Sunday, October 31, 2010

Habis sudah kata-kataku...


Suara itu tiba-tiba datang !!! Datang seperti gemuruh yang melejitkan jutaaan macam rasa takut dalam dada manusia. Magma telah mendidih. Siap untuk ditukar dengan buih-buih tubuh manusia. Asap-asap putih bergulung dan menggumpal di atas langit. Langit biru yang serentak berubah menjadi kelam dan menakutkan. Gunung merapi itu makin tampak gagah namun ia juga congkak dan buas. Bak sekumpulan lelaki yang menggagahi seorang perawan diatas seprai yang kumal dan lusuh. Kaki-kaki mereka saling berkejaran, berlarian, dan mengangkat deru-deru kematian ke atas langit. Langit yang hanya bisa menatap dan tak mampu lagi mengeluarkan air matanya. Ia hanya bisu dan menyerah pada kebiadaban sang merapi. Semua ternak mati. Tak ada yang tersisa. Para ibu berlarian pontang-panting, sambil membawa anak mereka yang belum lagi habis menghisap air susu dari dadanya. Orang-orang lansia tak sanggup lagi berlari, nafas mereka tersengal-sengal, seakan pasrah untuk menyerahkan urat nadi mereka untuk dilumat oleh panasnya api.

Semua orang tunggang langgang. Singgah sana tampak di porak-porandakan. Gemuruh angin dan debu bersenggama menjadi satu. Awan panas berlari dengan kecepatan maha dahsyat melibas apapun yang menghalanginya. Manusia disekitarnya takut akan kematian.Iya, kematian yang mengenaskan karena mereka sudah tau kapan urat nadi mereka akan berhenti berdenyut.



“Ibu, tunggu...tunggu bu...tung...g..gg....ibuuuuuu.....”, suara itu keluar dari kerongkongan seorang anak yang belum lagi genap tinggal di dunia ini selama 10 tahun ,sambil mencoba meraih jari-jemari sang ibu.



“Ayo nak....ayoo...ibu takut liat asap tebal di atas langit sana”, sang ibu menarik anak dengan sekuat tenaga, sambil menggendong dua buah hatinya yang lain: satu di atas pundak dan satu lagi di dalam pangkuannya.



“Agung takut bu......agungg takut...ibu...rumah kita sudah ngga ada bu...kita mau tinggal dimana ???”, sang anak terseok-seok di atas debu-debu panas yang telah berjatuhan di atas kampungnya. Agung tak mampu lagi berlari. Kakinya terluka. Tertusuk sembilu bambu sewaktu menyelamatkan adiknya dari ayunan di depan rumah ketika sang merapi meletus. Tapat pukul 5 lebih 5 sore hari. Sang ibu masih tetap mencoba menolong anaknya, karena naluri keibuannya yang tetap membara untuk melindunginya.



“Agunnggg....gungg....gungg....gg..g..g”, suara sang ibu masih terdengar berteriak-teriak menyelinap diantara deru-deru kaki para penduduk yang tunggang langgang menyelematkan diri. Wajah sang anak sudah penuh debu letusan gunung merapi. Semuanya tak nampak lagi.



“ibu...ibu...ibu...buu...bu..b...b...”, suara anak itu terdengar diantara jeritan para penduduk yang mati terpanggang awan panas. Sang ibu mencoba menyusup melawan arah, tapi tak mungkin karena segalanya telah menjadi kelam. Suara sang agung perlahan mulai lenyap di telan derap kaki para pengungsi dan di bawa terbang debu-debu panas yang membakar dengan suhu 500 derajat selcius. Agung hilang. Pulang kepada yang Maha Agung.



Sang ibu hanya bisa meratap dan melihat pandangannya yang tertutup abu panas yang menghalangi cahaya yang jatuh di retina-nya. Air matanya jatuh ketika suara seorang manusia yang pernah tinggal 9 bulan di dalam rahimnya lenyap di telan muntahan gunung merapi. Merapi yang tertidur selama 400 tahun, kini mulai terbangun dan tak mengenal ampun. Si ibu mulai lemas, sedih, ingin kembali tapi tak mungkin, ia ikut terbawa arus para pengungsi yang berlari menuju tempat yang lebih aman. Air susunya tumpah ke tanah bercampur debu dari perut bumi, air matanya menetes seakan bercampur dengan dengan mayat-mayat yang telah gosong.

Gemuruh semakin kencang. Kencangnya melebihi bom atom yang pernah diledakan di muka bumi. Genangan-genangan air mata seakan tak mampu untuk menghentikan kemurkaan gunung itu. Manusia menangis, takut dan tak tahu lagi kemana harus mengadu. Disaat awan panas datang, manusia mulai merasa butuh tuhan. Tuhan yang selama ini ia ingkari lalu tiba-tiba dicari, karena tak ada lagi tempat berlari dan meratap.



Ketika langit digoncangkan. Ketika gunung mengeluarkan isi perutnya. Ketika laut menghempaskan ombaknya. Tidakkah manusia berpikir siapa yang telah menyebabkan itu semua. Akan sangat nampak bahwa manusia perlu tuhan ketika ancaman berada di atas ubun-ubun mereka. Kepala mereka berbalik 180 derajat menyembah dan mencari tuhan yang selama ini selalu ia bangkang dan bahkan ia tantang. Goncangan dan dahsatnya membuat manusia ingat siapa yang menciptakan. Mungkin manusia perlu kemalangan untuk mengenal lebih dekat siapa tuhanya. Semuanya telah berubah menjadi darah. Darah yang membeku dan menggumpal bersama debu-debu letusan gunung merapi.

****



“Aisyah dimana ? aisyahhhhhhh…. ?”, jerit sutarto yang belum satu minggu menikah aisyah. Sutarto semakin histeris. Persis seperti orang psikosis yang lagi kambuh- tidak bisa melihat realita dengan semestinya karena ada gangguan psikologis hingga akhirnya hanya bermain dengan fantasinya sendiri. Keganasan becana yang merenggut belahan bagian tulang rusuknya, aisyah, membuat jiwanya goncang. Benar-benar goncang. Seakan hatinya retak dan pecah berkeping-keping lalu dilumat lahar panas yang menyembur.



“Mas, aisyah tidak sempat ikut kami. Ia masih tetap tinggal di atas ketika semua orang mulai mencari jalan turun ke bawah”, jelas shima seorang dokter dari jakarta.



“Kenapa ia tidak turun, dok?”,tanya sutarto sambil mengusap air matanya yang telah tumpah dari pelupuk mata.



“Mereka bilang, mereka masih sayang rumah yang diwarisi nenek moyang mereka”, jelas sang dokter sambil menyambangi mayat-mayat lain yang masih bergelimpangan di atas tanah.



“Kenapa seperti ini ??”, sutarto menjerit

“Tuhan…jika engkau memang tuhan yang Maha adil, dimana keadilan mu?. Aku ingin bertanya tuhan…..Katanya engkau maha baik dan bijaksana?. Lalu mengapa ini yang engkau berikan pada kami. Engkau tidak adil tuhan…jangan bodohiiiii kamiiiiiii….”, suara sutarto lantang menembus hingga kelangit dan menyatu dengan panasnya awan diatas sana.



Ia frustasi. Mulai kehilangan tuhan.Mulai kehilangan rasa percaya pada tuhan. Tuhan yang selama ini ia agung-agungkan lalu dirubah menjadi musuhnya. Kemalangan dan bencana yang merenggut nyawa orang terdekat, kadang membuat orang menjadi membenci tuhan. Mereka selalu mengganggap bahwa tuhan itu baik ketika Dia memberikan yang baik menurut kacamata mereka. Tapi jika sesuatu yang tidak baik terjadi menurut kacamata mereka, maka mereka bilang bahwa tuhan tidak baik. Tuhan Kejam.Tuhan biadab dan Tuhan itu bengis !!



Suara-suara sirine mobil ambulan datang berhamburan di pinggir jalan . Berbagai bantuan mulai berdatangan. Wajah mereka tampak kusut dan layu.Tak ada lagi harapan. Tak ada lagi masa depan. Yang ada hanya tangisan dan ratapan yang masih terdengar di tengah malam yang menjadi semakin kelam. Bersabar dan menjaga pikiran yang positif adalah kunci ketika manusia dilanda oleh kemalangan. Kemalangan yang bisa membuat orang menjadi gila. Gila karena goncangan jiwa yang amat dahsyat. Manusia hanya bisa mengukur dan berencana tapi tuhan yang menentukan. Semua telah terjadi. Dan letusan merapi adalah ketentuan sang ilahi yang tak dapat lagi diutak-atik. Nyawa telah melayang. Istri kehilangan suami. Suami kehilangan istri. Anak kehilangan orang tua. Harga nyawa manusia seakan tak berarti di depan awan panas dan gempa. Mereka harus menyerahkan ruhnya pada gunung yang terbangun setelah lelap selama 4 abad.



“Tuu…haa….nnn…”, ia tersungkur ke tanah sambil meneteskan air matanya .Menangis sedu. Membenamkan kepalanya di atas debu menutupi perkampungannya. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Lalu terlintas di kepalanya segala memori tentang istrinya. Ketika ia mengucapkan ijab qobul. Berdiri di atas pelaminan. Hingga pada waktu pertama kali ia bertemu dengan aisyah, seorang bunga desa yang pemalu tapi juga religi. Tapi itu dulu. Karena aisyah kini telah pergi dilumat merapi dan berubah menjadi debu yang hilang dibawa angin. Aisyah telah menjadi bagian isi perut bumi.



***

Sang ibu yang kehilangan anak bernama agung pun mulai kehilangan dirinya. Berbagai peraasaan trauma datang menghantui. Perasaan bersalah, benci, hingga tak tau lagi kemana ia harus melangkah mulai bercampur aduk. Sang ibu tiba-tiba terbelalak ketika seorang mayat diturunkan dari sebuah mobil ambulan. Matanya tertuju pada pergelangan tangan si mayat. Karena ia mengenali benar bekas luka sewaktu kecil yang pernah terjadi pada anaknya. Ia mendekat. Ia sibakkan debu-debu yang telah menutupi mukanya. Air matanya semakin jatuh menetes di jidat sang mayat. Kini mukanya sudah tak lagi seperti sesosok manusia. Mukanya telah lenyap terpanggang, kulitnya melepuh. Sudah tak dapat lagi dibayangkan betapa sakitnya ketika ia meregang nyawa.



Ia bolak-balik tubuh itu. Semakin ia melihat, semakin pilu hatinya. Ia semakin yakin bahwa mayat itu pernah bernafas dan menghentakan jantungnya untuk pertam kali di dalam rahim nya. Rahim itu kini bergejolak. Bergejolak serasa sewaktu agung masih dalam kandungan. Bayi itu kini sudah tak lagi mempunyai rupa. Tak ada rupa yang pasti. Dan yang pasti hanya satu. Bahwa agung telah mati.



Masa depan tak ada yang pasti sepenuhnya. Tapi kematian di masa depan adalah sebuah kepastian ilahi yang perlu dicermati. Bencana dan kematian sudah sepatutnya membawa manusia mengingat perilakunya yang selama ini bersifat destruktif. Baik terhadap alam maupun sesama.



“Ibu kenal dengan mayat ini ?”, tanya dokter shima yang sedari tadi masih membolak-balik mayat yang sudah tidak dikenali lagi akibat luka kibasan awan panas di sekujur tubuhnya.



Si ibu hanya bisa tersedu dan menangis. Air matanya sudah tak keluar lagi. Sudah kering-kerontang tak ada lagi yang bisa dikeluarkan. Ia hanya mengangguk dan terhisap dalam kepedihannya yang mulai membara di sekujur tubuhnya. Tangan ke ibuannya menggengam pergelangan tangan anaknya, yang meninggalkan bekas luka tak pernah lupa olehnya. Ia menggenggamnya penuh isak tangis. Karena ia adalah darah dagingya. Ia usap tangan anaknya dengan kasih sayang walau sang anak telah mati dan tak punya rupa. Ia pegang jari jemarinya lalu ia buka genggaman tangan anaknya. Agung meninggal sambil menggenggam sebuah kertas di antara jari jemarinya.

Kertas itu diambil oleh sang ibu dan dibacanya dengan tangisan yang tak mungkin terhenti hingga berbad-abad lamanya. Sang ibu membuka gulugan kertas yang sudah terbakar ujungnya, lalu ia membaca urutan huruf-huruf yang terukir di dalam kertas itu.

“PRAY FOR INDONESIA”,



Sang ibu memejamkan mata sambil berkata dalam hati, “apalagi yang harus aku katakan atas becana yang hebat ini, habis sudah kata-kataku”, ia tundukan kepalanya sambil mendekap kedua anaknya yang masih kecil ke dalam dadanya.



*Seorang anak bangsa yang meratap dan berdoa dari kejauhan*

No comments: