Gema takbir datang menyelinap disetiap pembuluh-pembuluh darah yang penuh dengan nafas-nafas kalimat tuhan yang getarannya terasa memenuhi rongga dada. Sanak famili datang silih berganti, bertukar makanan, bertukar kata, bertuka sms dan mms, bertukar rasa, dan juga bertukar asa yang sudah terlalu lama tak terasah oleh kabut-kabut rasa. Gema takbir masih tetap menyeringai dan tetap mematri suasana idul fitri yang selalu penuh suka cita dan kebahagian yang berbeda dengan hari-hari biasanya. Tak terasa linangan air mata tumpah membasahi pipi mengingat dosa yang telah diperbuat baik sengaja ataupun tidak sengaja kepada orang-orang dekat maupun jauh. Aneka makanan siap disajikan di atas meja, makanan silih berganti keluar dari dapur yang nampak seperti pabrik makanan untuk manusia sedunia. Permen, coklat, dan manisan-manisan berjejer tersusun rapih di atas meja. Gelas-gelas, piring-piring, karpet-karpet yang hanya dipakai setahun sekali, kini nampak tersusun dan terpajang bak toko-toko di tanah abang yang selalu dipenuhi para pelanggan. Suara-suara petasan terdengar dari berbagai sudut kampung. Anak-anak kecil berkeliling mengunjungi tetangga disekitar rumah, membawa dompet kosong dengan harapan akan terisi penuh dengan THR yang diidam-idamkanya dari rumah ke rumah.
Di lain sisi, bagian “barat” bumi, menunjukan suasana yang sangat kontras. Tak ada bunyi bedug, gema takbir, lantunan kalimat-kalimat allah yang semakin menambah suasana idul fitri menjadi syahdu dan penuh makna. Tak ada orang yang datang silih berganti masuk ke rumah. Tak terasa suara-suara toa dari masjid menyentuh setiap dedaunan yang ada di sekitar. Semua tampak mati dan sedih. Teringat sanak famili yang tengah bergembira. Suasanya berbeda....tak ada kacang-kacang yang terjajar dan tersusun rapih di atasa meja, tak ada suara anak-anak kecil berlarian membawa sarung yang diselempangkan di pundaknya, tak ada wanita-wanita muslimah “jelmaan” yang tiba-tiba berselendang di hari yang fitri. Tak ada iklan-iklan di televisi yang membawa gambar ketupat. Di dapur tak ditemui lontong, opor ayam, rendang, bawang goreng, apalagi kerupuk-kerupuk renyah yang bunyinya kriuk-kriuk ketika tersentuh kuah ketupat...Yummmmmm....Yang ada hanya internet dan radio yang menemani kesepian para mahasiswa di pelbagai belahan dunia dalam rangka memperkaya isi otak mereka demi masa depan yang cerah – mencari ilmu.
Terdengar sayup-sayup suara radioppidunia mengisi ruang dengar dengan lagu-lagu bernafas religi. Tak ada satu penyiar pun yang terdengar, hanya lagu-lagu yang tak henti-hentinya berputar silih berganti. Tetap berputar dari satu artis ke artis yang lain. Tak lama berselang... sebuah suara keluar dari radio komunitas ini. Para pendengar mulai mengalihkan perhatian pada radio yang terdengar mulai mati semenjak beberapa menit terakhir, tapi kematian itu hanya sejenak dan kembali mengudara melalui jaringan-jaringan internet yang tetap menjadi penopang utama radio persatuan mahasiswa indonesia sedunia ini.
“Lam lekommmmmmmmmm....... sobatradioppidunia”, suaranya agak sedikit kemayu-kemayu yang nampak mulai timbul tenggelam. Getaran suaranya menggema dan menggaungkan hari kemenangan bagi umat muslim di seluruh dunia. Masih tetap menggema dan menggema....
“Halo ketemu lagi disini bareng aga yah.....aga akan nemenin kamu semua satu harian penuh dengan lagu-lagu yang oks banget tentunya....”, sambug dj aga yang masih berdomisili di new zealand sana karena tidak di bolehkan pulang oleh orang tuanya disebabkan alasan ongkos lebih berharga daripada kehadiran sang aga di keluarga.
“Apa kabar juga nih para sobat radioppi dunia ? Pastinya semuanya pada bersuka ria donk merayakan lebaran...?”, sambung dj patma yang juga ingin menyumbangkan suaranya langsung dari Rusia. Patma merasa kesepian di tula, tempat dj patma berdomisili, karena tidak ada satu pun warga Indonesia yang dapat ditemuinya kecuali kalau dia mau berjalan sekitar 60 km dari dimana dj patma kini bertengger, itupun hanya ada 2 orang mahasiwa jomblo tulen.
“Bagaimana sih rasanya berpuasa di rusia sana ?”, tanya dj aga yang lagi siaran bareng dengan dj patma sambil menguyah-nguyah kulit kiwi.
“Wah...kalau di Tula sepertinya dead abizzzz deh”, jawab dj patma yang baru saja balik dari moscow hanya untuk sekedar melakukan sholat I'd bersama masyarakat Indonesia lainya.
“Kalau di New Zealand sana ?”, tanya dj patma kembali pada dj aga.
“Kalau disini lumayan sih yah....adalah dikit-dikit rasanya lebaran kayak di indo karena ada orang indo-nya juga walaupun sedikit....yah lumayan lah buat nemenin makan-makan goreng pisang ”, dj aga yang dari tadi sebelum siaran tak habis-habisnya menyeka air matanya karena teringat keluarga-nya yang nampak telah membuang dirinya ke pulau kecil ini.
“Halo sobattttt....................!!”, sambung dj wonny yang tiba-tiba juga menyelinap dari jerman sana dan ikut nimbrung siaran bareng. Dj aga yang memang sudah ada perasaan “ngga jelas” dengan dj wonny tidak mau menyia-nyiakan momen seperti ini -siaran bareng- untuk memberikan sedikit perhatian dan pertanyaan.
“Halo wonny...kamu apa kabar ? Coba mungkin bisa diceritain ke aga bagaimana suasana lebaran di jerman sana?”
“Di jerman ini tentuya cukup meriah banget yah terutama kalau di Berlin...karena banyak orang indonesia nya lo ...wuihhhh...ketupat gituh lo”, jawab dj wonny yang ngga peduli denga perasaan dj aga yang sudah seperti ketupat di rebus diatas kompor dengan api biru.
“Kok lebaran di korea ngga ditanyain sih ?”, tanya dj andy yang rupanya sedari tadi juga nimbrung di acara siaran bareng edisi spesial radioppidunia.
Dj andy spontan membuka mulut karena udah ngga tahan mau menceritakan bagaimana suasana lebaran di korea. “Lebaran di korea walaupun rada sepi..tapi kita tetep meriah lo...”, yang nampak makin narsis persis seperti tata rias yang pertama kali merias penganten kelas atas.
“Iya aku juga ngga ditanya sih......iihhh”, suara dj mela yang serak-serak banjir menggetarkan speaker para pendengar radioppidunia. Rupaya sedari tadi juga ada dalam siaran bareng. Dj aga semakin nampak egoisnya dan terlalu memberikan perhatian kepada dj wonny.
“Oh ya...gimana lebaran disana mela ? Kita kan juga ingin tahu lo..”, tanya dj aga spontan agar tidak terlau nampak akal bejatnya.
“Oh iya dunk...di Malaysia ini orang-orang pada datang ke sanak famili, tak ubahnya seperti budaya-budaya indonesia juga...mereka juga makan lemang dan rendang lo....”, imbuh dj mela yang semakin ngga tahan ingin memuncahkan seluruh kata-kata yang ada dalam dirinya tentang berlebaran di Kuala Lumpur sana.
“Assalamualaikum.......”, suaranya kental dan berat.
“Hasbiiiiiiiiii...................”, spontan langsung dj mela yang amat hafal sekali setiap hentakan-hentakan yang ada di tenggorokan dj yang berdomisili di mesir ini. Dj patma merasa kebakaran jenggot mendengar dj mela yang semakin agresif dan gesit menyapa dj hasbi.
“Hasbi apa kabar ..? patma mau juga dunk denger cerita-cerita berlebaran di mesir sana..”, potong dj patma yang tak mau kalah dengan dj mela.
“hmhm..hmhm...suasana berlebaran di mesir memang terasa benar-benar khidmat dan kami merasa seperti satu tubuh antara sesama muslim, tidak peduli darimana dia berasal dan apa warna kulitnya”, jawab dj hasbi yang semakin nampak jiwa syaikh nya sambil mengelus-ngelus janggut yang agak sedikit lebat, selebat hutan kalimantan.
“Hasbi...memangnya apa sih sebenarnya hakikat dari I'dul Fitri itu, mungkin perlu berbagi nih kayaknya dengan para sobat radioppidunia ?”,tanya dj ipon yang kini sudah ada di berlin setelah melakukan pindah-pindahan barang dari bremen, sebuah kota yang pernah menjadi aliansi kota-kota pusat perdagangan disekitar abad 13-17 masehi dan terletak di sebelah barat daya jerman.
“Idul fitri secara bahasa artinya adalah kembali kepada fitrah”, jawab dj hasbi yang singkat dan masih menyisakan pertanyaan dan perlu penjelasan. Dj mela dan dj patma ingin bertanya duluan, helaan nafasnya sudah mulai terdengar jelas. Tapi dj aga masuk bertanya sebelum mereka ber dua berkelahi hanya karena gara-gara pria ber-KTP cirebon ini. “Maksudnya “fitrah” itu apa sich bi...?”
“Fitrah dalam islam adalah kecondongan atau bertendensi untuk berbuat baik dan menjadi putih bersih belum ternoda sewaktu kita pertama kali dilahirkan. Jadinya ketika manusia kembali kepada fitrah, manusia itu diharapkan agar hati mereka kembali lagi menjadi putih bersih bebas dari dosa dan terlepas dari berbagai penyakit hati”, jawab dj hasbi yang makin nampak seperti seorang kyia yag sedang memberikan wejangan kepada para santrinya.
“Hasbiiiii.....mela mau tanya boleh ngga.....emangnya kenapa sich kok berlebaran itu adanya di akhir ramadhan...bukan di awal ramadhan ?”, tanya dj mela yang suaranya dibuat agak sedikit manja-manja di depan dj hasbi.
“Berpuasa pada hakikatnya adalah sebuah training center (pusat pelatihan) untuk penyujian hati manusia yang selalu dikotori oleh perbuatanya sendiri yang lebih sering di dorong oleh rasa tamak dan hawa nafsu yang menggila....oleh karena itu... setelah manusia masuk dalam sebuah training center selama kurang lebih satu bulan...maka manusia itu dianggap menggapai sebuah kemenangan atau kita sebut sebagai hari kemenangan- i'dul fitri- atas keberhasilanya menjalani masa-masa pelatihan yang penuh dengan berbagai halangan dan rintangan tentunya”, jawab dj hasbi.
“Aku boleeeeehhh nanya lagi ngga ??”, tanya dj mela yang mulai mencari perhatian lebih.
“Nggaaaa bolehhh....sekarang giliran patma !!!”, suara dj patma yang tiba-tiba memotong dan menunjukan kalau diantara mereka ada sebuah persaingan psikologi untuk mendapatkan pria penggemar tahu gejrot ini.
“Mas hasbi...patma mau tanya yah....memangnya apa implikasi setelah kita lulus dari training center itu tadi ? Dan terlebih ketika kita telah selesai melakukan idul fitri ?”, sebuah pertanyaan melayang dari dj patma yang agak sedikit malu-malu beruang putih seperti sedang dikasih kacang tojin.
“Setelah melatih diri dalam training center tersebut manusia diharapkan dalam 11 bulan kedepan tetap konsisten untuk menjalankan segala perbuatan-perbuatan baik yang telah mereka lakukan selama di bulan ramadhan, baik itu secara perilaku maupun segala hal yang bersifat abstrak dan hanya diketahui oleh individu itu sendiri seperti tidak berprasangka buruk, tidak mudah marah, cepat tersinggung, bersikap sabar dan lain-lainya.....Karena esensi dari apakah kita benar-benar lulus dari training center itu adalah bagaimana nantinya kita menjalani 11 bulan ke depan apakah perilaku dan akhlak kita bisa lebih baik, jika tidak...maka kita hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga”, jawab dj hasbi yang tiba-tiba hampir tidak konsentrasi karena bayang-bayang wajah dj patma selalu lekat dalam otaknya setelah seharian penuh memelototi foto-foto nya di facebook.
“Bisa kasih contoh yang lebih konkrit ustadz hasbi ??”, pinta dj ipon dan dj andy.
“Hmm..ok... manusia selalu ingin mendapatkan segala sesuatu yang mereka inginkan, dan untuk mendapatkan hal itu terkadang manusia tidak peduli dengan lingkungan dan juga bagaimana hubungannya dengan orang lain baik sesama muslim atau muslimah ataupun juga dengan non-muslim....Contoh konkritnya, jika ada dua orang wanita yang menginginkan satu orang laki-laki yang sama-sama mereka sukai, maka akan besar kemungkinanya dan sering terjadi bahwa dua orang wanita itu bisa saling menjelekan antara yang satu dan yang lainnya. Dan tentunya, hal seperti ini sangat dilarang di dalam islam....Sifat-sifat buruk semacam ini adalah hal yang harus selalu diredam selama bulan ramadhan. Oleh karena itu, jika sifat buruk ini dapat diredam selama bulan ramadhan maka diharapkan persaingan yang dapat menimbulkan sifat-sifat buruk sekaligus dapat menghancurkan hubungan sesama muslim diharapkan tidak ada lagi dalam 11 bulan ke depan”, dj hasbi memberikan contoh yang konkrit sambil mencoba mendamaikan secara tidak langsung “perang dingin” antara Rusia dan Malaysia (dj patma dan dj mela). Ke duanya merasa malu dan hanya manggut-manggut saja.
“Ok...sobat radioppidunia...ini adalah edisi siaran spesial dari radioppidunia karena belum pernah banget selama radio ini berdiri.....radio ini disiarkan dengan 7 dj langsung bersamaan dari tempat yang berbeda.....”, sambung dj aga yang belum habis-habisnya siaran, sambil menjilat-jilat kulit kiwi yang warnanya kini sudah mulai pudar.
“Sobatradioppidunia....kayaknya kita sudah hampir 6 jam yah menemani sobat... di acara spesialnya lebaran radioppidunia....oleh karena itu, kita mau pamit dan undur diri dulu dari ruang dengar sobat radioppidunia semua...”, suara dj aga sudah semakin nampak loyo persis seperti mobil tua yang sudah kehabisan aki dan ngga bisa di charge lagi.
“Akhir kata....kami ATAS NAMA SELURUH PENYIAR RADIOPPIDUNIA ingin mengucapkan kepada seluruh sobatradioppidunia di berbagai pelosok belahan dunia... SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430 H ....MINAL AIDZIN WALFAIDZIN....MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN....”, suara dj ipon, dj andy, dj aga, dj wonny, dj mella, dj patma, dj hasbi gegap gempita menggetarkan seluruh langit di berbagai belahan dunia. Semakin menambah aroma-aroma ketupat berseliweran di langit biru yang terpantul ke riak-riak air di sungai, tergulung ombak-ombak kecil di muara, bersatu padu di bawa angin, meyelinap diantara batasan-batasan pelangi yang melintang di langit biru.
Friday, September 25, 2009
Saturday, September 12, 2009
Senja
Senja
Malam semakin tak terasa, tiba-tiba saja sudah datang membalut siang yang telah memporak-porandakan malam. Tak banyak kata-kata yang dapat aku katakan ketika senja mulai datang untuk menyapa setiap sudut-sudut horizon yang mulai nampak kemerah-merahan. Danau-danau masih tetap tak bergumam dan tak mampu memberikan arti bagiku. Mobil dan motor hanya terlihat satu persatu, silih berganti menyusuri jalan yang nampak sepi. Getir pahitnya hidup sesekali terlintas dalam benak yang telah aku coba kubur pada koordinat terbawah bagian alam bawah sadarku. Tiba-tiba bayangan itu kembali melintas dan susah untuk hengkang dari benakku. Handphone ku berbunyi...dan nada deringnya persis seperti bunyi yang pernah aku setting untuk seseorang yang pernah membayang-banyangik u dalam setiap detik helaan nafasku.
“Haloo....apa kabar ?”, suaranya dari kejauhan terdengar parau dan serak-serak menahan isak tangis yang tak dapat disembunyikanya.
“Kabar ku baik.....”, jawabku yang masih penasaran dan tetap bertanya dalam sanubari dimana dirinya kini.
Telepon darinya persis 2 bulan semenjak dirinya tiba-tiba menghilang dari genggamanku tanpa kabar, tanpa angin yang membawa berita-berita dan tanda-tanda kepergiannya begitu misterius bagiku. Semenjak kepergianya pikiranku menjadi semakin galau dan terus menjadi gundah. Burung-burung gagak berterbangan memberikan warna kontras kepada langit yang memberikan mereka ruang untuk hilir mudik mengintai bangkai-bangkai yang siap disantap untuk mengisi temboloknya.
Kini aku bertemu dengan dirinya, hatiku terasa semakin lega dan berbunga-bunga ketika dari jauh aku nampak dirinya tepat berada di sebuah pohon rindang di dekat bangku panjang yang hanya muat dihuni oleh dua orang. Bangku yang biasa kita duduki sebelum dirinya hilang entah kemana selama dua bulan. Aku hampiri tubuhnya yang masih nampak cantik dan semampai seperti sedia kala. Tak ada sedikit yang berubah darinya, walaupun ia menghilang tanpa goresan tinta di sebuah kertas yang tak pernah terkirim kepadaku. Kini... yang ada hanya bekas linangan air mata yang tersisa yang telah mengalir dari mata yang memberikan binaran-binaran ketenangan pada jiwaku.
“Kamu nampak makin cantik setelah sekian lama aku merindukan kehadiranmu kembali disisiku.... kapan kita akan bermain-main dan membicarakan tentang cinta ?”, tanya ku yang hanya dibalas oleh jutaan kuncian bibirnya yang nampak makin erat terkunci.
Tiupan angin-angin membelai rambutnya yang hitam terurai sampai ke rok nya yang berwarna putih. Ia nampak bagai bidadari yang terjatuh dan terlepas dari pusat peremajaan para bidadari surga yang pernah tercipta. Buah-buah khuldi seakan malu untuk menjadi masak ketika kehadirannya berada tepat di bawah pohon Khuldi.
“Kamu adalah wanita terhebat yang pernah aku jumpai dari ratusan bidadari yang pernah singgah di lubuk hatiku....”, rayuan gombal yang hanya dihargai dengan pandangan mata yang dibuang ke jurusan yang sama kemana mukaku menghadap.
“Jangankan esok... ataupun sebelum ayam mulai berkokok.... detik ini pun....kalau ada penghulu di depan ku, aku akan persunting engkau sebagai istriku yang tak akan aku biarkan sekalipun nyamuk mendekat ke kulitmu ketika engkau tengah terlelap dalam pangkuan malam yang mengikat ke dua kelopak matamu”, tawaranku yang tidak main-main lagi-lagi hanya dihargai dengan binaran mata yang nampak makin berkaca-kaca membendung luapan air mata yang akhirnya jatuh menetes membasahi tanah yang nampak kering di musim kemarau.
Sebagian bunga-bunga di sekitar taman mulai ditimpa sedikit cahaya matahari yang mulai redup. Gemericik air nampak memberikan pantulan wajahya yang tetap cantik walau air mata terus mengalir. Rumput-rumput nampak hijau terhampar. Dua buah ayunan yang tak berpenghuni sesekali bergerak tertiup angin malam yang mulai dingin merambat ke setiap lapisan kulit. Semuanya hanya menambah rasa frustasi dan keputus asaan-ku untuk dapat membuka bongkahan bisu yang menindih bibirnya . Iya...mulut yang dulu nampak mungil dan nakal tetap terngiang-ngiang dalam setiap lipatan-lipatan otak ku.
“Ketika air mata mulai membasahi setiap pori-pori yang ada di matamu...engkau nampak makin cantik seperti sebuah zamrud yang terpendam ribuan tahun di dasar laut dan baru muncul kepermukaan yang langsung disambut oleh tetesan-tetesan embun pagi yang memberikan kesegaran... air matamu bagai tetesan embun yang menyeka debu-debu di atas kristal yang tak hancur diterpa baja....air matamu hanya membuat ku semakin haus....”, rayuan terakhir yang pernah terlontar, dan tak pernah lagi terpikir apa yang harus di ucapkan untuk membuatnya menghasilkan sepatah kata walaupun hanya gumaman dan suara yang hanya terdengar oleh nyamuk.
Malam semakin senja, burung-burung berterbangan kembali menuju asalnya, segala makhluk tuhan kembali keharibaan-nya untuk beristirahat sejenak melupakan segala kepenatan yang telah terukir sepanjang hari. Pohon-pohon nampak letih dan mulai condong kemanapun angin menghembusnya. Kuangkat tubuhku meninggalkan dirinya yang masih tetap tertegun sendiri di bawah pohon rindang dengan rambutnya yang terurai menyapu tanah yang lembab. Langkahku semakin jauh meninggalkan dirinya di atas bangku yang juga membisu dan masih tertegun di bawah cahaya mentari yang telah lelah bercokol di ufuk timur.
Getaran handphone-ku mulai terasa setelah beberapa kali bergetar. Kulihat dari nama sang penelepon, ia adalah seseorang yang sudah habis seharian aku rayu agar mau membuka mulutnya walaupun hanya sekedar mengeluarkan satu kata atau mungkin satu huruf saja. Iya..satu huruf saja...Hatiku sangat senang.Senangnya tak terhingga. Senang yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Melihat namanya muncul di handphone ku, perasaanku bercampur aduk. Semakin tak jelas. Tak sabar rasanya mendengar suara perempuan yang telah hilang selama 2dua bulan itu dan secara tiba-tiba minta bertemu di sebuah taman tempat kita selalu berbagi perasaan suka maupun duka, walaupun pada akhirnya ia tak pernah membuka mulutnya. Iya.....kini ia meneleponku.
Sebuah tanda yang positif kalau usahaku seharian merayunya telah berhasil memecahkan segala kebisuan yang mengunci mati lidahnya untuk mengatakan satu huruf. Aku semakin tak sabar untuk mendengar suaranya. Aku tekan tombol hijau di handphone ku dan aku sambut langsung dengan nada suara ku yang tak dapat aku sembunyikan betapa senangnya hatiku ketika aku akan mendengar suaranya.
“Hallo.......”, jawabku diringi dengan degup jantungku yang sudah semakin tak tentu bunyi dan nadanya.
Dari jauh sana ia menjawab, “aku hamil.....tapi bukan dengan kamu....”, diakhiri dengan nada telepon yang terputus. Aku kembali melirih kebelakang menyusuri setiap jejak-jejak tapak kakiku, hingga pandanganku sampai di bangku yang telah aku duduki. Bangku itu kini telah kosong. Tak tahu lagi kemana aku harus mencari.
Hari semakin senja....
(Bersambung)
Wednesday, September 9, 2009
Cintaku Terhalang Paspor
Menara kembar (twin tower) yang persis berada di depan Kuala Lumpur Convention Center (KLCC) masih nampak tegar, siap menggapai atmosfir , dan bermandikan cahaya lampu-lampu yang terpasang ribuan watt yang membalut tubuhnya. Belum lagi pijaran cahayanya yang ditambah taburan bintang-bintang di langit, semakin menambah suasana malam yang hanya dapat direngkuh oleh perasaan orang-orang yang sedang jatuh cinta. Tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Air mancur di sekitar taman yang silih berganti menyembur kelangit, membuat suasana malam menjadi semakin menjadi-jadi. Taman-taman yang tertata rapi bermandikan cahaya remang-remang memberikan suasana romantisme yang berbeda bagi para manusia yang sedang memadu kasih. Tak bosan-bosanya orang datang ke menara ini di setiap ujung minggu, walau hanya sekedar melihat taman-taman dan air mancur yang tak berubah ditambah sedikit cemilan yang selalu ada disamping sambil menikmati suasana malam. Menara ini telah menjadi saksi bisu ratusan anak cucu adam dan hawa yang saling mengikrarkan janji untuk hidup semati hingga nafas terakhir. Tak terkecuali bagi mella, seorang mahasiswi indonesia yang jarang pulang semenjak merantau ke malaysia, telah menjadi salah satu dari ratusan anak cucu hawa yang berikrar sehidup semati di bawah naungan twin tower.
Malam ini mella tak kuasa menahan perasaanya yang campur aduk persis seperti semen yang diaduk-aduk oleh tukang bangunan untuk mengecor (menambal) atap-atap rumah yang bolong. mella sangat termasyhur dikalangan teman-temanya sebagai wanita yang sabar dalam masalah asmara dan tentunya juga sangat berprinsip. Ia kini teringat kembali ketika pertama kali mengikat janji dengan seorang lelaki mellayu bernama Wan hafiz yang ia jumpai ketika sedang membeli sayu di pasar chow kit.
"Abang...abang serius kah...sayang sama mella...?", tanya mella yang sedikit ragu-ragu sebelum menerima cinta Wan hafiz.
"Abang serius la mella...abang suka sangat dengan cewe-cewe indon..eh indonesia", jawab Wan hafiz dengan logat mellayunya yang kental.
“Abang serius kan mau menjalin hubungan sama mella...?”, tanya mella untuk memastikan lagi.
“Iya serius...bahkan abang mau bawa mella ke pelaminan...”, tegas Wan hafiz sambil memastikan belahan hatinya.
mella-pun menerima permohonan sang pria mellayu yang selalu hobi minum teh tarik dan satu buah roti canay setiap paginya. mella memang dikenal dikalangan PPI-Malaysia sebagai seorang wanita yang sangat teguh ketika mengatakan sesuatu dan pantang baginya untuk menarik kata-katanya yang sudah keluar, bagaikan menelan air liur sendiri yang sudah diludahkan.
“Hmhm...ok la bang...kalau abang memang serius dengan mella...mella juga mau la, jadi girl friend abang”, jawab mella sambil tersipu-sipu malu dan seolah-olah dunia ini milik mereka berdua dan serasa orang lain pada ngontrak. Wan hafiz kini resmi menjadi pria ke-15 yang bertengger di hati mella, semenjak ia menginjak semenanjung Malaysia lebih dari 3 tahun yang lalu. Bukan mella namanya jika ia tidak terkenal di kalangan PPI-Se Malaysia sebagai seorang wanita indonesia yang kisah cintanya selalu kandas dengan pria-pria mellayu. Kendati putus sambungnya hubungan asmara mella bak air laut yang pasang surut, mella adalah sesosok wanita yang terkenal sabar dan mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi. Bahkan pernah suatu kali salah satu orang tua dari belasan mantan kekasihnya itu mengangkatnya setinggi menara Al-burj di dubai, sebagai menara tertinggi di dunia, dengan seketika juga meghempasnya sampai menembus lapisan tanah.
“mella kamu catik deh....”, puji sang orang tua mantan ke kasihnya yang ke 11.
“Terima kasih mak cik....”, jawab mella sambil tersipu-sipu malu, ditambah dengan muka yang mulai memerah seperti jambu bol.
“Tapi....”, sang mak cik mulai ragu-ragu mellanjutkan kalimatnya.
“Tapi apa mak cik ??”, jawab mella yang sedikit penasaran dan agak mendesak.
“Tapi sayang kamu Indon...”, jawaban sang mak cik bak menghempas mella tanpa parasut dari ketinggian menara Burj yang tingginya hingga satu kilometer.
Tapi itu dulu, sebelum menjalin hubungan dengan Wan hafiz yang membuat mella mabuk kepayang sampai lupa cuci baju dan bersihkan kost-an yang terkadang sudah dihuni kecoa dan tikus-tikus dari tetangga sebelah.
Tanpa angin tanpa badai, tiba-tiba kini suasana berubah, iya...berubah drastis, 180 derajat. mella berubah seperti singa betina yang belum makan selama dua bulan dan tengah melindungi anaknya dari gangguan predator.
“Wan....pokoknya aku minta putussssss sekarang juga....putussss. ..putuss. ....”,pinta mella dengan muka memerah seperti bara api yang dibakar dalam tungku.
“Kenapa mella...sayang ku ?”, tanya wan hafiz dengan keheranan.
“Pokoknya aku mau putus....hubungan kita sampai disini saja...cukup. ...”, mella yang kembali nampak makin menggila dan hampir-hampir tak sadarkan diri.
“Iya tapi tolong jelaskan dulu apa alasanya mella...?”, tanya wan hafiz yang mukanya nampak makin panik bak diseruduk ikan hiu ketika berselancar di pulau Lombok.
“Enak saja...negaramu itu lo..sudah habis menginjak-nginjak negaraku...memangny a kamu pikir negaraku tidak punya harga diri apa...???”, hardik mella yang semakin memuncak kemarahanya sekaligus membuat air mancur takut untuk menyemprotkan air ke udara setelah mendengar ledakan suara mella yang hampir merobek atmosfir di sekitar kuala lumpur.
“Pokoknya mulai detik ini aku mau hubungan kita putus ....jangan kamu panggil lagi aku sayang....titik. ..”, deklarasi mella yang semakin membuatnya terkenal dikalangan para mahasiswa indonesia di Malaysia sebagai sesosok wanita yang pantang untuk mencabut kata-katanya.
“mella....tolong la mella....jangan kamu campur adukan cinta kita dengan negara kita yang tengah begaduh...karena tidak ada hubunganya antara asmara kita dan negara kita”, pinta Wan hafiz yang seolah-olah siap menjadi anggota Persatuan Lelaki di bawak Ketiak Istri.
“Tidak ada bagiku yang namanya cinta jika tanpa penghargaan terhadap negaraku...cintaku terbentuk karena adanya negaraku sebagai tempat mengasah segala asa dan angan-anganku tentang cinta...negaramu makin kurang ajar...seenaknya menginjak-nginjak negaraku...apa karena negaraku miskin...?.. .kamu mau sombong dengan twin tower mu itu ah....???”, mella yang nampak semakin beringas ditambah lagi dengan gaya tolak pinggangnya persis seperti model iklan jamu pegel linu.
“Apa yang harus kami sombongkan mel..??...orang- orang mellayu seperti kami ini adalah hanya orang-orang pendatang dan tak lebih dari itu semua...penduduk asli semenanjung mellayu ini adalah orang pedalaman yang tinggal di hutan-hutan dan biasanya disebut dengan orang ASLI...mungkin sama dengan suku dayak yang ada di kalimantan.. ..nenek moyang kami bukan dari keturunan orang-orang ASLI itu mel...tapi nenek moyang kami dulunya berasal dari Indonesia dan kemudian merantau ke negeri mellayu ini...hingga mereka tak pernah lagi kembali ke tanah airnya dan lupa untuk mengajarkan tentang sejarah dan asal usul kami...contohnya seperti aku ini mel....kakek- ku orang aceh dan nenek ku orang bawean”, suaranya makin lembut dan dari binar matanya nampak usahanya begitu keras untuk membucuk mella, sekeras usaha mella agar angka-angka di timbangan tak terus menanjak setiap minggunya.
Semilir angin datang silih berganti menghembuskan suara-suara jangkrik yang sesekali terdengar dari dalam lubang got yang berada disekitar tempat duduk mereka berdua. Cahaya yang jatuh diantara mereka berdua sudah tak nampak lagi romantis. Cahaya bulan mulai redup-redam. Degup jantung mella terdengar kencang seperti genderang perang yang ditabuhkan kerajaan mongol ketika memporak-porandakan kota Bagdad, Irak. Kini Yang ada hanya kemarahan dan emosi mella yang semakin memuncak dan terus memuncak.
“Negaramu kurang ajar... mengklaim bahwa budaya negaraku adalah budayamu juga...kamu pikir dengan krisis ekonomi yang mellanda negaraku, kamu bisa seenaknya membeli dan merampas kebudayaanku, ah...?”, suara mella semakin meninggi persis seperti naik 4 oktaf dalam tangga nada musik berbirama 4/4.
“mella....disini ngga ada orang mellayu...yang ada disini adalah orang jawa...orang minang...orang aceh...orang bugis...orang bawean..orang madura...dan lain-lainya. ...kami sulit sekali untuk memperkuat identitas kami sebagai kaum pendatang diantara ras lainya seperti India dan cina...karena kakek dan nenek kami asalnya dari indonesia, maka budaya kakek-nenek moyang kami itulah yang kami gunakan dan lestarikan sampai sekarang...seperti batik, tari pendet, angklung dan lain-lain... karena kami memang tidak punya budaya lagi untuk menunjukan identitas kami sebagai seorang manusia....hanya saja kesalahan nenek moyang kami setelah berhijrah kesini dan juga pemerintah kami, mereka tidak pernah mengajarkan tentang sejarah asal-usul kami, sehingga kami lupa akan akar kami dan tidak tahu siapa kami sebenarnya”, jelas Wan hafiz yang nampak sudut matanya mulai berkaca-kaca karena melihat kepergian mella sudah diambang pintu.
mella pun hanya bisa diam, membisu seribu bahasa, dan bibirnya tertutup rapat serapat penjara alcatraz yang terletak di sebuah pulau bagian San fransisco. Sesak dada mella masih belum kembali normal. Gencatan emosi dan urat-urat saraf yang semakin menegang membuat mella semakin kalap. Ia semakin tak peduli dengan kata-kata Wan hafiz yang selalu setia menemaninya di kala kesunyian dan kesepian datang menghampirinya. Kebaikan pria mellayu itu seolah-olah tak pernah membekas sedikit pun di dalam hidup mella yang telah terkikis oleh semangat nasionalisme yang semakin membabi-buta.
“Alah...pokoknya aku ingin membela nasionalismeku. ..karena aku orang indonesia”, ungkap mella yang semakin hilang kendali dan suaranya semakin lantang persis selantang suara orang yang membacakan UUD 45 di upacara-upacara kenegaraan.
“Mella.....”, ucap Wan hafiz yang tak terasa kelopak matanya mulai meneteskan air mata yang sedari tadi hendak tumpah dan kini ia sudah tak kuasa lagi untuk membendungnya.
“Kami sangat iri sebenarnya dengan orang-orang indonesia, terlebih dengan anak-anak muda indonesia yang mempuyai semangat nasionalisme yang tinggi dan kreatifitas yang tidak terbatas”,ungkapnya sambil meminta mella untuk menatap matanya dalam-dalam seperti para pencopet kelas teri yang mau menghipnotis sebelum menggasak dompet si korban.
“Coba duduk sini mella....”, pinta Wan hafiz yang diacuhkan mella sambil menatap pohon-pohon rindang yang nampak di goda oleh semilir-semilir angin yang berhembus malam itu.
“Coba lihat...ketika terjadi kasus ambalat antara indonesia dan malaysia..ribuan orang di indonesia sudah siap untuk mendaftarkan diri menjadi pasukan rela mati demi membela tanah air mereka...sedangkan kami...tidak ada seorang pun yang rela mengorbankan nyawanya untuk tanah airnya...bahkan demi memupuk rasa nasionalisme pun negara kami harus menghabiskan berjuta-juta ringgit, agar anak-anak muda kami mempunyai rasa memiliki yang tinggi terhadap negara kami...walaupun kami sudah merdeka 52 tahun..tapi bagi kami semangat nasionalisme dan integrasi antar ras tetap menjadi masalah yang utama...kami belum merasakan sepenuhnya bahwa bahasa mellayu telah menjadi bahasa nasionalisme bagi kami....kami tidak punya persatuan yang kuat dinegara kami sendiri seperti halnya di indonesia”, tambah wan hafiz yang semakin menatap mella dengan tatapan kosong seolah-olah hidupnya akan berakhir ketika mella harus pergi meninggalkan dirinya sebatang kara di tanah mellayu itu.
“Tidak hanya itu, kami juga iri dengan semangat anak-anak Indonesia yang sedang belajar di luar negeri. Walaupun mereka belajar jauh dari negeri asalnya tetapi mereka masih mau memberikan kontribusi terhadap tanah kelahirannya. ..seperti radioppidunia. ..dengan radio itu semua suara mahasiswa indonesia di luar negeri dapat dikoordinir dan diakomodir dengan baik demi kemajuan bangsa indonesia yang lebih baik...sedangkan kami ?? tidak pernah kami dengar mahasiswa malaysia yang mempunyai semangat juang yang tinggi untuk negaranya... apalagi untuk mendirikan radio”, tambah Wan hafiz yang semakin bingung dan baru sekali melihat perempuan indonesia marah setengah mati seperti rodeo kehilangan kendali atas bantengnya dan kemudian panik.
“Mungkin kalau tidak ada radio...aku tak akan mengenalmu mella...karena aku tertarik dengan mu pertama kali mellalui bahasa dan suara mu...”, goda Wan hafiz ditengah amarah mella seperti si jago merah yang tengah mellahap kayu-kayu kering hutan kalimantan di tengah musim kemarau.
“Memang ada apa dengan bahasamu...?”, tanya mella yang nadanya masih terdengar ketus.
“Bahasa indonesia nampak lebih gentleman, tegas, dan penuh dengan warna-warni. ..kami semua keranjingan dengan bahasa dan musik-musik yang dilantukan oleh band-band indonesia... karena telinga kami sudah dipenuhi dewa, gigi, letto, ungu, padi...dan bahkan sampai dangdut sekaligus”. jawabnya yang diiringi dengan keringat dingin mulai membasahi pundak dan mengalir ke seluruh punggungnya.
mella masih tetap diam dan menerawang jauh ke langit yang nampak sedikit ditaburi bintang-bintang malam itu. Bulan seolah-olah enggan menampakan dirinya di hamparan langit hitam yang sudah membalut semenanjung malaysia saat itu. mella masih nampak tak mau menanggapi segala lantunan kata wan hafiz yang seolah nampak seperti sampah di mata mella.
“Tak hanya itu mella...kami juga punya permasalahan yang krusial dari segi gender...jumlah laki-laki yang gentle jumlahnya tak sebanding dengan jumlah perempuan... coba kamu lihat di universitas- universitas top..kantor- kantor..kebanyak an dihuni oleh perempuan... karena lelaki gentle nya sebagian sudah dilahap oleh budaya pondan (banci) yang seolah-olah sudah menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat kami baik di universitas di kantor-kantor dan instansi-instansi penting lainya”, tambah Wan hafiz yang masih berharap agar mella dapat kembali ke pangkuannya.
“Tapi pemerintahan kamu tidak fair dalam memberikan informasi mellalui medianya ketika memberitakan orang-orang indonesia yang selalu di gambarkan sebagai orang- orang yang sangat miskin dan minta-minta serta menjadi budak di malaysia.... .kamu pikir apa aku ini wannnnnnnnnnnnnnnnn nnnnn....”, hentak mella yang mencoba membuat wan hafiz makin terpojok dan tak terasa jilbabnya kini basah kuyup karena seluruh peluh telah keluar dari segal pori-pori kulitnya yang dipompa oleh nafsu angkara murka yang sedari tadi tak mau turun walaupun hanya 0.01 mm.
“Kami sekarang memang merasa seperti katak yang mati dalam tempurung atau seperti ayam yang mati di dalam kandang yang penuh dengan makanan...semua memang selalu disediakan oleh pemerintah.. .mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga biaya santunan pernikahan.. .tapi kebebasan bersuara tidak pernah kami dapati...semua media kami di kontrol oleh pemerintah.. jadi apa yang keluar harus sesuai dengan isi perut pemerintah kami..kami tidak punya kuasa untuk memberikan informasi yang benar dan objektif...keadaan kami persis seperti zaman indonesia dibawah kuku besi soeharto...kami memang terkadang sangat iri dengan bangsa indonesia yang mempunyai kebebasan yang sangat luar biasa baik dalam radio, tv,koran, majalah dan lain-lain serta bebas untuk mengungkapkan apa saja sesuai dengan apa yang mereka pikirkan...tapi juga saya nampak orang indonesia terlalu mudah terprovokasi oleh media-media yang hanya mementingkan kepuasan dan keuntungan sesaat dengan mem blow up berita-berita yang dapat memecahkan persatuan antara indonesia dan malaysia”, sambung wan hafiz yang mengambil jeda sambil menelan air liurnya.
“Yah contoh nya hubungan kita ini mel...semuanya jadi berantakannnn. ....”, kini pria mellayu itu berubah seperti air terjun niagara di kanada. Matanya deras mengeluarkan air mata yang sudah tak sanggup lagi untuk menjelaskan semuanya kepada mella sang wanita indonesia yang selama ini selalu hinggap dan berbagi perasaan suka maupun duka. Wan hafiz teringat akan perkataan teman-teman mella yang selalu mengenal sosok mella sebagai seorang wanita yang berpendirian teguh dan pantang mencabut kata-katanya jika itu telah keluar. Wan hafiz semakin kehilangan pegangan hidupnya seperti kapal yang berada di tengah lautan tanpa jangkar karena masih tetap terngiang-ngiang di benaknya ketika mella berteriak sekencang-kencangny a hingga merubah volume air dalam kolam yang ada di dekat mereka “pokoknya aku minta putussssss.. ......... ...”.
mella masih tetap tertegun bisu persis seperti patung liberty yang nampak dari pelbagai belahan kota New York. mella pun mulai meresapi kata-kata Wan hafiz dan seribu penyesalan mulai datang silih berganti dan menghampiri setiap memori- memori yang pernah terjalin diantara mereka berdua. mella merasa gengsi untuk mencabut kembali kata-katanya, sesak di dalam dada semakin menjadi-jadi akan kata-kata yang terlontar dan luapan emosi yang tak terkendali.
Malam semakin larut, bulan semakin bergeser meninggalkan sang malam. Bintang-bintang masih tetap tergantung diawan tinggi yang cahayanya menjadi saksi keruntuhan hubungan mereka berdua. Seiring dengan waktu yang hendak menampakan pagi, rintik-rintik hujan mulai turun. Suara-suara jangkrik merambat disetiap tembok-tembok dan rumput-rumput yang mereka pijak saat itu. mella masih merasa gengsi untuk mencabut kata-katanya, Wan hafiz semakin larut dalam kesedihan yang mendalam dan tetap digelayuti ribuan-ribuan memori indah bersama mella. Segenap perkataan terbesit dalam hati.
“Andai saja tak ada paspor antara negaraku dan negaramu,mungkin semuanya tak akan seperti ini dan tak akan ada penyesalan yang mendalam dihatiku”, gumam mella dalam hati.
Malam hanya bisa membisu, emosi tetap membekas di dalam kalbu, langit mulai menumpahkan air agak sedikit deras, dan volume air dalam kolam mulai bertambah. Malam minggu yang kelabu telah menjadi sejarah yang tak pernah terlupakan dan semakin menambah deretan-deretan sejarah kelam asmara mella bersama pria-pria semenanjung malaysia.
Malam ini mella tak kuasa menahan perasaanya yang campur aduk persis seperti semen yang diaduk-aduk oleh tukang bangunan untuk mengecor (menambal) atap-atap rumah yang bolong. mella sangat termasyhur dikalangan teman-temanya sebagai wanita yang sabar dalam masalah asmara dan tentunya juga sangat berprinsip. Ia kini teringat kembali ketika pertama kali mengikat janji dengan seorang lelaki mellayu bernama Wan hafiz yang ia jumpai ketika sedang membeli sayu di pasar chow kit.
"Abang...abang serius kah...sayang sama mella...?", tanya mella yang sedikit ragu-ragu sebelum menerima cinta Wan hafiz.
"Abang serius la mella...abang suka sangat dengan cewe-cewe indon..eh indonesia", jawab Wan hafiz dengan logat mellayunya yang kental.
“Abang serius kan mau menjalin hubungan sama mella...?”, tanya mella untuk memastikan lagi.
“Iya serius...bahkan abang mau bawa mella ke pelaminan...”, tegas Wan hafiz sambil memastikan belahan hatinya.
mella-pun menerima permohonan sang pria mellayu yang selalu hobi minum teh tarik dan satu buah roti canay setiap paginya. mella memang dikenal dikalangan PPI-Malaysia sebagai seorang wanita yang sangat teguh ketika mengatakan sesuatu dan pantang baginya untuk menarik kata-katanya yang sudah keluar, bagaikan menelan air liur sendiri yang sudah diludahkan.
“Hmhm...ok la bang...kalau abang memang serius dengan mella...mella juga mau la, jadi girl friend abang”, jawab mella sambil tersipu-sipu malu dan seolah-olah dunia ini milik mereka berdua dan serasa orang lain pada ngontrak. Wan hafiz kini resmi menjadi pria ke-15 yang bertengger di hati mella, semenjak ia menginjak semenanjung Malaysia lebih dari 3 tahun yang lalu. Bukan mella namanya jika ia tidak terkenal di kalangan PPI-Se Malaysia sebagai seorang wanita indonesia yang kisah cintanya selalu kandas dengan pria-pria mellayu. Kendati putus sambungnya hubungan asmara mella bak air laut yang pasang surut, mella adalah sesosok wanita yang terkenal sabar dan mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi. Bahkan pernah suatu kali salah satu orang tua dari belasan mantan kekasihnya itu mengangkatnya setinggi menara Al-burj di dubai, sebagai menara tertinggi di dunia, dengan seketika juga meghempasnya sampai menembus lapisan tanah.
“mella kamu catik deh....”, puji sang orang tua mantan ke kasihnya yang ke 11.
“Terima kasih mak cik....”, jawab mella sambil tersipu-sipu malu, ditambah dengan muka yang mulai memerah seperti jambu bol.
“Tapi....”, sang mak cik mulai ragu-ragu mellanjutkan kalimatnya.
“Tapi apa mak cik ??”, jawab mella yang sedikit penasaran dan agak mendesak.
“Tapi sayang kamu Indon...”, jawaban sang mak cik bak menghempas mella tanpa parasut dari ketinggian menara Burj yang tingginya hingga satu kilometer.
Tapi itu dulu, sebelum menjalin hubungan dengan Wan hafiz yang membuat mella mabuk kepayang sampai lupa cuci baju dan bersihkan kost-an yang terkadang sudah dihuni kecoa dan tikus-tikus dari tetangga sebelah.
Tanpa angin tanpa badai, tiba-tiba kini suasana berubah, iya...berubah drastis, 180 derajat. mella berubah seperti singa betina yang belum makan selama dua bulan dan tengah melindungi anaknya dari gangguan predator.
“Wan....pokoknya aku minta putussssss sekarang juga....putussss. ..putuss. ....”,pinta mella dengan muka memerah seperti bara api yang dibakar dalam tungku.
“Kenapa mella...sayang ku ?”, tanya wan hafiz dengan keheranan.
“Pokoknya aku mau putus....hubungan kita sampai disini saja...cukup. ...”, mella yang kembali nampak makin menggila dan hampir-hampir tak sadarkan diri.
“Iya tapi tolong jelaskan dulu apa alasanya mella...?”, tanya wan hafiz yang mukanya nampak makin panik bak diseruduk ikan hiu ketika berselancar di pulau Lombok.
“Enak saja...negaramu itu lo..sudah habis menginjak-nginjak negaraku...memangny a kamu pikir negaraku tidak punya harga diri apa...???”, hardik mella yang semakin memuncak kemarahanya sekaligus membuat air mancur takut untuk menyemprotkan air ke udara setelah mendengar ledakan suara mella yang hampir merobek atmosfir di sekitar kuala lumpur.
“Pokoknya mulai detik ini aku mau hubungan kita putus ....jangan kamu panggil lagi aku sayang....titik. ..”, deklarasi mella yang semakin membuatnya terkenal dikalangan para mahasiswa indonesia di Malaysia sebagai sesosok wanita yang pantang untuk mencabut kata-katanya.
“mella....tolong la mella....jangan kamu campur adukan cinta kita dengan negara kita yang tengah begaduh...karena tidak ada hubunganya antara asmara kita dan negara kita”, pinta Wan hafiz yang seolah-olah siap menjadi anggota Persatuan Lelaki di bawak Ketiak Istri.
“Tidak ada bagiku yang namanya cinta jika tanpa penghargaan terhadap negaraku...cintaku terbentuk karena adanya negaraku sebagai tempat mengasah segala asa dan angan-anganku tentang cinta...negaramu makin kurang ajar...seenaknya menginjak-nginjak negaraku...apa karena negaraku miskin...?.. .kamu mau sombong dengan twin tower mu itu ah....???”, mella yang nampak semakin beringas ditambah lagi dengan gaya tolak pinggangnya persis seperti model iklan jamu pegel linu.
“Apa yang harus kami sombongkan mel..??...orang- orang mellayu seperti kami ini adalah hanya orang-orang pendatang dan tak lebih dari itu semua...penduduk asli semenanjung mellayu ini adalah orang pedalaman yang tinggal di hutan-hutan dan biasanya disebut dengan orang ASLI...mungkin sama dengan suku dayak yang ada di kalimantan.. ..nenek moyang kami bukan dari keturunan orang-orang ASLI itu mel...tapi nenek moyang kami dulunya berasal dari Indonesia dan kemudian merantau ke negeri mellayu ini...hingga mereka tak pernah lagi kembali ke tanah airnya dan lupa untuk mengajarkan tentang sejarah dan asal usul kami...contohnya seperti aku ini mel....kakek- ku orang aceh dan nenek ku orang bawean”, suaranya makin lembut dan dari binar matanya nampak usahanya begitu keras untuk membucuk mella, sekeras usaha mella agar angka-angka di timbangan tak terus menanjak setiap minggunya.
Semilir angin datang silih berganti menghembuskan suara-suara jangkrik yang sesekali terdengar dari dalam lubang got yang berada disekitar tempat duduk mereka berdua. Cahaya yang jatuh diantara mereka berdua sudah tak nampak lagi romantis. Cahaya bulan mulai redup-redam. Degup jantung mella terdengar kencang seperti genderang perang yang ditabuhkan kerajaan mongol ketika memporak-porandakan kota Bagdad, Irak. Kini Yang ada hanya kemarahan dan emosi mella yang semakin memuncak dan terus memuncak.
“Negaramu kurang ajar... mengklaim bahwa budaya negaraku adalah budayamu juga...kamu pikir dengan krisis ekonomi yang mellanda negaraku, kamu bisa seenaknya membeli dan merampas kebudayaanku, ah...?”, suara mella semakin meninggi persis seperti naik 4 oktaf dalam tangga nada musik berbirama 4/4.
“mella....disini ngga ada orang mellayu...yang ada disini adalah orang jawa...orang minang...orang aceh...orang bugis...orang bawean..orang madura...dan lain-lainya. ...kami sulit sekali untuk memperkuat identitas kami sebagai kaum pendatang diantara ras lainya seperti India dan cina...karena kakek dan nenek kami asalnya dari indonesia, maka budaya kakek-nenek moyang kami itulah yang kami gunakan dan lestarikan sampai sekarang...seperti batik, tari pendet, angklung dan lain-lain... karena kami memang tidak punya budaya lagi untuk menunjukan identitas kami sebagai seorang manusia....hanya saja kesalahan nenek moyang kami setelah berhijrah kesini dan juga pemerintah kami, mereka tidak pernah mengajarkan tentang sejarah asal-usul kami, sehingga kami lupa akan akar kami dan tidak tahu siapa kami sebenarnya”, jelas Wan hafiz yang nampak sudut matanya mulai berkaca-kaca karena melihat kepergian mella sudah diambang pintu.
mella pun hanya bisa diam, membisu seribu bahasa, dan bibirnya tertutup rapat serapat penjara alcatraz yang terletak di sebuah pulau bagian San fransisco. Sesak dada mella masih belum kembali normal. Gencatan emosi dan urat-urat saraf yang semakin menegang membuat mella semakin kalap. Ia semakin tak peduli dengan kata-kata Wan hafiz yang selalu setia menemaninya di kala kesunyian dan kesepian datang menghampirinya. Kebaikan pria mellayu itu seolah-olah tak pernah membekas sedikit pun di dalam hidup mella yang telah terkikis oleh semangat nasionalisme yang semakin membabi-buta.
“Alah...pokoknya aku ingin membela nasionalismeku. ..karena aku orang indonesia”, ungkap mella yang semakin hilang kendali dan suaranya semakin lantang persis selantang suara orang yang membacakan UUD 45 di upacara-upacara kenegaraan.
“Mella.....”, ucap Wan hafiz yang tak terasa kelopak matanya mulai meneteskan air mata yang sedari tadi hendak tumpah dan kini ia sudah tak kuasa lagi untuk membendungnya.
“Kami sangat iri sebenarnya dengan orang-orang indonesia, terlebih dengan anak-anak muda indonesia yang mempuyai semangat nasionalisme yang tinggi dan kreatifitas yang tidak terbatas”,ungkapnya sambil meminta mella untuk menatap matanya dalam-dalam seperti para pencopet kelas teri yang mau menghipnotis sebelum menggasak dompet si korban.
“Coba duduk sini mella....”, pinta Wan hafiz yang diacuhkan mella sambil menatap pohon-pohon rindang yang nampak di goda oleh semilir-semilir angin yang berhembus malam itu.
“Coba lihat...ketika terjadi kasus ambalat antara indonesia dan malaysia..ribuan orang di indonesia sudah siap untuk mendaftarkan diri menjadi pasukan rela mati demi membela tanah air mereka...sedangkan kami...tidak ada seorang pun yang rela mengorbankan nyawanya untuk tanah airnya...bahkan demi memupuk rasa nasionalisme pun negara kami harus menghabiskan berjuta-juta ringgit, agar anak-anak muda kami mempunyai rasa memiliki yang tinggi terhadap negara kami...walaupun kami sudah merdeka 52 tahun..tapi bagi kami semangat nasionalisme dan integrasi antar ras tetap menjadi masalah yang utama...kami belum merasakan sepenuhnya bahwa bahasa mellayu telah menjadi bahasa nasionalisme bagi kami....kami tidak punya persatuan yang kuat dinegara kami sendiri seperti halnya di indonesia”, tambah wan hafiz yang semakin menatap mella dengan tatapan kosong seolah-olah hidupnya akan berakhir ketika mella harus pergi meninggalkan dirinya sebatang kara di tanah mellayu itu.
“Tidak hanya itu, kami juga iri dengan semangat anak-anak Indonesia yang sedang belajar di luar negeri. Walaupun mereka belajar jauh dari negeri asalnya tetapi mereka masih mau memberikan kontribusi terhadap tanah kelahirannya. ..seperti radioppidunia. ..dengan radio itu semua suara mahasiswa indonesia di luar negeri dapat dikoordinir dan diakomodir dengan baik demi kemajuan bangsa indonesia yang lebih baik...sedangkan kami ?? tidak pernah kami dengar mahasiswa malaysia yang mempunyai semangat juang yang tinggi untuk negaranya... apalagi untuk mendirikan radio”, tambah Wan hafiz yang semakin bingung dan baru sekali melihat perempuan indonesia marah setengah mati seperti rodeo kehilangan kendali atas bantengnya dan kemudian panik.
“Mungkin kalau tidak ada radio...aku tak akan mengenalmu mella...karena aku tertarik dengan mu pertama kali mellalui bahasa dan suara mu...”, goda Wan hafiz ditengah amarah mella seperti si jago merah yang tengah mellahap kayu-kayu kering hutan kalimantan di tengah musim kemarau.
“Memang ada apa dengan bahasamu...?”, tanya mella yang nadanya masih terdengar ketus.
“Bahasa indonesia nampak lebih gentleman, tegas, dan penuh dengan warna-warni. ..kami semua keranjingan dengan bahasa dan musik-musik yang dilantukan oleh band-band indonesia... karena telinga kami sudah dipenuhi dewa, gigi, letto, ungu, padi...dan bahkan sampai dangdut sekaligus”. jawabnya yang diiringi dengan keringat dingin mulai membasahi pundak dan mengalir ke seluruh punggungnya.
mella masih tetap diam dan menerawang jauh ke langit yang nampak sedikit ditaburi bintang-bintang malam itu. Bulan seolah-olah enggan menampakan dirinya di hamparan langit hitam yang sudah membalut semenanjung malaysia saat itu. mella masih nampak tak mau menanggapi segala lantunan kata wan hafiz yang seolah nampak seperti sampah di mata mella.
“Tak hanya itu mella...kami juga punya permasalahan yang krusial dari segi gender...jumlah laki-laki yang gentle jumlahnya tak sebanding dengan jumlah perempuan... coba kamu lihat di universitas- universitas top..kantor- kantor..kebanyak an dihuni oleh perempuan... karena lelaki gentle nya sebagian sudah dilahap oleh budaya pondan (banci) yang seolah-olah sudah menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat kami baik di universitas di kantor-kantor dan instansi-instansi penting lainya”, tambah Wan hafiz yang masih berharap agar mella dapat kembali ke pangkuannya.
“Tapi pemerintahan kamu tidak fair dalam memberikan informasi mellalui medianya ketika memberitakan orang-orang indonesia yang selalu di gambarkan sebagai orang- orang yang sangat miskin dan minta-minta serta menjadi budak di malaysia.... .kamu pikir apa aku ini wannnnnnnnnnnnnnnnn nnnnn....”, hentak mella yang mencoba membuat wan hafiz makin terpojok dan tak terasa jilbabnya kini basah kuyup karena seluruh peluh telah keluar dari segal pori-pori kulitnya yang dipompa oleh nafsu angkara murka yang sedari tadi tak mau turun walaupun hanya 0.01 mm.
“Kami sekarang memang merasa seperti katak yang mati dalam tempurung atau seperti ayam yang mati di dalam kandang yang penuh dengan makanan...semua memang selalu disediakan oleh pemerintah.. .mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga biaya santunan pernikahan.. .tapi kebebasan bersuara tidak pernah kami dapati...semua media kami di kontrol oleh pemerintah.. jadi apa yang keluar harus sesuai dengan isi perut pemerintah kami..kami tidak punya kuasa untuk memberikan informasi yang benar dan objektif...keadaan kami persis seperti zaman indonesia dibawah kuku besi soeharto...kami memang terkadang sangat iri dengan bangsa indonesia yang mempunyai kebebasan yang sangat luar biasa baik dalam radio, tv,koran, majalah dan lain-lain serta bebas untuk mengungkapkan apa saja sesuai dengan apa yang mereka pikirkan...tapi juga saya nampak orang indonesia terlalu mudah terprovokasi oleh media-media yang hanya mementingkan kepuasan dan keuntungan sesaat dengan mem blow up berita-berita yang dapat memecahkan persatuan antara indonesia dan malaysia”, sambung wan hafiz yang mengambil jeda sambil menelan air liurnya.
“Yah contoh nya hubungan kita ini mel...semuanya jadi berantakannnn. ....”, kini pria mellayu itu berubah seperti air terjun niagara di kanada. Matanya deras mengeluarkan air mata yang sudah tak sanggup lagi untuk menjelaskan semuanya kepada mella sang wanita indonesia yang selama ini selalu hinggap dan berbagi perasaan suka maupun duka. Wan hafiz teringat akan perkataan teman-teman mella yang selalu mengenal sosok mella sebagai seorang wanita yang berpendirian teguh dan pantang mencabut kata-katanya jika itu telah keluar. Wan hafiz semakin kehilangan pegangan hidupnya seperti kapal yang berada di tengah lautan tanpa jangkar karena masih tetap terngiang-ngiang di benaknya ketika mella berteriak sekencang-kencangny a hingga merubah volume air dalam kolam yang ada di dekat mereka “pokoknya aku minta putussssss.. ......... ...”.
mella masih tetap tertegun bisu persis seperti patung liberty yang nampak dari pelbagai belahan kota New York. mella pun mulai meresapi kata-kata Wan hafiz dan seribu penyesalan mulai datang silih berganti dan menghampiri setiap memori- memori yang pernah terjalin diantara mereka berdua. mella merasa gengsi untuk mencabut kembali kata-katanya, sesak di dalam dada semakin menjadi-jadi akan kata-kata yang terlontar dan luapan emosi yang tak terkendali.
Malam semakin larut, bulan semakin bergeser meninggalkan sang malam. Bintang-bintang masih tetap tergantung diawan tinggi yang cahayanya menjadi saksi keruntuhan hubungan mereka berdua. Seiring dengan waktu yang hendak menampakan pagi, rintik-rintik hujan mulai turun. Suara-suara jangkrik merambat disetiap tembok-tembok dan rumput-rumput yang mereka pijak saat itu. mella masih merasa gengsi untuk mencabut kata-katanya, Wan hafiz semakin larut dalam kesedihan yang mendalam dan tetap digelayuti ribuan-ribuan memori indah bersama mella. Segenap perkataan terbesit dalam hati.
“Andai saja tak ada paspor antara negaraku dan negaramu,mungkin semuanya tak akan seperti ini dan tak akan ada penyesalan yang mendalam dihatiku”, gumam mella dalam hati.
Malam hanya bisa membisu, emosi tetap membekas di dalam kalbu, langit mulai menumpahkan air agak sedikit deras, dan volume air dalam kolam mulai bertambah. Malam minggu yang kelabu telah menjadi sejarah yang tak pernah terlupakan dan semakin menambah deretan-deretan sejarah kelam asmara mella bersama pria-pria semenanjung malaysia.
Tuesday, September 1, 2009
Benih-benih cinta di radioppidunia

Musim panas telah tiba dengan membawa berbagai macam parade dan romantisme yang berbeda di belahan bumi bagian eropa. Den haag seakan berubah menjadi kanvas putih yang dilukis oleh almarhum Affandi dan penuh dengan warna-warni bunga tulip yang memberikan nuansa elegan bagi siapapun yang singgah ke pusat kota pemerintahan ratu Betrix ini. Mulai dari seniman hingga ilmuwan turun ke jalan untuk sekedar menikmati minuman dan makanan yang beragam di setiap penjuru kota. Pantai scheveningen mulai dipadati wisatawan lokal dan mancanegara, berbagai macam stall makanan tersedia di hamparan pasir putih yang nampak seperti berlian-berlian langka. Macam-macam festival digelar di pinggir-pinggir jalan. Tua-muda, pria-wanita, semua tumpah kejalan untuk sekedar menikmati hangatnya mentari yang memancar menyinari tembok-tembok tua musium abad pertengahan yang semakin memberikan aroma berbeda bagi para penikmat seni dan sejarah.
Liburan 3 bulan kali ini tak ingin dilewatkan dilla begitu saja tanpa menjadi pengunjung setia musium Mauritshuis (Mauritshuis royal picture gallery) yang telah berdiri semenjak abad ke 17. Jarak antara tempat tinggal dan musium bukanlah halangan baginya untuk selalu mengunjungi musium yang penuh dengan koleksi-koleksi lukisan antik ini, paling tidak 3 kali dalam seminggu. Ber-ongkoskan otot-otot betis telah menjadi bagian hidup dilla yang telah terasah semenjak menempuh sekolah dasar di Sulawesi. Tak heran jika banyak cowo-cowo ganteng eropa dan asia tengah terpesona akan betisnya yang nampak seperti striker-striker andalan Manchester United yang sangat menjadi idola DJ ado yang kini tersesat di Inggris.
Dari seberang sana suara seorang penyiar muda berbakat mulai mengisi ruang dengar wanita berkulit hitam manis ini melalui ipod model terbarunya yang hampir 24 jam menancap di telinganya, “halo sobatradioppidunia..., suara anak bangsa satu cinta, satu Indonesia...Para sobatradioppidunia ngga perlu khawatir dan beranjak kemana-mana... karena aga masih tetap setia menemani para sobatradioppidunia semua dalam 3 jam ke depan dengan.... tembang-tembang campur sari tentunya langsung dari New Zealand...”, yang langsung disambung dengan sebuah tembang alternatif rok campur sari yang bisa membuat jempol siapapun bergoyang sampai 100 kali.
Dibawah terik matahari tapak-tapak kaki dilla semakin keras dan jelas menuju musium tua yang menyimpan banyak ratusan lukisan-lukisan unik dan juga antik. Di tengah hentakan-hentakan tumit yang manis, ringtone pun menjerit-jerit sebuah tanda satu pesan telah masuk: "Aku udah di depan musim Mauritshuis dill...tertanda BYAN".
Dilla terperanjat dengan kehadiran byan yang tanpa angin tanpa petir tiba-tiba nongol di negeri kincir angin. Apa mungkin dia terbawa kincir angin korea waktu menanam gingseng di korea ? atau mungkin dia kesini ingin belajar kincir angin ? atau mungkin dia ingin bertemu meity ? atau mungkin ingin bertemu kekasih meity ? atau mungkin ingin bertemu indri ? atau mungkin ingin bertemu kekasih indri ? atau mugkin mau ketemu dilla? atau dia ingin memasarkan ginseng langsung dari korea untuk komunitas orang-orang indonesia di Belanda?, beribu pertanyaan melingkar-lingkar di kepada dilla seakan-akan tak ada habisnya.
Dari kejauhan nampak seorang pria yang sudah basah kuyup karena keringat yang membalur seluruh tubuhnya mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tak lagi nampak potongan sebagai pria elegan dan eksekutif masa kini. Dilla semakin mendekat....semakin deg-degan...semakin gugup...semakin penasaran...semakin ingin tahu....wajah pria itu semakin asing...semakin tampak lesu...kehausan..kelaparan..wajahnya pucat pasi...semakin kasihan dilla melihatnya...Tapi dilla mengenali sebuah topi kumal yang dikenakanya dengan warna yang sudah semakin pudar, iya...dilla semakin kenal dengan topinya yang kucel, warnanya pudar, ada sedikit sobekan tepat di bagian depan yang menutupi dahinya.
“Byannnnnnnnn....", teriak dilla sekencang-kencangnya hampir memutuskan urat leher dan menembus tembok-tembok gedung parlemen yang berada persis di sebelah musium Mauritshuis.
"Byan yang penyiar di radioppidunia itu kan...? yang suka ngunyah gingseng kalo lagi siaran...?", tanya dilla untuk menkonfirmasi dan masih tidak percaya kalo byan benar-benar ada di Belanda.
"Iya betul dill...", jawab byan dengan lesu karena kehausan.
Tanpa pikir panjang dilla yang sangat kasihan pada byan langsung membawanya ke Museum café De Braziliaan, sebuah kafe di dalam musium yang penuh dengan nuansa seni klasik abad ke 18 ditambah dengan khas kopi brazil yang membuat siapapun ingin sekali menengguknya. Byan nampak takjub dengan design interior yang dibuat di dalam kafe sederhana ini tapi memberikan nuansa yang berbeda yang seakan bisa membuat orang yang sedang minum ginseng serasa sedang minum ice cream. Tak lama kemudian, meity dan indri juga sampai di Museum café De Braziliaan langsung dari amsterdam. Wajah dua orang ABG ini pun nampak berseri-seri seperti permukan danau Hofvijver yang memantulkan cahaya mentari yang jatuh ke atas air. Kehadiran tiga bidadari cantik ini pun membuat jiwa byan sedikit tenang bak danau Hofvijver yang memberikan kedamaian dipagi hari bagi siapapun yang datang untuk melihatnya.
"Aku suka bangunan disini, terlebih lukisan-lukisanya", mata byan kembali menggerayangi setiap sudut kafe dan musium.
"Oh iya...karena disini bukan hanya sekedar lukisan...tapi lukisan yang mengandung makna-makna kehidupan...karena lukisan adalah sebuah refleksi dari situasi lingkungan sosial pada saat sang pelukis menorehkan kuasnya di atas kanvas", balas dilla yang mulai menjelaskan makna-makna filosofis sebuah lukisan.
Gelas-gelas bening tertata rapi diseluruh etalase-etalase kafe. Para waitress berambut pirang tidak bosan-bosannya melemparkan senyum gratis kepada semua pengunjung musium. Byan semakin terheran-heran melihat makhluk cantik yang ada di negeri kanal ini. Byan merasa jengkel kenapa wanita-wanita cantik bagai boneka barbie itu tak melempar senyum padanya bahkan hanya membelakanginnya saja. Nasib punya muka asia...Byan takjub...fantasinya melayang-malayang...karena di korea yang ada hanya wanita-wanita asia yang kalau melotot seperti orang normal yang sedang melihat.
"Byan kamu kok bisa nyampe sini sih...???", tanya meity yang tiba-tiba memecah lamunan byan yang sudah terlalu jauh menerawang bersama boneka "barbie" nya.
"Aku kesini mau ketemu dengan meita.....", jawab byan.
"Meita apa meity....?", goda indri sambil coba meyakinkan jangan-jangan byan salah sebut nama karena grogi di depan meity
"Meit...meit...meit..a deh kayaknya", jawab byan sedikit ragu-ragu.
"Ah yang bener nih...."Y" apa "A" ?, tanya dilla yang coba meyakinkan lagi.
"Atau mungkin dua-duanya, jadi "ya" mau yang "y" ", sambung indri sambil melirik ke arah meity dengan wajah yang mulai memerah dan tak berani menatap byan seakan seperti wanita yang malu-malu untuk minta dilamar pake satu sisir pisang ambon dan satu buah gedebong pisang.
"Guys...aku mau tanya sama kalian, mungkin ngga sih kalo dua orang manusia yang belum pernah ketemu tetapi mereka bisa saling suka sama suka....?", tanya byan pada tiga bidadari kahyangan yang baru jatuh dari langit.
"Maksud looooohhh....... ????", serentak mereka bertiga kompak.
"Iya...mungkin ngga sih, akan ada perasaan dan getaran yang berbeda jika dua orang manusia, cowo dan cewe, yang hanya selalu berhubungan lewat skype atau YM, tapi mereka bisa saling suka sama suka ?", jelas byan yang semakin berharap ada salah satu diantara mereka menjawab pertanyaanya.
"Hmhm..bisa ia...bisa ngga...?", jawab dilla yang hanya sedikit dan nampak suka 'menggantung' cowo-cowo.
"Maksud looooohhh....... ????", tanya byan yang semakin penasaran dan dihantui oleh bayang-bayang meita sebagai pendengar setia radioppidunia, terlebih-lebih ketika byan sedang siaran.
"Yah... itu tergantung usaha kamu", jawab dilla yang agak mulai spesifik kepada byan dan masih tetap menggantung.
Indri mulai mengeluarkan ipod model terbarunya yang di loud speaker-kan agar bisa mendengarkan siaran di radioppidunia saat itu. Belum lagi sempat dilla menjawab dengan tuntas tiba-tiba suara seorang penyiar radioppidunia mulai masuk, “halo....sobatradioppidunia..itu dia tadi satu tembang campur sari yang yahud banget...yang udah di rekuest sama... meita dari belanda yang katanya di peruntukan untuk dj byan yang lagi menuju belanda”, suara dj aga mulai masuk dan menyetuh setiap sudut-sudut kafe dan musium. Mendengar nama meita seolah-olah membuat byan hilang ingatan dan tak tau apa yang harus diperbuatnya, tangannya gemetar, penuh keringat dingin, wajahnya berubah pucat pasi, kecepatan detak jantungnya berubah menjadi 45 km/menit, bola matanya hendak keluar, bibirnya mengering, lututnya bergoyang-goyang seperti orang kelelahan abis dangdutan dan persis seperti orang yang sedang mengalami Claustrophobia, penyakit psikologi yang ditandai dengan rasa takut yang tidak normal dialami seseorang ketika dalam ruangan tertutup.
“Sobatradioppidunia...terkadang mungkin kita pernah bingung yah dengan perasaan kita sendiri ...terlebih dengan perasaan cinta yang timbul dengan seseorang yang kita ngga tau banyak siapa orang itu...dan bahkan ngga pernah ketemu dan melihat wajahnya “, sambung dj aga dari seberang sana masih tetap setia menemani para pendengar radioppidunia.
“Kalo menurut kamu gimana sih nest......apa kamu percaya dengan perasaan kamu sendiri nih...kalo tiba-tiba kamu punya getaran yang berbeda dengan orang yang kamu tuh ngga pernah tau dan ketemu...atau bahkan belum pernah melihat sosoknya lewat webcam atau facebook”, tanya dj aga yang lagi siaran antar benua dengan dj Inest.
“Kalo menurut aku sih...sebagai seorang wanita normal yang juga ingin dibelai para pria nih...mungkin aku bingung juga sih yah...apalagi kalo aku belum tau siapa sih tuh orangya...karena aku ngga mau beli beruang dalam karung”, suara dj inest yang langsung mengudara dari jerman dan menembus puing-puing tembok berlin.
“Emangnya kenapa bisa gitu nest...?” tanya dj hilmi yang selalu ngaku-ngaku mirip dengan dj inest supaya dianggap sebagai adik angkatnya.
“Gini lo hilmi adekku sayang....wanita itu memang selalu bilang ngga suka sama cowo gombal...tapi kalo giliran digombalin mereka sebenarnya suka banget...dan makanya ngga aneh...kalo banyak wanita-wanita cantik di dunia ini yang termakan oleh kata-kata manis laki-laki seperti kamu itu lo mi...", yang disambut gelak tawa para dj yang lagi siaran di studio dan pendengar radioppidunia lainya.
"Eitss...tapi jangan salah, bukan berarti bahwa perempuan itu ngga punya pendirian...dan hanyut begitu saja dengan janji-janji manis pria-pria hidung belang", dj inest kembali menambahkan, membela harkat dan martabat kaum wanita yang tentunya selalu disimak oleh Beben, seorang sobatradioppidunia yang tergila-gila dengan dj inest.
“Oh...gituh yah.....memangnya apa sih bukti kalau perempuan itu punya pendirian ?”, suara dj jaya yang tiba-tiba menyelinap langsung dari taiwan menuju berlin.
“Bukti pendirian dan kesetiaan seorang wanita akan nampak jika ia telah menemukan sesuatu dalam dirinya yang telah terpatri di seluruh rongga hati dan membelenggu hingga ke urat nadi", dj inest semakin membuat beben tergila-gila tidak bisa tidur sampai malam jumat kliwon depan.
"Memangnya apa "sesuatu" itu nest ....? sobatradioppidunia semua pastinya juga mau tau dong..., apalagi yang masih pada jomblo", pinta dj hilmi yang paling ahli membentuk "visi" menggaet wanita walaupun belum ada "aksi" nya sekaligus diamini oleh dj jaya sebagai pemerhati wanita-wanita keturunan tiong hoa.
"Wanita perlu kepastian...itu saja...", jawabnya singkat, padat, dan membuat beben semakin menjadi-jadi untuk menempelkan kupingnya ke transistor radio karena makin tergila-gila dengan dj cantik berdarah minang ini.
Kini byan, dilla, meity, dan indri tepat memasuki ruangan bagian selatan musium dan lebih tepatnya di staircase gallery yang penuh dengan berbagai lukisan-lukisan mahal yang tak ternilai harganya dan memiliki harga yang sangat membumbung tinggi hingga langit ke tujuh. Walaupun dilla harus menjual 2 ton ikan pari dari taman laut bunaken dan 362 ekor kambing buntingnya di sulawesi, indri harus menjual 1 ton gula jawa dan 3.6 ton asam jawanya, dan meity 10 ton peuyeum bandungnya....penggabungan hasil penjualan mereka tetap saja tidak akan mampu membeli lukisan-lukisan yang terpampang manis dan magis di dalam musium tua itu....nasib!!!
Lukisan-lukisan tampak menawan dan indah tersusun rapih memberikan nilai-nilai seni yang sangat menyihir. Ubin kayu tampak mengkilat bersih dan memantulkan cahaya pagi yang masuk menerobos melalui jendela yang sedikit terhalang oleh gorden dan menyentuh sudut-sudut bingkai lukisan di dalam staircase gallery. Dinding yang dipoles dengan cat berwarna merah tua dipenuhi dengan karya-karya Johannes Vemmer, Paulus poter, Rembrandt van rijh yang seolah-olah membawa mereka berdialog dengan para pelukis terkenal abad ke 17 hingga 18.
“Coba kamu perhatikan itu byan...lukisan-lukisanya keren banget yah...dilla suka banget deh...dan yang paling dilla suka adalah lukisan dengan judul “view on delft” ”, jiwa-jiwa seni dilla kembali muncul melalui suaranya yang halus hendak melunturkan warna-warna yang tergores di atas kanvas karena tak kuasa menahan halusnya getaran suara yang menyentuh semua lukisan-lukisan di ruangan.
“Ah mana !! ....biasa aja...lukisan tersebut tak lebih dari sebuah kota-kota yang sering aku jumpai di film-film”, sahut byan yang semakin tergila-gila dengan bayangan seorang wanita yang telah me request sebuah lagu untuknya tadi melalui radioppidunia.
“Coba tenang byan....", sambut dilla yang ahli mengaplikasikan ilmu pengetahuan komunikasinya yang didapatkan semenjak kuliah di De Haagse Hogeschool.
“Apanya yang harus tenang...?”suara byan semakin tinggi dan bayangan muka meita semakin menjadi-jadi membakar semua sel-sel dalam tubuhya sampai seolah-olah pankreas dan usus 12 jari byan tak berfungsi dengan seketika.
"Sudah habis semuanya uang beasiswa ku musim panas kali ini aku korbankan demi membeli tiket ke belanda, tapi akhirnya...sampai detik ini aku belum dapat melihat wajah meita", sambung byan yang mulai kehabisan akal untuk mencari meita di iringi dengan wajah iba dilla, meity dan indri.
“Coba bayangkan sama kalian semua yah...nyawaku hampir melayang dalam perjalanan menuju kesini, pesawat yang aku naiki hampir kehabisan aftur yang menyebabkan pesawatku menjadi oleng dan tak tentu arahnya untuk beberapa menit...apalagi yang harus aku korbankan ? aku sudah tak tau lagi...aku ingin menyerah dan enyah dari dunia.....", pinta byan yang yang matanya mulai nampak berkaca-kaca dan juga diiringi tetesan air mata yang tak terasa mengalir dari ketiga wanita cantik yang mencoba untuk menenangkan byan.
“Belum lagi waktu aku sampai di imigrasi...anjing-anjing keparat semuanya mengendusku....seolah-olah aku ini belum mandi satu abad”, tambah byan yang masih teringat jelas di benaknya betapa seram-nya anjing-anjing berwarna hitam sehitam guratan tinta di lukisan Van Gogh.
“Byan......”, suara dilla yang serak-serak becek mencoba menenangkan, setenang laut yang tak pernah terusik oleh riak-riak ombak.
“Memangnya apa yang membuat kamu merasa yakin dengan perasaan kamu kepada meita, sehingga kamu rela terbang dari seoul menuju den haag ?”, tanya dilla yang ingin tau dan sekaligus disimak oleh indri dan meity yang mulai kehabisan tisu untuk menyeka air mata.
“Aku yakin dill..karena aku dan meita selalu chatting setiap kali aku abis siaran....dan kita juga sering sms-an kok tiap hari...tapi aku masih belum tau seperti apa wajahnya...karena belum pernah liat sama sekali”, jawaban byan yang merefleksikan sedikit keragu-raguan dalam benaknya.
"Kita terlalu sering menjadi korban, byan...", ungkap dilla.
"Maksud kamu apa sich dill ?....kalo ngomong yang jelas gitu lohhhh....", tanya byan sambil garuk-garuk kepalanya yang sedikit gatal akibat keringatnya telah mengering.
"Kita sering tidak sadar bahwa kita adalah korban dari pemikiran-pemikiran kita sendiri, sebuah pemikiran yang belum tentu ujung pangkalnya...kita sering gegabah dan terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan akan hal-hal yang ada disekitar kita...karena kita selalu menginginkan semuanya dengan cepat tanpa mau menjalani sebuah proses", jawab dilla yang diamini dengan angguk-anggukan kepala meity dan indri.
"Jika sesuatu itu tercipta dengan instan, maka akan se instan itu pulalah sesuatu itu akan hilang dari genggaman kita", jawaban dilla semakin bijak yang membuat indri dan meity terheran-heran bahwa dilla punya pemikiran se bijak ibu memberikan asi kepada sang bayi.
"Contohnya..?", pinta byan yang mencoba untuk menghilangkan genggaman bayang-bayang wajah meita yang belum tentu benar dari benaknya.
"Kalau kamu menginginkan cinta dengan terburu-buru dan tak ingin menunggu, maka secepat itulah cinta itu akan memburu hati yang lain dan tak ingin menunggu walaupun hanya sedetik di lubuk hatimu", jawab dilla yang berubah menjadi romantis dan juga mulai teringat akan mantan kekasihnya yang sudah menjadi artis pamor dibawah asuhan Ram Punjabi.
“Kepastian itu penting....", sambung dj inest yang kembali mengudara di ruang dengar sobatradioppidunia.
"Karena kita harus memilih....dan hidup adalah sebuah pilihan....memilih bukan berarti ingin menyakiti hati yang lain, tetapi memilih untuk memberi, berbagi, dan mengobati hati nurani yang sedang terperih", kata-kata sakral dj inest membuat gelas yang tengah dipegang beben terpelanting sekian meter karena takjub.
"Tapi bagaimana jika suatu saat kita telah berusaha sebaik mungkin untuk memilih...dan kemudian pilihan itu adalah bukan pilihan yang terbaik ?", tanya dj aga yang doyan dengan cewe-cewe lima tahun lebih tua dan sedang mencoba menentukan pilihannya.
"Kita tidak perlu menyesal atas apa yang kita pilih...karena apa yang kita pilih adalah hal yang terbaik dalam hidup... sesuatu yang tidak baik menurut kita, belum tentu tidak baik menurut yang menciptakan kita, begitu juga sebaliknya sesuatu yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut yang menciptakan kita...karena kita hanya seorang hamba", disambut takjub dan haru oleh dj fachru,dj mela, dj early, dj fajri, dj meira, dj andrew, dj arthur, dj ipon, dj vira, dj renzy, dj icha, dj hadi dan puluhan dj lainya serta ratusan pendengar radioppidunia yang sedang mendengarkan siarang langsung antar benua ini. Tak lupa juga dj boy yang menggeleng-geleng kepalanya sendiri karena merasa terharu dan bangga punya dj cantik dan juga bijak dalam memandang kehidupan. Tepuk tangan yang meriah, langsung dari studio, juga terlontar sebagai tanda salut dari dj aga, dj hilmi, dan dj jaya yang tiba-tiba berganti haluan menjadi pengamat wanita-wanita keturunan minang setelah mendengar jawaban dj inest yang memukau dan penuh dengan nafas-nafas religi.
Suasana air di danau Hofvijver sangat tenang memberikan kedamaian yang berbeda bagi musium Mauritshuis yang sudah berdiri ratusan tahun di atas danau buatan tersebut. Tepat disamping musium, gedung parlemen yang nampak tua tetap berdiri kokoh dengan cat berwarna kecoklat-coklatan yang menyimpan berjuta-juta kenangan tentang kebengisan bangsa belanda di masa silam. Galau hati byan sudah mulai reda setenang air di danau yang nampak dari jendela mungil di musium dan langsung menembus menuju jembatan yang membelah danau dipenuhi dengan pohon-pohon rindang yang makin nampak memberikan kesejukan.
Patma kini harus beranjak meninggalkan kota melbourne, walaupun hanya sejenak tetapi memberikan jutaan warna dan makna yang tak akan pernah terlupakan sepanjang masa. Ia merasa semakin bingung akan perasaannya untuk memilih antara asyik dan hasbi yang selalu mengalir bersama-sama di setiap aliran darahnya yang terpancar ke seluruh tubuh dan terus terasa dalam setiap detik helaan nafas yang membuat patma untuk tetap bertahan. Menentukan pilihan adalah hal yang paling sulit dalam hidupnya untuk saat ini dan lebih sulit daripada turunan rumus-rumus einstein yang membuat nama patma fatoni melejit ke setiap seantero dunia. Asyik dan hasbi mengantar patma ke airport dan memberikan salam perpisahan untuk terakhir kalinya sebelum pesawat dengan kapasitas 1000 orang penumpang membawa wanita yang tengah dilanda gundah gulana ini menuju Moscow.
"Aku masih ada satu pertanyaan untuk kalian semua..iya satu pertanyaan saja...", pinta byan dengan nada yang semakin melankolis kepada dilla, meity, dan indri.
"Iya silahkan byan...kita semua disini akan dengerin kamu kok...dan bantu coba jawab pertanyaan kamu dengan sekuat tenaga yang kita punya...kamu jangan sedih yah byan..kita disini untuk kamu kok....", sambut meity sambil mengusap air mata byan yang menetes menggumpalkan debu-debu di lantai musium, disambut oleh indri yang memberikan rangkulan kehangatan, ditambah dengan genggaman tangan dilla yang memberikan kekuatan ke seluruh urat-urat byan yang telah kendor karena tidak dapat bertemu dengan meita sang wanita yang hanya ada dalam ilusi byan. Byan semakin tak percaya denga dirinya ketika tubuhnya dibalut oleh tiga anak cucu hawa yang membuat detak jantung byan semakin tak menentu dan seakan hendak copot dari rongga dada.
"Apakah aku harus menyesal atas apa yang telah aku pilih walaupun pada akhirnya pilihan tersebut tak sesuai dengan apa yang aku harapkan?", tanya byan untuk terakhir kalinya dan nampak keputus asaan-nya dari guratan-guratan wajahnya yang seolah-olah tak ada lagi secercah harapan dalam hidup.
Ipod indri kini tergeletak di lantai musium karena terlupa sewaktu merangkul byan dengan sekuat-kuatnya dan masih tetap mengeluarkan suara-suara penyiar dj-dj funky radioppidunia. Tepat setelah pertanyaan byan, perhatian mereka semua kini benar-benar tertuju kepada sebuah speaker kecil yang berada di bagian belakang ipod untuk mendengarkan sabda-sabda dj inest yang semakin sakral dan menyihir bagi siapapun yang mendengar.
"Dalam hidup...kita harus memberikan usaha yang terbaik untuk mendapatkan hasil yang terbaik....dan memilih adalah bagian dari usaha yang terbaik...lebih baik kita memilih daripada tidak pernah memilih sama sekali. Karena jika kita mati diantara pilihan-pilihan yang tidak pernah kita pilih, maka kita telah memilih satu hal yang kita ingin selalu pilih agar tidak terpilih", kalimat-kalimat terakhir dj inest yang sekaligus menutup siaran antar benua radioppidunia.
Byan menyeka sisa-sisa air mata yang masih tersisa di kelopak matanya. Menatap terik mentari yang jatuh diatas danau Hofvijver membuatnya semakin sadar akan ilusi-ilusinya yang tak pasti untuk dicari dan hanya akan terpantul kesana-kemari seperti cahaya mentari yang jatuh di atas air laut yang digulung oleh ombak-ombak yang tak menentu. Kata-kata dj inest meresap ke setiap lipatan-lipatan otaknya untuk tidak menyesali atas apa yang telah terjadi. Dengan sedikit tergopoh-gopoh, byan mendapatkan energi baru ketika dilla, meity, dan indri membantu untuk menopangnya untuk melihat masa depan yang cemerlang yang sudah menanti di ujung jalan. Langkah demi langkah mereka ayunkan dan membawa mereka untuk meninggalkan musium tua yang menjadi saksi bisu akan bayang-bayang ilusi seorang manusia. Langit cerah...hembusan angin menggelitik manja..terik matahari mulai sedikit membakar...secercah harapan untuk hidup kembali nampak ketika byan mulai terbakar oleh suara-suara yang bermakna di radioppidunia.
Tetapi di bagian selatan dunia, langit berubah menjadi gumpalan-gumpalan awan hitam di atas kota melbourne, ribuan galon air siap ditumpahkan dari awan mendung yang sudah tak tahan menahan air hujan yang siap membasahi bumi. Rintik-rintik hujan kini mulai menyetuh jendela-jendela pesawat yang siap terbang menuju Rusia. Suasana kelabu menyelimuti kalbu yang seolah enggan untuk beranjak dari melbourne dan ingin kembali walaupun hanya sejenak. Asyik dan hasbi kini sudah tak dapat lagi melihat patma yang sudah masuk ke dalam pesawat, tapi mereka tak henti-hentinya melambai-lambaikan tangan ke arah pesawat patma dimana ia dapat melihat sosok mereka dengan jelas. Karena hati kecil mereka tetap berharap akan sebuah pilihan...pilihan yang akan mati tanpa pernah terpilih. Patma hanya bisa menatap mereka melalui jendela kecil dari dalam pesawat. Tak terasa air mata menetes membasahi jilbab putih yang bersih setelah mendengar kata-kata terakhir dj inest melalui ipod pemberian dari asyik sebagai sebuah tanda mata yang menyimpan beribu luka dan nostalgia. Roda pesawat mulai bergerak perlahan demi perlahan dan waktu tetap berjalan, patma semakin laju terbang bebas meninggalkan kota melbourne menuju angkasa bebas. Percikan-percikan air mata telah membekas di bangku pesawat dan jilbab dan akan tetap menjadi saksi bisu perjalanan hati nurani anak cucu adam dan hawa. Hanya menangis yang patma bisa diatas sejuta penyesalan yang menusuk-nusuk sampai ke ulu hati dan tetap akan terpatri, "andai saja aku memilih...", bisik patma dalam hati nurani.
Subscribe to:
Comments (Atom)