sama kaos kamu....”, ela mulai mencari celah.
“Terima kasih mba...”, balas vira dengan agak sedikit malu-malu.
“Maksudku tertarik untuk ngasih komen...”, sambung ela.
“Oh iya silahkan mba...aku seneng banget kok”, tandas vira yang tersentak dengan pernyataan ela tanpa angin tanpa badai.
“Kamu hari gini, cuaca gini, dan di negara yang maju gini gitu lohhh......masih pake kaos yang bertuliskan JAGALAH KEBERSIHAN.......”, nada ela mulai agak sedikit berubah.
“Emangnya kenapa mba ?”, tanya vira yang agak sedikit bingung.
“Ya elah.....ngga jaman kali pake baju kayak gitu, apalagi di luar negeri masa pake bahasa Indonesia ? ...malu dunk...sekarang ini zamanya global vir....Inggris neng...Inggris...kalo ngga.... perancis, karena perancis adalah pusat mode....”, sambung ela yang masih agak jetlag waktu baru sampai di korea.
“Oh ini kaos pemberian dari abahku mba”, sambung vira.
“Alah...lo hari gini nyebut kata ABAH....ngga jaman sob...DADDY dunk....gimana sih ?? udah sekolah jauh-jauh tetep aja ngga bisa pake kata daddy”, tukas ela.
“Maksud mba, dedy dores ?”, tanya vira untuk memperjelas.
“Buset dah...bukan...daddy tuh bokap...jangan sampe lo bilang ngga tau apatuh “bokap”, lagi !!!“, jawab ela masih dengan nada anak-anak gaul jakartanya.
“Yah, karena dirumah saya biasanya pake abah mba”, jawab vira yang agak sedikit polos.
“Lah..... emangnya kamu ngga di ajarin apa waktu kamu masih SD ?...kamu ngga belajar bahasa inggris yah??”, tanya ela yang nampak makin angkuh.
“Ada mba, diajarin....tapi cuma sedikit..”, tukas vira
“Kamu SD dimana sih...pasti SD impress yah...sekolahnya anak-anak miskin”, tanya ela.
“Kok mba tau sih kalo aku dari SD impress ?”, vira yang jadi penasaran
“Ya iyalahh...dari kaos yang kamu pake aja aku udah tau....karena itu kan kaos promosi yang dikeluarkan oleh pemda jakarta untuk menggalang dan membangkitkan semangat orang-orang miskin untuk bergotong royong ngebersihin kantor pemda.....dan kaos itu cuma disebarkan pada orang-orang ekonomi kebawah”, jelas ela persis seperti pegawai pemda DKI yang sedang membujuk orang-orang miskin agar memberikan suport kepada program pemda.
“Udah... mending kamu ganti deh yah kalo kita ketemu lagi jangan pake kaos kayak gituannn aku malu banget deh liatnya....apalagi kaos murahan pemberian pemda DKI dibawa bawa ke korea dan ada tulisan JAGALAH KEBERSIHAN....wualahhh...ngga banget deh gua.....masa sih aku harus sampe beliin baju baru buat kamu ?”, tanya ela yang semakin angkuh, angkuh dan angkuh hampir menyamai firaun.
“Uang saya ngga cukup mba....uang beasiswa saya pernah saya coba belikan kaos. Dan kaosnya itu udah saya pesan dengan tulisan ada bahasa inggrisnya mba......”KEEP CLEAN !!!” eh tapi malah tiba-tiba orangnya kabur dan menghilang entah kemana...apes deh”, penjelasanya cukup memelas.
“Ya elah....kamu kok beloon banget sih vir..bener-bener beloon....kalo beli kaos itu beli di toko yang mereknya udah terkenal. Kayak Bilabong, Guardano, Dickies, Adidsa...apalagi kamu kan anak muda....aturanya beli baju yang bermerek biar nyentrik...nanti cowo-cowo pada kepincut sama kamu....makanya beli tuh yang berkualitas...kamu lulus SD ngga sih vir ??”, tanya ela sambil diikuti lirikan mata hilmi, byan, dan hadi karena kaos kebanggaanya merasa disebut oleh cewe tajir ini.
“Iya lulus la mba !! kalo ngga lulus kan ngga mungkin saya bisa kuliah”, jawab vira yang agak sedikit smart.
“Oh iya ...betul juga yah”, kini ela nampak agak sedikit beloon.
“Nih aku ajarin... kamu tuh harus gaul dan gaul....apalagi dari segi ngomong dan bicara kamu...harus gaul sobb...ingggrisss dunk....supaya orang-orang pada ngeliat kamu nanti”, persis seperti walinsongo lagi memberikan wejangan.
“Yah.... buat saya yang namanya berkomunikasi dengan orang lain itu ngga perlu harus gaul mba”, jawab vira.
“Lalu apa dunk ??“, tanya ela sambil memperhatikan berat badanya yang nampak di etalase kantin.
“Berkomunikasi dengan orang lain itu yang pertama adalah sopan dan santun ”, sambung vira
“Kenapa gituh ?”, tanya ela yang merasa mulai terusik.
Di sudut kantin helmi, byan, dan andy tengah asik menggerumuni ipod terbaru hilmi yang nampak transparan sambil menyetel radioppidunia. Tiba-tiba suara dj selvi masuk dari pulau texel dan sampai ke telinga-telinga orang-orang korea tak terkecuali ela dan kawan-kawan indonesia lainya yang lagi ada di kantin.
“Apa sih pesan yang paling berkesan antara kamu dan mantan pacar kamu ?”, tanya dj selvi yang lagi on air kepada sobatradioppidunia .
Dj selvi membacakan sebuah masukan lewat yahoo messengger dari sobat radioppidunia, “Aku terkesan dengan pesan matan cowoku yang dulu ketemu di pesawat KLM, tapi sekarang dia di australia, mantan pacarku waktu itu pernah bilang “wanita itu akan nampak cantik bukan karena semata-mata wajahnya atau pakaiannya, tapi lebih bergantung dari bagaimana ia membawa diri dan bertutur kata” “.
“Wah ini bener banget lo ...sobatradioppidunia....selvi jadi merasa terharu membacanya...karena selvi setuju banget atas pesan mantan cowonya....karena sehebat apapun, se-beragama nya apapun dan secantik apapun wanita itu...ia akan menjadi tidak cantik dan sirna dengan segala kehebatan yang ia miliki dalam waktu sekejap, bak pelangi yang hilang ketika mentari datang jika ia tidak mempunyai tutur kata yang manis nan indah”.
“Kalo gua sih IlFeeeeeeeeeeeeeellll (ilang feeling) cuyyyyy....”, serentak para JOKER (Jomblo-Jomblo Keren Korea) byan, hilmi dan hadi – menyambut dj selvi, sambil dilengkapi dengan gelak tawak yang merambat diseluruh lantai-lantai kantin.
Mendengar dj selvi yang sedang siaran, kini ela merasa tertegun dan serasa disambar petir yang tepat mecium ubun-ubun kepalanya. Kata-kata bijak dj selvi yang sudah banyak makan asin garam pulau texel langsung masuk ke long-term memory sang ela.
“Mba ela kenapa kok pake kaos warna merah yang mencolok dan bermerek tentunya?”, tanya vira memecah lamunan sekaligus renungan ela terhadap kata-kata dj selvi yang nun jauh di pulau texel belanda sana.
“Yah supaya lebih nyentrik aja...kan biar keliatan masih muda”, jawab ela.
“Waduh mba.... kalo disini baju merah yang mencolok mata...baju yang paling disukai sama cewe-cewe binal korea, jadinya kalo orang sering jemur baju warna merah yang mencolok mata...bisa gampang ilang mba....walaupun baru di jemur 5 menit.”, jelas vira.
“Waduh kok bisa sih...?? nanti gimana dunk kalo aku nyuci baju ini...masa ngga aku cuci-cuci sih bajunya...atau masa aku harus pantengin nih baju di jemuran sampe kering...??”. Gerutu ela sambil diikuti gerak tubuhnya yang sudah tidak nampak feminin lagi karena ketakutan yang mulai menghantui.
“Yah mba....tuh kan, tidak semestinya yang mahal itu akan selalu menjadi yang terbaik...bahkan harga barang dan kaos yang mahal, malah tidak memberikan ketenangan dalam batin....bukankah kita memakai pakaian itu agar mendapatkan ketenangan di dalam jiwa ?”, jelas vira dengan bahasanya yang sopan dan santun.
Langit mulai menghitam tepat diatas kota seoul. Tak terasa rintik-rintik hujan mengeluarkan aroma yang agak sedikit menyeringai ke dalam hidung setelah menyentuk aspal-aspal yang gersang .
“Iya....aku merasa tidak tenang terkadang memakai pakaian-pakaian mahal....malah batin ku merasa sangat terbebani dengan pakaian-pakaian yang harganya membumbung tinggi hingga menembus atomosfir”, ela mengakui.
Rintik-rintik air hujan nampak bersentuhan dengan kaca-kaca disekitar kampus. Orang-orang mulai menikmati kopi panas yang dicampur dengan ginseng. Rumput-rumput terbasahi oleh air hujan yang agak sedikit bertambah volumenya. Vira melanjutkan suapan-suapan tanganya untuk memberi makan ususnya yang masih lapar. Ela masih tetap tertegun diiringi dengan deru air hujan. Make-up nya kini agak sedikit luntur, tanganya yang halus lembut kini terkena sedikit cipratan kecap, bekas makanan orang yang telah makan di meja itu sebelumnya. Kelompok JOKER masih tetep asyik mendengarkan ipod terbaru hilmi yang masih berkoar-koar megeluarkan suara dj selvi. Volume air hujan makin bertambah diluar sana. Ela masih tetap merenung dan nampak sedikit penyesalan. Vira masih tetap menyuap kan dirinya dengan telor asin. Semua tetap dalam posisi masing-masing yang berbeda: yang satu makan, yang satu merenung, dan satu grup anak muda masih menggandrungi ipod. Tapi mereka semua sama. Sama-sama mengenakan kaos.
Friday, October 2, 2009
Tuhan itu Kejam...
Aku pijakan kakiku di atas pulau sumatra bagian berat ketika pesawatku mendarat di airport, tabing,sumatra barat. Berangkat dari benua amerika utara dengan rombongan para tim medis yang siap meggapai korban-korban yang mulai nampak bergelimpangan dimana-mana. Jauh sebelum pesawat NGO terbesar di perancis ini mendarat di kota padang, nampak degup hatiku semakin tak menentu. Nampak dari atas peswaat kota itu bagaikan kota mati yang baru dimusnahkan oleh ribuan bom atom yang dijatuhkan. Semua keadaan nampak tak seperti sebuah kota hunian. Hanya tiga kata yang bisa aku ucapkan dalam hati tentang kota ini. Merata DenganTanah. ....Medicine Sans Frontier, sebuah NGO yang bermarkas di perancis ini, adalah tempat sandaranku saat ini dan juga yang membawa ku kembali ke tanah air setelah bertahun-tahun hidup di benua amerika demi segenggam ilmu yang bisa ku bawa pulang ke tanah air. Kini aku kembali, walau hanya untuk sebuah tugas kerja, dengan hanya sedikit ilmu di otakku. Berbekalkan sedikit pengetahuan tentang psikologi aku kini berada di tengah-tengah ratusan mayat yang bergelimpangan. Ratusan anak-anak orang tua, wanita-wanita nampak begitu trauma dan linglung. Wajah mereka penuh iba. Penuh penderitaan. Bahkan janin-janin yang sedang merangkul manis di dalam rahim ikut terancam akibat patahan lempengan bumi di dasar laut dengan kedalaman 87 km yang mengakibatkan gempa dengan kekuatan 7.6 SR. Jeritan-jeritan manusia yang tertimbun reruntuhan, kini masuk dan menggetarkan seluruh gendang telingaku.
“Awwwwww..... ......... ......... ......... .......”kakiku terhantuk dan sesuatu menghalangi gerak langkahku. Kulihat sepasang kaki menjulur sambil kuangkat sedikit bola mataku merunut dari ujung kaki tersebut hingga sampai pada tubuh seorang ibu yang sedang memeluk anaknya. Tapi kedua nyawanya kini telah meregang akibat tertimpa bangunan-bagunan rumah yang hancur.
Ah.......aku tak percaya semua ini, persis seperti kota athena yang sudah di luluh lantahkan atau persis seperti kota yang sudah di bantai habis-habisan oleh tentara kuda trojan. Tak ada lagi bangunan yang kokoh berdiri sampai 5 meter. Yang ada hanya bagunan-bangunan yang telah merata dengan tanah. Setiap kali aku langkahkan kakiku terdegar jeritan-jeritan baru anak-anak yang terhimpit reruntuhan sekolah mereka sendiri. Tak ada yang menolong mereka, karena tak ada yag mampu mengangkat puing-puing besar yang memerlukan alat berat untuk menghilangkannya. Lututku mulai terasa goyang, hampir tak mampu lagi berjalan diantara mayat-mayat yang bergelimpangan di setiap ujung kakiku. Lama sudah aku tinggalkan kota padang yang menjadi asal-usulku sebelum aku tersesat di benua amerika, kini tak ada lagi kenangan-kenangan masa lalu yang pernah terukir di negeri jam gadang ini.
“toloooonggggggggggg gggggggggg. ......... .”, aku kenal suaranya. Iya...aku kenal.
“Igummmmmmmmmmmmmmmm mmm...... .....tolongggg”, aku balikan seketika badanku dengan seketika dan tak terasa kini aku seperti disambar petir secepat aku membalikan badanku secepat itu pula inest menghamburkan badanya ke arah ku yang sudah tak kuat lagi menahan gravitasi tubuhnya sendiri. Degan seketika aku langsung menopangnya agar ia tak terjatuh dan terhentak puing-puing yang semakin menggunduk.
“Mami....gummm. ......mami. ......”, suaranya sudah mulai hilang dan parau.
“Tenang nest...tenang. .. kenapa? dimana maminya?”, tanyaku sambil mencari-cari dimana seseorang yang disebut oleh nya mami.
“Mami inesst...... .”, suaranya terdengar menggaungkan langit yang nampak suram diatas sana seakan hendak berbela sungkawa atas mayat-mayat yang tak terhitung jumlahnya. Terdengar suranya sudah mulai habis dan kini ia tak sanggup lagi meneteskan air mata yang sudah kering dan tumpah sedari tadi membasahi kota jam gadang ini.
Mataku semakin gencar mencar-cari manusia yang di maksud mami oleh inest diantara mayat-mayat yang bergelimpangan dihadapanku. Apa mungkin di antara puing-puing itu?, apa mungkin di atas rumah yang sudah roboh itu ?, apa mungkin diantara manusia-manusia yang tengah menjerit-jerit itu ?. Aku hampir tak kuat lagi menopang tubuh inesst yang semakin ditarik gaya gravitasi bumi.
Peralatan-peralatan medisku masih tetap menggantung di tangan kiriku sambil menahan tubuh inest ditangan kananku. Aku tak kuat rasanya melihat keadaan ini. Nyawa-nyawa manusia seakan begitu murah karena hanya berakhir diantara bongkahan-bongkahan semen yang dulu dibangun oleh diri mereka sendiri tapi kini menghimpitnya. Kaki ku kini terasa ditarik tarik oleh sebuah jari yang mencoba menggerayangi dan menggenggam pergelangan kakiku, aku alihkan mataku ke arah pergelanagan kakiku.
“Astagafirullah. ......... ya tuhan......”, begitu mataku sampai di pergelangan kakiku, sewaktu itu pula jari jari yang mencoba memegang kakiku pertanda meminta pertolongan mulai melemah dan hingga akhirnya tak bergerak sama sekali. Jari-jemari seorang anak kecil yang tubuhnya sudah menyatu dengan bagunan sekolahnya yang sudah roboh. Hatiku semakin remuk lebih dari puing-puing ini, genggaman tangan anak yang tertimpa puing-puing sekolahnya itu tak sempat aku balas dengan genggamanku, belum lagi aku sempat membuka kotak obat ku. Kini ia telah pergi untuk selamanya.
Aku mengusap air mataku yang sedari tadi mulai menetes tak terasa membasahi baju seragam kebanggaan NGO yang aku idam-idamkan sewaktu masih kuliah s1 dulu. Kini dari kejauhan aku nampak sesosok wanita tinggi semampai dan parasnya yang cantik, 5.5 out of 10. Lagi-lagi aku mengenalinya.
“Uni selviiiiiiiii. ......... ......... onde maoy....baa kabaa uni ?”(apa kabar-red), tanya ku langsung ngga pake basa basi dan sekaligus kaget uni selvi ada di kota padang.
“Iya uni baru sampai 5 jam yang lalu langsung dari Pulau Texel, belanda, untuk meneliti lempengan bumi yang patah di laut yang persis berada di daerah pariaman”, sambung uni selvi yang baru aja merampungkan studinya di bidang fisika kelautan persis 2 hari sebelum sang gempa menjilat sumatra barat.
Tiba-tiba kami terperanjat oleh suara yang sangat familiar sekali ditelinga kami dan menjerit dengan nada kesedihan yang ditemani tetesan air mata yang kini nampak telah menggenangi kelopak matanya.
“Ya allah....... .apa sebenarnya yang terjadi sama kita semua yah ?”, suara mela yang kini berada di lapangan sekaligus meliput berita-berita tentang kejadian gempa yang disiarkan langsung untuk radioppidunia.
“Entah lah mel.....aku sudah tak bisa lagi berfikir yang berat-berat. ...semua tempat-tempat dulu aku bermain, tempat aku berlari-lari, berkejar-kejaran, bermain ayunan.....kini semuanya telah hilang dan musnah....tempat itu sudah tiada lagi, yang ada hanya kenangan-kenangan masa kecil yang masih tetap terukir di dalam benak”, jawab inest yang nampak masih tak sanggup untuk menggangkat kepala sepenuhnya dan masih bersandar di pundakku.
“Apa semua ini ada hubunganya dengan ulah kita ? “, tanya mela yang sudut matanya juga telah membengkak sambil menyeka air mata yang sedikit memburamkan pandangan matanya.
“Iya... alam ini jika dilihat secara scientific mempunya batasan-batasan dan standar...jika ia terus di eksploitasi oleh manusia, maka secara natural, standar alam untuk bekerja itu bekerja dengan tetap menjamin keselamatan manusia sudah semakin menurun dan mungkin menjadi tidak teratur yang akan membahayakan manusia itu sendiri”, jelas uni selvi yang nampak masih segar dengan rumus-rumus fisika kelautanya setelah beberapa tahun bertapa di pulau texel, belanda.
“Tapi, bukankah bumi ini diciptakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan manusia ?”, tanyaku pada uni selvi.
“Betul...bahwa bumi yang telah diciptakan tuhan ini hanya untuk manusia akan tetapi bukan berarti manusia itu bebas untuk mengeksploitasi sesuai isi perutnya, karena di muka bumi ini penghuninya tidak hanya manusia tetapi juga ada tumbuhan dan binatang...pada prinsipnya bahwa manusia boleh menggunakan apapun dalam dunia ini asalkan sesuai kadarnya”, penjelasan uni selvi benar-benar menunjukan seorang gadis yang ke ibu-ibuan.
“Kadarnya yang seperti apa ?”, tanya ku kembali kepada uni selvi.
“Kadarnya adalah kesederhanaan yang tidak kekurangan dan juga tidak berlebihan. Dalam kata lain manusia seharusnya menggunakan isi bumi untuk SEPERLUNYA bukan SEMAUNYA”, jawab uni selvi yang benar-benar telah teruji tidak hanya ahli di bidang fisika kelautan tetapi juga dibidang filsafat science.
Ah.... kembali aku tak kuasa mendengar jeritan-jeritan anak-anak sekolah yang tertimpa tempat mereka belajar dan masih meminta tolong agar diselamatkan. Jeritan anak-anak itu membuat semua aliran darahku seolah terhenti dan aorta ku tak mampu lagi memompa darah ke seluruh tubuhku. Kini jeritan-jeritan anak itu masuk ke setiap lipatan-lipata otakku hingga masuk menerobos ke lapisan-lapisan protein DNA ku.
“Uni selvi dan mela....aku mau tanya...”, sambil terbayang-bayang wajah anak-anak sekolah yang begitu lugunya untuk menahan himpitan tembok yang nampak semakin bengis tak mau berdiri dan hengkang.
“Iya.....”, mereka berdua mempersilahkan.
“Kalau tuhan itu memang ada... dan katanya tuhan itu maha pengasih dan maha penyayang, tapi kenapa Dia menimpakan semua ini pada manusia ? Kenapa tuhan begitu Kejam?...... .memusnahka ratusan nyawa manusia hanya dalam hitungan menit.....tak ada yang lebih berharga di dunia ini selain nyawa dan nyawa....”,tubuhku mulai terasa gontai dan tak sanggup lagi menahan lengkingan suara anak-anak yang masih tertimpa puing-puing sekolah mereka.
“Tuhan memang maha pengasih dan maha penyayang, hingga ia menciptaka segalanya untuk manusia...apapun dimuka bumi ini adalah untuk manusia....itu menunjukan bahwa tuhan benar-benar sayang dengan ciptaaNya... .tapi ingat !!! dalam alam ini ada sebuah hukum yang mengatur cara kerja alam termasuk bumi....dalam bahasa fisika nya ini lah yang disebut dengan Natural Law.....Seperti halnya hukum, ia selalu mempunyai dua sisi: Aksi dan Konsekuesi”, jelas uni selvi yang agak sedikit menggantung. Otakku agak sulit mencernanya dasar otakku memang bebal semenjak dibangku SD dulu. Juga tidak ketinggalan mela yang mengangguk-ngangguk nampak seperti orang yang paham, gayanya selangit.
“Maksud uni apa dengan aksi dan konsekuensi ?”, tanya inest yang masih mencintai jurusan perikanan disebabkan karena masa kecil yang sangat akrab dengan laut persis berada di belakang rumah.
“Seperti halnya hukum, bahwa ia harus ditaati. Jika tidak, maka ia akan memberikan konsekuensi yang menyebabkan kehidupan dan tatanan sosial menjadi tidak harmoni....Begitu juga dengan hukum alam, jika ia tidak dijaga dengan baik seperti dieskplotasi habis-habisan, maka isi kekayaan alam itu pun akan berkurang yang menyebabkan kemampuan bumi untuk bekerja itu berkurang. Oleh karena itu dengan sendiri nya kinerja bumi tidak lagi menjadi harmoni....sebagai dampaknya penghuni bumi itu sendirilah yang akan menanggung akibat perbuatanyanya terhadap bumi...So, bukan tuhan yang kejam tapi manusia itu sendirilah yang melanggar hukum-hukum alam yang sudah ditetapkan agar bumi ini dapat berjalan degan harmoni”, penjelasan uni selvi benar-benar logis dan religi.
“Jadi seharusnya bagaimana agar kita tidak melanggar natural law (hukum alam) ?”, tanya ku yang semakin ingin tahu dan sekaligus ingin tahu segala pengetahuan yang ada di balik kepala wanita yang tinggi semampai ini.
“Simple saja....pelajari dulu tentang alam (Natural law/ hukum alam) sebelum manusia menggunakan alam dan jangan lupa !!!... tahan nafsumu untuk tidak berlebihan dengan alam”, jawab uni selvi ringkas dan padat.
Kini jeritan-jeritan orang yang terkubur dan terhimpit di hotel ambacang yang 3 lantai pertamanya ambalas masuk ke tanah mulai terdegar sayup-sayup ditiup angin malam hingga sampai ke lubang telinga kami. Aku berusaha tak mendengar karena tak mampu menahan bayangan diotakku akan manusia-manusia yang tenggorokannya terhimpit puluhan kilo puing-puing bangunan.
“Lalu bagaimana dengan 60 siswa dan pegajarnya yang semuanya terhimpit oleh bangunan tempat mereka belajar dan juga bagaimana dengan hotel yang sedang dihuni 200 tamu tiba-tiba lenyap masuk ke dalam tanah ?...sementara para bangsat-bangsat kelas atas yang mengatas namakan orang-orang miskin demi kepuasan nafsunya sendiri,korupsi dan kolusi...mereka tak pernah tersentuh dengan berbagai gempa dan becana ?...lalu dimana letak KEADILAN tuhan ?..kalau begitu aku tidak percaya bahwa tuhan itu adil.....”, nada aku agak sedikit emosional.
“Kita bukan tuhan.....kita hanya ciptaan tuhan...maka kita tidak akan pernah tahu rahasia tuhan...”, kalimat-kalimatnya menyetuh mozaik-mozaik kehidupanku kehidupan dengan nilai-nilai sufistik.
“Maksudnya uni...?”, tanya mela yang nampak tidak mengerti setetes pun apa yang keluar dari pita suara uni selvi.
“Terkadang kita terlalu memandang bahwa kematian adalah suatu hal yang berkonotasi negatif...karena kita selalu memandang kematian adalah sebuah akhir dari kehidupan dunia yang mana kita TERLALU POSSESSIF untuk memiliki segalanya. Maka, kematian dilihat sebagai sebuah perpisahan dengan segala kenikmatan yang dipinjamkan oleh tuhan itu “, uni selvi mencoba menghela nafas.
“Terkadang kematian mungkin hal yang terbaik bagi manusia, karena bisa saja jika tuhan menambah panjang umurnya maka manusia itu akan semakin banyak membuat kerusakan di muka bumi ini...... atau....kematian bisa saja sebagai cara tuhan agar manusia itu tidak terjerumus kepada hal-hal yang penuh dosa......atau. ...mungkin kematian adalah salah satu refleksi sifat kasih sayang tuhan yang tidak menginginkan hambanya terlalu banyak bergelimang dalam dosa seperti halnya para koruptor-koruptor. ...bukankah kehidupan akhir nan kekal lebih baik daripada kehidupan yang dunia yang hanya bersifat sementara ....?”, pertanyaanya membuatku tersentak akan masa lalu ku yang suram.
“Tuhan memang memberikan mereka(para pembuat dosa) umur yang panjang dan kesenangan yang melimpah ruah, tapi jangan lupa !!! segala yang mereka punyai akan dimintai pertanggung jawabanya nanti...Bagaimana mereka mendapatkan dan menggunakan kesenangan itu ? Apakah dengan cara yang baik atau tidak..?...jika tidak maka mereka akan bermain dalam ayunan ke nestapaan untuk selamanya nanti.....”, uni selvi nampak mulai lelah setelah memberikan wejangan-wejanganny a yang masih beraroma pulau texel.
“Tuhan memang adil.....apa yang dimata kita nista tapi mungkin saja hal itu adalah surga dimataNya, tapi begitu juga sebaliknya apa yang dimata kita surga mungkin saja itu neraka di mataNya”, mela yang dengan tiba-tiba tak disangka kini IQ nya melejit mampu untuk menyimpulkan obrolan-obrolan kelas tinggi para manusia setengah dewa.
Hari mulai gelap. Gerimis rintik-rintik mulai turun membasahi setiap puing-puing dan tenda-tenda bantuan. Langit berubah menjadi kelam dan menangis deras menurunkan air matanya menyirami ratusan-ratusan mayat yang masih tergeletak di ranah minang. Aku masih membopong inest, yang masih mencari mami-nya, untuk masuk ke tenda posko bantuan yang sudah dipenuhi warga-warga yang nampak terkulai dan terluka. Uni selvi kembali ke pos-nya untuk melanjutkan penelitiannya. Mela masih tetap giat mencari berita untuk dapat disampaikan langsung kepada para sobatradioppidunia.
Aku masih tetap termenung di bawah cahaya lampu tempel yang sesekali ditiup agin malam. Sejenak aku penjamkan mata yang tetap tertesi hujan yang menemani memoriku kembali terbayang beberapa tahun yang silam ketika aku masih kecil dulu.Nenekku menuntun aku berjalan menyusuri pantai pasir putih sambil mendongengkan hikayat-hikayat nenek moyangku seorang pencari ikan. Karena kami orang laut yang membangun sebuah rumah panggung di tepi pantai tempat kami mencari hidup. Dan kini rumah itu telah lenyap, runtuh, luluh-lantah dan merata dengan tanah. Jeritan-jeritan tolong masih tetap terdengar dari kejauhan dari mereka yang tertimpa puing-puing besar. Suara-suara mereka mulai pelan...perlahan. ..hingga kemudian hilang....seiring dengan berlalunya malam.
“Awwwwww..... ......... ......... ......... .......”kakiku terhantuk dan sesuatu menghalangi gerak langkahku. Kulihat sepasang kaki menjulur sambil kuangkat sedikit bola mataku merunut dari ujung kaki tersebut hingga sampai pada tubuh seorang ibu yang sedang memeluk anaknya. Tapi kedua nyawanya kini telah meregang akibat tertimpa bangunan-bagunan rumah yang hancur.
Ah.......aku tak percaya semua ini, persis seperti kota athena yang sudah di luluh lantahkan atau persis seperti kota yang sudah di bantai habis-habisan oleh tentara kuda trojan. Tak ada lagi bangunan yang kokoh berdiri sampai 5 meter. Yang ada hanya bagunan-bangunan yang telah merata dengan tanah. Setiap kali aku langkahkan kakiku terdegar jeritan-jeritan baru anak-anak yang terhimpit reruntuhan sekolah mereka sendiri. Tak ada yang menolong mereka, karena tak ada yag mampu mengangkat puing-puing besar yang memerlukan alat berat untuk menghilangkannya. Lututku mulai terasa goyang, hampir tak mampu lagi berjalan diantara mayat-mayat yang bergelimpangan di setiap ujung kakiku. Lama sudah aku tinggalkan kota padang yang menjadi asal-usulku sebelum aku tersesat di benua amerika, kini tak ada lagi kenangan-kenangan masa lalu yang pernah terukir di negeri jam gadang ini.
“toloooonggggggggggg gggggggggg. ......... .”, aku kenal suaranya. Iya...aku kenal.
“Igummmmmmmmmmmmmmmm mmm...... .....tolongggg”, aku balikan seketika badanku dengan seketika dan tak terasa kini aku seperti disambar petir secepat aku membalikan badanku secepat itu pula inest menghamburkan badanya ke arah ku yang sudah tak kuat lagi menahan gravitasi tubuhnya sendiri. Degan seketika aku langsung menopangnya agar ia tak terjatuh dan terhentak puing-puing yang semakin menggunduk.
“Mami....gummm. ......mami. ......”, suaranya sudah mulai hilang dan parau.
“Tenang nest...tenang. .. kenapa? dimana maminya?”, tanyaku sambil mencari-cari dimana seseorang yang disebut oleh nya mami.
“Mami inesst...... .”, suaranya terdengar menggaungkan langit yang nampak suram diatas sana seakan hendak berbela sungkawa atas mayat-mayat yang tak terhitung jumlahnya. Terdengar suranya sudah mulai habis dan kini ia tak sanggup lagi meneteskan air mata yang sudah kering dan tumpah sedari tadi membasahi kota jam gadang ini.
Mataku semakin gencar mencar-cari manusia yang di maksud mami oleh inest diantara mayat-mayat yang bergelimpangan dihadapanku. Apa mungkin di antara puing-puing itu?, apa mungkin di atas rumah yang sudah roboh itu ?, apa mungkin diantara manusia-manusia yang tengah menjerit-jerit itu ?. Aku hampir tak kuat lagi menopang tubuh inesst yang semakin ditarik gaya gravitasi bumi.
Peralatan-peralatan medisku masih tetap menggantung di tangan kiriku sambil menahan tubuh inest ditangan kananku. Aku tak kuat rasanya melihat keadaan ini. Nyawa-nyawa manusia seakan begitu murah karena hanya berakhir diantara bongkahan-bongkahan semen yang dulu dibangun oleh diri mereka sendiri tapi kini menghimpitnya. Kaki ku kini terasa ditarik tarik oleh sebuah jari yang mencoba menggerayangi dan menggenggam pergelangan kakiku, aku alihkan mataku ke arah pergelanagan kakiku.
“Astagafirullah. ......... ya tuhan......”, begitu mataku sampai di pergelangan kakiku, sewaktu itu pula jari jari yang mencoba memegang kakiku pertanda meminta pertolongan mulai melemah dan hingga akhirnya tak bergerak sama sekali. Jari-jemari seorang anak kecil yang tubuhnya sudah menyatu dengan bagunan sekolahnya yang sudah roboh. Hatiku semakin remuk lebih dari puing-puing ini, genggaman tangan anak yang tertimpa puing-puing sekolahnya itu tak sempat aku balas dengan genggamanku, belum lagi aku sempat membuka kotak obat ku. Kini ia telah pergi untuk selamanya.
Aku mengusap air mataku yang sedari tadi mulai menetes tak terasa membasahi baju seragam kebanggaan NGO yang aku idam-idamkan sewaktu masih kuliah s1 dulu. Kini dari kejauhan aku nampak sesosok wanita tinggi semampai dan parasnya yang cantik, 5.5 out of 10. Lagi-lagi aku mengenalinya.
“Uni selviiiiiiiii. ......... ......... onde maoy....baa kabaa uni ?”(apa kabar-red), tanya ku langsung ngga pake basa basi dan sekaligus kaget uni selvi ada di kota padang.
“Iya uni baru sampai 5 jam yang lalu langsung dari Pulau Texel, belanda, untuk meneliti lempengan bumi yang patah di laut yang persis berada di daerah pariaman”, sambung uni selvi yang baru aja merampungkan studinya di bidang fisika kelautan persis 2 hari sebelum sang gempa menjilat sumatra barat.
Tiba-tiba kami terperanjat oleh suara yang sangat familiar sekali ditelinga kami dan menjerit dengan nada kesedihan yang ditemani tetesan air mata yang kini nampak telah menggenangi kelopak matanya.
“Ya allah....... .apa sebenarnya yang terjadi sama kita semua yah ?”, suara mela yang kini berada di lapangan sekaligus meliput berita-berita tentang kejadian gempa yang disiarkan langsung untuk radioppidunia.
“Entah lah mel.....aku sudah tak bisa lagi berfikir yang berat-berat. ...semua tempat-tempat dulu aku bermain, tempat aku berlari-lari, berkejar-kejaran, bermain ayunan.....kini semuanya telah hilang dan musnah....tempat itu sudah tiada lagi, yang ada hanya kenangan-kenangan masa kecil yang masih tetap terukir di dalam benak”, jawab inest yang nampak masih tak sanggup untuk menggangkat kepala sepenuhnya dan masih bersandar di pundakku.
“Apa semua ini ada hubunganya dengan ulah kita ? “, tanya mela yang sudut matanya juga telah membengkak sambil menyeka air mata yang sedikit memburamkan pandangan matanya.
“Iya... alam ini jika dilihat secara scientific mempunya batasan-batasan dan standar...jika ia terus di eksploitasi oleh manusia, maka secara natural, standar alam untuk bekerja itu bekerja dengan tetap menjamin keselamatan manusia sudah semakin menurun dan mungkin menjadi tidak teratur yang akan membahayakan manusia itu sendiri”, jelas uni selvi yang nampak masih segar dengan rumus-rumus fisika kelautanya setelah beberapa tahun bertapa di pulau texel, belanda.
“Tapi, bukankah bumi ini diciptakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan manusia ?”, tanyaku pada uni selvi.
“Betul...bahwa bumi yang telah diciptakan tuhan ini hanya untuk manusia akan tetapi bukan berarti manusia itu bebas untuk mengeksploitasi sesuai isi perutnya, karena di muka bumi ini penghuninya tidak hanya manusia tetapi juga ada tumbuhan dan binatang...pada prinsipnya bahwa manusia boleh menggunakan apapun dalam dunia ini asalkan sesuai kadarnya”, penjelasan uni selvi benar-benar menunjukan seorang gadis yang ke ibu-ibuan.
“Kadarnya yang seperti apa ?”, tanya ku kembali kepada uni selvi.
“Kadarnya adalah kesederhanaan yang tidak kekurangan dan juga tidak berlebihan. Dalam kata lain manusia seharusnya menggunakan isi bumi untuk SEPERLUNYA bukan SEMAUNYA”, jawab uni selvi yang benar-benar telah teruji tidak hanya ahli di bidang fisika kelautan tetapi juga dibidang filsafat science.
Ah.... kembali aku tak kuasa mendengar jeritan-jeritan anak-anak sekolah yang tertimpa tempat mereka belajar dan masih meminta tolong agar diselamatkan. Jeritan anak-anak itu membuat semua aliran darahku seolah terhenti dan aorta ku tak mampu lagi memompa darah ke seluruh tubuhku. Kini jeritan-jeritan anak itu masuk ke setiap lipatan-lipata otakku hingga masuk menerobos ke lapisan-lapisan protein DNA ku.
“Uni selvi dan mela....aku mau tanya...”, sambil terbayang-bayang wajah anak-anak sekolah yang begitu lugunya untuk menahan himpitan tembok yang nampak semakin bengis tak mau berdiri dan hengkang.
“Iya.....”, mereka berdua mempersilahkan.
“Kalau tuhan itu memang ada... dan katanya tuhan itu maha pengasih dan maha penyayang, tapi kenapa Dia menimpakan semua ini pada manusia ? Kenapa tuhan begitu Kejam?...... .memusnahka ratusan nyawa manusia hanya dalam hitungan menit.....tak ada yang lebih berharga di dunia ini selain nyawa dan nyawa....”,tubuhku mulai terasa gontai dan tak sanggup lagi menahan lengkingan suara anak-anak yang masih tertimpa puing-puing sekolah mereka.
“Tuhan memang maha pengasih dan maha penyayang, hingga ia menciptaka segalanya untuk manusia...apapun dimuka bumi ini adalah untuk manusia....itu menunjukan bahwa tuhan benar-benar sayang dengan ciptaaNya... .tapi ingat !!! dalam alam ini ada sebuah hukum yang mengatur cara kerja alam termasuk bumi....dalam bahasa fisika nya ini lah yang disebut dengan Natural Law.....Seperti halnya hukum, ia selalu mempunyai dua sisi: Aksi dan Konsekuesi”, jelas uni selvi yang agak sedikit menggantung. Otakku agak sulit mencernanya dasar otakku memang bebal semenjak dibangku SD dulu. Juga tidak ketinggalan mela yang mengangguk-ngangguk nampak seperti orang yang paham, gayanya selangit.
“Maksud uni apa dengan aksi dan konsekuensi ?”, tanya inest yang masih mencintai jurusan perikanan disebabkan karena masa kecil yang sangat akrab dengan laut persis berada di belakang rumah.
“Seperti halnya hukum, bahwa ia harus ditaati. Jika tidak, maka ia akan memberikan konsekuensi yang menyebabkan kehidupan dan tatanan sosial menjadi tidak harmoni....Begitu juga dengan hukum alam, jika ia tidak dijaga dengan baik seperti dieskplotasi habis-habisan, maka isi kekayaan alam itu pun akan berkurang yang menyebabkan kemampuan bumi untuk bekerja itu berkurang. Oleh karena itu dengan sendiri nya kinerja bumi tidak lagi menjadi harmoni....sebagai dampaknya penghuni bumi itu sendirilah yang akan menanggung akibat perbuatanyanya terhadap bumi...So, bukan tuhan yang kejam tapi manusia itu sendirilah yang melanggar hukum-hukum alam yang sudah ditetapkan agar bumi ini dapat berjalan degan harmoni”, penjelasan uni selvi benar-benar logis dan religi.
“Jadi seharusnya bagaimana agar kita tidak melanggar natural law (hukum alam) ?”, tanya ku yang semakin ingin tahu dan sekaligus ingin tahu segala pengetahuan yang ada di balik kepala wanita yang tinggi semampai ini.
“Simple saja....pelajari dulu tentang alam (Natural law/ hukum alam) sebelum manusia menggunakan alam dan jangan lupa !!!... tahan nafsumu untuk tidak berlebihan dengan alam”, jawab uni selvi ringkas dan padat.
Kini jeritan-jeritan orang yang terkubur dan terhimpit di hotel ambacang yang 3 lantai pertamanya ambalas masuk ke tanah mulai terdegar sayup-sayup ditiup angin malam hingga sampai ke lubang telinga kami. Aku berusaha tak mendengar karena tak mampu menahan bayangan diotakku akan manusia-manusia yang tenggorokannya terhimpit puluhan kilo puing-puing bangunan.
“Lalu bagaimana dengan 60 siswa dan pegajarnya yang semuanya terhimpit oleh bangunan tempat mereka belajar dan juga bagaimana dengan hotel yang sedang dihuni 200 tamu tiba-tiba lenyap masuk ke dalam tanah ?...sementara para bangsat-bangsat kelas atas yang mengatas namakan orang-orang miskin demi kepuasan nafsunya sendiri,korupsi dan kolusi...mereka tak pernah tersentuh dengan berbagai gempa dan becana ?...lalu dimana letak KEADILAN tuhan ?..kalau begitu aku tidak percaya bahwa tuhan itu adil.....”, nada aku agak sedikit emosional.
“Kita bukan tuhan.....kita hanya ciptaan tuhan...maka kita tidak akan pernah tahu rahasia tuhan...”, kalimat-kalimatnya menyetuh mozaik-mozaik kehidupanku kehidupan dengan nilai-nilai sufistik.
“Maksudnya uni...?”, tanya mela yang nampak tidak mengerti setetes pun apa yang keluar dari pita suara uni selvi.
“Terkadang kita terlalu memandang bahwa kematian adalah suatu hal yang berkonotasi negatif...karena kita selalu memandang kematian adalah sebuah akhir dari kehidupan dunia yang mana kita TERLALU POSSESSIF untuk memiliki segalanya. Maka, kematian dilihat sebagai sebuah perpisahan dengan segala kenikmatan yang dipinjamkan oleh tuhan itu “, uni selvi mencoba menghela nafas.
“Terkadang kematian mungkin hal yang terbaik bagi manusia, karena bisa saja jika tuhan menambah panjang umurnya maka manusia itu akan semakin banyak membuat kerusakan di muka bumi ini...... atau....kematian bisa saja sebagai cara tuhan agar manusia itu tidak terjerumus kepada hal-hal yang penuh dosa......atau. ...mungkin kematian adalah salah satu refleksi sifat kasih sayang tuhan yang tidak menginginkan hambanya terlalu banyak bergelimang dalam dosa seperti halnya para koruptor-koruptor. ...bukankah kehidupan akhir nan kekal lebih baik daripada kehidupan yang dunia yang hanya bersifat sementara ....?”, pertanyaanya membuatku tersentak akan masa lalu ku yang suram.
“Tuhan memang memberikan mereka(para pembuat dosa) umur yang panjang dan kesenangan yang melimpah ruah, tapi jangan lupa !!! segala yang mereka punyai akan dimintai pertanggung jawabanya nanti...Bagaimana mereka mendapatkan dan menggunakan kesenangan itu ? Apakah dengan cara yang baik atau tidak..?...jika tidak maka mereka akan bermain dalam ayunan ke nestapaan untuk selamanya nanti.....”, uni selvi nampak mulai lelah setelah memberikan wejangan-wejanganny a yang masih beraroma pulau texel.
“Tuhan memang adil.....apa yang dimata kita nista tapi mungkin saja hal itu adalah surga dimataNya, tapi begitu juga sebaliknya apa yang dimata kita surga mungkin saja itu neraka di mataNya”, mela yang dengan tiba-tiba tak disangka kini IQ nya melejit mampu untuk menyimpulkan obrolan-obrolan kelas tinggi para manusia setengah dewa.
Hari mulai gelap. Gerimis rintik-rintik mulai turun membasahi setiap puing-puing dan tenda-tenda bantuan. Langit berubah menjadi kelam dan menangis deras menurunkan air matanya menyirami ratusan-ratusan mayat yang masih tergeletak di ranah minang. Aku masih membopong inest, yang masih mencari mami-nya, untuk masuk ke tenda posko bantuan yang sudah dipenuhi warga-warga yang nampak terkulai dan terluka. Uni selvi kembali ke pos-nya untuk melanjutkan penelitiannya. Mela masih tetap giat mencari berita untuk dapat disampaikan langsung kepada para sobatradioppidunia.
Aku masih tetap termenung di bawah cahaya lampu tempel yang sesekali ditiup agin malam. Sejenak aku penjamkan mata yang tetap tertesi hujan yang menemani memoriku kembali terbayang beberapa tahun yang silam ketika aku masih kecil dulu.Nenekku menuntun aku berjalan menyusuri pantai pasir putih sambil mendongengkan hikayat-hikayat nenek moyangku seorang pencari ikan. Karena kami orang laut yang membangun sebuah rumah panggung di tepi pantai tempat kami mencari hidup. Dan kini rumah itu telah lenyap, runtuh, luluh-lantah dan merata dengan tanah. Jeritan-jeritan tolong masih tetap terdengar dari kejauhan dari mereka yang tertimpa puing-puing besar. Suara-suara mereka mulai pelan...perlahan. ..hingga kemudian hilang....seiring dengan berlalunya malam.
Friday, September 25, 2009
Edisi Spesial Radioppidunia
Gema takbir datang menyelinap disetiap pembuluh-pembuluh darah yang penuh dengan nafas-nafas kalimat tuhan yang getarannya terasa memenuhi rongga dada. Sanak famili datang silih berganti, bertukar makanan, bertukar kata, bertuka sms dan mms, bertukar rasa, dan juga bertukar asa yang sudah terlalu lama tak terasah oleh kabut-kabut rasa. Gema takbir masih tetap menyeringai dan tetap mematri suasana idul fitri yang selalu penuh suka cita dan kebahagian yang berbeda dengan hari-hari biasanya. Tak terasa linangan air mata tumpah membasahi pipi mengingat dosa yang telah diperbuat baik sengaja ataupun tidak sengaja kepada orang-orang dekat maupun jauh. Aneka makanan siap disajikan di atas meja, makanan silih berganti keluar dari dapur yang nampak seperti pabrik makanan untuk manusia sedunia. Permen, coklat, dan manisan-manisan berjejer tersusun rapih di atas meja. Gelas-gelas, piring-piring, karpet-karpet yang hanya dipakai setahun sekali, kini nampak tersusun dan terpajang bak toko-toko di tanah abang yang selalu dipenuhi para pelanggan. Suara-suara petasan terdengar dari berbagai sudut kampung. Anak-anak kecil berkeliling mengunjungi tetangga disekitar rumah, membawa dompet kosong dengan harapan akan terisi penuh dengan THR yang diidam-idamkanya dari rumah ke rumah.
Di lain sisi, bagian “barat” bumi, menunjukan suasana yang sangat kontras. Tak ada bunyi bedug, gema takbir, lantunan kalimat-kalimat allah yang semakin menambah suasana idul fitri menjadi syahdu dan penuh makna. Tak ada orang yang datang silih berganti masuk ke rumah. Tak terasa suara-suara toa dari masjid menyentuh setiap dedaunan yang ada di sekitar. Semua tampak mati dan sedih. Teringat sanak famili yang tengah bergembira. Suasanya berbeda....tak ada kacang-kacang yang terjajar dan tersusun rapih di atasa meja, tak ada suara anak-anak kecil berlarian membawa sarung yang diselempangkan di pundaknya, tak ada wanita-wanita muslimah “jelmaan” yang tiba-tiba berselendang di hari yang fitri. Tak ada iklan-iklan di televisi yang membawa gambar ketupat. Di dapur tak ditemui lontong, opor ayam, rendang, bawang goreng, apalagi kerupuk-kerupuk renyah yang bunyinya kriuk-kriuk ketika tersentuh kuah ketupat...Yummmmmm....Yang ada hanya internet dan radio yang menemani kesepian para mahasiswa di pelbagai belahan dunia dalam rangka memperkaya isi otak mereka demi masa depan yang cerah – mencari ilmu.
Terdengar sayup-sayup suara radioppidunia mengisi ruang dengar dengan lagu-lagu bernafas religi. Tak ada satu penyiar pun yang terdengar, hanya lagu-lagu yang tak henti-hentinya berputar silih berganti. Tetap berputar dari satu artis ke artis yang lain. Tak lama berselang... sebuah suara keluar dari radio komunitas ini. Para pendengar mulai mengalihkan perhatian pada radio yang terdengar mulai mati semenjak beberapa menit terakhir, tapi kematian itu hanya sejenak dan kembali mengudara melalui jaringan-jaringan internet yang tetap menjadi penopang utama radio persatuan mahasiswa indonesia sedunia ini.
“Lam lekommmmmmmmmm....... sobatradioppidunia”, suaranya agak sedikit kemayu-kemayu yang nampak mulai timbul tenggelam. Getaran suaranya menggema dan menggaungkan hari kemenangan bagi umat muslim di seluruh dunia. Masih tetap menggema dan menggema....
“Halo ketemu lagi disini bareng aga yah.....aga akan nemenin kamu semua satu harian penuh dengan lagu-lagu yang oks banget tentunya....”, sambug dj aga yang masih berdomisili di new zealand sana karena tidak di bolehkan pulang oleh orang tuanya disebabkan alasan ongkos lebih berharga daripada kehadiran sang aga di keluarga.
“Apa kabar juga nih para sobat radioppi dunia ? Pastinya semuanya pada bersuka ria donk merayakan lebaran...?”, sambung dj patma yang juga ingin menyumbangkan suaranya langsung dari Rusia. Patma merasa kesepian di tula, tempat dj patma berdomisili, karena tidak ada satu pun warga Indonesia yang dapat ditemuinya kecuali kalau dia mau berjalan sekitar 60 km dari dimana dj patma kini bertengger, itupun hanya ada 2 orang mahasiwa jomblo tulen.
“Bagaimana sih rasanya berpuasa di rusia sana ?”, tanya dj aga yang lagi siaran bareng dengan dj patma sambil menguyah-nguyah kulit kiwi.
“Wah...kalau di Tula sepertinya dead abizzzz deh”, jawab dj patma yang baru saja balik dari moscow hanya untuk sekedar melakukan sholat I'd bersama masyarakat Indonesia lainya.
“Kalau di New Zealand sana ?”, tanya dj patma kembali pada dj aga.
“Kalau disini lumayan sih yah....adalah dikit-dikit rasanya lebaran kayak di indo karena ada orang indo-nya juga walaupun sedikit....yah lumayan lah buat nemenin makan-makan goreng pisang ”, dj aga yang dari tadi sebelum siaran tak habis-habisnya menyeka air matanya karena teringat keluarga-nya yang nampak telah membuang dirinya ke pulau kecil ini.
“Halo sobattttt....................!!”, sambung dj wonny yang tiba-tiba juga menyelinap dari jerman sana dan ikut nimbrung siaran bareng. Dj aga yang memang sudah ada perasaan “ngga jelas” dengan dj wonny tidak mau menyia-nyiakan momen seperti ini -siaran bareng- untuk memberikan sedikit perhatian dan pertanyaan.
“Halo wonny...kamu apa kabar ? Coba mungkin bisa diceritain ke aga bagaimana suasana lebaran di jerman sana?”
“Di jerman ini tentuya cukup meriah banget yah terutama kalau di Berlin...karena banyak orang indonesia nya lo ...wuihhhh...ketupat gituh lo”, jawab dj wonny yang ngga peduli denga perasaan dj aga yang sudah seperti ketupat di rebus diatas kompor dengan api biru.
“Kok lebaran di korea ngga ditanyain sih ?”, tanya dj andy yang rupanya sedari tadi juga nimbrung di acara siaran bareng edisi spesial radioppidunia.
Dj andy spontan membuka mulut karena udah ngga tahan mau menceritakan bagaimana suasana lebaran di korea. “Lebaran di korea walaupun rada sepi..tapi kita tetep meriah lo...”, yang nampak makin narsis persis seperti tata rias yang pertama kali merias penganten kelas atas.
“Iya aku juga ngga ditanya sih......iihhh”, suara dj mela yang serak-serak banjir menggetarkan speaker para pendengar radioppidunia. Rupaya sedari tadi juga ada dalam siaran bareng. Dj aga semakin nampak egoisnya dan terlalu memberikan perhatian kepada dj wonny.
“Oh ya...gimana lebaran disana mela ? Kita kan juga ingin tahu lo..”, tanya dj aga spontan agar tidak terlau nampak akal bejatnya.
“Oh iya dunk...di Malaysia ini orang-orang pada datang ke sanak famili, tak ubahnya seperti budaya-budaya indonesia juga...mereka juga makan lemang dan rendang lo....”, imbuh dj mela yang semakin ngga tahan ingin memuncahkan seluruh kata-kata yang ada dalam dirinya tentang berlebaran di Kuala Lumpur sana.
“Assalamualaikum.......”, suaranya kental dan berat.
“Hasbiiiiiiiiii...................”, spontan langsung dj mela yang amat hafal sekali setiap hentakan-hentakan yang ada di tenggorokan dj yang berdomisili di mesir ini. Dj patma merasa kebakaran jenggot mendengar dj mela yang semakin agresif dan gesit menyapa dj hasbi.
“Hasbi apa kabar ..? patma mau juga dunk denger cerita-cerita berlebaran di mesir sana..”, potong dj patma yang tak mau kalah dengan dj mela.
“hmhm..hmhm...suasana berlebaran di mesir memang terasa benar-benar khidmat dan kami merasa seperti satu tubuh antara sesama muslim, tidak peduli darimana dia berasal dan apa warna kulitnya”, jawab dj hasbi yang semakin nampak jiwa syaikh nya sambil mengelus-ngelus janggut yang agak sedikit lebat, selebat hutan kalimantan.
“Hasbi...memangnya apa sih sebenarnya hakikat dari I'dul Fitri itu, mungkin perlu berbagi nih kayaknya dengan para sobat radioppidunia ?”,tanya dj ipon yang kini sudah ada di berlin setelah melakukan pindah-pindahan barang dari bremen, sebuah kota yang pernah menjadi aliansi kota-kota pusat perdagangan disekitar abad 13-17 masehi dan terletak di sebelah barat daya jerman.
“Idul fitri secara bahasa artinya adalah kembali kepada fitrah”, jawab dj hasbi yang singkat dan masih menyisakan pertanyaan dan perlu penjelasan. Dj mela dan dj patma ingin bertanya duluan, helaan nafasnya sudah mulai terdengar jelas. Tapi dj aga masuk bertanya sebelum mereka ber dua berkelahi hanya karena gara-gara pria ber-KTP cirebon ini. “Maksudnya “fitrah” itu apa sich bi...?”
“Fitrah dalam islam adalah kecondongan atau bertendensi untuk berbuat baik dan menjadi putih bersih belum ternoda sewaktu kita pertama kali dilahirkan. Jadinya ketika manusia kembali kepada fitrah, manusia itu diharapkan agar hati mereka kembali lagi menjadi putih bersih bebas dari dosa dan terlepas dari berbagai penyakit hati”, jawab dj hasbi yang makin nampak seperti seorang kyia yag sedang memberikan wejangan kepada para santrinya.
“Hasbiiiii.....mela mau tanya boleh ngga.....emangnya kenapa sich kok berlebaran itu adanya di akhir ramadhan...bukan di awal ramadhan ?”, tanya dj mela yang suaranya dibuat agak sedikit manja-manja di depan dj hasbi.
“Berpuasa pada hakikatnya adalah sebuah training center (pusat pelatihan) untuk penyujian hati manusia yang selalu dikotori oleh perbuatanya sendiri yang lebih sering di dorong oleh rasa tamak dan hawa nafsu yang menggila....oleh karena itu... setelah manusia masuk dalam sebuah training center selama kurang lebih satu bulan...maka manusia itu dianggap menggapai sebuah kemenangan atau kita sebut sebagai hari kemenangan- i'dul fitri- atas keberhasilanya menjalani masa-masa pelatihan yang penuh dengan berbagai halangan dan rintangan tentunya”, jawab dj hasbi.
“Aku boleeeeehhh nanya lagi ngga ??”, tanya dj mela yang mulai mencari perhatian lebih.
“Nggaaaa bolehhh....sekarang giliran patma !!!”, suara dj patma yang tiba-tiba memotong dan menunjukan kalau diantara mereka ada sebuah persaingan psikologi untuk mendapatkan pria penggemar tahu gejrot ini.
“Mas hasbi...patma mau tanya yah....memangnya apa implikasi setelah kita lulus dari training center itu tadi ? Dan terlebih ketika kita telah selesai melakukan idul fitri ?”, sebuah pertanyaan melayang dari dj patma yang agak sedikit malu-malu beruang putih seperti sedang dikasih kacang tojin.
“Setelah melatih diri dalam training center tersebut manusia diharapkan dalam 11 bulan kedepan tetap konsisten untuk menjalankan segala perbuatan-perbuatan baik yang telah mereka lakukan selama di bulan ramadhan, baik itu secara perilaku maupun segala hal yang bersifat abstrak dan hanya diketahui oleh individu itu sendiri seperti tidak berprasangka buruk, tidak mudah marah, cepat tersinggung, bersikap sabar dan lain-lainya.....Karena esensi dari apakah kita benar-benar lulus dari training center itu adalah bagaimana nantinya kita menjalani 11 bulan ke depan apakah perilaku dan akhlak kita bisa lebih baik, jika tidak...maka kita hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga”, jawab dj hasbi yang tiba-tiba hampir tidak konsentrasi karena bayang-bayang wajah dj patma selalu lekat dalam otaknya setelah seharian penuh memelototi foto-foto nya di facebook.
“Bisa kasih contoh yang lebih konkrit ustadz hasbi ??”, pinta dj ipon dan dj andy.
“Hmm..ok... manusia selalu ingin mendapatkan segala sesuatu yang mereka inginkan, dan untuk mendapatkan hal itu terkadang manusia tidak peduli dengan lingkungan dan juga bagaimana hubungannya dengan orang lain baik sesama muslim atau muslimah ataupun juga dengan non-muslim....Contoh konkritnya, jika ada dua orang wanita yang menginginkan satu orang laki-laki yang sama-sama mereka sukai, maka akan besar kemungkinanya dan sering terjadi bahwa dua orang wanita itu bisa saling menjelekan antara yang satu dan yang lainnya. Dan tentunya, hal seperti ini sangat dilarang di dalam islam....Sifat-sifat buruk semacam ini adalah hal yang harus selalu diredam selama bulan ramadhan. Oleh karena itu, jika sifat buruk ini dapat diredam selama bulan ramadhan maka diharapkan persaingan yang dapat menimbulkan sifat-sifat buruk sekaligus dapat menghancurkan hubungan sesama muslim diharapkan tidak ada lagi dalam 11 bulan ke depan”, dj hasbi memberikan contoh yang konkrit sambil mencoba mendamaikan secara tidak langsung “perang dingin” antara Rusia dan Malaysia (dj patma dan dj mela). Ke duanya merasa malu dan hanya manggut-manggut saja.
“Ok...sobat radioppidunia...ini adalah edisi siaran spesial dari radioppidunia karena belum pernah banget selama radio ini berdiri.....radio ini disiarkan dengan 7 dj langsung bersamaan dari tempat yang berbeda.....”, sambung dj aga yang belum habis-habisnya siaran, sambil menjilat-jilat kulit kiwi yang warnanya kini sudah mulai pudar.
“Sobatradioppidunia....kayaknya kita sudah hampir 6 jam yah menemani sobat... di acara spesialnya lebaran radioppidunia....oleh karena itu, kita mau pamit dan undur diri dulu dari ruang dengar sobat radioppidunia semua...”, suara dj aga sudah semakin nampak loyo persis seperti mobil tua yang sudah kehabisan aki dan ngga bisa di charge lagi.
“Akhir kata....kami ATAS NAMA SELURUH PENYIAR RADIOPPIDUNIA ingin mengucapkan kepada seluruh sobatradioppidunia di berbagai pelosok belahan dunia... SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430 H ....MINAL AIDZIN WALFAIDZIN....MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN....”, suara dj ipon, dj andy, dj aga, dj wonny, dj mella, dj patma, dj hasbi gegap gempita menggetarkan seluruh langit di berbagai belahan dunia. Semakin menambah aroma-aroma ketupat berseliweran di langit biru yang terpantul ke riak-riak air di sungai, tergulung ombak-ombak kecil di muara, bersatu padu di bawa angin, meyelinap diantara batasan-batasan pelangi yang melintang di langit biru.
Di lain sisi, bagian “barat” bumi, menunjukan suasana yang sangat kontras. Tak ada bunyi bedug, gema takbir, lantunan kalimat-kalimat allah yang semakin menambah suasana idul fitri menjadi syahdu dan penuh makna. Tak ada orang yang datang silih berganti masuk ke rumah. Tak terasa suara-suara toa dari masjid menyentuh setiap dedaunan yang ada di sekitar. Semua tampak mati dan sedih. Teringat sanak famili yang tengah bergembira. Suasanya berbeda....tak ada kacang-kacang yang terjajar dan tersusun rapih di atasa meja, tak ada suara anak-anak kecil berlarian membawa sarung yang diselempangkan di pundaknya, tak ada wanita-wanita muslimah “jelmaan” yang tiba-tiba berselendang di hari yang fitri. Tak ada iklan-iklan di televisi yang membawa gambar ketupat. Di dapur tak ditemui lontong, opor ayam, rendang, bawang goreng, apalagi kerupuk-kerupuk renyah yang bunyinya kriuk-kriuk ketika tersentuh kuah ketupat...Yummmmmm....Yang ada hanya internet dan radio yang menemani kesepian para mahasiswa di pelbagai belahan dunia dalam rangka memperkaya isi otak mereka demi masa depan yang cerah – mencari ilmu.
Terdengar sayup-sayup suara radioppidunia mengisi ruang dengar dengan lagu-lagu bernafas religi. Tak ada satu penyiar pun yang terdengar, hanya lagu-lagu yang tak henti-hentinya berputar silih berganti. Tetap berputar dari satu artis ke artis yang lain. Tak lama berselang... sebuah suara keluar dari radio komunitas ini. Para pendengar mulai mengalihkan perhatian pada radio yang terdengar mulai mati semenjak beberapa menit terakhir, tapi kematian itu hanya sejenak dan kembali mengudara melalui jaringan-jaringan internet yang tetap menjadi penopang utama radio persatuan mahasiswa indonesia sedunia ini.
“Lam lekommmmmmmmmm....... sobatradioppidunia”, suaranya agak sedikit kemayu-kemayu yang nampak mulai timbul tenggelam. Getaran suaranya menggema dan menggaungkan hari kemenangan bagi umat muslim di seluruh dunia. Masih tetap menggema dan menggema....
“Halo ketemu lagi disini bareng aga yah.....aga akan nemenin kamu semua satu harian penuh dengan lagu-lagu yang oks banget tentunya....”, sambug dj aga yang masih berdomisili di new zealand sana karena tidak di bolehkan pulang oleh orang tuanya disebabkan alasan ongkos lebih berharga daripada kehadiran sang aga di keluarga.
“Apa kabar juga nih para sobat radioppi dunia ? Pastinya semuanya pada bersuka ria donk merayakan lebaran...?”, sambung dj patma yang juga ingin menyumbangkan suaranya langsung dari Rusia. Patma merasa kesepian di tula, tempat dj patma berdomisili, karena tidak ada satu pun warga Indonesia yang dapat ditemuinya kecuali kalau dia mau berjalan sekitar 60 km dari dimana dj patma kini bertengger, itupun hanya ada 2 orang mahasiwa jomblo tulen.
“Bagaimana sih rasanya berpuasa di rusia sana ?”, tanya dj aga yang lagi siaran bareng dengan dj patma sambil menguyah-nguyah kulit kiwi.
“Wah...kalau di Tula sepertinya dead abizzzz deh”, jawab dj patma yang baru saja balik dari moscow hanya untuk sekedar melakukan sholat I'd bersama masyarakat Indonesia lainya.
“Kalau di New Zealand sana ?”, tanya dj patma kembali pada dj aga.
“Kalau disini lumayan sih yah....adalah dikit-dikit rasanya lebaran kayak di indo karena ada orang indo-nya juga walaupun sedikit....yah lumayan lah buat nemenin makan-makan goreng pisang ”, dj aga yang dari tadi sebelum siaran tak habis-habisnya menyeka air matanya karena teringat keluarga-nya yang nampak telah membuang dirinya ke pulau kecil ini.
“Halo sobattttt....................!!”, sambung dj wonny yang tiba-tiba juga menyelinap dari jerman sana dan ikut nimbrung siaran bareng. Dj aga yang memang sudah ada perasaan “ngga jelas” dengan dj wonny tidak mau menyia-nyiakan momen seperti ini -siaran bareng- untuk memberikan sedikit perhatian dan pertanyaan.
“Halo wonny...kamu apa kabar ? Coba mungkin bisa diceritain ke aga bagaimana suasana lebaran di jerman sana?”
“Di jerman ini tentuya cukup meriah banget yah terutama kalau di Berlin...karena banyak orang indonesia nya lo ...wuihhhh...ketupat gituh lo”, jawab dj wonny yang ngga peduli denga perasaan dj aga yang sudah seperti ketupat di rebus diatas kompor dengan api biru.
“Kok lebaran di korea ngga ditanyain sih ?”, tanya dj andy yang rupanya sedari tadi juga nimbrung di acara siaran bareng edisi spesial radioppidunia.
Dj andy spontan membuka mulut karena udah ngga tahan mau menceritakan bagaimana suasana lebaran di korea. “Lebaran di korea walaupun rada sepi..tapi kita tetep meriah lo...”, yang nampak makin narsis persis seperti tata rias yang pertama kali merias penganten kelas atas.
“Iya aku juga ngga ditanya sih......iihhh”, suara dj mela yang serak-serak banjir menggetarkan speaker para pendengar radioppidunia. Rupaya sedari tadi juga ada dalam siaran bareng. Dj aga semakin nampak egoisnya dan terlalu memberikan perhatian kepada dj wonny.
“Oh ya...gimana lebaran disana mela ? Kita kan juga ingin tahu lo..”, tanya dj aga spontan agar tidak terlau nampak akal bejatnya.
“Oh iya dunk...di Malaysia ini orang-orang pada datang ke sanak famili, tak ubahnya seperti budaya-budaya indonesia juga...mereka juga makan lemang dan rendang lo....”, imbuh dj mela yang semakin ngga tahan ingin memuncahkan seluruh kata-kata yang ada dalam dirinya tentang berlebaran di Kuala Lumpur sana.
“Assalamualaikum.......”, suaranya kental dan berat.
“Hasbiiiiiiiiii...................”, spontan langsung dj mela yang amat hafal sekali setiap hentakan-hentakan yang ada di tenggorokan dj yang berdomisili di mesir ini. Dj patma merasa kebakaran jenggot mendengar dj mela yang semakin agresif dan gesit menyapa dj hasbi.
“Hasbi apa kabar ..? patma mau juga dunk denger cerita-cerita berlebaran di mesir sana..”, potong dj patma yang tak mau kalah dengan dj mela.
“hmhm..hmhm...suasana berlebaran di mesir memang terasa benar-benar khidmat dan kami merasa seperti satu tubuh antara sesama muslim, tidak peduli darimana dia berasal dan apa warna kulitnya”, jawab dj hasbi yang semakin nampak jiwa syaikh nya sambil mengelus-ngelus janggut yang agak sedikit lebat, selebat hutan kalimantan.
“Hasbi...memangnya apa sih sebenarnya hakikat dari I'dul Fitri itu, mungkin perlu berbagi nih kayaknya dengan para sobat radioppidunia ?”,tanya dj ipon yang kini sudah ada di berlin setelah melakukan pindah-pindahan barang dari bremen, sebuah kota yang pernah menjadi aliansi kota-kota pusat perdagangan disekitar abad 13-17 masehi dan terletak di sebelah barat daya jerman.
“Idul fitri secara bahasa artinya adalah kembali kepada fitrah”, jawab dj hasbi yang singkat dan masih menyisakan pertanyaan dan perlu penjelasan. Dj mela dan dj patma ingin bertanya duluan, helaan nafasnya sudah mulai terdengar jelas. Tapi dj aga masuk bertanya sebelum mereka ber dua berkelahi hanya karena gara-gara pria ber-KTP cirebon ini. “Maksudnya “fitrah” itu apa sich bi...?”
“Fitrah dalam islam adalah kecondongan atau bertendensi untuk berbuat baik dan menjadi putih bersih belum ternoda sewaktu kita pertama kali dilahirkan. Jadinya ketika manusia kembali kepada fitrah, manusia itu diharapkan agar hati mereka kembali lagi menjadi putih bersih bebas dari dosa dan terlepas dari berbagai penyakit hati”, jawab dj hasbi yang makin nampak seperti seorang kyia yag sedang memberikan wejangan kepada para santrinya.
“Hasbiiiii.....mela mau tanya boleh ngga.....emangnya kenapa sich kok berlebaran itu adanya di akhir ramadhan...bukan di awal ramadhan ?”, tanya dj mela yang suaranya dibuat agak sedikit manja-manja di depan dj hasbi.
“Berpuasa pada hakikatnya adalah sebuah training center (pusat pelatihan) untuk penyujian hati manusia yang selalu dikotori oleh perbuatanya sendiri yang lebih sering di dorong oleh rasa tamak dan hawa nafsu yang menggila....oleh karena itu... setelah manusia masuk dalam sebuah training center selama kurang lebih satu bulan...maka manusia itu dianggap menggapai sebuah kemenangan atau kita sebut sebagai hari kemenangan- i'dul fitri- atas keberhasilanya menjalani masa-masa pelatihan yang penuh dengan berbagai halangan dan rintangan tentunya”, jawab dj hasbi.
“Aku boleeeeehhh nanya lagi ngga ??”, tanya dj mela yang mulai mencari perhatian lebih.
“Nggaaaa bolehhh....sekarang giliran patma !!!”, suara dj patma yang tiba-tiba memotong dan menunjukan kalau diantara mereka ada sebuah persaingan psikologi untuk mendapatkan pria penggemar tahu gejrot ini.
“Mas hasbi...patma mau tanya yah....memangnya apa implikasi setelah kita lulus dari training center itu tadi ? Dan terlebih ketika kita telah selesai melakukan idul fitri ?”, sebuah pertanyaan melayang dari dj patma yang agak sedikit malu-malu beruang putih seperti sedang dikasih kacang tojin.
“Setelah melatih diri dalam training center tersebut manusia diharapkan dalam 11 bulan kedepan tetap konsisten untuk menjalankan segala perbuatan-perbuatan baik yang telah mereka lakukan selama di bulan ramadhan, baik itu secara perilaku maupun segala hal yang bersifat abstrak dan hanya diketahui oleh individu itu sendiri seperti tidak berprasangka buruk, tidak mudah marah, cepat tersinggung, bersikap sabar dan lain-lainya.....Karena esensi dari apakah kita benar-benar lulus dari training center itu adalah bagaimana nantinya kita menjalani 11 bulan ke depan apakah perilaku dan akhlak kita bisa lebih baik, jika tidak...maka kita hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga”, jawab dj hasbi yang tiba-tiba hampir tidak konsentrasi karena bayang-bayang wajah dj patma selalu lekat dalam otaknya setelah seharian penuh memelototi foto-foto nya di facebook.
“Bisa kasih contoh yang lebih konkrit ustadz hasbi ??”, pinta dj ipon dan dj andy.
“Hmm..ok... manusia selalu ingin mendapatkan segala sesuatu yang mereka inginkan, dan untuk mendapatkan hal itu terkadang manusia tidak peduli dengan lingkungan dan juga bagaimana hubungannya dengan orang lain baik sesama muslim atau muslimah ataupun juga dengan non-muslim....Contoh konkritnya, jika ada dua orang wanita yang menginginkan satu orang laki-laki yang sama-sama mereka sukai, maka akan besar kemungkinanya dan sering terjadi bahwa dua orang wanita itu bisa saling menjelekan antara yang satu dan yang lainnya. Dan tentunya, hal seperti ini sangat dilarang di dalam islam....Sifat-sifat buruk semacam ini adalah hal yang harus selalu diredam selama bulan ramadhan. Oleh karena itu, jika sifat buruk ini dapat diredam selama bulan ramadhan maka diharapkan persaingan yang dapat menimbulkan sifat-sifat buruk sekaligus dapat menghancurkan hubungan sesama muslim diharapkan tidak ada lagi dalam 11 bulan ke depan”, dj hasbi memberikan contoh yang konkrit sambil mencoba mendamaikan secara tidak langsung “perang dingin” antara Rusia dan Malaysia (dj patma dan dj mela). Ke duanya merasa malu dan hanya manggut-manggut saja.
“Ok...sobat radioppidunia...ini adalah edisi siaran spesial dari radioppidunia karena belum pernah banget selama radio ini berdiri.....radio ini disiarkan dengan 7 dj langsung bersamaan dari tempat yang berbeda.....”, sambung dj aga yang belum habis-habisnya siaran, sambil menjilat-jilat kulit kiwi yang warnanya kini sudah mulai pudar.
“Sobatradioppidunia....kayaknya kita sudah hampir 6 jam yah menemani sobat... di acara spesialnya lebaran radioppidunia....oleh karena itu, kita mau pamit dan undur diri dulu dari ruang dengar sobat radioppidunia semua...”, suara dj aga sudah semakin nampak loyo persis seperti mobil tua yang sudah kehabisan aki dan ngga bisa di charge lagi.
“Akhir kata....kami ATAS NAMA SELURUH PENYIAR RADIOPPIDUNIA ingin mengucapkan kepada seluruh sobatradioppidunia di berbagai pelosok belahan dunia... SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430 H ....MINAL AIDZIN WALFAIDZIN....MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN....”, suara dj ipon, dj andy, dj aga, dj wonny, dj mella, dj patma, dj hasbi gegap gempita menggetarkan seluruh langit di berbagai belahan dunia. Semakin menambah aroma-aroma ketupat berseliweran di langit biru yang terpantul ke riak-riak air di sungai, tergulung ombak-ombak kecil di muara, bersatu padu di bawa angin, meyelinap diantara batasan-batasan pelangi yang melintang di langit biru.
Saturday, September 12, 2009
Senja
Senja
Malam semakin tak terasa, tiba-tiba saja sudah datang membalut siang yang telah memporak-porandakan malam. Tak banyak kata-kata yang dapat aku katakan ketika senja mulai datang untuk menyapa setiap sudut-sudut horizon yang mulai nampak kemerah-merahan. Danau-danau masih tetap tak bergumam dan tak mampu memberikan arti bagiku. Mobil dan motor hanya terlihat satu persatu, silih berganti menyusuri jalan yang nampak sepi. Getir pahitnya hidup sesekali terlintas dalam benak yang telah aku coba kubur pada koordinat terbawah bagian alam bawah sadarku. Tiba-tiba bayangan itu kembali melintas dan susah untuk hengkang dari benakku. Handphone ku berbunyi...dan nada deringnya persis seperti bunyi yang pernah aku setting untuk seseorang yang pernah membayang-banyangik u dalam setiap detik helaan nafasku.
“Haloo....apa kabar ?”, suaranya dari kejauhan terdengar parau dan serak-serak menahan isak tangis yang tak dapat disembunyikanya.
“Kabar ku baik.....”, jawabku yang masih penasaran dan tetap bertanya dalam sanubari dimana dirinya kini.
Telepon darinya persis 2 bulan semenjak dirinya tiba-tiba menghilang dari genggamanku tanpa kabar, tanpa angin yang membawa berita-berita dan tanda-tanda kepergiannya begitu misterius bagiku. Semenjak kepergianya pikiranku menjadi semakin galau dan terus menjadi gundah. Burung-burung gagak berterbangan memberikan warna kontras kepada langit yang memberikan mereka ruang untuk hilir mudik mengintai bangkai-bangkai yang siap disantap untuk mengisi temboloknya.
Kini aku bertemu dengan dirinya, hatiku terasa semakin lega dan berbunga-bunga ketika dari jauh aku nampak dirinya tepat berada di sebuah pohon rindang di dekat bangku panjang yang hanya muat dihuni oleh dua orang. Bangku yang biasa kita duduki sebelum dirinya hilang entah kemana selama dua bulan. Aku hampiri tubuhnya yang masih nampak cantik dan semampai seperti sedia kala. Tak ada sedikit yang berubah darinya, walaupun ia menghilang tanpa goresan tinta di sebuah kertas yang tak pernah terkirim kepadaku. Kini... yang ada hanya bekas linangan air mata yang tersisa yang telah mengalir dari mata yang memberikan binaran-binaran ketenangan pada jiwaku.
“Kamu nampak makin cantik setelah sekian lama aku merindukan kehadiranmu kembali disisiku.... kapan kita akan bermain-main dan membicarakan tentang cinta ?”, tanya ku yang hanya dibalas oleh jutaan kuncian bibirnya yang nampak makin erat terkunci.
Tiupan angin-angin membelai rambutnya yang hitam terurai sampai ke rok nya yang berwarna putih. Ia nampak bagai bidadari yang terjatuh dan terlepas dari pusat peremajaan para bidadari surga yang pernah tercipta. Buah-buah khuldi seakan malu untuk menjadi masak ketika kehadirannya berada tepat di bawah pohon Khuldi.
“Kamu adalah wanita terhebat yang pernah aku jumpai dari ratusan bidadari yang pernah singgah di lubuk hatiku....”, rayuan gombal yang hanya dihargai dengan pandangan mata yang dibuang ke jurusan yang sama kemana mukaku menghadap.
“Jangankan esok... ataupun sebelum ayam mulai berkokok.... detik ini pun....kalau ada penghulu di depan ku, aku akan persunting engkau sebagai istriku yang tak akan aku biarkan sekalipun nyamuk mendekat ke kulitmu ketika engkau tengah terlelap dalam pangkuan malam yang mengikat ke dua kelopak matamu”, tawaranku yang tidak main-main lagi-lagi hanya dihargai dengan binaran mata yang nampak makin berkaca-kaca membendung luapan air mata yang akhirnya jatuh menetes membasahi tanah yang nampak kering di musim kemarau.
Sebagian bunga-bunga di sekitar taman mulai ditimpa sedikit cahaya matahari yang mulai redup. Gemericik air nampak memberikan pantulan wajahya yang tetap cantik walau air mata terus mengalir. Rumput-rumput nampak hijau terhampar. Dua buah ayunan yang tak berpenghuni sesekali bergerak tertiup angin malam yang mulai dingin merambat ke setiap lapisan kulit. Semuanya hanya menambah rasa frustasi dan keputus asaan-ku untuk dapat membuka bongkahan bisu yang menindih bibirnya . Iya...mulut yang dulu nampak mungil dan nakal tetap terngiang-ngiang dalam setiap lipatan-lipatan otak ku.
“Ketika air mata mulai membasahi setiap pori-pori yang ada di matamu...engkau nampak makin cantik seperti sebuah zamrud yang terpendam ribuan tahun di dasar laut dan baru muncul kepermukaan yang langsung disambut oleh tetesan-tetesan embun pagi yang memberikan kesegaran... air matamu bagai tetesan embun yang menyeka debu-debu di atas kristal yang tak hancur diterpa baja....air matamu hanya membuat ku semakin haus....”, rayuan terakhir yang pernah terlontar, dan tak pernah lagi terpikir apa yang harus di ucapkan untuk membuatnya menghasilkan sepatah kata walaupun hanya gumaman dan suara yang hanya terdengar oleh nyamuk.
Malam semakin senja, burung-burung berterbangan kembali menuju asalnya, segala makhluk tuhan kembali keharibaan-nya untuk beristirahat sejenak melupakan segala kepenatan yang telah terukir sepanjang hari. Pohon-pohon nampak letih dan mulai condong kemanapun angin menghembusnya. Kuangkat tubuhku meninggalkan dirinya yang masih tetap tertegun sendiri di bawah pohon rindang dengan rambutnya yang terurai menyapu tanah yang lembab. Langkahku semakin jauh meninggalkan dirinya di atas bangku yang juga membisu dan masih tertegun di bawah cahaya mentari yang telah lelah bercokol di ufuk timur.
Getaran handphone-ku mulai terasa setelah beberapa kali bergetar. Kulihat dari nama sang penelepon, ia adalah seseorang yang sudah habis seharian aku rayu agar mau membuka mulutnya walaupun hanya sekedar mengeluarkan satu kata atau mungkin satu huruf saja. Iya..satu huruf saja...Hatiku sangat senang.Senangnya tak terhingga. Senang yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Melihat namanya muncul di handphone ku, perasaanku bercampur aduk. Semakin tak jelas. Tak sabar rasanya mendengar suara perempuan yang telah hilang selama 2dua bulan itu dan secara tiba-tiba minta bertemu di sebuah taman tempat kita selalu berbagi perasaan suka maupun duka, walaupun pada akhirnya ia tak pernah membuka mulutnya. Iya.....kini ia meneleponku.
Sebuah tanda yang positif kalau usahaku seharian merayunya telah berhasil memecahkan segala kebisuan yang mengunci mati lidahnya untuk mengatakan satu huruf. Aku semakin tak sabar untuk mendengar suaranya. Aku tekan tombol hijau di handphone ku dan aku sambut langsung dengan nada suara ku yang tak dapat aku sembunyikan betapa senangnya hatiku ketika aku akan mendengar suaranya.
“Hallo.......”, jawabku diringi dengan degup jantungku yang sudah semakin tak tentu bunyi dan nadanya.
Dari jauh sana ia menjawab, “aku hamil.....tapi bukan dengan kamu....”, diakhiri dengan nada telepon yang terputus. Aku kembali melirih kebelakang menyusuri setiap jejak-jejak tapak kakiku, hingga pandanganku sampai di bangku yang telah aku duduki. Bangku itu kini telah kosong. Tak tahu lagi kemana aku harus mencari.
Hari semakin senja....
(Bersambung)
Wednesday, September 9, 2009
Cintaku Terhalang Paspor
Menara kembar (twin tower) yang persis berada di depan Kuala Lumpur Convention Center (KLCC) masih nampak tegar, siap menggapai atmosfir , dan bermandikan cahaya lampu-lampu yang terpasang ribuan watt yang membalut tubuhnya. Belum lagi pijaran cahayanya yang ditambah taburan bintang-bintang di langit, semakin menambah suasana malam yang hanya dapat direngkuh oleh perasaan orang-orang yang sedang jatuh cinta. Tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Air mancur di sekitar taman yang silih berganti menyembur kelangit, membuat suasana malam menjadi semakin menjadi-jadi. Taman-taman yang tertata rapi bermandikan cahaya remang-remang memberikan suasana romantisme yang berbeda bagi para manusia yang sedang memadu kasih. Tak bosan-bosanya orang datang ke menara ini di setiap ujung minggu, walau hanya sekedar melihat taman-taman dan air mancur yang tak berubah ditambah sedikit cemilan yang selalu ada disamping sambil menikmati suasana malam. Menara ini telah menjadi saksi bisu ratusan anak cucu adam dan hawa yang saling mengikrarkan janji untuk hidup semati hingga nafas terakhir. Tak terkecuali bagi mella, seorang mahasiswi indonesia yang jarang pulang semenjak merantau ke malaysia, telah menjadi salah satu dari ratusan anak cucu hawa yang berikrar sehidup semati di bawah naungan twin tower.
Malam ini mella tak kuasa menahan perasaanya yang campur aduk persis seperti semen yang diaduk-aduk oleh tukang bangunan untuk mengecor (menambal) atap-atap rumah yang bolong. mella sangat termasyhur dikalangan teman-temanya sebagai wanita yang sabar dalam masalah asmara dan tentunya juga sangat berprinsip. Ia kini teringat kembali ketika pertama kali mengikat janji dengan seorang lelaki mellayu bernama Wan hafiz yang ia jumpai ketika sedang membeli sayu di pasar chow kit.
"Abang...abang serius kah...sayang sama mella...?", tanya mella yang sedikit ragu-ragu sebelum menerima cinta Wan hafiz.
"Abang serius la mella...abang suka sangat dengan cewe-cewe indon..eh indonesia", jawab Wan hafiz dengan logat mellayunya yang kental.
“Abang serius kan mau menjalin hubungan sama mella...?”, tanya mella untuk memastikan lagi.
“Iya serius...bahkan abang mau bawa mella ke pelaminan...”, tegas Wan hafiz sambil memastikan belahan hatinya.
mella-pun menerima permohonan sang pria mellayu yang selalu hobi minum teh tarik dan satu buah roti canay setiap paginya. mella memang dikenal dikalangan PPI-Malaysia sebagai seorang wanita yang sangat teguh ketika mengatakan sesuatu dan pantang baginya untuk menarik kata-katanya yang sudah keluar, bagaikan menelan air liur sendiri yang sudah diludahkan.
“Hmhm...ok la bang...kalau abang memang serius dengan mella...mella juga mau la, jadi girl friend abang”, jawab mella sambil tersipu-sipu malu dan seolah-olah dunia ini milik mereka berdua dan serasa orang lain pada ngontrak. Wan hafiz kini resmi menjadi pria ke-15 yang bertengger di hati mella, semenjak ia menginjak semenanjung Malaysia lebih dari 3 tahun yang lalu. Bukan mella namanya jika ia tidak terkenal di kalangan PPI-Se Malaysia sebagai seorang wanita indonesia yang kisah cintanya selalu kandas dengan pria-pria mellayu. Kendati putus sambungnya hubungan asmara mella bak air laut yang pasang surut, mella adalah sesosok wanita yang terkenal sabar dan mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi. Bahkan pernah suatu kali salah satu orang tua dari belasan mantan kekasihnya itu mengangkatnya setinggi menara Al-burj di dubai, sebagai menara tertinggi di dunia, dengan seketika juga meghempasnya sampai menembus lapisan tanah.
“mella kamu catik deh....”, puji sang orang tua mantan ke kasihnya yang ke 11.
“Terima kasih mak cik....”, jawab mella sambil tersipu-sipu malu, ditambah dengan muka yang mulai memerah seperti jambu bol.
“Tapi....”, sang mak cik mulai ragu-ragu mellanjutkan kalimatnya.
“Tapi apa mak cik ??”, jawab mella yang sedikit penasaran dan agak mendesak.
“Tapi sayang kamu Indon...”, jawaban sang mak cik bak menghempas mella tanpa parasut dari ketinggian menara Burj yang tingginya hingga satu kilometer.
Tapi itu dulu, sebelum menjalin hubungan dengan Wan hafiz yang membuat mella mabuk kepayang sampai lupa cuci baju dan bersihkan kost-an yang terkadang sudah dihuni kecoa dan tikus-tikus dari tetangga sebelah.
Tanpa angin tanpa badai, tiba-tiba kini suasana berubah, iya...berubah drastis, 180 derajat. mella berubah seperti singa betina yang belum makan selama dua bulan dan tengah melindungi anaknya dari gangguan predator.
“Wan....pokoknya aku minta putussssss sekarang juga....putussss. ..putuss. ....”,pinta mella dengan muka memerah seperti bara api yang dibakar dalam tungku.
“Kenapa mella...sayang ku ?”, tanya wan hafiz dengan keheranan.
“Pokoknya aku mau putus....hubungan kita sampai disini saja...cukup. ...”, mella yang kembali nampak makin menggila dan hampir-hampir tak sadarkan diri.
“Iya tapi tolong jelaskan dulu apa alasanya mella...?”, tanya wan hafiz yang mukanya nampak makin panik bak diseruduk ikan hiu ketika berselancar di pulau Lombok.
“Enak saja...negaramu itu lo..sudah habis menginjak-nginjak negaraku...memangny a kamu pikir negaraku tidak punya harga diri apa...???”, hardik mella yang semakin memuncak kemarahanya sekaligus membuat air mancur takut untuk menyemprotkan air ke udara setelah mendengar ledakan suara mella yang hampir merobek atmosfir di sekitar kuala lumpur.
“Pokoknya mulai detik ini aku mau hubungan kita putus ....jangan kamu panggil lagi aku sayang....titik. ..”, deklarasi mella yang semakin membuatnya terkenal dikalangan para mahasiswa indonesia di Malaysia sebagai sesosok wanita yang pantang untuk mencabut kata-katanya.
“mella....tolong la mella....jangan kamu campur adukan cinta kita dengan negara kita yang tengah begaduh...karena tidak ada hubunganya antara asmara kita dan negara kita”, pinta Wan hafiz yang seolah-olah siap menjadi anggota Persatuan Lelaki di bawak Ketiak Istri.
“Tidak ada bagiku yang namanya cinta jika tanpa penghargaan terhadap negaraku...cintaku terbentuk karena adanya negaraku sebagai tempat mengasah segala asa dan angan-anganku tentang cinta...negaramu makin kurang ajar...seenaknya menginjak-nginjak negaraku...apa karena negaraku miskin...?.. .kamu mau sombong dengan twin tower mu itu ah....???”, mella yang nampak semakin beringas ditambah lagi dengan gaya tolak pinggangnya persis seperti model iklan jamu pegel linu.
“Apa yang harus kami sombongkan mel..??...orang- orang mellayu seperti kami ini adalah hanya orang-orang pendatang dan tak lebih dari itu semua...penduduk asli semenanjung mellayu ini adalah orang pedalaman yang tinggal di hutan-hutan dan biasanya disebut dengan orang ASLI...mungkin sama dengan suku dayak yang ada di kalimantan.. ..nenek moyang kami bukan dari keturunan orang-orang ASLI itu mel...tapi nenek moyang kami dulunya berasal dari Indonesia dan kemudian merantau ke negeri mellayu ini...hingga mereka tak pernah lagi kembali ke tanah airnya dan lupa untuk mengajarkan tentang sejarah dan asal usul kami...contohnya seperti aku ini mel....kakek- ku orang aceh dan nenek ku orang bawean”, suaranya makin lembut dan dari binar matanya nampak usahanya begitu keras untuk membucuk mella, sekeras usaha mella agar angka-angka di timbangan tak terus menanjak setiap minggunya.
Semilir angin datang silih berganti menghembuskan suara-suara jangkrik yang sesekali terdengar dari dalam lubang got yang berada disekitar tempat duduk mereka berdua. Cahaya yang jatuh diantara mereka berdua sudah tak nampak lagi romantis. Cahaya bulan mulai redup-redam. Degup jantung mella terdengar kencang seperti genderang perang yang ditabuhkan kerajaan mongol ketika memporak-porandakan kota Bagdad, Irak. Kini Yang ada hanya kemarahan dan emosi mella yang semakin memuncak dan terus memuncak.
“Negaramu kurang ajar... mengklaim bahwa budaya negaraku adalah budayamu juga...kamu pikir dengan krisis ekonomi yang mellanda negaraku, kamu bisa seenaknya membeli dan merampas kebudayaanku, ah...?”, suara mella semakin meninggi persis seperti naik 4 oktaf dalam tangga nada musik berbirama 4/4.
“mella....disini ngga ada orang mellayu...yang ada disini adalah orang jawa...orang minang...orang aceh...orang bugis...orang bawean..orang madura...dan lain-lainya. ...kami sulit sekali untuk memperkuat identitas kami sebagai kaum pendatang diantara ras lainya seperti India dan cina...karena kakek dan nenek kami asalnya dari indonesia, maka budaya kakek-nenek moyang kami itulah yang kami gunakan dan lestarikan sampai sekarang...seperti batik, tari pendet, angklung dan lain-lain... karena kami memang tidak punya budaya lagi untuk menunjukan identitas kami sebagai seorang manusia....hanya saja kesalahan nenek moyang kami setelah berhijrah kesini dan juga pemerintah kami, mereka tidak pernah mengajarkan tentang sejarah asal-usul kami, sehingga kami lupa akan akar kami dan tidak tahu siapa kami sebenarnya”, jelas Wan hafiz yang nampak sudut matanya mulai berkaca-kaca karena melihat kepergian mella sudah diambang pintu.
mella pun hanya bisa diam, membisu seribu bahasa, dan bibirnya tertutup rapat serapat penjara alcatraz yang terletak di sebuah pulau bagian San fransisco. Sesak dada mella masih belum kembali normal. Gencatan emosi dan urat-urat saraf yang semakin menegang membuat mella semakin kalap. Ia semakin tak peduli dengan kata-kata Wan hafiz yang selalu setia menemaninya di kala kesunyian dan kesepian datang menghampirinya. Kebaikan pria mellayu itu seolah-olah tak pernah membekas sedikit pun di dalam hidup mella yang telah terkikis oleh semangat nasionalisme yang semakin membabi-buta.
“Alah...pokoknya aku ingin membela nasionalismeku. ..karena aku orang indonesia”, ungkap mella yang semakin hilang kendali dan suaranya semakin lantang persis selantang suara orang yang membacakan UUD 45 di upacara-upacara kenegaraan.
“Mella.....”, ucap Wan hafiz yang tak terasa kelopak matanya mulai meneteskan air mata yang sedari tadi hendak tumpah dan kini ia sudah tak kuasa lagi untuk membendungnya.
“Kami sangat iri sebenarnya dengan orang-orang indonesia, terlebih dengan anak-anak muda indonesia yang mempuyai semangat nasionalisme yang tinggi dan kreatifitas yang tidak terbatas”,ungkapnya sambil meminta mella untuk menatap matanya dalam-dalam seperti para pencopet kelas teri yang mau menghipnotis sebelum menggasak dompet si korban.
“Coba duduk sini mella....”, pinta Wan hafiz yang diacuhkan mella sambil menatap pohon-pohon rindang yang nampak di goda oleh semilir-semilir angin yang berhembus malam itu.
“Coba lihat...ketika terjadi kasus ambalat antara indonesia dan malaysia..ribuan orang di indonesia sudah siap untuk mendaftarkan diri menjadi pasukan rela mati demi membela tanah air mereka...sedangkan kami...tidak ada seorang pun yang rela mengorbankan nyawanya untuk tanah airnya...bahkan demi memupuk rasa nasionalisme pun negara kami harus menghabiskan berjuta-juta ringgit, agar anak-anak muda kami mempunyai rasa memiliki yang tinggi terhadap negara kami...walaupun kami sudah merdeka 52 tahun..tapi bagi kami semangat nasionalisme dan integrasi antar ras tetap menjadi masalah yang utama...kami belum merasakan sepenuhnya bahwa bahasa mellayu telah menjadi bahasa nasionalisme bagi kami....kami tidak punya persatuan yang kuat dinegara kami sendiri seperti halnya di indonesia”, tambah wan hafiz yang semakin menatap mella dengan tatapan kosong seolah-olah hidupnya akan berakhir ketika mella harus pergi meninggalkan dirinya sebatang kara di tanah mellayu itu.
“Tidak hanya itu, kami juga iri dengan semangat anak-anak Indonesia yang sedang belajar di luar negeri. Walaupun mereka belajar jauh dari negeri asalnya tetapi mereka masih mau memberikan kontribusi terhadap tanah kelahirannya. ..seperti radioppidunia. ..dengan radio itu semua suara mahasiswa indonesia di luar negeri dapat dikoordinir dan diakomodir dengan baik demi kemajuan bangsa indonesia yang lebih baik...sedangkan kami ?? tidak pernah kami dengar mahasiswa malaysia yang mempunyai semangat juang yang tinggi untuk negaranya... apalagi untuk mendirikan radio”, tambah Wan hafiz yang semakin bingung dan baru sekali melihat perempuan indonesia marah setengah mati seperti rodeo kehilangan kendali atas bantengnya dan kemudian panik.
“Mungkin kalau tidak ada radio...aku tak akan mengenalmu mella...karena aku tertarik dengan mu pertama kali mellalui bahasa dan suara mu...”, goda Wan hafiz ditengah amarah mella seperti si jago merah yang tengah mellahap kayu-kayu kering hutan kalimantan di tengah musim kemarau.
“Memang ada apa dengan bahasamu...?”, tanya mella yang nadanya masih terdengar ketus.
“Bahasa indonesia nampak lebih gentleman, tegas, dan penuh dengan warna-warni. ..kami semua keranjingan dengan bahasa dan musik-musik yang dilantukan oleh band-band indonesia... karena telinga kami sudah dipenuhi dewa, gigi, letto, ungu, padi...dan bahkan sampai dangdut sekaligus”. jawabnya yang diiringi dengan keringat dingin mulai membasahi pundak dan mengalir ke seluruh punggungnya.
mella masih tetap diam dan menerawang jauh ke langit yang nampak sedikit ditaburi bintang-bintang malam itu. Bulan seolah-olah enggan menampakan dirinya di hamparan langit hitam yang sudah membalut semenanjung malaysia saat itu. mella masih nampak tak mau menanggapi segala lantunan kata wan hafiz yang seolah nampak seperti sampah di mata mella.
“Tak hanya itu mella...kami juga punya permasalahan yang krusial dari segi gender...jumlah laki-laki yang gentle jumlahnya tak sebanding dengan jumlah perempuan... coba kamu lihat di universitas- universitas top..kantor- kantor..kebanyak an dihuni oleh perempuan... karena lelaki gentle nya sebagian sudah dilahap oleh budaya pondan (banci) yang seolah-olah sudah menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat kami baik di universitas di kantor-kantor dan instansi-instansi penting lainya”, tambah Wan hafiz yang masih berharap agar mella dapat kembali ke pangkuannya.
“Tapi pemerintahan kamu tidak fair dalam memberikan informasi mellalui medianya ketika memberitakan orang-orang indonesia yang selalu di gambarkan sebagai orang- orang yang sangat miskin dan minta-minta serta menjadi budak di malaysia.... .kamu pikir apa aku ini wannnnnnnnnnnnnnnnn nnnnn....”, hentak mella yang mencoba membuat wan hafiz makin terpojok dan tak terasa jilbabnya kini basah kuyup karena seluruh peluh telah keluar dari segal pori-pori kulitnya yang dipompa oleh nafsu angkara murka yang sedari tadi tak mau turun walaupun hanya 0.01 mm.
“Kami sekarang memang merasa seperti katak yang mati dalam tempurung atau seperti ayam yang mati di dalam kandang yang penuh dengan makanan...semua memang selalu disediakan oleh pemerintah.. .mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga biaya santunan pernikahan.. .tapi kebebasan bersuara tidak pernah kami dapati...semua media kami di kontrol oleh pemerintah.. jadi apa yang keluar harus sesuai dengan isi perut pemerintah kami..kami tidak punya kuasa untuk memberikan informasi yang benar dan objektif...keadaan kami persis seperti zaman indonesia dibawah kuku besi soeharto...kami memang terkadang sangat iri dengan bangsa indonesia yang mempunyai kebebasan yang sangat luar biasa baik dalam radio, tv,koran, majalah dan lain-lain serta bebas untuk mengungkapkan apa saja sesuai dengan apa yang mereka pikirkan...tapi juga saya nampak orang indonesia terlalu mudah terprovokasi oleh media-media yang hanya mementingkan kepuasan dan keuntungan sesaat dengan mem blow up berita-berita yang dapat memecahkan persatuan antara indonesia dan malaysia”, sambung wan hafiz yang mengambil jeda sambil menelan air liurnya.
“Yah contoh nya hubungan kita ini mel...semuanya jadi berantakannnn. ....”, kini pria mellayu itu berubah seperti air terjun niagara di kanada. Matanya deras mengeluarkan air mata yang sudah tak sanggup lagi untuk menjelaskan semuanya kepada mella sang wanita indonesia yang selama ini selalu hinggap dan berbagi perasaan suka maupun duka. Wan hafiz teringat akan perkataan teman-teman mella yang selalu mengenal sosok mella sebagai seorang wanita yang berpendirian teguh dan pantang mencabut kata-katanya jika itu telah keluar. Wan hafiz semakin kehilangan pegangan hidupnya seperti kapal yang berada di tengah lautan tanpa jangkar karena masih tetap terngiang-ngiang di benaknya ketika mella berteriak sekencang-kencangny a hingga merubah volume air dalam kolam yang ada di dekat mereka “pokoknya aku minta putussssss.. ......... ...”.
mella masih tetap tertegun bisu persis seperti patung liberty yang nampak dari pelbagai belahan kota New York. mella pun mulai meresapi kata-kata Wan hafiz dan seribu penyesalan mulai datang silih berganti dan menghampiri setiap memori- memori yang pernah terjalin diantara mereka berdua. mella merasa gengsi untuk mencabut kembali kata-katanya, sesak di dalam dada semakin menjadi-jadi akan kata-kata yang terlontar dan luapan emosi yang tak terkendali.
Malam semakin larut, bulan semakin bergeser meninggalkan sang malam. Bintang-bintang masih tetap tergantung diawan tinggi yang cahayanya menjadi saksi keruntuhan hubungan mereka berdua. Seiring dengan waktu yang hendak menampakan pagi, rintik-rintik hujan mulai turun. Suara-suara jangkrik merambat disetiap tembok-tembok dan rumput-rumput yang mereka pijak saat itu. mella masih merasa gengsi untuk mencabut kata-katanya, Wan hafiz semakin larut dalam kesedihan yang mendalam dan tetap digelayuti ribuan-ribuan memori indah bersama mella. Segenap perkataan terbesit dalam hati.
“Andai saja tak ada paspor antara negaraku dan negaramu,mungkin semuanya tak akan seperti ini dan tak akan ada penyesalan yang mendalam dihatiku”, gumam mella dalam hati.
Malam hanya bisa membisu, emosi tetap membekas di dalam kalbu, langit mulai menumpahkan air agak sedikit deras, dan volume air dalam kolam mulai bertambah. Malam minggu yang kelabu telah menjadi sejarah yang tak pernah terlupakan dan semakin menambah deretan-deretan sejarah kelam asmara mella bersama pria-pria semenanjung malaysia.
Malam ini mella tak kuasa menahan perasaanya yang campur aduk persis seperti semen yang diaduk-aduk oleh tukang bangunan untuk mengecor (menambal) atap-atap rumah yang bolong. mella sangat termasyhur dikalangan teman-temanya sebagai wanita yang sabar dalam masalah asmara dan tentunya juga sangat berprinsip. Ia kini teringat kembali ketika pertama kali mengikat janji dengan seorang lelaki mellayu bernama Wan hafiz yang ia jumpai ketika sedang membeli sayu di pasar chow kit.
"Abang...abang serius kah...sayang sama mella...?", tanya mella yang sedikit ragu-ragu sebelum menerima cinta Wan hafiz.
"Abang serius la mella...abang suka sangat dengan cewe-cewe indon..eh indonesia", jawab Wan hafiz dengan logat mellayunya yang kental.
“Abang serius kan mau menjalin hubungan sama mella...?”, tanya mella untuk memastikan lagi.
“Iya serius...bahkan abang mau bawa mella ke pelaminan...”, tegas Wan hafiz sambil memastikan belahan hatinya.
mella-pun menerima permohonan sang pria mellayu yang selalu hobi minum teh tarik dan satu buah roti canay setiap paginya. mella memang dikenal dikalangan PPI-Malaysia sebagai seorang wanita yang sangat teguh ketika mengatakan sesuatu dan pantang baginya untuk menarik kata-katanya yang sudah keluar, bagaikan menelan air liur sendiri yang sudah diludahkan.
“Hmhm...ok la bang...kalau abang memang serius dengan mella...mella juga mau la, jadi girl friend abang”, jawab mella sambil tersipu-sipu malu dan seolah-olah dunia ini milik mereka berdua dan serasa orang lain pada ngontrak. Wan hafiz kini resmi menjadi pria ke-15 yang bertengger di hati mella, semenjak ia menginjak semenanjung Malaysia lebih dari 3 tahun yang lalu. Bukan mella namanya jika ia tidak terkenal di kalangan PPI-Se Malaysia sebagai seorang wanita indonesia yang kisah cintanya selalu kandas dengan pria-pria mellayu. Kendati putus sambungnya hubungan asmara mella bak air laut yang pasang surut, mella adalah sesosok wanita yang terkenal sabar dan mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi. Bahkan pernah suatu kali salah satu orang tua dari belasan mantan kekasihnya itu mengangkatnya setinggi menara Al-burj di dubai, sebagai menara tertinggi di dunia, dengan seketika juga meghempasnya sampai menembus lapisan tanah.
“mella kamu catik deh....”, puji sang orang tua mantan ke kasihnya yang ke 11.
“Terima kasih mak cik....”, jawab mella sambil tersipu-sipu malu, ditambah dengan muka yang mulai memerah seperti jambu bol.
“Tapi....”, sang mak cik mulai ragu-ragu mellanjutkan kalimatnya.
“Tapi apa mak cik ??”, jawab mella yang sedikit penasaran dan agak mendesak.
“Tapi sayang kamu Indon...”, jawaban sang mak cik bak menghempas mella tanpa parasut dari ketinggian menara Burj yang tingginya hingga satu kilometer.
Tapi itu dulu, sebelum menjalin hubungan dengan Wan hafiz yang membuat mella mabuk kepayang sampai lupa cuci baju dan bersihkan kost-an yang terkadang sudah dihuni kecoa dan tikus-tikus dari tetangga sebelah.
Tanpa angin tanpa badai, tiba-tiba kini suasana berubah, iya...berubah drastis, 180 derajat. mella berubah seperti singa betina yang belum makan selama dua bulan dan tengah melindungi anaknya dari gangguan predator.
“Wan....pokoknya aku minta putussssss sekarang juga....putussss. ..putuss. ....”,pinta mella dengan muka memerah seperti bara api yang dibakar dalam tungku.
“Kenapa mella...sayang ku ?”, tanya wan hafiz dengan keheranan.
“Pokoknya aku mau putus....hubungan kita sampai disini saja...cukup. ...”, mella yang kembali nampak makin menggila dan hampir-hampir tak sadarkan diri.
“Iya tapi tolong jelaskan dulu apa alasanya mella...?”, tanya wan hafiz yang mukanya nampak makin panik bak diseruduk ikan hiu ketika berselancar di pulau Lombok.
“Enak saja...negaramu itu lo..sudah habis menginjak-nginjak negaraku...memangny a kamu pikir negaraku tidak punya harga diri apa...???”, hardik mella yang semakin memuncak kemarahanya sekaligus membuat air mancur takut untuk menyemprotkan air ke udara setelah mendengar ledakan suara mella yang hampir merobek atmosfir di sekitar kuala lumpur.
“Pokoknya mulai detik ini aku mau hubungan kita putus ....jangan kamu panggil lagi aku sayang....titik. ..”, deklarasi mella yang semakin membuatnya terkenal dikalangan para mahasiswa indonesia di Malaysia sebagai sesosok wanita yang pantang untuk mencabut kata-katanya.
“mella....tolong la mella....jangan kamu campur adukan cinta kita dengan negara kita yang tengah begaduh...karena tidak ada hubunganya antara asmara kita dan negara kita”, pinta Wan hafiz yang seolah-olah siap menjadi anggota Persatuan Lelaki di bawak Ketiak Istri.
“Tidak ada bagiku yang namanya cinta jika tanpa penghargaan terhadap negaraku...cintaku terbentuk karena adanya negaraku sebagai tempat mengasah segala asa dan angan-anganku tentang cinta...negaramu makin kurang ajar...seenaknya menginjak-nginjak negaraku...apa karena negaraku miskin...?.. .kamu mau sombong dengan twin tower mu itu ah....???”, mella yang nampak semakin beringas ditambah lagi dengan gaya tolak pinggangnya persis seperti model iklan jamu pegel linu.
“Apa yang harus kami sombongkan mel..??...orang- orang mellayu seperti kami ini adalah hanya orang-orang pendatang dan tak lebih dari itu semua...penduduk asli semenanjung mellayu ini adalah orang pedalaman yang tinggal di hutan-hutan dan biasanya disebut dengan orang ASLI...mungkin sama dengan suku dayak yang ada di kalimantan.. ..nenek moyang kami bukan dari keturunan orang-orang ASLI itu mel...tapi nenek moyang kami dulunya berasal dari Indonesia dan kemudian merantau ke negeri mellayu ini...hingga mereka tak pernah lagi kembali ke tanah airnya dan lupa untuk mengajarkan tentang sejarah dan asal usul kami...contohnya seperti aku ini mel....kakek- ku orang aceh dan nenek ku orang bawean”, suaranya makin lembut dan dari binar matanya nampak usahanya begitu keras untuk membucuk mella, sekeras usaha mella agar angka-angka di timbangan tak terus menanjak setiap minggunya.
Semilir angin datang silih berganti menghembuskan suara-suara jangkrik yang sesekali terdengar dari dalam lubang got yang berada disekitar tempat duduk mereka berdua. Cahaya yang jatuh diantara mereka berdua sudah tak nampak lagi romantis. Cahaya bulan mulai redup-redam. Degup jantung mella terdengar kencang seperti genderang perang yang ditabuhkan kerajaan mongol ketika memporak-porandakan kota Bagdad, Irak. Kini Yang ada hanya kemarahan dan emosi mella yang semakin memuncak dan terus memuncak.
“Negaramu kurang ajar... mengklaim bahwa budaya negaraku adalah budayamu juga...kamu pikir dengan krisis ekonomi yang mellanda negaraku, kamu bisa seenaknya membeli dan merampas kebudayaanku, ah...?”, suara mella semakin meninggi persis seperti naik 4 oktaf dalam tangga nada musik berbirama 4/4.
“mella....disini ngga ada orang mellayu...yang ada disini adalah orang jawa...orang minang...orang aceh...orang bugis...orang bawean..orang madura...dan lain-lainya. ...kami sulit sekali untuk memperkuat identitas kami sebagai kaum pendatang diantara ras lainya seperti India dan cina...karena kakek dan nenek kami asalnya dari indonesia, maka budaya kakek-nenek moyang kami itulah yang kami gunakan dan lestarikan sampai sekarang...seperti batik, tari pendet, angklung dan lain-lain... karena kami memang tidak punya budaya lagi untuk menunjukan identitas kami sebagai seorang manusia....hanya saja kesalahan nenek moyang kami setelah berhijrah kesini dan juga pemerintah kami, mereka tidak pernah mengajarkan tentang sejarah asal-usul kami, sehingga kami lupa akan akar kami dan tidak tahu siapa kami sebenarnya”, jelas Wan hafiz yang nampak sudut matanya mulai berkaca-kaca karena melihat kepergian mella sudah diambang pintu.
mella pun hanya bisa diam, membisu seribu bahasa, dan bibirnya tertutup rapat serapat penjara alcatraz yang terletak di sebuah pulau bagian San fransisco. Sesak dada mella masih belum kembali normal. Gencatan emosi dan urat-urat saraf yang semakin menegang membuat mella semakin kalap. Ia semakin tak peduli dengan kata-kata Wan hafiz yang selalu setia menemaninya di kala kesunyian dan kesepian datang menghampirinya. Kebaikan pria mellayu itu seolah-olah tak pernah membekas sedikit pun di dalam hidup mella yang telah terkikis oleh semangat nasionalisme yang semakin membabi-buta.
“Alah...pokoknya aku ingin membela nasionalismeku. ..karena aku orang indonesia”, ungkap mella yang semakin hilang kendali dan suaranya semakin lantang persis selantang suara orang yang membacakan UUD 45 di upacara-upacara kenegaraan.
“Mella.....”, ucap Wan hafiz yang tak terasa kelopak matanya mulai meneteskan air mata yang sedari tadi hendak tumpah dan kini ia sudah tak kuasa lagi untuk membendungnya.
“Kami sangat iri sebenarnya dengan orang-orang indonesia, terlebih dengan anak-anak muda indonesia yang mempuyai semangat nasionalisme yang tinggi dan kreatifitas yang tidak terbatas”,ungkapnya sambil meminta mella untuk menatap matanya dalam-dalam seperti para pencopet kelas teri yang mau menghipnotis sebelum menggasak dompet si korban.
“Coba duduk sini mella....”, pinta Wan hafiz yang diacuhkan mella sambil menatap pohon-pohon rindang yang nampak di goda oleh semilir-semilir angin yang berhembus malam itu.
“Coba lihat...ketika terjadi kasus ambalat antara indonesia dan malaysia..ribuan orang di indonesia sudah siap untuk mendaftarkan diri menjadi pasukan rela mati demi membela tanah air mereka...sedangkan kami...tidak ada seorang pun yang rela mengorbankan nyawanya untuk tanah airnya...bahkan demi memupuk rasa nasionalisme pun negara kami harus menghabiskan berjuta-juta ringgit, agar anak-anak muda kami mempunyai rasa memiliki yang tinggi terhadap negara kami...walaupun kami sudah merdeka 52 tahun..tapi bagi kami semangat nasionalisme dan integrasi antar ras tetap menjadi masalah yang utama...kami belum merasakan sepenuhnya bahwa bahasa mellayu telah menjadi bahasa nasionalisme bagi kami....kami tidak punya persatuan yang kuat dinegara kami sendiri seperti halnya di indonesia”, tambah wan hafiz yang semakin menatap mella dengan tatapan kosong seolah-olah hidupnya akan berakhir ketika mella harus pergi meninggalkan dirinya sebatang kara di tanah mellayu itu.
“Tidak hanya itu, kami juga iri dengan semangat anak-anak Indonesia yang sedang belajar di luar negeri. Walaupun mereka belajar jauh dari negeri asalnya tetapi mereka masih mau memberikan kontribusi terhadap tanah kelahirannya. ..seperti radioppidunia. ..dengan radio itu semua suara mahasiswa indonesia di luar negeri dapat dikoordinir dan diakomodir dengan baik demi kemajuan bangsa indonesia yang lebih baik...sedangkan kami ?? tidak pernah kami dengar mahasiswa malaysia yang mempunyai semangat juang yang tinggi untuk negaranya... apalagi untuk mendirikan radio”, tambah Wan hafiz yang semakin bingung dan baru sekali melihat perempuan indonesia marah setengah mati seperti rodeo kehilangan kendali atas bantengnya dan kemudian panik.
“Mungkin kalau tidak ada radio...aku tak akan mengenalmu mella...karena aku tertarik dengan mu pertama kali mellalui bahasa dan suara mu...”, goda Wan hafiz ditengah amarah mella seperti si jago merah yang tengah mellahap kayu-kayu kering hutan kalimantan di tengah musim kemarau.
“Memang ada apa dengan bahasamu...?”, tanya mella yang nadanya masih terdengar ketus.
“Bahasa indonesia nampak lebih gentleman, tegas, dan penuh dengan warna-warni. ..kami semua keranjingan dengan bahasa dan musik-musik yang dilantukan oleh band-band indonesia... karena telinga kami sudah dipenuhi dewa, gigi, letto, ungu, padi...dan bahkan sampai dangdut sekaligus”. jawabnya yang diiringi dengan keringat dingin mulai membasahi pundak dan mengalir ke seluruh punggungnya.
mella masih tetap diam dan menerawang jauh ke langit yang nampak sedikit ditaburi bintang-bintang malam itu. Bulan seolah-olah enggan menampakan dirinya di hamparan langit hitam yang sudah membalut semenanjung malaysia saat itu. mella masih nampak tak mau menanggapi segala lantunan kata wan hafiz yang seolah nampak seperti sampah di mata mella.
“Tak hanya itu mella...kami juga punya permasalahan yang krusial dari segi gender...jumlah laki-laki yang gentle jumlahnya tak sebanding dengan jumlah perempuan... coba kamu lihat di universitas- universitas top..kantor- kantor..kebanyak an dihuni oleh perempuan... karena lelaki gentle nya sebagian sudah dilahap oleh budaya pondan (banci) yang seolah-olah sudah menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat kami baik di universitas di kantor-kantor dan instansi-instansi penting lainya”, tambah Wan hafiz yang masih berharap agar mella dapat kembali ke pangkuannya.
“Tapi pemerintahan kamu tidak fair dalam memberikan informasi mellalui medianya ketika memberitakan orang-orang indonesia yang selalu di gambarkan sebagai orang- orang yang sangat miskin dan minta-minta serta menjadi budak di malaysia.... .kamu pikir apa aku ini wannnnnnnnnnnnnnnnn nnnnn....”, hentak mella yang mencoba membuat wan hafiz makin terpojok dan tak terasa jilbabnya kini basah kuyup karena seluruh peluh telah keluar dari segal pori-pori kulitnya yang dipompa oleh nafsu angkara murka yang sedari tadi tak mau turun walaupun hanya 0.01 mm.
“Kami sekarang memang merasa seperti katak yang mati dalam tempurung atau seperti ayam yang mati di dalam kandang yang penuh dengan makanan...semua memang selalu disediakan oleh pemerintah.. .mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga biaya santunan pernikahan.. .tapi kebebasan bersuara tidak pernah kami dapati...semua media kami di kontrol oleh pemerintah.. jadi apa yang keluar harus sesuai dengan isi perut pemerintah kami..kami tidak punya kuasa untuk memberikan informasi yang benar dan objektif...keadaan kami persis seperti zaman indonesia dibawah kuku besi soeharto...kami memang terkadang sangat iri dengan bangsa indonesia yang mempunyai kebebasan yang sangat luar biasa baik dalam radio, tv,koran, majalah dan lain-lain serta bebas untuk mengungkapkan apa saja sesuai dengan apa yang mereka pikirkan...tapi juga saya nampak orang indonesia terlalu mudah terprovokasi oleh media-media yang hanya mementingkan kepuasan dan keuntungan sesaat dengan mem blow up berita-berita yang dapat memecahkan persatuan antara indonesia dan malaysia”, sambung wan hafiz yang mengambil jeda sambil menelan air liurnya.
“Yah contoh nya hubungan kita ini mel...semuanya jadi berantakannnn. ....”, kini pria mellayu itu berubah seperti air terjun niagara di kanada. Matanya deras mengeluarkan air mata yang sudah tak sanggup lagi untuk menjelaskan semuanya kepada mella sang wanita indonesia yang selama ini selalu hinggap dan berbagi perasaan suka maupun duka. Wan hafiz teringat akan perkataan teman-teman mella yang selalu mengenal sosok mella sebagai seorang wanita yang berpendirian teguh dan pantang mencabut kata-katanya jika itu telah keluar. Wan hafiz semakin kehilangan pegangan hidupnya seperti kapal yang berada di tengah lautan tanpa jangkar karena masih tetap terngiang-ngiang di benaknya ketika mella berteriak sekencang-kencangny a hingga merubah volume air dalam kolam yang ada di dekat mereka “pokoknya aku minta putussssss.. ......... ...”.
mella masih tetap tertegun bisu persis seperti patung liberty yang nampak dari pelbagai belahan kota New York. mella pun mulai meresapi kata-kata Wan hafiz dan seribu penyesalan mulai datang silih berganti dan menghampiri setiap memori- memori yang pernah terjalin diantara mereka berdua. mella merasa gengsi untuk mencabut kembali kata-katanya, sesak di dalam dada semakin menjadi-jadi akan kata-kata yang terlontar dan luapan emosi yang tak terkendali.
Malam semakin larut, bulan semakin bergeser meninggalkan sang malam. Bintang-bintang masih tetap tergantung diawan tinggi yang cahayanya menjadi saksi keruntuhan hubungan mereka berdua. Seiring dengan waktu yang hendak menampakan pagi, rintik-rintik hujan mulai turun. Suara-suara jangkrik merambat disetiap tembok-tembok dan rumput-rumput yang mereka pijak saat itu. mella masih merasa gengsi untuk mencabut kata-katanya, Wan hafiz semakin larut dalam kesedihan yang mendalam dan tetap digelayuti ribuan-ribuan memori indah bersama mella. Segenap perkataan terbesit dalam hati.
“Andai saja tak ada paspor antara negaraku dan negaramu,mungkin semuanya tak akan seperti ini dan tak akan ada penyesalan yang mendalam dihatiku”, gumam mella dalam hati.
Malam hanya bisa membisu, emosi tetap membekas di dalam kalbu, langit mulai menumpahkan air agak sedikit deras, dan volume air dalam kolam mulai bertambah. Malam minggu yang kelabu telah menjadi sejarah yang tak pernah terlupakan dan semakin menambah deretan-deretan sejarah kelam asmara mella bersama pria-pria semenanjung malaysia.
Subscribe to:
Comments (Atom)