Lentik bulu matanya berwarna jingga keemasan. Make-up nya tidak terlalu tebal. Tapi membuatnya tampak semakin manis. Dunia seakan berhenti berputar ketika ia melumat bibirnya yang tipis. Tipis setipis martabak manis yang dijual di pinggir jalan raya salemba, persis di depan Universitas Indonesia. Bayangannya masih terngiang-ngiang di benakku. Terlebih lekuk tubuhnya laik biola buatan Antonio stradivarius. Aku masih duduk di atas kursi berwarna tembaga di sebuah taman yang jarang dikunjungi orang. Retinaku masih menyapu bersih bunga-bunga yang jatuh ke tanah dan terselip di antara rerumputan hijau yang agak basah. Angin sore mulai datang sesekali menampar muka. Aku masih saja tetap termenung di depan tembok yang penuh coretan-coretan pilok anak SMA. Rintik hujan semakin deras jatuh menyentuh tanah. Lembayung mulai menari-nari bersama awan. Mentari mulai tenggelam dan akhirnya hilang di ufuk barat. Hari semakin gelap. Aku masih tertegun. Hampir putus asa.Karena bayanganya pun tak juga hadir. Aku rindu. Iya, rindu sejadi-jadinya akan gerak-gerik bibirnya yang agak sensual seperti bibir kadal.
“Kamu tau ngga sih apa artinya cinta ?”, tiba-tiba sebuah suara parau timbul dari belakang sambil menepuk pundakku. Aku lantas berbalik secepatnya seperti pitung yang hendak menebas kompeni belanda. Tak disangka suara itu mengejutkan aku. Jantungku berdebar kencang. Suaranya halus.
“Hmmh...”, jawabku. Detak jantungku seperti sedang berpacu di arena pacuan kuda. Melihat sosok tubuhnya yang khas seperti biola yang tengah digesek lembut dan agak sedikit menyayat-nyat kalbu. Bola matanya hitam mengkilat seperti habis di semir kiwi. Lentik bulu matanya seolah-olah sanggup menampung bergalon-galon jutaan air hujan yang sebentar lagi akan tumpah.
“Ngga....”, sambungku.
“Cinta itu menunggu”, jawabnya sambil menyelipkan sekuntum bunga edelwais yang ia sematkan diantara rambutku yang sudah sampai ke pundak.
“Maksudmu apa sih? Aku tuh udah nunggu kamu lama banget disini, sampai-sampai hujan udah mau turun lagi”, nadaku menggerutu sambil merasa lega karena sesosok wanita cantik ini berada kembali disisiku. Harapanku kembali lagi hidup. Seperti menemukan oase di gurun sahara.
“Iya..cinta itu menunggu...karena pada dasarnya segala sesuatu itu harus ditunggu..mau makan harus nunggu masak dulu...mau tidur harus nunggu ngantuk dulu...mau pintar harus nunggu belajar dulu...mau mahir belajar bahasa asing harus nunggu latihan dulu...iya menunggu...mau cinta sekalipun yang engkau dambakan harus tetap menunggu perasaaan cinta itu datang”, jawabnya sedikit berorasi tentang cinta dihadapanku.
Aku tak begitu peduli dengan orasi cintanya. Orasi murahan yang tak pernah menyentuh sudut kalbuku. Malam semakin senja. Angin-angin mulai bertiup ke arah barat. Rerumputan itu kembali saling bergesekan dengan yang lainya. Mentari benar-benar telah letih setelah seharian membagi kehangatannya kepada bumi. Cahayanya sedikit demi sedikit mulai hilang dan lenyap di telan lembayung senja. Malam telah tiba. Kami beranjak dari taman. Tinggalah sebatang kara bangku berwarna tembaga dengan rerumputan yang mulai tertiup angin malam.
**
Satu minggu kemudian.
Langit diluar terasa semakin dingin. Rintik-rintik hujan semakin lama terdengar semakin deras. Suara-suara hujan bermain nakal di atas genteng rumahku yang cukup tua. Sesekali aku pandang keluar memandang rumput yang digenangi air hujan yang terus bertambah. Suara air masih tetap terdengar beradu dengan permukaan tanah. Air hujan itu turun jatuh terjun bebas dari atas genting yang sudah agak sedikit karatan.
Suara telepon genggamku mulai berbunyi.
“Halo.....kamu dimana sih say ?”,suara dilla dari seberang sana terdengar manis lembut. Memberikan kehangatan bagiku ketika hujan turun. Telingaku seakan mendengar suara-suara harmoni yang dimainkan di sebuah orkestra kelas dunia. Deru air hujan yang bercampur dengan suaranya yang lembut membuatku semakin mabuk kepayang. Seakan dibius tujuh turunan.
“Aku dirumah”, jawabku pendek.
“Nanti jemput aku di kampus yah jam 5 sore”, pintanya dengan nada agak sedikit manja.
“Iya”, jawabku kembali pendek.
Hujan belum lagi reda. Para tukang ojek payung datang silih berganti menawarkan jasa yang tak bisa aku lupakan. Sampai di kampus, dilla tak nampak. Namun dari jauh aku nampak lekuk tubuhnya yang khas. Bergaun putih, sepatu ber hak tinggi. Aku seakan tidak percaya wajahnya nampak makin cantik dan berbinar-binar walaupun sesekali siraman air hujan menyentuh bibirnya yang manis. Tapi hatiku tiba-tiba terasa terbakar di tengah derasnya hujan yang semakin menderu. Dari jauh, aku nampak dia tengah menunggu air hujan untuk segera reda tapi jarak tubuhnya seperti merapat ke arah pria yang aku tak mengenalnya. Langkahku seperti tertarik magnet dengan gaya yang semakin kencang ke arah mereka. Aku semakin dekat. Semakin aliran darahku bertambah. Benar-benar naik hingga rasanya hendak memuncah dari tempurungku.
“Kenalin ini temen kuliahku”, dilla memperkenalkan lelaki itu sambil melirik ke wajah pria yang bulu dadanya nampak menyelinap diantara lipatan baju kemeja nya yang agak sedikit basah terkena air hujan.
“Andy”, pria itu menyebut nama sambil mengulurkan tangannya. Aku lantas membalas uluran tanganya yang dingin dengan gemuruh di dalam dada yang tak beraturan. Seolah-olah aliran darahku yang mendidih ikut ter-transfer ke dalam aliran darahnya yang dingin. Amarahku hampir tak tertahankan tanpa alasan yang jelas. Aku menjadi semakin berpikir yang tidak-tidak. Pikiranku mulai kalut. Seperti benang layang-layang yang kusut kemudian tersayat benang gelasan sebelum akhirnya dipakai untuk mengikat sandal jepit yang sudah putus.
“Kuliah dimana mas ?”, tanya andy padaku.
“Hmm....ngga, aku ngga kuliah”, jawabku dengan muka merah padam. Malu. Merasa rendah diri karena tak mampu mengenyam bangku mahasiswa. Aku tiba-tiba merasa bahwa dilla memang pantas bersamanya. Pendidikanya lebih tinggi dari aku. Wajar saja jika dilla menyukainya.
“Mas kuliah dimana ?”, tanyaku balik padanya.
“Saya di UI”,jawab pria itu.
“Jurusan apa ?”, tanyaku menyerogoh ingin tau lebih jauh.
“Sastra metalurgi”, jawaban andy membuat aku tercengang, persis seperti orang dungu yang baru mendengar jurusan yang maha dahsyat ini. Karena tak pernah aku mendengar nama jurusan ini walaupun aku tidak kuliah. Penggabungan antara rasa dan logika. Aku semakin merasa rendah diri di hadapan pria tampan, tinggi dan berambut agak sedikit mirip brokoli itu.
Andy pamit lalu pergi menyusuri jalan yang nampak semakin basah oleh air hujan. Sepatunya menginjak genangan air yang terciprat beberapa sentimeter. Aku hanya diam. Dilla juga diam seribu bahasa. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan dan tanyakan pada dilla. Wajahnya berubah ketika andy pergi dan hilang di angkut metromoni jurusan kampung melayu-harmoni. Tapi bagiku dilla tetap cantik walaupun terkena air hujan yang mengandung polusi. Rambutnya hitam mengkilat, terurai, dan ia biarkan setiap air hujan yang berada di ujung rambutnya terjun bebas dan menetes menyentuh tanah.
***
Suasana kafe di sekitar kemang membuat suasana perjumpaan kami terasa semakin romantis. Cahaya remang-remang menyibak mukanya yang manis dan agak terserap oleh suasana malam yang semakin lama semakin kelam. Tapi disana seninya, aku semakin lama semakin suka ketika ia mencoba membenamkan wajahnya lalu tertahan oleh cahaya lilin yang jadi pembatas antara kami. Benar-benar romantis. Persis seperti cintanya anak-anak sma yang sedang dilalap api asmara. Rambutnya ia biarkan menjulur sampai ke pundak. Seolah-olah menyerap cahaya bulan purnama yang terpantul dari aspal disekitar kafe kemang.
“Aku mau tanya sama kamu boleh ngga ?”, bibir manisnya bergerak dan menimbulkan gelombang suara yang tak lebih dari 120 Hz. Sebagian gelombag suara itu terserap oleh angin malam yang sesekali terhempas oleh laju bajaj yang berlari seperti waria di kejar kamtib di daerah taman lawang.
“Boleh...kok gitu sich ngomongnya, say ? Kayak ke siapa aja....”, jawabku sambil menikmati gerak bola matanya yang sedari tadi tidak habis-habisnya membiaskan cahaya-cahaya lilin sedari tadi meremang.
“Kamu pengen ngga sih kalau aku jauh ?”, tanyanya.
“Yah ngga la dil...mana ada sih orang yang mau jauh dari kekasihnya”, jawabku sambil mengunyah roti bakar Edi yang penuh dengan susu kental manis.
“Tapi jauhnya aku ini demi kebaikan aku..dan kamu ”, nadanya mulai merengek, manja, seolah-olah seperti bayi yang hendak disapih dari payudara ibunya.
“Sungguh, aku tak paham maksudmu”
“Iya...ini demi kebaikan aku dan hubungan kita di masa depan”, sambung dilla yang tambah membuat aku menjadi semakin kalut dengan pernyataan-pernyataannya yang menggantung. Uh, dasar emang kebiasaan dari sebelum jadian, juga suka nge-gantung jawabannya. Dasar cewe nge-gantung.
“Aku dapat beasiswa erasmus mundus...untuk melanjutkan kuliahku di eropa”, penjelasanya kali ini benar-benar jelas. Sejelas lampu petromak yang dibawa tukang nasi goreng tek-tek yang suka aku berhentikan setelah jam 12 malam untuk sekedar mengganjal usus di malam hari.
Mendengar beritanya, tenggorokanku seperti dijejali buah simalakama. Ulu hatiku seperti ditohok dengan tongkat kungfu para sakti yang sudah sering naik turun gunung. Roti bakar edi yang tengah aku kunyah rasanya berubah seperti rasa empedu yang aku telan tanpa rasa penawar. Pahit. Sepahit jamu pegel linu yang tak dijampur jahe manis dan beras kencur. Ingin rasanya aku hilang dari muka bumi saat ini. Tapi aku harus memberi keputusan. Aku tercengang. Rasanya seluruh anggota tubuhku telah mati kecuali hati dan jantungku yang masih berdetak keras.
Diam. Aku hanya terdiam.
Diam. Diam seribu bahasa.
“Sayangggg....kamu kenapa ?”, suaranya yang lembut menghentakkanku dari lamunan yang seolah-olah membuatku merasa telah melamun selama satu dasawarsa. Nampaknya dilla sangat paham dengan segala ekspresiku yang semakin lama semakin tak menentu setelah mendengar berita beasiswanya itu .
“Ahhh...ngga...”, aku terjaga dari lamunan di tengah cahaya lilin.
“Oh iya.......aku seneng banget kok kalo kamu bisa pergi keluar negeri melanjutkan studi kamu”, jawabku spontan. Aku tak tahu kenapa mulutku tiba-tiba mengeluarkan kata-kata seperti itu. Aku senang tapi di lain sisi aku menyesal karena membiarkannya pergi dari genggamanku.
“Makasih yah sayanggg....”, ucapan yang lembut itu mengalir dari bibirnya yang disepuh oleh gincu yang berwarna agak sedikit gelap kemerah-merahan. Jari-jarinya yang halus menyetuh tanganku. Ia tersenyum manis dibiaskan cahaya lilin yang membuat suasana semakin romantis. Senyumnya merekah nampak seperti bemo yang penuh dengan penumpang. Kulit tanganya yang halus membius ku hingga terasa mematikan kerja jaringan urat saraf otak bagian kiriku yang mengatur rasionalitas. Aku tau dari belaiannya, ia mengucapkan terima kasih yang mendalam.
“Oh iya aku lupa ngasih tau .....andy juga dapat beasiswa yang sama dan kita juga kuliah di kampus yang sama”, tambahnya di akhir kalimat.
“Ahhh gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.....”, jeritku dalam hati. Benar-benar penyesalan yang tiada tara karena telah melontarkan perkataan yang merelakan kepergiannya. Mendengar andy bersamanya ulu hatiku seperti tertohok duri-duri kaktus yang tak mau tercabut. Busur panah cintanya pasti akan melesat ke dalam hati dilla hingga tak dapat lagi tercabut untuk selamanya. Aku semakin gusar. Tak tahu arah. Bulan sabit yang bersinar di atas kota jakarta mulai beranjak dan berangsur pergi. Hari semakin malam. Malam semakin menggulung. Menggulung perasaan di dalam dada yang semakin berkecamuk. Knalpot-knalpot metromini masuk ke dalam telinga dan semakin menambah guncangan tektonik di dalam relung hati. Aku kalut. Semakin dibuat gila oleh pikiran-pikiranku. Aku tidak rela jika dilla harus satu kuliah dengan andy. Dia pasti akan merenggut dila dari pelukanku. Malam semakin larut. Sudah dua gelas besar teh manis aku tenggak. Tapi rasanya aku masih terasa haus. Haus akan perasaanku . Hari semakin mendekat kepada pagi. Kami pulang.
***
Sehari setelah keberangkatannya ke eropa, aku semakin kalut dan gila dibuatnya. Benar-benar gila. Pikiran menjadi semakin tak karuan. Entah apa yang ada di dalam kepalaku. Rasanya seperti hendak mau pecah. Apalagi ketika aku melihat mereka berdua hilang ditebas belokan ketika aku melepas dilla di bandara soekarno hatta. Cemburuku semakin menjadi-jadi dan menghantui di setiap malam-malamku.
“Ayang....aku baru sampai”, sebuah sms aku terima.
“Alhamdulillah”,hatiku lega setelah mendengar kabar dari dilla bahwa ia sampai dengan selamat di benua yang menjadi pusat peradaban dunia saat ini.
Aku mulai bercerita pada byan, seorang sahabat terbaikku dalam hidup, tentang masalah dilla. Tapi memang kebiasaanku bahwa aku tak pernah mengungkapkan nama asli kekasihku dari dulu pada orang-orang dekatku termasuk byan. Karena memang aku tidak mau nama asli kekasihku di ketahui banyak orang. Aneh. Aku memang orang yang aneh. Aku beritahu namanya adalah miri.
“Apa artinya perpisahan bagi sebuah cinta ?”, tanyaku pada byan yang terkenal menjadi kliniknya anak-anak muda yang sedang dilanda badai asmara hinga akhirnya terporak-porandakan pikiran dan emosinya.
“Ada 2 makna yang bisa engkau ambil dari kejadian itu...yang pertama adalah banyak orang terlupa ketika ada pertemuan harus ada perpisahan. Kebanyakan orang lupa bahwa ketika dia berjumpa pada dasarnya dia sudah memulai untuk menjalankan sebuah perpisahan”, pelajaran nomor satu terlempar dari mulut byan yang memang suka dengan hal-hal yang bersifat philosopis.
Awan nampak semakin beriringan berarak. Daun-daun yang menampung debu siap tersentuh air hujan yang sebentar lagi akan turun. Debu-debu jalanan mulai berterbangan dan hinggap di setiap dinding rumah. Suasana semakin kelam. Sekelam hatiku.
“Lalu apa yang ke dua ?”, tanyaku semakin tak sabar kepada byan.
Byan menelan air ludahnya. Sebelum melanjutkan kata-katanya yang penuh dengan makna dan menggugah.
“Kehilangan cinta adalah sebuah cara dimana engkau diuji untuk menjadi seorang manusia yang bijak....karena engkau tak akan pernah dapat bilang secara utuh kalau engkau mencintai seseorang, jika engkau tidak pernah tau bagaimana rasanya kehilangan sepenuhnya orang yang engkau cintai....kehilangan adalah sebuah proses pembelajaran untuk menghargai sebuah keberadaan...engkau tidak pernah bisa mengatakan sayang jika engkau tak pernah tau seperti apa itu rasa benci...engkau tak pernah bisa mengatakan pagi jika engkau tak pernah melihat malam....engkau tak pernah bisa mengatakan perempuan jika engkau tidak tahu seperti apa laki-laki....sama artinya engkau tidak akan tahu manisnya cinta jika engkau tidak tahu bagaimana pahitnya cinta”, kata-kata bijaknya kali ini memang benar-benar membuat ku terkesima memberikan semangat baru untuk hidup. Tidak sia-sia sepertinya berkenalan dengan seorang byan yang sangat bijak memahami berbagai lika-liku kehidupan. Pantas bagi seorang byan untuk menjadi bijak setelah badai asmara membuatnya tak kurang dari 20 kali mengalami kegagalan dalam dunia cinta.
***
Beberapa bulan kemudian.
“Dilla..aku kangen sama kamu.....kamu kok ngga ada kabarnya lagi sih udah hampir 3 bulan. Andaikan kamu tahu galaunya hati ini...aku galau seperti seorang anak yang ditinggal ibunya...seperti seorang istri yang sedang hamil lalu di tinggal pergi oleh sang suami untuk selamanya...aku khawatir tentang dirimu...apa kamu semakin akrab dengan andy? Atau kamu mungkin kini sudah berada di dalam pelukan andy ketika dinginnya salju mulai menjalar di setiap kulit mu yang halus ?”, tulis ku dalam pesan singkat yang aku kirim lewat facebook.
Tiap menit aku nanti dan aku tunggu di dalam inbox facebook ku. Aku masih tetap menunggu. Menit berganti jam. Jam berganti hari. Hingga hari berganti bulan. Aku tetap tak mendapatkan balasan dari dilla. Yang ada hanya menyaksikan foto-foto yang selalu ia update di dalam facebooknya bersama andy. Di bawah menara eiffel dengan sebuah caption, “unforgettable moment”. Aku semakin ambruk. Seperti ditimpa mesin penghalus aspal jalanan. Hari-hariku makin terasa sedih dan kelam. Tapi aku masih tetap teringat akan kata-kata sahabatku byan yang membuatku tetap bertahan hingga detik ini.
Beberapa bulan telah berlalu semenjak pertemuanku dengan sahabat byan. Kini ia tak dapat lagi kutemui. Mungkin ia sibuk dengan pekerjaannya. Aku coba hubungi lewat sms. Tapi tak kunjung juga aku dapatkan balasan. Aku ingin lagi bercerita dan mengungkapkan segala keluh kesahku pada byan sebagai seorang sahabat sejati. Aku ingin beritahu padanya nama kekasihku yang pernah aku ceritakan padanya waktu itu.
Sebuah email notifikasi baru masuk dalam email ku yang menunjukan bahwa ada sebuah pesan di dalam inbox facebook ku.
“Aku perlu kepastian”, itu jawaban dilla atas sebuah pesan yang pernah aku tulis tentang kegelisahan yang aku alami beberapa bulan yang lalu. Aku tak paham .Benar-benar tak paham maksudnya. Pesannya singkat tapi membuat aku semakin kebelingsatan. Seperti setan tergigit cabe rawit sewaktu menggoda adam untuk memetik buah kholdi. Tak tahu apa maksudnya. Ah dasar perempuan. Sukanya menggantung.
***
Cuaca di luar rumah nampak terik. Benar-benar terik. Aku malas keluar. Suasana jakarta semakin tak karuan persis seperti galau hatiku yang semakin sembraut diterkam pahitnya asmara dan juga merasa kehilangan sahabat tempat berbagi. Rupanya mentari tak begitu lama bertengger di atas ibu kota jakarta. Suasana menjadi mendung. Langit berarak-arak nampak berubah menjadi hitam . Suara-suara petir saling bersautan. Langit seakan nampak tak tahan hendak memuntahkan air hujan. Mungkin langit telah bocor. Satu tetes dua tetes air hujan mulai jatuh membasahi pekarangan rumahku. Jendela kamarku mulai terbersit air-air hujan yang mulai turun. Anak-anak kodok seakan gegap gempita menunggu curahan air hujan yang akan segera datang.
Tiba-tiba suara motor datang menghampiri pintu pagar rumahku. Tak biasanya ada tukang pos pada waktu seperti ini. Tapi tak apalah. Aku mencoba menghampiri kotak surat ku. Dengan satu tangan yang aku letakan diatas ubun-ubunku, agar tak terkena siraman air hujan, aku berlari menjemput surat yang sudah masuk di dalam kotak surat yang terpancang di dekat pagar rumahku. Aku segera rogohkan tanganku yang agak basah ke dalam kotak surat, tanpa sempat membaca aku langsung kembali ke dalam rumah. Basah. Benar-benar basah bajuku.Aku ganti sejenak bajuku setelah aku letakan surat itu di atas meja belajarku. Musik-musik mozart dan beethoven mengalun bersama deru air hujan yang terkadang terdengar lebih kencang dari gesekan-gesekan Austrian philharmonic orchestra.
Aku rasanya tak sabar membuka surat yang ditujukan untuk diriku. Suratnya nampak ekslusif dan mahal. Dibungkus plastik. Jari jemariku mulai menarik surat yang harum dan tertulis dengan tinta berwarna emas. Tak sabar rasanya melihat nama yang tergores di dalam surat itu.
“My dearest friend,
Byan minta maaf yah selama ini ngga sempat ngasih kabar sama kamu kalo aku sudah beberapa bulan ini meninggalkan indonesia untuk melanjutkan kuliahku. Aku berharap semoga kamu baik-baik aja di jakarta. Oh iya, aku mau memberi tahu kamu kalo aku akan menikah disini. Aku janji, nanti begitu aku selesaikan studi ku dan kembali ke indonesia, aku akan perkenalkan istri ku sama kamu. Aku akan datang kerumah kamu. Ini undangan pernikahanku, walaupun kamu mungkin tidak bisa datang tapi setidaknya kamu bisa mengirimkan doa untuk kami yah.”
“Hal : Undangan pernikahan
Dengan memohon kepada tuhan yang maha esa...kami memohon doa dari seluruh sanak saudara/kerabat/handai tolan dan rekan-rekan atas pernikahan kami yang akan dilangsungkan di Hotel Plato, pada tanggal 7 februari 2010, pukul 12.00 siang”.
Bunyi petir menggelegar. Menampar setiap sudut telingaku dan menggetarkan semua yang ada. Deru hujan semakin berlomba-lomba menarik aku untuk terus dapat berjalan mengikuti setiap imajinasi dan memori-memoriku. Rumput-rumput di halaman semakin lama semakin terendam air hujan. Di sudut kanan kamar, hanya ada foto dilla yang tersenyum manis merekah yang memberikanku kehangantan. Di meja komputer masih jelas terduduk dan terdiam dalam bingkai berwarna perak, foto aku dan byan ketika berjalan menyusuri gunung galunggung. Hujan semakin deras. Aku masih tetap terpojok di sudut kamar. Langit semakin menghitam. Volume air hujan semakin bertambah. Hujan semakin deras dan mata ku tertuju pada bagian bawah surat.
“Yang berbahagia
Byan & Dilla ”
Hari masih tetap hujan.
No comments:
Post a Comment