Wednesday, September 9, 2009

Cintaku Terhalang Paspor

Menara kembar (twin tower) yang persis berada di depan Kuala Lumpur Convention Center (KLCC) masih nampak tegar, siap menggapai atmosfir , dan bermandikan cahaya lampu-lampu yang terpasang ribuan watt yang membalut tubuhnya. Belum lagi pijaran cahayanya yang ditambah taburan bintang-bintang di langit, semakin menambah suasana malam yang hanya dapat direngkuh oleh perasaan orang-orang yang sedang jatuh cinta. Tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Air mancur di sekitar taman yang silih berganti menyembur kelangit, membuat suasana malam menjadi semakin menjadi-jadi. Taman-taman yang tertata rapi bermandikan cahaya remang-remang memberikan suasana romantisme yang berbeda bagi para manusia yang sedang memadu kasih. Tak bosan-bosanya orang datang ke menara ini di setiap ujung minggu, walau hanya sekedar melihat taman-taman dan air mancur yang tak berubah ditambah sedikit cemilan yang selalu ada disamping sambil menikmati suasana malam. Menara ini telah menjadi saksi bisu ratusan anak cucu adam dan hawa yang saling mengikrarkan janji untuk hidup semati hingga nafas terakhir. Tak terkecuali bagi mella, seorang mahasiswi indonesia yang jarang pulang semenjak merantau ke malaysia, telah menjadi salah satu dari ratusan anak cucu hawa yang berikrar sehidup semati di bawah naungan twin tower.


Malam ini mella tak kuasa menahan perasaanya yang campur aduk persis seperti semen yang diaduk-aduk oleh tukang bangunan untuk mengecor (menambal) atap-atap rumah yang bolong. mella sangat termasyhur dikalangan teman-temanya sebagai wanita yang sabar dalam masalah asmara dan tentunya juga sangat berprinsip. Ia kini teringat kembali ketika pertama kali mengikat janji dengan seorang lelaki mellayu bernama Wan hafiz yang ia jumpai ketika sedang membeli sayu di pasar chow kit.



"Abang...abang serius kah...sayang sama mella...?", tanya mella yang sedikit ragu-ragu sebelum menerima cinta Wan hafiz.

"Abang serius la mella...abang suka sangat dengan cewe-cewe indon..eh indonesia", jawab Wan hafiz dengan logat mellayunya yang kental.


“Abang serius kan mau menjalin hubungan sama mella...?”, tanya mella untuk memastikan lagi.

“Iya serius...bahkan abang mau bawa mella ke pelaminan...”, tegas Wan hafiz sambil memastikan belahan hatinya.


mella-pun menerima permohonan sang pria mellayu yang selalu hobi minum teh tarik dan satu buah roti canay setiap paginya. mella memang dikenal dikalangan PPI-Malaysia sebagai seorang wanita yang sangat teguh ketika mengatakan sesuatu dan pantang baginya untuk menarik kata-katanya yang sudah keluar, bagaikan menelan air liur sendiri yang sudah diludahkan.


“Hmhm...ok la bang...kalau abang memang serius dengan mella...mella juga mau la, jadi girl friend abang”, jawab mella sambil tersipu-sipu malu dan seolah-olah dunia ini milik mereka berdua dan serasa orang lain pada ngontrak. Wan hafiz kini resmi menjadi pria ke-15 yang bertengger di hati mella, semenjak ia menginjak semenanjung Malaysia lebih dari 3 tahun yang lalu. Bukan mella namanya jika ia tidak terkenal di kalangan PPI-Se Malaysia sebagai seorang wanita indonesia yang kisah cintanya selalu kandas dengan pria-pria mellayu. Kendati putus sambungnya hubungan asmara mella bak air laut yang pasang surut, mella adalah sesosok wanita yang terkenal sabar dan mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi. Bahkan pernah suatu kali salah satu orang tua dari belasan mantan kekasihnya itu mengangkatnya setinggi menara Al-burj di dubai, sebagai menara tertinggi di dunia, dengan seketika juga meghempasnya sampai menembus lapisan tanah.


“mella kamu catik deh....”, puji sang orang tua mantan ke kasihnya yang ke 11.

“Terima kasih mak cik....”, jawab mella sambil tersipu-sipu malu, ditambah dengan muka yang mulai memerah seperti jambu bol.

“Tapi....”, sang mak cik mulai ragu-ragu mellanjutkan kalimatnya.

“Tapi apa mak cik ??”, jawab mella yang sedikit penasaran dan agak mendesak.

“Tapi sayang kamu Indon...”, jawaban sang mak cik bak menghempas mella tanpa parasut dari ketinggian menara Burj yang tingginya hingga satu kilometer.


Tapi itu dulu, sebelum menjalin hubungan dengan Wan hafiz yang membuat mella mabuk kepayang sampai lupa cuci baju dan bersihkan kost-an yang terkadang sudah dihuni kecoa dan tikus-tikus dari tetangga sebelah.


Tanpa angin tanpa badai, tiba-tiba kini suasana berubah, iya...berubah drastis, 180 derajat. mella berubah seperti singa betina yang belum makan selama dua bulan dan tengah melindungi anaknya dari gangguan predator.


“Wan....pokoknya aku minta putussssss sekarang juga....putussss. ..putuss. ....”,pinta mella dengan muka memerah seperti bara api yang dibakar dalam tungku.


“Kenapa mella...sayang ku ?”, tanya wan hafiz dengan keheranan.


“Pokoknya aku mau putus....hubungan kita sampai disini saja...cukup. ...”, mella yang kembali nampak makin menggila dan hampir-hampir tak sadarkan diri.


“Iya tapi tolong jelaskan dulu apa alasanya mella...?”, tanya wan hafiz yang mukanya nampak makin panik bak diseruduk ikan hiu ketika berselancar di pulau Lombok.


“Enak saja...negaramu itu lo..sudah habis menginjak-nginjak negaraku...memangny a kamu pikir negaraku tidak punya harga diri apa...???”, hardik mella yang semakin memuncak kemarahanya sekaligus membuat air mancur takut untuk menyemprotkan air ke udara setelah mendengar ledakan suara mella yang hampir merobek atmosfir di sekitar kuala lumpur.


“Pokoknya mulai detik ini aku mau hubungan kita putus ....jangan kamu panggil lagi aku sayang....titik. ..”, deklarasi mella yang semakin membuatnya terkenal dikalangan para mahasiswa indonesia di Malaysia sebagai sesosok wanita yang pantang untuk mencabut kata-katanya.


“mella....tolong la mella....jangan kamu campur adukan cinta kita dengan negara kita yang tengah begaduh...karena tidak ada hubunganya antara asmara kita dan negara kita”, pinta Wan hafiz yang seolah-olah siap menjadi anggota Persatuan Lelaki di bawak Ketiak Istri.


“Tidak ada bagiku yang namanya cinta jika tanpa penghargaan terhadap negaraku...cintaku terbentuk karena adanya negaraku sebagai tempat mengasah segala asa dan angan-anganku tentang cinta...negaramu makin kurang ajar...seenaknya menginjak-nginjak negaraku...apa karena negaraku miskin...?.. .kamu mau sombong dengan twin tower mu itu ah....???”, mella yang nampak semakin beringas ditambah lagi dengan gaya tolak pinggangnya persis seperti model iklan jamu pegel linu.


“Apa yang harus kami sombongkan mel..??...orang- orang mellayu seperti kami ini adalah hanya orang-orang pendatang dan tak lebih dari itu semua...penduduk asli semenanjung mellayu ini adalah orang pedalaman yang tinggal di hutan-hutan dan biasanya disebut dengan orang ASLI...mungkin sama dengan suku dayak yang ada di kalimantan.. ..nenek moyang kami bukan dari keturunan orang-orang ASLI itu mel...tapi nenek moyang kami dulunya berasal dari Indonesia dan kemudian merantau ke negeri mellayu ini...hingga mereka tak pernah lagi kembali ke tanah airnya dan lupa untuk mengajarkan tentang sejarah dan asal usul kami...contohnya seperti aku ini mel....kakek- ku orang aceh dan nenek ku orang bawean”, suaranya makin lembut dan dari binar matanya nampak usahanya begitu keras untuk membucuk mella, sekeras usaha mella agar angka-angka di timbangan tak terus menanjak setiap minggunya.


Semilir angin datang silih berganti menghembuskan suara-suara jangkrik yang sesekali terdengar dari dalam lubang got yang berada disekitar tempat duduk mereka berdua. Cahaya yang jatuh diantara mereka berdua sudah tak nampak lagi romantis. Cahaya bulan mulai redup-redam. Degup jantung mella terdengar kencang seperti genderang perang yang ditabuhkan kerajaan mongol ketika memporak-porandakan kota Bagdad, Irak. Kini Yang ada hanya kemarahan dan emosi mella yang semakin memuncak dan terus memuncak.


“Negaramu kurang ajar... mengklaim bahwa budaya negaraku adalah budayamu juga...kamu pikir dengan krisis ekonomi yang mellanda negaraku, kamu bisa seenaknya membeli dan merampas kebudayaanku, ah...?”, suara mella semakin meninggi persis seperti naik 4 oktaf dalam tangga nada musik berbirama 4/4.



“mella....disini ngga ada orang mellayu...yang ada disini adalah orang jawa...orang minang...orang aceh...orang bugis...orang bawean..orang madura...dan lain-lainya. ...kami sulit sekali untuk memperkuat identitas kami sebagai kaum pendatang diantara ras lainya seperti India dan cina...karena kakek dan nenek kami asalnya dari indonesia, maka budaya kakek-nenek moyang kami itulah yang kami gunakan dan lestarikan sampai sekarang...seperti batik, tari pendet, angklung dan lain-lain... karena kami memang tidak punya budaya lagi untuk menunjukan identitas kami sebagai seorang manusia....hanya saja kesalahan nenek moyang kami setelah berhijrah kesini dan juga pemerintah kami, mereka tidak pernah mengajarkan tentang sejarah asal-usul kami, sehingga kami lupa akan akar kami dan tidak tahu siapa kami sebenarnya”, jelas Wan hafiz yang nampak sudut matanya mulai berkaca-kaca karena melihat kepergian mella sudah diambang pintu.


mella pun hanya bisa diam, membisu seribu bahasa, dan bibirnya tertutup rapat serapat penjara alcatraz yang terletak di sebuah pulau bagian San fransisco. Sesak dada mella masih belum kembali normal. Gencatan emosi dan urat-urat saraf yang semakin menegang membuat mella semakin kalap. Ia semakin tak peduli dengan kata-kata Wan hafiz yang selalu setia menemaninya di kala kesunyian dan kesepian datang menghampirinya. Kebaikan pria mellayu itu seolah-olah tak pernah membekas sedikit pun di dalam hidup mella yang telah terkikis oleh semangat nasionalisme yang semakin membabi-buta.


“Alah...pokoknya aku ingin membela nasionalismeku. ..karena aku orang indonesia”, ungkap mella yang semakin hilang kendali dan suaranya semakin lantang persis selantang suara orang yang membacakan UUD 45 di upacara-upacara kenegaraan.


“Mella.....”, ucap Wan hafiz yang tak terasa kelopak matanya mulai meneteskan air mata yang sedari tadi hendak tumpah dan kini ia sudah tak kuasa lagi untuk membendungnya.


“Kami sangat iri sebenarnya dengan orang-orang indonesia, terlebih dengan anak-anak muda indonesia yang mempuyai semangat nasionalisme yang tinggi dan kreatifitas yang tidak terbatas”,ungkapnya sambil meminta mella untuk menatap matanya dalam-dalam seperti para pencopet kelas teri yang mau menghipnotis sebelum menggasak dompet si korban.


“Coba duduk sini mella....”, pinta Wan hafiz yang diacuhkan mella sambil menatap pohon-pohon rindang yang nampak di goda oleh semilir-semilir angin yang berhembus malam itu.


“Coba lihat...ketika terjadi kasus ambalat antara indonesia dan malaysia..ribuan orang di indonesia sudah siap untuk mendaftarkan diri menjadi pasukan rela mati demi membela tanah air mereka...sedangkan kami...tidak ada seorang pun yang rela mengorbankan nyawanya untuk tanah airnya...bahkan demi memupuk rasa nasionalisme pun negara kami harus menghabiskan berjuta-juta ringgit, agar anak-anak muda kami mempunyai rasa memiliki yang tinggi terhadap negara kami...walaupun kami sudah merdeka 52 tahun..tapi bagi kami semangat nasionalisme dan integrasi antar ras tetap menjadi masalah yang utama...kami belum merasakan sepenuhnya bahwa bahasa mellayu telah menjadi bahasa nasionalisme bagi kami....kami tidak punya persatuan yang kuat dinegara kami sendiri seperti halnya di indonesia”, tambah wan hafiz yang semakin menatap mella dengan tatapan kosong seolah-olah hidupnya akan berakhir ketika mella harus pergi meninggalkan dirinya sebatang kara di tanah mellayu itu.


“Tidak hanya itu, kami juga iri dengan semangat anak-anak Indonesia yang sedang belajar di luar negeri. Walaupun mereka belajar jauh dari negeri asalnya tetapi mereka masih mau memberikan kontribusi terhadap tanah kelahirannya. ..seperti radioppidunia. ..dengan radio itu semua suara mahasiswa indonesia di luar negeri dapat dikoordinir dan diakomodir dengan baik demi kemajuan bangsa indonesia yang lebih baik...sedangkan kami ?? tidak pernah kami dengar mahasiswa malaysia yang mempunyai semangat juang yang tinggi untuk negaranya... apalagi untuk mendirikan radio”, tambah Wan hafiz yang semakin bingung dan baru sekali melihat perempuan indonesia marah setengah mati seperti rodeo kehilangan kendali atas bantengnya dan kemudian panik.


“Mungkin kalau tidak ada radio...aku tak akan mengenalmu mella...karena aku tertarik dengan mu pertama kali mellalui bahasa dan suara mu...”, goda Wan hafiz ditengah amarah mella seperti si jago merah yang tengah mellahap kayu-kayu kering hutan kalimantan di tengah musim kemarau.


“Memang ada apa dengan bahasamu...?”, tanya mella yang nadanya masih terdengar ketus.

“Bahasa indonesia nampak lebih gentleman, tegas, dan penuh dengan warna-warni. ..kami semua keranjingan dengan bahasa dan musik-musik yang dilantukan oleh band-band indonesia... karena telinga kami sudah dipenuhi dewa, gigi, letto, ungu, padi...dan bahkan sampai dangdut sekaligus”. jawabnya yang diiringi dengan keringat dingin mulai membasahi pundak dan mengalir ke seluruh punggungnya.


mella masih tetap diam dan menerawang jauh ke langit yang nampak sedikit ditaburi bintang-bintang malam itu. Bulan seolah-olah enggan menampakan dirinya di hamparan langit hitam yang sudah membalut semenanjung malaysia saat itu. mella masih nampak tak mau menanggapi segala lantunan kata wan hafiz yang seolah nampak seperti sampah di mata mella.


“Tak hanya itu mella...kami juga punya permasalahan yang krusial dari segi gender...jumlah laki-laki yang gentle jumlahnya tak sebanding dengan jumlah perempuan... coba kamu lihat di universitas- universitas top..kantor- kantor..kebanyak an dihuni oleh perempuan... karena lelaki gentle nya sebagian sudah dilahap oleh budaya pondan (banci) yang seolah-olah sudah menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat kami baik di universitas di kantor-kantor dan instansi-instansi penting lainya”, tambah Wan hafiz yang masih berharap agar mella dapat kembali ke pangkuannya.


“Tapi pemerintahan kamu tidak fair dalam memberikan informasi mellalui medianya ketika memberitakan orang-orang indonesia yang selalu di gambarkan sebagai orang- orang yang sangat miskin dan minta-minta serta menjadi budak di malaysia.... .kamu pikir apa aku ini wannnnnnnnnnnnnnnnn nnnnn....”, hentak mella yang mencoba membuat wan hafiz makin terpojok dan tak terasa jilbabnya kini basah kuyup karena seluruh peluh telah keluar dari segal pori-pori kulitnya yang dipompa oleh nafsu angkara murka yang sedari tadi tak mau turun walaupun hanya 0.01 mm.


“Kami sekarang memang merasa seperti katak yang mati dalam tempurung atau seperti ayam yang mati di dalam kandang yang penuh dengan makanan...semua memang selalu disediakan oleh pemerintah.. .mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga biaya santunan pernikahan.. .tapi kebebasan bersuara tidak pernah kami dapati...semua media kami di kontrol oleh pemerintah.. jadi apa yang keluar harus sesuai dengan isi perut pemerintah kami..kami tidak punya kuasa untuk memberikan informasi yang benar dan objektif...keadaan kami persis seperti zaman indonesia dibawah kuku besi soeharto...kami memang terkadang sangat iri dengan bangsa indonesia yang mempunyai kebebasan yang sangat luar biasa baik dalam radio, tv,koran, majalah dan lain-lain serta bebas untuk mengungkapkan apa saja sesuai dengan apa yang mereka pikirkan...tapi juga saya nampak orang indonesia terlalu mudah terprovokasi oleh media-media yang hanya mementingkan kepuasan dan keuntungan sesaat dengan mem blow up berita-berita yang dapat memecahkan persatuan antara indonesia dan malaysia”, sambung wan hafiz yang mengambil jeda sambil menelan air liurnya.


“Yah contoh nya hubungan kita ini mel...semuanya jadi berantakannnn. ....”, kini pria mellayu itu berubah seperti air terjun niagara di kanada. Matanya deras mengeluarkan air mata yang sudah tak sanggup lagi untuk menjelaskan semuanya kepada mella sang wanita indonesia yang selama ini selalu hinggap dan berbagi perasaan suka maupun duka. Wan hafiz teringat akan perkataan teman-teman mella yang selalu mengenal sosok mella sebagai seorang wanita yang berpendirian teguh dan pantang mencabut kata-katanya jika itu telah keluar. Wan hafiz semakin kehilangan pegangan hidupnya seperti kapal yang berada di tengah lautan tanpa jangkar karena masih tetap terngiang-ngiang di benaknya ketika mella berteriak sekencang-kencangny a hingga merubah volume air dalam kolam yang ada di dekat mereka “pokoknya aku minta putussssss.. ......... ...”.


mella masih tetap tertegun bisu persis seperti patung liberty yang nampak dari pelbagai belahan kota New York. mella pun mulai meresapi kata-kata Wan hafiz dan seribu penyesalan mulai datang silih berganti dan menghampiri setiap memori- memori yang pernah terjalin diantara mereka berdua. mella merasa gengsi untuk mencabut kembali kata-katanya, sesak di dalam dada semakin menjadi-jadi akan kata-kata yang terlontar dan luapan emosi yang tak terkendali.


Malam semakin larut, bulan semakin bergeser meninggalkan sang malam. Bintang-bintang masih tetap tergantung diawan tinggi yang cahayanya menjadi saksi keruntuhan hubungan mereka berdua. Seiring dengan waktu yang hendak menampakan pagi, rintik-rintik hujan mulai turun. Suara-suara jangkrik merambat disetiap tembok-tembok dan rumput-rumput yang mereka pijak saat itu. mella masih merasa gengsi untuk mencabut kata-katanya, Wan hafiz semakin larut dalam kesedihan yang mendalam dan tetap digelayuti ribuan-ribuan memori indah bersama mella. Segenap perkataan terbesit dalam hati.


“Andai saja tak ada paspor antara negaraku dan negaramu,mungkin semuanya tak akan seperti ini dan tak akan ada penyesalan yang mendalam dihatiku”, gumam mella dalam hati.


Malam hanya bisa membisu, emosi tetap membekas di dalam kalbu, langit mulai menumpahkan air agak sedikit deras, dan volume air dalam kolam mulai bertambah. Malam minggu yang kelabu telah menjadi sejarah yang tak pernah terlupakan dan semakin menambah deretan-deretan sejarah kelam asmara mella bersama pria-pria semenanjung malaysia.

lihat cerpenku di cerpen.net

No comments: