Tuesday, October 30, 2012

Diantara -"Hidup"- Dua Rel




Matahari mulai meninggi disekitar kawasan jakarta. Aku baru saja membeli karcis untuk naik kereta. Orang-orang berkerumun di ujung peron. Seorang bapak mencoba keluar dari kerumunan itu sambil berbicara pada dirinya sendiri. Ah ada-ada saja, lalu ia melanjutkan pembicaraaanya. Tapi aku tak begitu jelas mendengarnya karena aku sudah agak jauh dari kerumunan itu. Gerombolan itu rupanya membicarakan seorang perempuan yang mencoba untuk menantang kereta (bunuh diri) . Malangnya (menurut kacamata suicider), perempuan itu berhasil diamankan oleh petugas sekitar dan dibawa ke loket karcis. Ia sudah tidur pasrah di atas rel sebatang kara. Dari jauh aku melihat wajahnya tertunduk malu ketika beberapa pasang mata menatapnya dengan penuh keheranan dan pertanyaan.  Aku tertarik untuk menghampiri dan bertanya lebih jauh pada perempuan itu. Ia mungkin kesal karena usahanya gagal total. Baru aku langkahkan kakiku menuju loket karcis tempat ia diamankan, tiba-tiba kereta yang aku tunggu telah datang. Kedatangan kereta itu membuat aku harus berlari kembali menuju kereta yang akan membawaku ke tempat kerja.

Sepanjang jalan aku mencoba mengingat lagi bahwa diakhir tahun tingkat bunuh diri cukup besar di Toronto, Canada. Salah satu mekanisme favoritnya sama saja : “bersetubuh” dengan kereta api atau loncat ketika kereta datang. Suiciders adalah orang-orang minoritas. Dalam arti kata, Kebanyakan orang ingin melakukan apapun agar dapat terus bertahan hidup. Tetapi berbeda dengan mereka, termasuk perempuan yang “meniduri” rel kereta api itu. Ia mencoba untuk menghilangkan nyawa yang ia dapatkan secara gratis semenjak ia keluar dari rahim ibunya. Pertanyaanku adalah mengapa ia mau menjadi kaum “minoritas” tersebut ? Mengapa ia mengambil keputusan (decision-making) untuk menghilangkan nyawanya ?

Tentunya dalam psikologi banyak penjelasan mengenai – suicide- bunuh diri. Emil Durkheim yang terkenal dengan bukunya yang berjudul Le suicide mencoba menganalisa mengapa manusia melakukan bunuh diri. Akan tetapi aku mencoba untuk membingkai “betina yang bersenggama dengan rel” pagi itu dalam sebuah konteks . Konteks sangat berperan penting dalam proses pengambilan keputusan bahkan ia dapat merubah struktur otak manusia – Mungkin saya akan tulis pengaruh “konteks (lingkungan) dan struktur otak” dalam waktu yang berbeda.

Ia tinggal di negara Indonesia yang penuh dengan dengan kekayaan alam akan tetapi tidak dengan keadaan masayarakatnya. Mereka tidak mampu menikmati hasil kekayaan itu. Mungkin saja perempuan itu terhimpit kesulitan ekonomi yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya hingga menimbulkan permasalahan hidup yang makin membelenggu urat nadinya.

Stasiun demi stasiun aku lalui. Aku hanya bisa melihat dari dalam kereta sederetan-deretan gubuk derita di sepanjang rel. Kumuh dan penuh dengan penyakit yang siap memutuskan “kontrak” hidup mereka dengan dunia. Keretaku semakin melaju, tapi tidak dengan pikiranku. Karena aku masih tetap bertanya, mengapa perempuan itu tega untuk “mengepaskan” dirinya diantara dua rel ?

“Masih tetap dalam desakan penumpang kereta…”



Monday, October 29, 2012

Azan subuh itu

Mungkin malam tak bergeming ketika embun mulai turun dari langit. Aku masih tetap terpaku di depan pintu kamarku, sewaktu azan subuh telah aku sambut dengan dua rakaat solat yang aku tunaikan. Malam yang hanya berteman sepi kini terasa damai. Entah mengapa, kedamaian itu masih saja menyisakan beribu-ribu pertanyaan di dalam dada.

Di dalam kamarku yang penuh dengan buku dan kertas usang, mulai dari partitur musik klasik hingga buku teknologi, aku dekatkan tanganku ke sebuah buku yang dianggap suci oleh orang-orang muslim di seluruh dunia. Aku mulai jarang menyentuh buku itu. Mungkin dunia.yang melarutkanku...atau mungkin diriku yang mengizinkan untuk dilarutkan oleh dunia. Hingga aku telah jauh dari buku itu. Aku beranikan diri untuk membukanya random. Mataku langsung tertuju pada sebuah tinta yang tergores di pojok kiri atas. Guratan tinta itu mengukir kalimat seperti ini :

"...Follow not Evil's footsteps: if any will follow the footsteps of Evil he will (but) command what is shameful and wrong".

Aku terdiam sejenak, mungkin semua aliran-aliran listrik dalam otakku juga ikut terdiam. Hati yang kosong hanya bisa melongo keheranan. Rasionalitas seolah beku. Lidahku mulai kelu. Jiwa ini terasa semakin kosong. Ia  menjerit di tengah keheningan subuh.Aku tak mampu menahan jeritan itu. Hingga akhirnya, aku hanya bisa menunduk sebagai sebuah simbol kekalahan di dalam jiwa. Bayangan kehidupan kelam datang silih berganti memberikan ku ejekan yang puas. Euphoria kesenangan sementara kini berubah menjadi gambaran neraka. Aku masih tetap tertunduk dan tembok kamarku masih tetap terhias oleh lukisan-lukisan berbagai negara yang aku singgahi. Iya... aku hanya bisa menunduk untuk detik ini. Tak mampu untuk menyeka air mata yang jatuh menyentuh bumi hingga ia menyeruak bersama embun di pagi hari.


Kamar usangku, 29 Oktober 2012.

Jakarta, 04.32 dini hari