Thursday, August 27, 2009

Puasa di Menara Eureka


Puluhan gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi di tengah-tengah kota Melbourne. Sungguh takjub....Kereta- kereta bahwa tanah mengais-ngais berciuman dengan rel-rel kereta yang tengah menjerit menahan beban manusia yang tak henti-hentinya datang silih berganti dari pagi. Mobil-mobil mewah yang semakin menambah kadar karbon monoxida di bumi yang sudah semakin renta ini mulai memadati domain tunnel hingga jalan keluar menuju power street. Begitu juga disekitar Riverside Quay Southbank sungai panjang yang mengitari kota melbourne memantulkan kilauan-kilauan sinar mentari yang jatuh dan sesekali beriak oleh perahu-perahu kecil yang dipenuhi para wistawan asing yang tengah menikmati kota Melbourne. Jembatan indah, nampak dari gedung Herald Sun, membelah sungai disepanjang Quay Southbank dihiasi dengan bendera-bendera dan flyer memenuhi seluruh jembatan.

Walau angin sesekali terasa membekukan kulit ketika mecapai 10-12 derajat celcius, tetapi musim dingin kali ini cukup bersahabat karena telah mengizinkan cahaya mentari untuk datang memberikan kehangatan di sekitar kota Melbourne. Tampak dari kejauhan menara eureka yang terletak dibagian tepi selatan australia siap menggapai atmosfir yang melintang luas di belahan selatan dunia, pancaran sinar mentari membentur setiap dinding-dinding menara yang nampak makin berkilauan.

Asyik mempercepat langkahnya setelah menyelesaikan solat ashar di Fitzroy Turkish Islamic Society, yang berjarak sekitar 15 menitan dari menara eureka. Tapak-tapak kaki asyik sudah mulai mejajaki Riverside Quay Southbank, dalam satu belokan lagi ia tepat berada persis di depan menara yang hendak menggapai langit tersebut.

Sesampainya di dalam gedung, Asyik segera menghambur ke lantai 89, sebuah restoran berkelas terdapat di lantai tersebut dan dan hanya orang-orang berduit lah yang bisa mengisi usus mereka dengan berbagai macam hidangan yang menarik-ulur air liur.

“Excuse me !! can i reserve one table, please ?”, pinta asyik kepada seorang waitress yang berdiri manis di pintu masuk.

“Sure...for how many people sir ?” balasnya dengan menyematkan senyum manis yang seolah-olah membuat detak jantung asyik berhenti berdegup untuk beberapa detik.

“Three persons, please…”, tandas asyik sembari menaik turunkan alis-nya yang nakal.

Patma yang semakin tergila-gila dengan hukum relativitas einstein telah menemukan rumus baru dari turunan e=mc2 , yang menyebabkan wanita cantik berjilbab ini harus datang ke Melbourne untuk mempresentasikan rumus barunya tersebut di simposium international para fisikawan sedunia. Tak heran jika penemuannya yang memakan waktu bertahun-tahun dengan bersemedi di negeri beruang kutub, membuatnya semakin kewalahan menerima berbagai macam tawaran, mulai dari beasiswa di Harvard sampai pinangan dari seorang professor berumur 69 tahun yang siap masuk islam demi menjadikan patma sebagai istri ke-3nya, karena terkagum-kagum oleh rumus patma yang di jelaskan secara panjang lebar di sebuah simposium bergengsi tersebut.

Sudah hampir satu jam patma mondar-mandir di lantai 88 menara eureka, tapi tak kunjung nampak batang hidung asyik. Patma tak bosan memutar-mutar otaknya untuk dapat memahami bagaimana menara eureka ini dapat menahan hembusan-hembusan angin yang kencang diluar sana tapi tak terasa oleh orang yang sedang berada di dalamnya, terlebih bagi orang yang berada di lantai 88.

“Assalamualaikum patma....”, suara asyik yang dilembut-lembutkan masuk menembus jilbab dan langsung menggetarkan gendang telinga patma.

“Walaikum salam....”, jawab patma dengan senyuman yang tersemaikan ke setiap pembuluh darah asyik.

“Maaf patma...saya terlambat datang...karena ada sedikit kerjaan tadi..”, sambut asyik dengan nada yang semakin sopan dan menundukan pundaknya seperti orang keturunan jepang yang sedang memberikan hormat.

“Oh ngga papa...aku paham kok mas..menunggu itu ASYIK lo...sambil hitung-hitung menikmati pemandangan di melbourne... karena di rusia aku ngga pernah menemukan bangunan yang setinggi ini mas”, jawab patma dengan santun.

Dari sudut pintu masuk, nampak ustadz Hasbi yang baru saja memberikan pengajian di Konsulat jenderal Indonesia di melbourne. Perjalanan jauh dari mesir ke australia tak ingin disia-siakannya, dengan langsung mengunjungi menara tertinggi di dunia yang dijadikan tempat tinggal. Dari jauh ustadz hasbi nampak seperti syekh yang baru turun dari singgasananya dengan gaun putih dan sorban yang melilit diseluruh lingkaran kepalanya.

“Assalamualaikum. .....”, sambut ustadz hasbi dengan nada gembira sambil melemparkan pandangan pertamanya pada patma dan disusul kepada asyik.

“Walaikum salam....” jawab mereka serentak.

“Bagaimana pengajiannya ustadz ?”, tanya patma yang sedikit malu-malu.

“Alhamdulillah. ..”, jawab ustadz hasbi dengan logat arabnya yang sangat kental.

“Pasti banyak yah jamaahnya tadi yang dengerin ....?”, tanya asyik yang mencoba mengalihkan perhatian patma.

“Kita tidak perlu berpikir berapa jumlahnya... karena jumlah bukan lah sebuah jaminan”.Tekan Ustadz hasbi sambil membetulkan sorbanya yang sedikit mencong setelah naek ke lantai 88 menara eureka.

“Maksudnya ustadz ?”, tanya asyik yang dibuat bingung oleh statement syekh hasbi.

“Iya...quantitas adalah bukan hal yang utama ketika kita melakukan sesuatu...tetapi kualitas adalah hal yang sangat menentukan sebelum kuantitas... Jika kita memberikan sesuatu kepada orang lain..kita tidak perlu berpikir berapa banyak orang yang akan menerima pemberian kita..dan apalagi kalau sampai berharap untuk membalas.... karena semakin banyak kita mengharap maka sebanyak itu pulalah kekecewaan yang akan kita dapati ketika kita tidak mendapatkan jumlah sesuai dengan apa yang kita harapkan”, Jelas ustadz hasbi sambil mengelus-ngelus jenggotnya yang belum begitu panjang.

“Lalu kepada siapa kita seharusnya berharap.... ?” tanya asyik yang menaruh sedikit harpan pada patma.

“Semakin kita berharap pada makhluk tuhan... semakin besarlah kemungkinan bagi kita untuk menjadi kecewa...karena harapan yang terbaik adalah harapan yang disandarkan kepada Sang pencipta yang menciptakan makhluk”. Kali ini wejangan ustadz hasbi menggores seluruh urat-urat saraf asyik dan terpatri di lubuk hati. Ke dua bola mata ustadz hasbi mulai menyapu semua bangunan-bangunan yang terlihat dari menara eureka.

Patma mulai tertarik dan menaruh simpati pada ustadz hasbi yang nampak bijak dengan kata-kata yang keluar dari seorang pria jebolah universitas al-azhar. Patma pun memberanikan diri untuk melemparkan satu pertanyaan. “Apakah ini ada hubunganya dengan puasa kita dibulan ramadhan ustadz?” tanya patma sambil membetulkan pin yang menancap di jilbabnya, agar bisa lebih PD di depan ustadz hasbi.

“Tentu.....karena puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus...tapi jauh dari itu... esensi dari berpuasa adalah agar kita dapat membenahi diri kita tercabik-cabik oleh nafsu dan sifat-sifat buruk kita selama 11 bulan..seperti ingin selalu dipuji, selalu dilihat orang lain, selalu dihormati karena kita punya posisi, tidak ikhlas , berbuat pamrih, berpikiran negatif, berburuk sangka yang padahal belum tentu benar, Gossip...dan berbagai macam sifat-sifat buruk manusia lainya yang selalu kita senangi”, Sambung ustadz hasbi.

“Memagnya kenapa sih umat islam harus rela menahan rasa lapar dan haus selama satu bulan penuh ?”, tanya asyik yang semakin asyik terbuai oleh pelajaran dari ustadz hasbi.

“Menjalankan ibadah puasa dengan tanpa makan dan minum adalah semata-mata karena kita tunduk dan patuh kepada allah sebagai seorang hamba......jika kita menemukan sisi positif dari berpuasa...seperti memberikan kualitas kesehatan yang lebih baik,menurunkan berat badan, turunya kadar gula dan kolesterol.. .maka hal itu dapat dikatakan sebagai sebuah hikmah dan nilai tambah dari berpuasa”, jawab ustadz hasbi yang semakin semangat menambah aura positif di menara eureka dengan sesekali melirik kepada patma.

“Jadi saya tidak boleh berpuasa yang mempunya efek positif untuk menurunkan berat badan saya?...eh.. salah maksudnya berat badan manusia ?”, tanya patma yang seolah-olah terusik oleh statement ustadz hasbi.

“Bukannya tidak boleh....” tutur ustadz hasbi yang setia dan sabar memberikan penjelasan kepada patma.

“Niat untuk patuh dan taat kepada allah..... adalah hal yang utama dalam melakukan ibadah puasa.... karena niat ini lebih mulia dari sebuah niat yang hanya semata-mata untuk menurunkan kadar lemak di dalam tubuh kita”. Ustadz hasbi mengakhiri penjelasannya dengan mengambil sebuah langkah yang semakin mendekat ke jendela dan semakin takjub melihat bangunan-bangunan megah dan mewah yang nampak dari menara eureka.

“Ustadz hasbi.......”. Panggil asyik yang masih ingin mau berdiskusi.

“Saya sekarang bisa melihat hikmah dan analogi berpuasa”. Lanjut asyik yang pernah mengenyam pendidikan pesantren selama 6 tahun di daerah jawa timur. Sebagai seorang mahasiswa yang banyak bergelut di bidang energi bumi, asyik menambahi pernyataan ustadz hasbi

“Iya...saya melihat puasa itu seperti energi yang ada dibumi..jika energi terus menerus di hisap dan di eksploitasi oleh manusia...maka energi tersebut akan habis dan lenyap..sebagai akibatnya manusia itu sendiri yang akan kesulitan pada akhirnya.... begitu juga dengan puasa, jika kita terus menerus mengeksploitasi organ tubuh kita dengan memaksa selalu bekerja, seperti memproses makanan yang mengandung berbagai macam bahan kimia, selama satu tahun penuh tanpa adanya istirahat... maka lambat laun organ tubuh kita akan kelelahan, akibatnya... .kita akan jatuh sakit dan mengalami kesulitan juga pada akhirnya...“ jawaban asyik yang logis dan penuh dengan roh scientist membuat patma kini mengalihkan perhatiannya kepada asyik.

“Bukankah energi tidak bisa diciptakan dan juga tidak dapat dimusnahkan. ..oleh karena itu kita tidak akan pernah kehabisan energi”, sanggah patma yang selalu berkiblat kepada statement-statement einstein.

“Betul...patma. ..” nada suara asyik yang terdengar sedang mengayomi seorang wanita.

“Hal itu memang terlihat benar jika kita kita melihatnya hanya dari satu sisi”, sambung asyik yang semakin bijak dan mencoba menenangkan patma yang nafasnya sudah naik turun tak sabar ingin mendebat asyik.

“Kita juga harus ingat bahwa energi tersimpan dalam sumber daya alam....seperti batu bara, minyak, nikel, timah dan lain-lain... jika kita terus mengeksploitasi kekayaan alam..maka lambat laun ia akan habis...al-hasil bukan hanya kita yang akan kesulitan... tapi juga anak cucu KITA patma...eh.. .maaf ...bukan kita tapi SAYA...”, asyik yang tiba-tiba menjadi grogi di depan patma yang diam-diam menaruh simpati juga kepada asyik atas penjelasanya yang logis dan dinamis.

“Puasa...bukan hanya sekedar berpuasa... tetapi ia sebagai sebuah training center yang melatih manusia agar dapat memperbaiki diri yang dapat terus dijalankan nantinya selama 11 bulan ke depan setelah menjalani puasa”, sambung ustadz hasbi melengkapi penjelasan asyik.

Di ufuk barat, mentari mulai lelah untuk bersinar.... setelah seharian membagi kehangatan bersama kota Melbourne... dan mulai hilang secara perlahan ditelan sang malam. Gemerlap lampu-lampu menerangi setiap sudut kota melbourne yang semakin tampak cantik dari menara eureka. Lampu-lampu yang tertata rapih disepanjang Riverside Quay Southbank mulai tumpah ke permukaan air yang tenang. Jarum jam tangan patma yang melingkar diatas kulit yang halus sudah hampir menunjukan pukul 6 sore, sebagai tanda waktu berbuka puasa hampir tiba. Tanpa mengulur waktu, Asyik segera mengajak mereka untuk berbuka puasa di lantai 89, sebuah tempat makan malam ekslusif yang telah di booking oleh asyik. Berbagai macam makanan sudah tersaji rapi di atasa meja, mulai dari khas eropa hingga indonesia, yang dapat membuat usus siapapun yang menghirup aromanya akan berseriosa. Tak terkecuali bagi seorang patma yang menjadi semakin bingung akan perasaannya yang tak menentu dihadapan dua orang pria yang memberikan ketenangan jiwa.

Friday, August 7, 2009

Antara Rendra dan guru TK

Waktu terus bergulir tak terasa semua datang dan pergi,

Seorang anak kecil berdiri untuk pertama kali dalam hidupnya di depan podium dengan selembar puisi ditangannya yang mungil dan harus dibacakan...
Nadanya pelan, mulutnya kering, bibirnya gemetar, mukanya pucat dan seolah-olah malaikat pencabut membelai-belai ubun kepalanya...

Disudut sana... ada sebuah TK yang penuh dengan aneka riang tawa dan senyum anak-anak kecil
Berbagai perlombaan diadakan mulai dari menggambar hingga membaca puisi
Ia mencoba untuk berlatih membawakan puisi ditanganya yang tampak gemetar.

Jari-jemari yang kecil dan tak tau banyak apa yang akan diperbuat, kini basah oleh keringat dingin... ia harus berdiri di depan orang banyak dan melantangkan suaranya. Tapi ia tetap tak mampu melakukannya.

Ia tak mengerti puisi apa dan siapa yang membuatnya. Yang ada hanya ...ia harus membaca dan membacanya...

Anak itu gagal....
Ia lari ketika harus membaca puisi...karena takut...
Waktu tetap bergulir meninggalkan perlombaan kecil-kecilan itu...
Tapi si anak masih tetap teringat “lari” dari kemenangan..ia baru sadar bahwa gurunya lah yang telah membuat puisi tersebut.

I0 tahun lebih... semenjak “keringat basah” sang anak dimuka podium...ia menjadi seorang yang menggilai puisi yang sesekali membawakanya di depan khalayak ramai, atau hanya sekedar mengekspresikan jiwanya yang tak takut lagi pada podium...

Walau kini sang anak tidak teringat wajah “pembuat” puisi untuk pertama kali dalam hidupnya..kini ia ingin kembali mencari dan bertemu denganya sekedar mengucapkan “terima kasih ibu guru...”
Karena “kegagalan” membaca puisi tersebut adalah langkah awal bagi sang anak untuk keranjingan mencitai sastra dan seni...yang tak dapat dipisahkan lagi dari bagian hidupnya...hingga detik ini.

Lambat laun, sang anak tau...bahwa gurunya telah mengenalkan ia pada puisi rendra...iya... puisi yang pertama kali diberikan olehnya untuk dibacakan di depan podium “kegagalan” adalah puisi WS Rendra.

Sang anak terlalu jauh kini untuk digapai...terlalu jauh...terlalu jauh ...untuk dirangkul sang guru dan diberikan lagi buah puisi...

Terima kasih Rendra atas puisinya...selamat jalan...

= Sang anak yang “gagal” dimuka podium =