Monday, November 5, 2012

Is everything under control?:Storm, Human Mind, and Technology

My today’s JakartaPost was already in front of my door as I was coming back from mosque to perform early morning prayer. A headline for today is Superstorm Sandy that hit The United States, New York and different areas as well. This condition caused psychological and physical damage for people who were affected. The government also suffered financially and politically. All of sudden my mind went some years ago when I was in my first semester’s class- learning about human. As an introduction, power point slides of the lecture explained about the importance and purposes of science.

One of the goals of science is to be able to predict.  In relationship to that, there is something that I never realized until I came to the West in which I spent some years of my life. Everyone over there wants to control everything in his or her hand because it is so common to express “Everything is under control”. A common expression reflects what the society’s mind to some extent.

The emergence of technology, which is part of science, can create a sense of controlling over nature within human mind. This is something that happened during the ancient time too – People of Ad. You can look up a history and search for Prophet Hud, 4th generation of prophet Jonah. The people of Ad at that time had a sophisticated technology, of course it is not the same with our current technology.  It was indicated by the availability of high buildings and nice architectures, and being able to design environment, you can read some books about them or just ask Syekhgoogle. The availability of technology in human hand sometimes can make human forgot a reality of life that is full of mystery. Technology can help people to run their lives easier not to change the way they look at a basic reality of life.

It seems now that some sophisticated technology failed again to meet its basic purpose - predicting what would happen in the future. One should think how much science can control nature. In fact, this Superstorm Sandy should be a turning point for scientologists or people who rely too much on science as God that the science is not more than just a game that can finish when the basic rule is being violated. They should think that science was unable to even predict this sandy storm can come, damage a lot of houses, and even displace people.

Technology is a product of human mind, which most of the time is corrupt. Should the sources of product is already imperfect then what would happen with the product ?. For sure, the product will contain some defects as well. Thus, technology will never be able to serve its basic purpose completely- predicting what the future holds on 100 %. The only thing that is sure is the Creator of the future can make the available technology unable to predict the future 100 %. Now, let us think about this, does technology create a different worldview or our worldview creates a different technology that blinds us to see a reality of life ?

Tuesday, October 30, 2012

Diantara -"Hidup"- Dua Rel




Matahari mulai meninggi disekitar kawasan jakarta. Aku baru saja membeli karcis untuk naik kereta. Orang-orang berkerumun di ujung peron. Seorang bapak mencoba keluar dari kerumunan itu sambil berbicara pada dirinya sendiri. Ah ada-ada saja, lalu ia melanjutkan pembicaraaanya. Tapi aku tak begitu jelas mendengarnya karena aku sudah agak jauh dari kerumunan itu. Gerombolan itu rupanya membicarakan seorang perempuan yang mencoba untuk menantang kereta (bunuh diri) . Malangnya (menurut kacamata suicider), perempuan itu berhasil diamankan oleh petugas sekitar dan dibawa ke loket karcis. Ia sudah tidur pasrah di atas rel sebatang kara. Dari jauh aku melihat wajahnya tertunduk malu ketika beberapa pasang mata menatapnya dengan penuh keheranan dan pertanyaan.  Aku tertarik untuk menghampiri dan bertanya lebih jauh pada perempuan itu. Ia mungkin kesal karena usahanya gagal total. Baru aku langkahkan kakiku menuju loket karcis tempat ia diamankan, tiba-tiba kereta yang aku tunggu telah datang. Kedatangan kereta itu membuat aku harus berlari kembali menuju kereta yang akan membawaku ke tempat kerja.

Sepanjang jalan aku mencoba mengingat lagi bahwa diakhir tahun tingkat bunuh diri cukup besar di Toronto, Canada. Salah satu mekanisme favoritnya sama saja : “bersetubuh” dengan kereta api atau loncat ketika kereta datang. Suiciders adalah orang-orang minoritas. Dalam arti kata, Kebanyakan orang ingin melakukan apapun agar dapat terus bertahan hidup. Tetapi berbeda dengan mereka, termasuk perempuan yang “meniduri” rel kereta api itu. Ia mencoba untuk menghilangkan nyawa yang ia dapatkan secara gratis semenjak ia keluar dari rahim ibunya. Pertanyaanku adalah mengapa ia mau menjadi kaum “minoritas” tersebut ? Mengapa ia mengambil keputusan (decision-making) untuk menghilangkan nyawanya ?

Tentunya dalam psikologi banyak penjelasan mengenai – suicide- bunuh diri. Emil Durkheim yang terkenal dengan bukunya yang berjudul Le suicide mencoba menganalisa mengapa manusia melakukan bunuh diri. Akan tetapi aku mencoba untuk membingkai “betina yang bersenggama dengan rel” pagi itu dalam sebuah konteks . Konteks sangat berperan penting dalam proses pengambilan keputusan bahkan ia dapat merubah struktur otak manusia – Mungkin saya akan tulis pengaruh “konteks (lingkungan) dan struktur otak” dalam waktu yang berbeda.

Ia tinggal di negara Indonesia yang penuh dengan dengan kekayaan alam akan tetapi tidak dengan keadaan masayarakatnya. Mereka tidak mampu menikmati hasil kekayaan itu. Mungkin saja perempuan itu terhimpit kesulitan ekonomi yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya hingga menimbulkan permasalahan hidup yang makin membelenggu urat nadinya.

Stasiun demi stasiun aku lalui. Aku hanya bisa melihat dari dalam kereta sederetan-deretan gubuk derita di sepanjang rel. Kumuh dan penuh dengan penyakit yang siap memutuskan “kontrak” hidup mereka dengan dunia. Keretaku semakin melaju, tapi tidak dengan pikiranku. Karena aku masih tetap bertanya, mengapa perempuan itu tega untuk “mengepaskan” dirinya diantara dua rel ?

“Masih tetap dalam desakan penumpang kereta…”



Monday, October 29, 2012

Azan subuh itu

Mungkin malam tak bergeming ketika embun mulai turun dari langit. Aku masih tetap terpaku di depan pintu kamarku, sewaktu azan subuh telah aku sambut dengan dua rakaat solat yang aku tunaikan. Malam yang hanya berteman sepi kini terasa damai. Entah mengapa, kedamaian itu masih saja menyisakan beribu-ribu pertanyaan di dalam dada.

Di dalam kamarku yang penuh dengan buku dan kertas usang, mulai dari partitur musik klasik hingga buku teknologi, aku dekatkan tanganku ke sebuah buku yang dianggap suci oleh orang-orang muslim di seluruh dunia. Aku mulai jarang menyentuh buku itu. Mungkin dunia.yang melarutkanku...atau mungkin diriku yang mengizinkan untuk dilarutkan oleh dunia. Hingga aku telah jauh dari buku itu. Aku beranikan diri untuk membukanya random. Mataku langsung tertuju pada sebuah tinta yang tergores di pojok kiri atas. Guratan tinta itu mengukir kalimat seperti ini :

"...Follow not Evil's footsteps: if any will follow the footsteps of Evil he will (but) command what is shameful and wrong".

Aku terdiam sejenak, mungkin semua aliran-aliran listrik dalam otakku juga ikut terdiam. Hati yang kosong hanya bisa melongo keheranan. Rasionalitas seolah beku. Lidahku mulai kelu. Jiwa ini terasa semakin kosong. Ia  menjerit di tengah keheningan subuh.Aku tak mampu menahan jeritan itu. Hingga akhirnya, aku hanya bisa menunduk sebagai sebuah simbol kekalahan di dalam jiwa. Bayangan kehidupan kelam datang silih berganti memberikan ku ejekan yang puas. Euphoria kesenangan sementara kini berubah menjadi gambaran neraka. Aku masih tetap tertunduk dan tembok kamarku masih tetap terhias oleh lukisan-lukisan berbagai negara yang aku singgahi. Iya... aku hanya bisa menunduk untuk detik ini. Tak mampu untuk menyeka air mata yang jatuh menyentuh bumi hingga ia menyeruak bersama embun di pagi hari.


Kamar usangku, 29 Oktober 2012.

Jakarta, 04.32 dini hari

Tuesday, July 24, 2012

Siapa mas sebenarnya….?

Suasana diluar masih redup. Mentari mulai menyibakan malam. Lalu-lalang suara motor datang silih berganti. Ihshan masih tetap tertegun dalam ruangan sepi. Ia mencoba untuk menggoreskan tinta dan mendeskripsikan siapa aku. Walu ia tahu ini tak seutuhnya dapat menggambarkan siapa dirinya. Mentari semakin meninggi. Suara AC masih tetap silih berganti masuk menggetarkan gendang telinga yang terkedang tak terasa. Seorang pria berkulit hitam manis masih tertegun di depan meja yang besar. Ia mencoba untuk menulis siapa dirinya.

“Dalam suatu malam aku mulai bertanya siapa diriku ?”, pria hitam manis itu mulai meggoreskan tintanya di atas kertas putih.

“Aku tak dapat menjawabnya”, tulisnya lagi pada baris selanjutnya.

Hingga akhirnya seorang teman dihadapannya yang menjadi rekan sejawatnya memecahkan kesunyian dalam pikirannya.

“Mas, saya reza”, temannya yang sudah lebih dahulu bekerja di ruangan itu mengenalkan diri.

“Oh iya, mas…saya Ihshan”, lelaki kelahiran Jakarta dan besar di jawa barat itu langsung memperkenalkan dirinya sekaligus menyodorkan tangganya untuk berjabat tangan sebagai tanda perkenalan.

“Bisa tolong ceritakan siapa mas sebenarnya ”, pertanyaannya menohok bak peluru yang dihujamkan oleh James Holmes, pelaku penembakan membabi buta di sebuah bioskop di Denver, Colorado.

Ihshan terheran-heran dengan pertanyaanya seperti seorang polisi yang menginvestigasi maling sandal di masjid yang tertangkap masyarakat. Pertanyaan yang telah menjadi gulatan di dalam pikirannya menjadi nyata. Lidahnya sekonyong-konyongnya menjadi kelu. Baginya hal itu pertanyaan yang simpel tapi susah untuk dijawab.

“ Aku ini….”, ia agak gugup untuk mulai menjawab.

“Aku adalah seorang pria yang menyukai musik dan sangat keranjingan dengan yang namanya membaca plus menulis. Aku lebih banyak menuangkan tulisanku di dalam blog dan buku harianku. Berbagai macam buku aku lahap semenjak kecil. Tapi begitu aku tumbuh menjadi seorang lelaki dewasa. Aku mengekslusifkan diriku untuk mempelajari tentang psikologi. Karena psikologi sangat menarik bagiku”, Ihshan menjawab dengan pembukaan yang agak panjang.

“Mengapa tidak kamu coba lebih kerucutkan lagi, apa interest penelitiannmu atau apa yang kamu suka pelajari ?”, Tanya teman satu ruangannya sambil membetulkan kaca matanya yang sering turun karena membaca buku-buku criminal psychology. Wajar saja nada bertanyanya seperti reserse.

Ihshan mencoba untuk membetulkan tempat duduknya.

“Aku senang melakukan penelitian di bidang self-regulation/ self-control, dimana area ini masuk dalam kategori personality and social psychology. Self-regulation adalah bagaimana seseorang mampu untuk menahan dirinya untuk melakukan hal-hal yang bersifat untuk kepuasan sementara demi tujuan jangka panjang.”, ia mencoba untuk menjelaskan topik utama yang menjadi penelitiannya.

Ihshan mencoba melanjutan lagi setelah menelah air ludahnya karena kehausan akibat puasa hari ini yang hanya di ganjal oleh 2 gepok roti gandum sebelum azan subuh berkumandang.

“Kegagalanku masuk ITB jurusan Teknik Informatika tak mampu untuk mengurungkan kegemaranku untuk “melihat-lihat” teknologi. Dengan background psikologi yang aku punyai sekaligus interest terhadap teknologi. Aku mencoba memahami bagaimana Self-control berperan dalam penggunaan teknologi. Ataupun sebaliknya bagaimana teknologi mempengaruhi self-control”. Cowo yang suka berpakain urakan itu mencoba memberkan background hingga menuju pada penggabungan interest nya pada Psikologi dan teknologi.

“Lalu, mengapa kamu tertarik dengan teknologi dan self-control ?”, Tanya reza yang sedari tadi asik berkutat dengan computer kecilnya yang ber-merek Acer. Sembari meng-aktifkan kemapuan multi-taskingnya: Ngobrol, main game, baca email, dan menulis sekaligu dalam waktu yang bersamaan.

“Mengapa ?”, Ihshan mengulang pertanyaan kawannya tersebut sambil mencoba untuk mengkonfirmasi.

“Ia dong….”, tandas reza dengan nada ambon sedikit melayu yang mendayu-dayu.

“Kehadiran teknologi saat ini menyebabkan unique pattern behaviour, (seperti: online game or internet dependency (addiction), Social networking use related issues, the emergence of technological devices (e.g. iphone, BB, and ipad) that affect the way people think and relate to their surrounding), yang tidak pernah ada sebelumnya menjadi sebuah fenomena-fenomena yang telah merebak. Bak nyamuk yang berkeliaran ketika musim panas datang.”, Pria yang besar di tanah parahyangan tersebut memberikan penjelasan agak sedikit panjang sambil menatap pria pendiam yang ada di hadapannya itu.

**

Terik mentari semakin menyegat. Suasana diluar semakin tak bersahabat karena ia dapat mengeringkan tenggorokan orang-orang yang berpuasa. Jurusan Psikologi-pun mulai terasa senyap. Tiga orang mahasiswa magang yang bederetan di tengah ruangan jurusan duduk seperti para serdadu yang menunggu genderang perang di dentum.

Temannya yang besar di daerah Indra giri itupun melontarkan pertanyaan lagi. Sepertinya ia tidak puas akan jawaban yang diberikan tentang kawan satu ruangannya itu.

“Terus, apalagi yang interest kamu?”, reza bertanya lagi.

“Hanya itu saja, mas ?”, Tandasnya lagi kata pria yang sangat terkesan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta itu. Hingga memanggil orang sunda, batak, padang,melayu, hingga papuapun dengan sebutan “mas”.

Ihshan bergumam sejenak. Sambil melihat ke berbagai arah di ruangan kerjanya. Ia membetulkan jaketnya karena ia tidak tahan dengan dinginnya AC di ruangan. Ia mencoba fokus karena ia tidak dapat berpikir dengan jernih ketika keramaian silih berganti masuk ke telinganya.

“Ada, mas”, jawab Ihshan dengan nada sumringah karena masih punya jawaban untuk kawannya itu.

“Saya juga tertarik di bidang social psychology, lebih detailnya adalah aku tertarik bagaimana self-control berperan dalam kehidupan sosial manusia. Seperti contoh, bagaimana manusia bisa menahan dirinya untuk tidak melakukan tindakan asusila,marah yang berlebihan, kekerasan, dan mengambil keputusan yang gegabah (rushed decision-making) yang dapat merugikan banyak orang”, Ihshan mencoba untuk menjelaskannya dengan tenang.

Selang beberap detik Ihshan kembali menambahkan, “Saya juga tertarik bagaimana perilaku-perilaku asusila terjadi dalam dunia virtual termasuk personaliti yang deviant dalam dunia internet”.

Hari semakin siang. Jarum Jam menunjukan pukul 11.01. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Mereka saling berkenalan dan bertukar pikiran. Keheningan masih juga belum tercipta dalam ruangan yang sempit itu. Kegiatan masih berjalan seperti biasanya. Suara-suara burung sesekali terdengar berkicau dari seberang musola kampus kijang di hari ke 4 puasa. Siup-siup angin terasa menyelinap masuk melalui kaca jendela yang sedikit tersibak. Mentari semakin terik. Tugas-tugas lain telah menunggu. Dua orang kawan itu kembali menghadapi jurnal-jurnal yang ada di hadapan mereka, sambil melambaikan tangan kearah yang sama sebagai tanda mereka harus kembali lagi menyelesaikan tugas mereka masing-masing.

Yang telah terjadi…

UntitledDalam sebuah buku yang yang dikarang oleh Prof.Hamka “kenang-kenangan hidup”. Ia mengutip Al-ghazali “Tidak ada yang lebih baik daripada apa yang telah terjadi”. Sebuah perkataan yang simple akan tetapi menyimpan sebuah makna yang sangat dalam. Kata-kata itu membuatku berpikir lebih lama dan lebih bijak tentang hidup ini. Hamka menceritakan dalam bukunya bahwa ia telah mengalami gunjangan yang sangat besar di mulai ketika orang tuanya bercerai dan kemudian sang Ibu pergi menghadap Ilahi. Setelah itu tak henti-bentinya ia difitnah oleh musuh-musuh nya. Termasuk telah melakukan plagiat hingga akhirnya ia dituduh ingin melakukan makar terhadap soekarno yang menyebabkan ia harus berdiam di dalam bui.

Banyak coba-cobaan yang dialami oleh manusia baik, walaupun terkadang memang harus berakhir di tiang gantungan. Segala sesuatu yang terjadi itu telah digariskan oleh sang Ilahi. Manusia ada di bumi bukan untuk memikirkan hidupnya akan tetapi untuk menjalankan apa yang telah ditorehkan oleh Ilahi dalam hidupnya. Dalam setiap perjalanan manusia, kemanapun ia pergi walaupun ke kutub utara. Ia akan selalu menemukan sedih dan senang, susah dan mudah, tawa dan tangis. Hingga bermacam-macam pasangan-pasangan sifat yang selalu kontradiksi antara yang satu dan lainnya. Itu pelengkap hidup.

Keadaan yang dialami sehari-hari sepatutnya dapat membuat siapapun untuk dapat mengerti bahwa hidup selalu penuh dengan warna-warni. Hari berganti malam. Malam berganti pagi. Begitulah siklus yang ada di bumi ini hingga kesenangan berganti dengan kemalangan. Dunia selalu menawarkan berbagai nuansa yang berbeda, yang terkadang kita tak mengerti mengapa itu bisa terjadi. Akan tetapi dunia telah menawarkan sesuatu yang pasti, yaitu mati. Karena pada akhirnya sebuah kutipan yang menggugah , “Fa ayna Tazhabuu” (Where will you go ? Kemana kamu apa pergi). Sejauh apapun dan kemanapun manusia berjalan tetapi pada akhirnya ia akan menuju pada tujuan yang sama : kematian.

Apapun yang terjadi dalam hidup. Jangan terlalu disesali karena pikiran manusia terbatas untuk dapat melihat dan memprediksi dengan pasti apa yang akan terjadi di masa depan. Maka terima saja yang terjadi dengan ikhlas dan prasangka yang baik karena :

Tidak ada yang lebih baik daripada apa yang telah terjadi

Jakarta, 24 Juli 2012

6.24 am

Sunday, July 22, 2012

Why should we travel ?



Before coming to Canada or even travelling to other parts of the world, I just run my life like many other Muslims who just have a label of Islam in their identity card (ID) (In Indonesia, it is a must to state your faith or belief on your ID). I understood Islam as what most people did in Indonesia. But I might have a little bit more- Allah knows better.

However, once upon a time, I was inspired by two things that later on drove me to travel, which shaped the way I look at the world: a book of Ibn Khaldun and a verse of the Holy Book (Koran). A book that was authored by Ibn Khaldun was entitled “Muqaddimah”. I read a line that was scratched on the book, which was written around eight century, “If you want to seek for knowledge, go to a place where it becomes a center of civilization”. This particular line has struck on me. I was thinking at that time, if I want to further my study then I have to go to the west where it becomes a center of civilization (even until now when I am writing this blog). Indeed, what has been written by Ibn Khaldun is absolutely right. I went to the west where I could get a lot of updates in terms of knowledge and other stuffs. I am not trying to undermine a quality of education here in this land. But I just feel sad sometime when this country has a very poor concern on education. The country that is full of corrupted mentality begins to “kill” Indonesian society slowly but surely. As I landed in Canada, I was overwhelmed simply because I was being offered with a vast amount of knowledge that I can access anytime I want. As if my brain was crammed. I could not think properly and clear as I went into a huge library. Although it is still small in compared to any other libraries available in north America. Sometime I cannot express my gratitude to my Lord for giving me this blessing.

Second inspiration that forced me to travel to seek for knowledge is a verse of the Holy book (Koran): “Go and travel on this land then you can see my signs”. I took this verse very seriously even though it is very short. By travelling, indeed, I saw the beauty of the creations of God.I saw everything with my eyes that is both against and obeying the command of Lord. From unrestricted sexual acts of unbelievers to descent civilized behaviour that is consistently done by believers with strong faith. I am so amazed because there is nothing that can be hidden in this world in the eyes of the Creator.

Thanks God, you allowed me to travel to see those signs. That experience made me realize that this universe was impossible to exist by itself or chance. Should this creation is impossible to be created by chance then who has created it ?. Our deepest heart will be able to answer such question, I believe. Once again reading an inspiring book and the holy book will shape the way you look at the world and run your life as well as enlighten your soul.

Jakarta, July 22, 2012
5.51 pm

Friday, July 20, 2012

Training center of Ramadhan: Self-regulation

Puasa kali ini cukup berkesan ketika tahun lalu aku memulai puasaku di Kanada dan Jepang. Puasa di Kanada memberikan seni tersendiri dikarenakan waktu yang sangat panjang dan juga agak panas (summer season).Puasa bisa dimulai dari pukul 4.30 am hingga 21.20 pm. Benar-benar sebuah cobaan yang sangat super. Selain tidak makan dan minum, godaan-godaan lain pun juga semakin menantang. Tapi itu menjadi bagian perjalanan hidup yang telah tergores.

Puasa memberiku banyak pelajaran. Mulai kesempatan untuk belajar agama lebih banyak, lebih sabar, dan lebih konsisten. Akan tetapi sesuatu hal yang sangat berkesan kali ini adalah ramadhan mengajarkanku tentang sebuah arti Self-regulation (kontrol diri).

Dilihat dari kacamata scientific, Self-regulation (kontrol diri) adalah sebuah kemampuan untuk menahan diri dari kepuasan sementara demi mencapai tujuan jangka panjang. Tanpa self-regulation maka manusia tidak akan pernah mempunyai budaya dan tidak dapat hidup berdampingan antara yang satu dan lainnya. Contoh lain, tanpa kemampuan mengkontrol diri orang akan selalu melanggar aturan, mencontek, plagiat, berperilaku mesum, nge-Drug, kebut-kebutan di jalan, dan masih banyak segudang perilaku lainnya yang merefleksikan kemampuan self-regulation yang rendah.

Secara fisiologi, sumber energi untuk mengkontrol diri itu adalah glukosa, yang didapatkan dari makanan-makanan yang kita lewatkan melalui tenggorokan kita. Jika seseorang tidak makan dan minum selama satu hari, maka kadar glukosa-nya akan berkurang. Tidak heranlah jika kita pernah mendengar istilah  “Hungry man is angry man”. Melihat istilah tersebut, bukanlah rasa lapar yang menyebabkan seseorang marah. Akan tetapi rasa lapar tersebut mengurangi kemampuan untuk menahan diri dari langsung merespon terhadap stimulus-stimulus yang ada tanpa pikir panjang. Maka, dengan lemahnya kemampuan untuk self-regulation, seseorang akan mudah marah jika disinggung dengan hal-hal yang kecil dan tidak signifikan.

Lalu bagaimana dengan orang yang puasa, yang sudah pasti mempunyai kadar glukosa yang rendah, apakah mereka rentan terhadap kehilangan self-regulation ?

Ramadhan adalah sebuah training center, agar seseorang dapat melatih self-regulation nya menjadi sebuah habit.Kemampuan self-control itu seperti sebuah otot. Jika ia sering digunakan maka semakin lama akan semakin kuat. Seperti halnya otot para atlit. Pada awal latihan memang terasa letih, akan tetapi otot tersebut dapat bertahan lama dengan terus berlatih dan berlatih.

Setelah dari kecil aku dididik untuk menjalani puasa, baru kali ini aku dapat melihat makna yang tersirat dari sebuah puasa yang tidak mudah untuk dijalani. Aku dapat melihat apa arti sebuah puasa dari kacamata psikologi. Maka benar puasa itu melatih kesabaran sekaligus mengurangi perbuatan-perbuatan mungkar. Maka tidaklah aneh jika semua agama mempunyai yang namanya puasa untuk melatih ketahanan mental.

Self-regulation adalah hal yang sangat signifikan dalam pembentukan jiwa dan karakteristik manusia. Jika self-regulation dan rasa lapar terus dilatih setiap hari selama satu bulan, maka kemampuan untuk menahan diri, terlebih dalam kondisi emergency, akan menjadi melejit. Dengan harapan manusia dapat mempunyai kontrol diri yang lebih baik selama 11 bulan ke depan setelah ramadhan sirna diterkam bulan baru.

1 Ramadhan 1433 H / 20 Juli 2012

11.35 pm