Friday, October 7, 2011

Malam…

Sewaktu aku kecil, banyak orang bercerita kepadaku tentang indahnya malam. Tapi aku belum cukup mengerti apa itu malam. Aku langsung terlelap, ketika dongeng-dongeng mulai digulirkan. Malam hanya menyimpan kelam, tapi hanya bagi orang-orang yang menatapnya dengan hati yang akan melihatnya menjadi terang.

Malam ini, Aku mencoba menatap mata sang malam, tapi hanya gulita yang membalasnya. Aku tak dapat menangkap maksudnya.

Lalu….dimana arti malam itu ?

Disebuah sudut malam,  aku baru menyadari bahwa malam mempunyai makna tersendiri. Malam adalah waktu yang terbaik untuk melihat diri dan kerusakan akibat rasa iri . Malam tercipta untuk menapaki jejak-jejak yang telah dilalui sepanjang hari. Malam adalah akhir dari sebuah permainan yang dimulai semenjak pagi.

Aku arahkan sedikit kepalaku ke atas langit, aku dapati hanya setengah tubuh bulan yang semenjak magrib mulai dijilati oleh cahaya mentari. Cahayanya  belum sempurna.

Malam… Kau memberikan banyak makna bagi siapapun yang ingin berbagi denganmu. Malam adalah lempengan-lempengan yang ditempa jutaan kali, lalu membeku di dalam keheningan. Malam adalah  kumpulan atas apa yang tergores di bawah sinar mentari. Dan malam adalah pelabuhan terakhir setelah seharian mencoba mengais-ngais sisa kehidupan.

Aku beranikan lagi untuk menatap cahaya bulan yang jatuh persis membentur kusen jendela kamarku. Cahayanya pas. Benar-benar pas memberikan cahaya temaram yang beradu bersama cahaya lampu klasik yang terdiam di tembok dekat jendelaku. Pancaran tubuh bulan yang hanya setengah telanjang membuat aku jadi kikuk. Seakan aku ingin menjelma menjadi tulang rusuknya.

Aku hanya bisa melihat malam dari dalam kamarku. Kamar yang sepi tanpa sentuhan jiwa seni. Hanya  biola dan tumpukan buku-buku yang selalu menarik perhatianku.

Tapi apa daya, malam seperti nya ingin menyediri dan tak ingin diganggu. Malam sudah merasa risih ketika aku menatapnya sedari tadi. Ia tahu bahwa aku memperhatikan gerak-geriknya, tapi ia tetap tak bergumam. Mungkin malam sudah muak denganku, atau mungkin saja ia tersipu malu.

Sudahlah….lebih baik aku tinggalkan malam agar ia dapat memberikan keheningan yang sejati. Aku tak ingin mengganggu.

Perlahan aku mulai merasa lelah, beban pikiran dan kehdupan semakin terasa ketika jarum jam sudah hampir berdetak menyentuh angka 12.

Mungkin sudah saatnya aku berselimut di dalam pangkuan malam.

Terima kasih malam.

6 Oktober, 2011, 11.45 Malam

Musim gugur, Toronto

No comments: