Suasana kampus terlihat masih sunyi. Bangunan-bangunan Multimedia University menjulang tinggi ke atas seolah hendak menggapai angkasa bebas. Langit di atas cerah. Tersenyum manis ke suluruh mahasiswi-mahasiwi modis di kampus itu. Miri dan Fadli selalu datang awal ke kampus. Tujuan utamanya agar tidak mengantri panjang-panjang waktu membeli nasi lemak dan segelas teh tarik untuk mengganjal usus di pagi hari.
“Selamat Pagiii..........”, suaranya terdegar dari jarak yang agak sedikit jauh oleh Miri dan Fadli yang tengah menguyah sarapan paginya.
“Pagiii...”, balas miri dan fadli serentak persis seperti paduan suara tingkat nasional.
“Wahh....pagi-pagi ini kalian udah duluan yah nongkrong di kampus.....”, sergah chikita yang membuat suasana agak sedikit ramai.
“Aku titip yah tas sama buku ku....aku mau pesen teh tarik dulu”, pinta chikita yang hanya diamini oleh anggukan kepala mereka yang masih ngantuk.
“Eh...kamu tau ngga sih...tadi malem aku dengerin radioppidunia lo......!!!”, cerocos chikita yang berusaha membuka bahan obrolan di pagi itu.
“Memangnya siapa yang siaran waktu kamu dengerin radio ?”, tanya miri sambil menyeruput teh tariknya yang masih berbusa-busa.
“Aku ngga tau yah....tapi aku suka lo topiknya....”, jawab chikita sambil mencoba mengingat-ngingat suasana malamnya ditemani oleh dj radioppidunia saat itu.
“Emangnya dia ngomongin apa ?”, sambung Fadli sambil mencelupkan roti canay-nya ke dalam bumbu dal- masakan india.
“Aduh apa yaahhh.....???”, bola mata chikita berputar-putar membuat cahaya yang jatuh ke retinanya agak kurang fokus.
Matahari makin tersenyum lebar disebelah timur malaysia. Para mahasiswa mulai berdatangan. Ada yang di hantar oleh pacar, orang tua, atau juga sopir. Mobil-mobil kelas tinggi bergantian memasuki gerbang kampus Multimedia University. Embun-embun pagi mulai menetes hingga terserap ke bumi. Seperti memori chikita bersama sang dj radioppidunia yang melai terserap hingga masuk ke alam bawah sadarnya.
“Oh iya.....tentang fisika gitu deh...pokoknya menarik deh”, suara chikita tiba-tiba masuk mengejutkan miri dan fadli yang masih terkantuk-kantuk.
“Oh pasti dj patma”, sambung miri.
“Bukan....”, sangkal chikita
“Siapa lagi ?”, tanya miri
“Suara nya laki-laki kok.....”, chikita mencoba membela pendapatnya.
“Katanya dia dari Korea.......”, ingat chikita sambil mendekatkan Tea-O suam (Teh manis hangat) ke bibirnya yang dipoles oleh lip gloss.
“Wah kalo dari korea mah bannyak atuhhhh”, sambung fadli dan miri yang saling bertatapan mata. Bingung untuk menentukan sang dj, sambil mengingat-ngingat dj yang siaran tadi malam .
***
Satu minggu kemudian chikita sudah siap nongkrong di depan radio. Chikita rela tidak mengerjakan tugas kuliah demi mendengarkan sang dj yang mulai menempati 1 cm, ruang dalam hatinya. Jarum jam terus bergulir. Menit berganti menit. Detik berganti menuju detik. 53 menit telah berlalu yang ada hanya lagu dan lagu di radio streaming itu. Tak ada suara sang dj.
“Halo sobatradioppidunia......”, tiba-tiba sebuah suara terdegar dari seberang sana.
“Yesssss......”, chikita merasa puas setelah penantiannya hampir satu jam terasa tidak sia-sia karena akhirnya dj yang dinanti-nantikannya muncul sambil mengepalkan dan menarik ke belakanga sikutnya sebagai tanda keberhasilan.
“Semuanya apa kabar yah.....kangen banget lo udah lama ngga ketemu dan chatting sama sobatradioppidunia......”, sapa sang dj sambil memutarkan lagu bang rhoma yang berjudul Bergadang.
“Kabar baikkkkk dijeeehhhh”, jari jemari chikita yang lentik mulai menari-nari di atas keyboard dan langsung menekan tombol enter.
“Oh iya aku mau sapa-sapa dulu ah....disini ada mela, miri, fadli, dilla, selvi, indri, meity, firman, yoshi dan ANON 9230, 8456, 7546”, sambung sang dj yang mencoba megakrabkan diri dengan para pendengar di chatbox.
“Sobatradioppidunia.....sekarang ini sesi jumper lo...aku cuma ngisi slot yang kosong..karena dj yang seharusnya siaran hari ini, dj HILMY, lagi ngga bisa siaran...cuz dia harus buat laporan di lab.”, ungkap dj jumper saat itu yang tengah siaran.
Perasaan chikita campur aduk. Senang dan kesal. Senang karena bisa tahu nama sang dj yang di nantinya semenjak satu minggu yang lalu. Kesal karena dj hilmy diganti sama dj jumper yang ngga jelas. Hati chikita terperanjat mendengar dj yang sedang siarang adalah bukan dj hilmy yang minggu kemarin nyerocos tentang fisika dan teknologi-teknologi mutakhir.Hmmh...terpesona !!
Kesal, remuk redam, geram karena merasa impianya yang telah terpendam satu minggu hilang ditelan suara dj jumper yang sedang siaran saat itu. Malam itu terasa agak suram oleh chikita yang hanya tinggal sendirian di apartemen kampus yang sangat sepi. Sepi yang seakan bisa membunuhnya secara perlahan tapi pasti.
“Uhuhhh.....bilang kek dari tadi kalo kamu tuh dj jumper”, gerutu chikita karena dj kesayangannya ngga bisa siaran. Tanpa basa-basi chikita mengarahkan mouse nya ke sebuah tanda silang di ujung browser. Jrettttt...! program siaran saat itu ia putuskan.
Langit malam bertambah kelam. Malam ikut bersedih karena chikita menautkan jutaan rasa diangkasa. Kesedihannya yang mengarahkan dunia menjadi bermuram durja. Ia semakin digulung sepi selama 3 jam dalam apartemennya yang sunyi. Chikita kembali menyalakan radioppidunia hanya untuk sekedar mengusir sepi.
“Manusia terlahir tanpa seni....”, kalimat pertama kali yang chikita dengar ketika ia membuka radioppidunia itu lagi. Perasaanya semakin kesal dan agak emosi.
“Apaaann sih nih radio....ngga asik banget sih ....asal ngomong aja nih dj...”, gerutu chikita yang merasa terhina sebagai seorang perempuan yang menyukai seni.
“Hi dj maksud lo apa sih ...kok ngomong gituh ??”, jari-jari chikita semakin lihai berlari-larian diatas keyboard menulis pesan singkat kepada dj melalui Yahoo Messengger.
“Manusia tidak pernah terlahir dengan seni....tapi ia terlahir dengan hati nurani”, jawab sang dj melalui radio. Chikita tertegun. Seperti orang sedang mengheningkan cipta di taman makam pahlawan kalibata.
“Seni tidak pernah terlahir sewaktu bayi mulai menginjakan kakinya ke dunia tetapi seni adalah sesuatu yang terpancar dari hati seiring dengan berjalannya waktu”, kata-kata dj jumper saat itu terdengar makin sakral. Persis seperti sabda alam yang membisukan seluruh marga satwa.
“Seni tak dapat datang begitu saja tanpa hati nurani.....seni berhubungan dengan rasa, mata dan telinga...jika saja salah satu dari mata atau telinga tidak berfungsi....maka manusia masih akan tetap merasakan keindahan sebuah seni....Iya, keindahan yang dapat dirasakan oleh hati nurani...akan tetapi, jika saja hati nurani yang tidak berfungsi.....maka tak ada seorangpun yang dapat memaksakan seseorang untuk dapat merasakan sebuah seni...karena seni adalah sebuah refleksi imaginasi yang terpancar dari lubuk hati”, kalimat dj jumper makin membuat chikita merasa tak sadarkan diri karena kata-katanya menyelinap diam-diam ke dalam hati dan tetap terpasung di relung hati.
Belum lagi chikita membalas dan menghubungi sang dj jumper. Penyiar selanjutnya sudah masuk.Ia tak sempat lagi memberikan kontak pada sang dj jumper. Kata-katanya tertinggal dan terpatri di lubuk hati chikita. Suaranya masih terngiang-ngiang. Chikita merasa agak berdosa telah berburuk sangka kepada sang dj jumper ketika membuka radio. Minggu-minggu berikutnya chikita dengan setia menunggu di waktu yang sama dengan harapan dapat bertemu dengan dj jumper. Kini ia sudah tak peduli lagi dengan dj hilmi. Sudah terhapus dari memorinya. Yang ada dalam benaknya hanyalah sang dj jumper. Ia merasa membran hatinya telah tergetar sampai memberikan sedikit celah kepada kalimat sederhana sang dj jumper hingga akhirnya mengalir di setiap pembuluh darahnya.
“Kapan yah..saya bisa dengerin dan bertemu dengan sang dj jumper lagi ?”, chikita bertanya dalam hati dengan agak sedikit menyesal sekaligus menaruh simpati pada sang dj jumper. Iya, sang dj jumper yang tak pernah diketahui.
“Hmhmmh....Akan aku cari si dj sampai kemanapun juga...”, chikita membatin sekaligus berjanji pada dirinya, seperti sumpah palapa yang diucapkan Gajah Mada pada saat pelantikan menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit.
Rasa penasaran semakin menggunung di dalam hatinya. Hingga ia melamar dan memasukan aplikasi untuk menjadi penyiar di radioppidunia. Demi mencari sang dj jumper. Chikita diterima !!!. Sampai beberapa hari setelah penerimaannya sebagai seorang dj, chikita masih saja penasaran dengan sang dj jumper. Hasilnya masih saja nihil.Ia tak menemukan sang dj jumper.
Suasana Multimedia University masih tetap tegar berdiri di daerah putrajaya, pusat pemerintahan malaysia. Jembatan cyberjaya masih terlihat melintang diatas air. Suasana hati chikita masih tak menentu. Satu bulan telah berlalu semenjak siaran itu. Dj jumper tak pernah ada lagi. Yang ada hanya suaranya yang masih tetap terngiang-ngiang dia auditory system sang chikita. Chikita masih tetap menjadi pendengar setia radioppidunia. Hatinya resah...gelisah...hingga ia tak merasa bahwa semuanya telah berubah...siang berganti malam...malam berganti siang....dj jumper tak pernah nyata...yang ada hanya chikita rasa, dan asa.
Arak-arak awan tipis terlukis di atas langit. Ingin rasanya chikita melukis awan yang tergantung diatas sana. Melukis sang dj yang tak pernah kembali. Hati kecilnya berkata: “izinkan aku melukismu...walau hanya sekedar bayang-bayangmu”. Diatas sana lagit saling memantulkan warna biru, menyerap cahaya mentari sebelum jatuh menyetuh bumi. Chikita masih tetap mencari.....Sang dj yang tak pernah kembali.
(Dj Jumper)
No comments:
Post a Comment