Aku baru saja kembali dari persinggahan Westmount. Perutku benar-benar seperti di hujam peluru yang datangnya bertubi-tubi setelah aku hantam Pecel dengan penuh kesetanan. Kini perutku berperilaku seperti orang kesetanan. Jika terus seperti ini, mungkin lambat-laun aku akan kehilangan cairan dalam tubuhku.
Selain dari rasa perut yang terus melilit. Satu hal yang membuatku merasa menjadi semakin tidak nyaman adalah aku harus bekerja di tengah-tengah malam sunyi yang dinginya tak karuan menusuk sampai ke sum-sum tulang belakang. Dinginnya salju membuat diriku seakan tekelupas dari kulitku. Bertahan dari hari ke hari membuatku selalu menghargai betapa pentingnya arti sebuah waktu dan tenaga yang aku punyai dan masih tersisa di dalam tubuh. Selain itu aku juga dapat merasakan dan menghargai dengan sangat dalam bagaimana rasanya menjadi manusia kalangan ekonomi bawah. Satu hal menarik lagi yang aku pelajari adalah bahwa pendidikan mempunyai nilai jual yang sangat mahal bagi sesosok manusia.
Semenjak kecil aku selalu mendengar bahwa agama yang aku percayai memberikan derajat yang sangat tinggi bagi orang yang mempunyai ilmu. Ternyata, begitu aku tumbuh menjadi seorang yang dewasa aku menyadari bahwa konsep itu sangatlah benar. Dengan ilmu seseorang mempunyai posisi yang baik di mata masyarakat. Dan tentunya juga di mata tuhanku.
Hidup menjadi seorang tukang sapu dan tukang pel memberiku banyak pelajaran hidup yang mungkin tak semua orang mendapatkannya. Aku menjadi semakin yakin bahwa ilmulah yang dapat memberikan penghidupan yang layak. Ilmu dapat merubah hidup seseorang. Dengan ilmu seseorang bisa keluar dari kemiskinan yang menyekat urat nadi mereka. Dengan ilmu seseorang dapat merubah sejarah “turunan” keluarga mereka. Keluarga yang sedari dulu hanya tahu hidup di sebuah pasar dan hanya memikirkan uang untuk terus bertahan hidup. Dapat dirubah oleh seseorang dari turunan mereka dengan menjadi seseorang yang kaya dengan ilmu pengetahuan.
Kebanyakan dari orang-orang yang saat ini mempunyai profesi yang sama denganku mereka hanyalah tamatan SMA. Atau bahkan mereka tidak lulus SMA. Kenyataan ini membuatku menjadi semakin menghargai ilmu pengetahuan. Dengan ilmu aku bisa terbang kesana-kemari mengelilingi dunia. Dengan ilmu aku bisa bertemu banyak orang. Dengan ilmu aku mempunyai jaringan yang banyak hingga ke berbagai pelosok belahan dunia. Dengan ilmu aku bisa membuat hidupku tentram dan dengan ilmu jualah aku bisa berbicara dan mengubah orang-orang di sekitarku. Tanpa ilmu aku hanyalah seonggok daging yang diarahkan oleh nafsu kehewananku.
Malam menjadi semakin dingin dan jam terus berdetak menuju pukul 10 malam. Aku harus segera bergegas menuju tempat kerjaku dan harus tetap terjaga hingga pukul 6 pagi. Sambil bercengkerama manis dengan gagang pel dan gagang sapu. Saat ini aku harus tetap berjalan di dalam masa-masa kesulitan hidupku. Sulit memang rasanya ketika kita harus melawan hukum alam (natural law), terjaga di malam hari dimana itu adalah waktu untuk terlelap. Tapi aku selalu ingat bahwa KesulitaN akan selalu tergantikan oleh KemudahaN, dan begitulah selanjutnya irama kehidupan ini. Hidup yang selalu mempunyai warna-warni akan selalu menjadi indah dan damai jika kita jalani dengan penuh keikhlasan dan serahkan pada ilahi yang memberikan kesulitan dan kemudahan.
Jangan terlalu bernafsu menggapai duniawi, tapi gapailah ala kadarnya. Menjadi manusia hanya sementara dan tentunya akan ada situasi lain yang akan mempertanyakan apa yang telah kita lakukan di sini. Hiduplah dengan mengikuti irama kehidupan yang selalu penuh dengan warna-warni. Untuk mengikutinya, engkau harus menyelam dalam setiap warna yang ia tawarkan.
Canada,
November 28, 2010, 8.48.pm
1 comment:
aa...maaf, kemaren ade ngga tau aa sakit perut.. huhuhuhu.. maaf ya aa ku sayang..
Post a Comment