Matahari mulai meninggi disekitar kawasan jakarta. Aku baru saja membeli karcis untuk
naik kereta. Orang-orang berkerumun di ujung peron. Seorang bapak mencoba
keluar dari kerumunan itu sambil berbicara pada dirinya sendiri. Ah ada-ada saja,
lalu ia melanjutkan pembicaraaanya. Tapi aku tak begitu jelas mendengarnya
karena aku sudah agak jauh dari kerumunan itu. Gerombolan itu rupanya membicarakan
seorang perempuan yang mencoba untuk menantang kereta (bunuh diri) . Malangnya
(menurut kacamata suicider), perempuan
itu berhasil diamankan oleh petugas sekitar dan dibawa ke loket karcis. Ia
sudah tidur pasrah di atas rel sebatang kara. Dari jauh aku melihat wajahnya
tertunduk malu ketika beberapa pasang mata menatapnya dengan penuh keheranan
dan pertanyaan. Aku tertarik untuk menghampiri
dan bertanya lebih jauh pada perempuan itu. Ia mungkin kesal karena usahanya
gagal total. Baru aku langkahkan kakiku menuju loket karcis tempat ia
diamankan, tiba-tiba kereta yang aku tunggu telah datang. Kedatangan kereta itu
membuat aku harus berlari kembali menuju kereta yang akan membawaku ke tempat
kerja.
Sepanjang jalan aku mencoba mengingat lagi bahwa diakhir tahun
tingkat bunuh diri cukup besar di Toronto, Canada. Salah satu mekanisme favoritnya
sama saja : “bersetubuh” dengan kereta api atau loncat ketika kereta datang. Suiciders adalah orang-orang minoritas.
Dalam arti kata, Kebanyakan orang ingin melakukan apapun agar dapat terus
bertahan hidup. Tetapi berbeda dengan mereka, termasuk perempuan yang “meniduri”
rel kereta api itu. Ia mencoba untuk menghilangkan nyawa yang ia dapatkan
secara gratis semenjak ia keluar dari rahim ibunya. Pertanyaanku adalah mengapa
ia mau menjadi kaum “minoritas” tersebut ? Mengapa ia mengambil keputusan (decision-making) untuk menghilangkan
nyawanya ?
Tentunya dalam psikologi banyak penjelasan mengenai – suicide- bunuh diri. Emil Durkheim yang terkenal dengan
bukunya yang berjudul Le suicide
mencoba menganalisa mengapa manusia melakukan bunuh diri. Akan tetapi aku mencoba
untuk membingkai “betina yang bersenggama dengan rel” pagi itu dalam sebuah
konteks . Konteks sangat berperan penting dalam proses pengambilan keputusan
bahkan ia dapat merubah struktur otak manusia – Mungkin saya akan tulis pengaruh
“konteks (lingkungan) dan struktur otak” dalam waktu yang berbeda.
Ia tinggal di negara Indonesia yang penuh dengan dengan kekayaan
alam akan tetapi tidak dengan keadaan masayarakatnya. Mereka tidak mampu
menikmati hasil kekayaan itu. Mungkin saja perempuan itu terhimpit kesulitan
ekonomi yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya hingga menimbulkan permasalahan
hidup yang makin membelenggu urat nadinya.
Stasiun demi stasiun aku lalui. Aku hanya bisa melihat dari dalam
kereta sederetan-deretan gubuk derita di sepanjang rel. Kumuh dan penuh dengan penyakit
yang siap memutuskan “kontrak” hidup mereka dengan dunia. Keretaku semakin
melaju, tapi tidak dengan pikiranku. Karena aku masih tetap bertanya, mengapa
perempuan itu tega untuk “mengepaskan” dirinya diantara dua rel ?
“Masih tetap dalam desakan penumpang kereta…”
No comments:
Post a Comment