
Malam semakin larut. Aku masih saja tetap terjaga disini. Di sebuah kota bernama Sudbury di provinsi Ontario, Kanada. Angin-angin malam berhembus makin kencang dengan membawa butiran-butiran es dari langit yang jatuh lalu tersangkut di atas daun hijau agak kecoklatan.Aku menatap keluar melalui kaca jendela yang basah karena salju mulai mencair di atas permukaannya. Aku teringat dinginya salju yang selalu mencoba merobek pori-pori kulitku. Iya, dingin itu terkadang menang dan berhasil memporak-porandakan kulitku. Kulit berkualitas asia tenggara, tepatnya di sebuah negara kepulauan,yang tak pernah bercengkerama dengan suhu -25 derajat selsius.
Banyak pelajaran menarik yang aku temui selama pengembaraanku mencari sebongkah ilmu pengetahuan. Termasuk kisah ku yang "terdampar" di kota ini. Perasaan terbuang dan terasingkan karena tak ada seorangpun yang aku kenal kecuali seorang professor muda yang telah tinggal lebih dari 10 tahun di kota ini. Kota ini tak pernah terbayangkan sebelumnya seperti apa. Tapi itulah seni dan suka duka sebuah perjalanan dan penjelajahan. Ketika anda berani berjalan maka anda harus berani menghadapi segala ketidak mungkinan yang akan terjadi.Sekalipun nyawa anda meski terancam.
Aku masih ingat jelas ketika baru sampai di Kanada, saat itu bis mulai berangkat tepat pukul 1 malam dari toronto. Salju pun turun sangat kencang, hingga anginya menusuk dan mencoba menembus beberapa tas yang penuh pakaian. Uangpun hanya ada seadanya. Seorang teman mengantarku ke stasiun bis greyhound, bis antar kota yang paling terkenal di Kanada. Bis itu membawaku pergi meninggalkan toronto, kota yang paling hiruk-pikuk di negara yang terkenal karena saljunya. Aku terlelap ditengah perjalanan sambil menahan rasa dingin yang telah menjalar hingga ke seluruh sel-sel pembuluh darahku. Darahku rasanya telah membeku dan tak mengalir di seluruh tubuhku. Aku mulai merasa takut karena aku manusia biasa. Nyaliku seakan menciut. Benar-benar menciut. Seperti balon gas yang dibuka tutupnya dan hendak melejit ke atas langit untuk terbang sejauh mungkin dari tempat ini. Aku kaget ketika aku terbangun di tengah jalan. Semua bebatuan yang berwarna hitam kelam nampak menjadi putih. Batu besar itu menjelma menjadi sebongkah butiran-butiran salju putih yang nampak mencekam di tengah malam.
Tak pernah terbayang olehku betapa mengerikannya salju ditengah malam, amat jauh dari bayangan dan angan-anganku tentang salju selama ini. Aku selalu membayangkan bahwa salju itu indah, tapi rupanya malam itu, segala impian dan bayang-bayangku berubah tentang salju dan musim dingin. Persepsiku berubah dan selama ini persepsiku salah besar. Aku tak percaya televisi yang selalu menggambarkan betapa indahnya salju. Ah, salju itu menyeramkan. Membuat jantungku harus bekerja ekstra dan memompa darah sekuat-sekuatnya hingga ke ujung kakiku.
Aku menjadi semakin takut dan seakan ingin kembali ke tanah air. Perjalanan sebatang kara membuatku hampir menyerah di tengah-tengah perjalanan. Tapi aku teringat apa yang telah aku tanamkan dalam-dalam pada titik sanubariku. Sekali aku langkahkan kakiku untuk mengembara, pantang bagiku untuk kembali walau hanya mundur satu langkah sebelum tujuan pengembaraaanku ada di depan mata. Dalam kesunyian yang aku jalani, aku mempunyai keinginan dan kerinduan yang sangat mendesak. Apa itu?. Keinginan mempunyai pacar ? ah tidak...Keinginan kembali ke tanah air ?, tentu tidak karena pantang aku injakkan tumitku sebelum aku gapai cita-citaku. Keinginan menjadi seorang kaya-raya ketika kembali ke tanah air ? Ah tidak, aku bukan orang yang gila uang walau hidup agak melarat :), tapi aku menikmati suka duka mencari ilmu.
Lalu apa ?. Aku ingin mempunyai teman-teman muda dari Indonesia hingga membentuk keakraban seperti keluarga. Berapapun jumlahnya tak mengapa walau sedikit. Sedikitnya jumlah orang dari negara asal, maka biasanya akan menjadi semakin akrab dan punya ikatan emosi yang sangat kuat.Ingin sekali rasanya mimpi itu menjadi nyata. Tapi aku pikir, itu tidak mungkin. Itu hanya mimpi di siang bolong. Aku agak pesimis, tapi tetap aku simpan dalam-dalam mimpiku itu dengan sedikit harapan. Masih ada kemungkinan, tapi entah kapan dan bagaimana.
Lama sudah aku simpan mimpi dan cita-citaku itu dalam-dalam. Satu tahun telah bergulir. Tapi keadaan tak berubah. Mimpi itu masih tetap menjadi mimpi. Semakin lama semakin dilumat waktu yang terus berjalan menuju kiamat. Aku masih tetap berharap. Musim demi musim telah berganti. Sedih, senang, kecewa, bahagia, pahit, dan manis telah aku kecap semuanya. Tapi tetap belum ada tanda-tanda cita-citaku akan menjadi kenyataan. Semangatku turun. Hampir aku lepas mimpi yang tak mungkin itu: berharap ada sekumpulan orang indonesia berjiwa dan berusia muda serta mempunyai keakraban yang luar biasa. Hingga merasa seperti saudara dan keluarga yang penuh kehangatan. Lagi-lagi tak ada tanda-tanda bahwa itu akan jadi kenyataan. Aku mulai melupakannya sedikit demi sedikit karena aku makin merasa bahwa itu semakin tidak mungkin.
Ketika kita bermimpi, maka segala anggota tubuh,orang-orang di sekeliling, dan juga keadaan di sekitar kita, mencoba untuk menjawab mimpi-mimpi itu. Bermimpilah !! karena mimpi itu keinginan yang terpendam untuk sesaat.
Aku tak menyangka bahwa saat ini, detik ini ketika aku hela nafasku di tengah-tengah dinginnya udara yang mencekam di luar, mimpi itu menjadi nyata dan benar-benar nyata. Aku telah menemukan teman-teman muda dengan keluarganya yang bahagia, walau aku belum berkeluarga(**off the record :)tapi aku tahu apa itu bahagia dalam keluarga.Dan satu lagi, kami mempunyai hubungan sangat erat karena kami telah menjelma menjadi seperti keluarga. Kecil keluarga kami tapi harmonis. Kecil jumlah kami tapi besar keluarga kami. Karena kami orang-orang muda yang mempunyai jiwa yang tak pernah tua. Karena kami selalu tertawa, berbagi bersama, bernyanyi seirama seperti layaknya sanak saudara dalam satu darah. Ini adalah nyata. Mimpiku terwujud !!.
Kini aku percaya. Sesulit apapun hidup yang kita jalani, selama kita berani bermimpi dan terus kita genggam mimpi itu. Walau merapi goncang, walau awan panas memanggang manusia, walau Tsunami menghantam warga yang tak berdosa, maka suatu saat mimpi itu akan menjadi nyata. Iya...nyata seperti apa yang kamu rasakan sewaktu membaca tulisan ini. Nyata seperti bumi yang sedang kamu pijak saat ini. Nyata seperti warna yang kamu lihat. Nyata seperti bayi yang terlahir dari rahim seorang wanita.
Tak ada guna engkau takut untuk bermimpi. Hidup hanya sekali. Sekali engkau mati maka tak ada lagi waktu untuk bermimpi, karena bermimpi hanya ada di dunia ketika engkau masih bernyawa. Maka bermimpilah karena mimpi hanya sekali.
Detik jarum jam terus bergulir mengiringi tetesan salju yang mencair di kaca jendela. Kini aku yakin. Benar-benar yakin bahwa mimpi akan merubah hidup. Jangan pernah engkau remehkan mimpimu. Jangan pernah engkau lepas mimpi yang engkau punya, walau kesulitan terus membungkam. Jangan !! jangan pernah engkau serahkan mimpimu pada kenyataan yang sulit. Karena kesulitan itu hanya sesaat. Benar. Hanya sesaat. Hidup yang selalu dilingkari oleh takdir akan selalu bergulir. Karena mimpilah yang akan menggulirkan takdir.
Salju itu turun lagi lalu membentur kaca jendela kamarku….
Sudbury, 6 November, 2010
11.48 malam
No comments:
Post a Comment