Friday, August 7, 2009

Antara Rendra dan guru TK

Waktu terus bergulir tak terasa semua datang dan pergi,

Seorang anak kecil berdiri untuk pertama kali dalam hidupnya di depan podium dengan selembar puisi ditangannya yang mungil dan harus dibacakan...
Nadanya pelan, mulutnya kering, bibirnya gemetar, mukanya pucat dan seolah-olah malaikat pencabut membelai-belai ubun kepalanya...

Disudut sana... ada sebuah TK yang penuh dengan aneka riang tawa dan senyum anak-anak kecil
Berbagai perlombaan diadakan mulai dari menggambar hingga membaca puisi
Ia mencoba untuk berlatih membawakan puisi ditanganya yang tampak gemetar.

Jari-jemari yang kecil dan tak tau banyak apa yang akan diperbuat, kini basah oleh keringat dingin... ia harus berdiri di depan orang banyak dan melantangkan suaranya. Tapi ia tetap tak mampu melakukannya.

Ia tak mengerti puisi apa dan siapa yang membuatnya. Yang ada hanya ...ia harus membaca dan membacanya...

Anak itu gagal....
Ia lari ketika harus membaca puisi...karena takut...
Waktu tetap bergulir meninggalkan perlombaan kecil-kecilan itu...
Tapi si anak masih tetap teringat “lari” dari kemenangan..ia baru sadar bahwa gurunya lah yang telah membuat puisi tersebut.

I0 tahun lebih... semenjak “keringat basah” sang anak dimuka podium...ia menjadi seorang yang menggilai puisi yang sesekali membawakanya di depan khalayak ramai, atau hanya sekedar mengekspresikan jiwanya yang tak takut lagi pada podium...

Walau kini sang anak tidak teringat wajah “pembuat” puisi untuk pertama kali dalam hidupnya..kini ia ingin kembali mencari dan bertemu denganya sekedar mengucapkan “terima kasih ibu guru...”
Karena “kegagalan” membaca puisi tersebut adalah langkah awal bagi sang anak untuk keranjingan mencitai sastra dan seni...yang tak dapat dipisahkan lagi dari bagian hidupnya...hingga detik ini.

Lambat laun, sang anak tau...bahwa gurunya telah mengenalkan ia pada puisi rendra...iya... puisi yang pertama kali diberikan olehnya untuk dibacakan di depan podium “kegagalan” adalah puisi WS Rendra.

Sang anak terlalu jauh kini untuk digapai...terlalu jauh...terlalu jauh ...untuk dirangkul sang guru dan diberikan lagi buah puisi...

Terima kasih Rendra atas puisinya...selamat jalan...

= Sang anak yang “gagal” dimuka podium =

1 comment:

Indri said...

:)

nice post, bro!;)