Tuesday, December 21, 2010

Why Christianity must change or die *

Today, I read a book that was written by a liberal Bishop, John Shelby Spong. He is known for his controversies in the Christian world. His book, Why Christianity must change or die, that I read has sort of “forced” Christian fundamentalists to reconstruct their understanding of their religion. As most people know that the tenet teaching of Christianity is Trinity which refers to Jesus consisted of three elements: God, Son of God, and Holy Spirit.

However, Spong proposed that there are many things that should be reconstructed with respect to the teachings of Christianity. One of them is related to the conception of Trinity. According to him, the creed teaching of Christianity was historically formulated by Church in second century, and adopted to be a core teaching of Christianity in third century.

The liberalist Bishop mentioned that one should focus on EXPERIENCE that shaped Christianity. Such experience that occurred to be a reference for shaping Christian belief needs to be reviewed in order to be incorporated with the current situation and condition. The experience that served to be a reference at that time may not be relevant to our current society. Therefore, such experience is subject to new interpretation. Renewing the understanding of Christianity, which may be considered to be against fundamentalist, is meant to make Christian teachings more adaptable to the progressing world.

For example, Spong mentioned his controversial claim that Jesus is not God. Yet, he does not denied the existence of God. He rather acclaimed that Jesus is an example of spiritual person. God presence is called to be spiritual. Having an experience of revelation presence or God presence has a significant impact on individual who is called to be spiritualist. Jesus is considered to be spiritual person because he was able to have a sense of God presence in his life. Jesus is neither God nor Son of God. Therefore, according to Spong, Christians need to follow Jesus as spiritual person rather than God. 

He also attempted to differentiate between Christian fundamentalist and liberalist. He defended that those who have a new understanding of religion that is in line with current condition are still considered to be Christian. But, they are more flexible and open minded.

Fundamentalists usually understand literally what has been written in the bible without taking into account the importance of the development of current situation. Liberalists are more likely to take into account outside factors (e.g., the development of biology and technology) in interpreting and applying Christian teachings. For liberalists, they try to make more Christian teachings fit into the progressing world. They perceive that they are more likely to implement their religious teachings for a wide range of humanity without compromising their belief. Also, getting rid of a discrimination on others (e.g., women and homosexual people) who are not in line with Christian fundamentalist’ understanding is one of liberalists’ objectives. In other words, liberal Christians attempt to accommodate different elements of society by reconstructing their interpretations of biblical text.

In summary, the Bishop wrote his Why Christianity must change or die  is to ask other Christians who understand literally their biblical text to reconstruct their new interpretations on Christian teachings. Thus, such teachings can be in harmony with the development of science and technology while keeping their Christian faith intact.

* This is just my summary of reading Why Christianity must change or die  

Thursday, December 16, 2010

15 Desember

ikarajat_elokuvat_15

Hari ini 15 desember, 2010. Tepat dua tahun yang lalu aku injakan tapak kakiku di tanah yang dingin ini- Kanada. Aku tak tahu seperti apa yang akan terjadi padaku nanti ketika aku mulai menghirup untuk pertama kalinya udara di musim dingin.  Tujuanku saat itu hanya satu. Aku hanya ingin belajar dan mendapatkan gelar master dari universitasku.

Ketika aku melihat kebelakang, betapa banyaknya cobaan hidup yang telah aku alami dalam dua tahun kebelakang. Rasanya tidak mungkin sama sekali bahwa aku dapat melalui cobaan itu melihat kondisiku yang selalu terseok-seok dari berbagai hal, terlebih dari segi finansial. Rasanya aku tidak sadar bahwa aku telah melewati kesulitan-kesulitan hidup yang sombong berdiri menantang. Keajaiban yang selalu terjadi !!. Berbagai macam pekerjaan telah aku lakoni. Mulai dari tukang cuci piring hingga tukang pembersih toilet. Semua ini aku lakukan demi satu: mendapatkan ilmu lebih baik sekaligus meraih gelar akademik yang lebih tinggi dari apa yang telah aku punya saat ini.

Kini waktu masih terus berputar. Jarum jam terus berdetak. Beruntungnya lagi, kiamat belum datang hingga saat aku torehkan tulisan ini. Malam masih tetap berada di putaran waktu tanggal 15 desember. Tepat hari ini adalah hari terakhirku menggali ilmu. Karena esok adalah hari yang sangat menentukan bagi masa depanku. Hari dimana aku harus melakukan sidang untuk tesisku – Thesis Defense.

Mungkin aku bisa katakan bahwa aku menyelesaikan studiku tepat dua tahun. Banyak halangan dan rintangan yang aku telah temui. Tapi juga banyak pelajaran hidup yang tealah aku raih. Bukan hanya dari segi akademik tapi juga ilmu bagaimana mensiasati hidup yang selalu membutuhkan pengorbanan. Hingga aku teringat sebuah tulisan yang tergantung di salah satu laboratorium sewaktu aku masih melakoni cleaning service mulai pukul 10 malam hingga pagi hari.

The greater the difficulty, the more glory in surmounting it

(Semakin besar kesulitannya, semakin banyak kemulian yang terdapat di puncak kesulitannya)

Mungkin hari esok adalah hari yang menentukan sekaligus mengakhiriku perjalanan-perjalanan panjangku demi menggapai impian menjadi seorang yang selalu haus akan ilmu pengetahuan. Mungkin untuk saat ini kesulitan itu akan terhenti sejenak, ketika aku berhasil melewati sidang esok hari. Maka kemenangan itu akan datang. Tapi tidak berhenti untuk tetap mencari ilmu dan mengasah otakku hingga perasan terakhir otakku.

Malam semakin meninggi mencoba meninggalkan tanggal 15 desember dan menuju 16 desember. Aku coba lirikan mataku ke arah bunyi detak jarum jam. Saat ini jarum pendek terhenti hampir di angka 12 dan jarum panjangnya mendekati angka 9 – 11.44 malam.

Mungkin sudah waktunya aku istirahat untuk esok hari…..

Tuesday, December 14, 2010

My reflection on Winter Storm

  Today is very unusual. I will say that this is an extraordinary cold condition that I experienced since I landed in Canada. A big winter storm that has happened since 3 days ago, from Friday, was so bad in compared to other winter times before.

   I as usual always stay in my friend’s house every weekend. When I wanted to go home on Monday morning. I just could not do it because the car of my friend won’t even move and go on. It is because there was too much snow and sounding scary wind. The storm brought a huge volume of snow.The speed of the wind was around 32 km/hour. It made outside condition became even colder. It almost killed me, I would say so. My body was not ready yet when I had to stay outside doing a shuffle.  It was really really cold.

   This winter storm made me realized that we as human being are not supposed to be arrogant. We feel that we can always conquer and control the world and nature. With a lot of inventions and advanced technology that have been created by human, we become our own God. We think that we are the “Creator” because we can control the nature. Such thinking has been shrunken today if we look at the winter storm that has been going on. A visit of such “small” winter storm almost paralyzed us or at least for me it really made me so. It brought the weather down to –32 degree Celsius. It’s just unbelievable. There is nothing that we can do almost.

  The winter storm as of now, Monday night, has slowed down and calmed. Then it reminds me that I need to thank to God that I already resigned from my night work that “tortured” me physically and mentally. I could not imagine what would happen to me if I still worked there. I do not think I can still survive until the dawn comes.

   So, my first big winter storm has touched my heart and mind. It made me humble as human who always makes mistakes and sins every minute. This winter storm made me realized that there is a higher power that created, governs, and sustains this universe – Allah.

 

Wallahualam Bil Muradif

Sudbury,

Monday,December 13, 2010

11.31 pm

Sunday, December 5, 2010

Hukum alam…(pagi)

snow-morning1-300x200

    Pagi hari, ketika aku buka mataku maka seraya otakku mengatakan bahwa hari ini telah menjadi hari sabtu pagi. Suasana tidak begitu cerah, tapi tetap saja hari ini telah menjadi pagi. Iya, suasana pagi yang aku rindukan dalam beberapa bulan ini, karena aku tidak pernah menghirup udara pagi dengan keadaan tubuh yang fit.

   Aku terbangun pukul 7 pagi. Wow..sudah siang ! Tidak juga, dikarenakan musim dingin maka masih ada kesempatan bagiku untuk melaksanakan solat subuh. Ketika musim dingin, maka malam menjadi lebih panjang dan ketika musim panas maka malam menjadi lebih pendek.

   Bangun di pagi hari memberikanku banyak sekali inspirasi untuk tetap menulis. Seperti yang aku torehkan saat ini. Mulai 6 bulan yang lalu, aku tidak pernah terjaga di pagi hari dikarenakan aku harus tertidur setelah letih semalaman bekerja.

Kini aku bisa benar-benar bersyukur menjadi seseorang yang telah terbangun di pagi hari. Hari ku menjadi semakin lebih berarti. Aku menganggap bahwa hidup ini harus seirama dengan hukum alam. Seberapapun biasanya kita dengan aktivitas yang menentang hukum alam, seperti bekerja dari malam hari hingga pagi, maka akan tetap mengalami sebuah kejanggalan dalam hidup. Hidup yang selalu penuh dengan warna–warni harus tetap memegang satu warna- warna hukum alam.

   Alam yang telah dibentuk oleh tuhan dengan sedemikian rupa haruslah diikuti aturan mainnya. Hidup harus selalu seirama dengan hukum alam. Jika siang telah dibentuk untuk manusia agar ia beraktifitas dan mencari makan (tentunya terjaga), maka bagi siapapun yang bekerja di malam hari dan terlelap di waktu siang. Pada dasarnya ia telah melawan hukum alam. Oleh karena itu seberapapun biasanya seseorang dengan pekerjaan itu. Ia tetap tidak hidup seirama dengan hukum alam. Jika musik tidak dibunyikan dengan seirama seberapa pun hebatnya memanipulasi musik itu, maka lambat laun akan terdengar tidak harmonis ditelinga. Inilah yang aku alami. Walaupun telah bekerja malam hari dalam beberapa bulan terakhir, tapi tetap saja irama kehidupanku menjadi tidak harmonis ketika aku terjaga di siang hari.

   Tapi pagi ini senang sekali rasanya, karena aku telah berjalan seiringan dengan hukum alam. Hukum alam diciptakan oleh tuhan, agar dapat mengatur alam semesta dan penghuninya untuk dapat berjalan seirama. Bangunku di pagi hari adalah ritme kehidupan yang sesuai dengan hukum alam. Maka aku telah berjalan dalam rambu-rambu tuhan.

Selamat pagi, biarkan aku buka pagi ini dengan senyuman. Seiring salju-salju yang mulai turun dari langit tersapu angin-angin nakal yang membius setip pori-pori kulit.

Aku mulai menyeruput teh panas yang asapnya masih mengepul…

Westmount, 4 Desember 2010

07.39 pagi