Senja
Malam semakin tak terasa, tiba-tiba saja sudah datang membalut siang yang telah memporak-porandakan malam. Tak banyak kata-kata yang dapat aku katakan ketika senja mulai datang untuk menyapa setiap sudut-sudut horizon yang mulai nampak kemerah-merahan. Danau-danau masih tetap tak bergumam dan tak mampu memberikan arti bagiku. Mobil dan motor hanya terlihat satu persatu, silih berganti menyusuri jalan yang nampak sepi. Getir pahitnya hidup sesekali terlintas dalam benak yang telah aku coba kubur pada koordinat terbawah bagian alam bawah sadarku. Tiba-tiba bayangan itu kembali melintas dan susah untuk hengkang dari benakku. Handphone ku berbunyi...dan nada deringnya persis seperti bunyi yang pernah aku setting untuk seseorang yang pernah membayang-banyangik u dalam setiap detik helaan nafasku.
“Haloo....apa kabar ?”, suaranya dari kejauhan terdengar parau dan serak-serak menahan isak tangis yang tak dapat disembunyikanya.
“Kabar ku baik.....”, jawabku yang masih penasaran dan tetap bertanya dalam sanubari dimana dirinya kini.
Telepon darinya persis 2 bulan semenjak dirinya tiba-tiba menghilang dari genggamanku tanpa kabar, tanpa angin yang membawa berita-berita dan tanda-tanda kepergiannya begitu misterius bagiku. Semenjak kepergianya pikiranku menjadi semakin galau dan terus menjadi gundah. Burung-burung gagak berterbangan memberikan warna kontras kepada langit yang memberikan mereka ruang untuk hilir mudik mengintai bangkai-bangkai yang siap disantap untuk mengisi temboloknya.
Kini aku bertemu dengan dirinya, hatiku terasa semakin lega dan berbunga-bunga ketika dari jauh aku nampak dirinya tepat berada di sebuah pohon rindang di dekat bangku panjang yang hanya muat dihuni oleh dua orang. Bangku yang biasa kita duduki sebelum dirinya hilang entah kemana selama dua bulan. Aku hampiri tubuhnya yang masih nampak cantik dan semampai seperti sedia kala. Tak ada sedikit yang berubah darinya, walaupun ia menghilang tanpa goresan tinta di sebuah kertas yang tak pernah terkirim kepadaku. Kini... yang ada hanya bekas linangan air mata yang tersisa yang telah mengalir dari mata yang memberikan binaran-binaran ketenangan pada jiwaku.
“Kamu nampak makin cantik setelah sekian lama aku merindukan kehadiranmu kembali disisiku.... kapan kita akan bermain-main dan membicarakan tentang cinta ?”, tanya ku yang hanya dibalas oleh jutaan kuncian bibirnya yang nampak makin erat terkunci.
Tiupan angin-angin membelai rambutnya yang hitam terurai sampai ke rok nya yang berwarna putih. Ia nampak bagai bidadari yang terjatuh dan terlepas dari pusat peremajaan para bidadari surga yang pernah tercipta. Buah-buah khuldi seakan malu untuk menjadi masak ketika kehadirannya berada tepat di bawah pohon Khuldi.
“Kamu adalah wanita terhebat yang pernah aku jumpai dari ratusan bidadari yang pernah singgah di lubuk hatiku....”, rayuan gombal yang hanya dihargai dengan pandangan mata yang dibuang ke jurusan yang sama kemana mukaku menghadap.
“Jangankan esok... ataupun sebelum ayam mulai berkokok.... detik ini pun....kalau ada penghulu di depan ku, aku akan persunting engkau sebagai istriku yang tak akan aku biarkan sekalipun nyamuk mendekat ke kulitmu ketika engkau tengah terlelap dalam pangkuan malam yang mengikat ke dua kelopak matamu”, tawaranku yang tidak main-main lagi-lagi hanya dihargai dengan binaran mata yang nampak makin berkaca-kaca membendung luapan air mata yang akhirnya jatuh menetes membasahi tanah yang nampak kering di musim kemarau.
Sebagian bunga-bunga di sekitar taman mulai ditimpa sedikit cahaya matahari yang mulai redup. Gemericik air nampak memberikan pantulan wajahya yang tetap cantik walau air mata terus mengalir. Rumput-rumput nampak hijau terhampar. Dua buah ayunan yang tak berpenghuni sesekali bergerak tertiup angin malam yang mulai dingin merambat ke setiap lapisan kulit. Semuanya hanya menambah rasa frustasi dan keputus asaan-ku untuk dapat membuka bongkahan bisu yang menindih bibirnya . Iya...mulut yang dulu nampak mungil dan nakal tetap terngiang-ngiang dalam setiap lipatan-lipatan otak ku.
“Ketika air mata mulai membasahi setiap pori-pori yang ada di matamu...engkau nampak makin cantik seperti sebuah zamrud yang terpendam ribuan tahun di dasar laut dan baru muncul kepermukaan yang langsung disambut oleh tetesan-tetesan embun pagi yang memberikan kesegaran... air matamu bagai tetesan embun yang menyeka debu-debu di atas kristal yang tak hancur diterpa baja....air matamu hanya membuat ku semakin haus....”, rayuan terakhir yang pernah terlontar, dan tak pernah lagi terpikir apa yang harus di ucapkan untuk membuatnya menghasilkan sepatah kata walaupun hanya gumaman dan suara yang hanya terdengar oleh nyamuk.
Malam semakin senja, burung-burung berterbangan kembali menuju asalnya, segala makhluk tuhan kembali keharibaan-nya untuk beristirahat sejenak melupakan segala kepenatan yang telah terukir sepanjang hari. Pohon-pohon nampak letih dan mulai condong kemanapun angin menghembusnya. Kuangkat tubuhku meninggalkan dirinya yang masih tetap tertegun sendiri di bawah pohon rindang dengan rambutnya yang terurai menyapu tanah yang lembab. Langkahku semakin jauh meninggalkan dirinya di atas bangku yang juga membisu dan masih tertegun di bawah cahaya mentari yang telah lelah bercokol di ufuk timur.
Getaran handphone-ku mulai terasa setelah beberapa kali bergetar. Kulihat dari nama sang penelepon, ia adalah seseorang yang sudah habis seharian aku rayu agar mau membuka mulutnya walaupun hanya sekedar mengeluarkan satu kata atau mungkin satu huruf saja. Iya..satu huruf saja...Hatiku sangat senang.Senangnya tak terhingga. Senang yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Melihat namanya muncul di handphone ku, perasaanku bercampur aduk. Semakin tak jelas. Tak sabar rasanya mendengar suara perempuan yang telah hilang selama 2dua bulan itu dan secara tiba-tiba minta bertemu di sebuah taman tempat kita selalu berbagi perasaan suka maupun duka, walaupun pada akhirnya ia tak pernah membuka mulutnya. Iya.....kini ia meneleponku.
Sebuah tanda yang positif kalau usahaku seharian merayunya telah berhasil memecahkan segala kebisuan yang mengunci mati lidahnya untuk mengatakan satu huruf. Aku semakin tak sabar untuk mendengar suaranya. Aku tekan tombol hijau di handphone ku dan aku sambut langsung dengan nada suara ku yang tak dapat aku sembunyikan betapa senangnya hatiku ketika aku akan mendengar suaranya.
“Hallo.......”, jawabku diringi dengan degup jantungku yang sudah semakin tak tentu bunyi dan nadanya.
Dari jauh sana ia menjawab, “aku hamil.....tapi bukan dengan kamu....”, diakhiri dengan nada telepon yang terputus. Aku kembali melirih kebelakang menyusuri setiap jejak-jejak tapak kakiku, hingga pandanganku sampai di bangku yang telah aku duduki. Bangku itu kini telah kosong. Tak tahu lagi kemana aku harus mencari.
Hari semakin senja....
(Bersambung)
No comments:
Post a Comment