
Malam semakin larut, tak ada suara suara yang bergemuruh di ujung sana. Aku masih tertegun di depan meja dengan sedikit cahaya yang kuarahkan pada keyboard tempatku mencurahkan pikiran pikiran yang melesat pada setiap urat urat sarafku. Tempat ini memang sunyi tak seperti halnya kota kota besar seperti toronto, ottawa, ataupun paris. Kutingkapkan jendela apartemenku dan kubiarkan angin malam sedikit menyelinap diantara celah celah kecil ventilasi, sehingga malam ini tak terasa begitu panas. Yah seperti inilah memang malam-malam yang aku lalui pada musim panas saat ini, siang panas dan malam tak ubahnya, sampai terkadang susah sekali untuk memejamkan mata.
Ketika jemari masih tetap kuizinkan untuk tetap bermain diatas laptop kecil ini, tiba tiba aku teringat seorang lelaki tua dengan rambut putih yang sudah hampir mewarnai seluruh kepalanya. Pertama kali aku bertemu, aku hanya melemparkan senyum seketika, ketika kita saling bertatap mata di lift yang hanya berlangsung beberapa detik. Aku menyangka bahwa ia adalah seorang pekerja yang membetulkan atap-atap dan paralon-paralon apartemen. Dari potonganya ia nampak seperti seorang yang baru saja kelelahan setelah bekerja satu hari penuh membajak sawah dan ingin sekali pulang ke rumah menikmati nasi putih, lalap, ikan asin, dan sambal yang baru digiling masih segar menusuk nusuk dengan aroma segar ke setiap saraf saraf di hidung. Ia tampak tergopoh gopoh ketika keluar dari lift dan terus menyeret nyeret tas yang di jinjingnya. Aku pun masuk ke dalam lift. Hanya ada debu dan jejak kakinya di dalam lift tersebut...
Sesekali aku lemparkan pandanganku keluar dari apartemen tingkat 7 ini, seluruh kota yang diterangi lampu-lampu dapat terlihat jelas. Terkadang aku merasa rindu dan iri, ketika kulihat danau yang airnya tenang di malam hari seolah ia tak pernah gelisah atas apa yang terjadi padanya. Mau berapapun ia dihembus oleh agin, mau apapun yang datang padanya, dan mau siapapun yang berlayar dengan perahu perahu besar, danau tersebut tetap tegar menghadapi kenyataan hidup yang penuh dengan warna warni. Sedangkan aku ? Selalu menggerutu atas segala sesuatu yang terjadi , walaupun itu adalah hal yang kecil.
Bayangan lelaki tua itu kembali menyelinap dan membangungkan lamunanku yang panjang terhadap danau danau yang ada di depanku. Malam tetap berjalan, seolah enggan untuk menemaniku dan ingin segera melenyapkan dirinya dari belahan dunia yang sedang aku tempati ini.
****
“How are you ?”, sapaku pada lelaki tua itu, sebagai tanda memulai pertemanan. Tak begitu besar aku berharap agar ia kembali menyapaku dengan luapan rasa yang cukup hangat, karena aku pun memang tak begitu sepenuh hati menyapa, disebabkan karena kata tersebut sudah menjadi hal yang sangat lumrah di kalangan masyarkat ini. “I am good”, balasnya sembari menyunggingkan senyumnya yang melebar dari ujung bibirnya ke ujung yang lain. Senyumnya ikhlas tak nampak keterpaksaan melakukannya.
Dalam hati aku tersentak, bahwa aku telah berprasangka buruk pada orang. Karena mungkin aku sudah terkontaminasi dengan budaya disini dimana menanyakan kabar adalah hal yang lumrah dan tidak lagi mempunyai sentuhan sentuhan emosi yang mendalam. Aku merasa berdosa tapi ingin sekali menyapanya dengan pertanyaan pertanyaan lain yang selalu aku tanyakan pada orang yang baru aku kenal, sebagai cara untuk memulai pembicaraan atau ice breaking
Tanpa pikir lagi aku beranikan diri untuk bertanya padanya, “di kamar nomer berapa kamu tinggal ?”, tanpa basa basi dan pikir panjang lidah pria tua itu menyambut pertanyaanku “706”. Kini kembali otakku terstimulasi oleh jawabanya karena apartemennya tepat berada di sebelah apartemenku.
Kupandangi lagi langit malam ini, beberapa bintang bertaburan dan bergantung diatas sana seolah olah memanggilku untuk segera terbang menggapainya tetapi bintang itu tampak enggan untuk datang berada disisiku dan memberikan cahayanya sebagai penerang di malam ini. Kini aku dapat rasakan semilir-semilir angin malam datang menyeruai dan membelai belai kulit mukaku yang sesekali masuk diantara rambutku yang hitam sampai ke pundak.
Seminggu lebih semenjak perkenalan itu, aku tak pernah bertemu dengannya lagi sampai ketika aku melakukan rutinitas untuk me ngecek kotak surat. Dari belakang aku nampak tulang punggung seorang pria yang pernah aku kenal tak lebih dari 10 menit, yang seolah berat untuk diangkat ketika ia mencoba mengambil sesuatu dari kotak surat miliknya. Aku mencoba menyapanya, tapi hanya mengatakan “Hi”, itu saja. Kemudian pria tua itu melemparkan senyumnya yang tak pamrih sambil meraba raba namaku yang cukup sulit diungkapkan oleh manusia manusia barat. “ih..s..h.a..n..right ?” , cobanya sambil mengerutkan dahi pertanda meminta konfirmasi dari ku. Akupun mencoba membalasnya dengan semangat karena jarang orang disini dapat mengingat namaku kalau hanya sekali disebutkan, “Perfect”, sambutku.
Ia menungguku untuk mengecek surat agar kita dapat pergi bersama menuju apartemen. Dari raut mukanya yang lelah aku mencoba menanyakan “Kamu tinggal di kota kecil ini?”, ditemani oleh rasa rasa penasaran yang ada di dalam dada. “tidak, tapi aku sedang mencoba pindah ke sini”. Lambat laun aku mulai bertanya, “apa pekerjaan mu ?”. Pria ini seolah olah ragu untuk mengungkapkan pekerjaan utama yang dilakukannya untuk menafkahi hidupnya disini. Aku dapat merasakan dan menilai setiap gerak geriknya.Entah ini bawaan lahir atau apa, terkadang aku bisa merasakan cukup akurat apa yang lawan bicara rasakan ketika sedang berbicara denganku. Bukan berarti aku dukun kesumat yang suka menyantet orang.
Dalam istilah psikologi mungkin inilah yang biasa disebut dengan EI (Emotional Intelligence) atau juga sering disebut dengan EQ (Emotional Intelligence Quotient). Pentingnya akan sebuah intelegensi emosi dalam sejarah keilmuan orang orang barat, tak lebih dan baru saja dimulai ketika darwin, sang pencipta “manusia kera”, kalau kita mau merunut kembali, mengungkapkan betapa pentingnya mengekspresikan emosi sebagai salah satu cara untuk bertahan hidup. Manusia awam baru mengenal istilah EQ (Emotional Intelligence Quotient) baru sekedar di pertengahan tahun 1990an. Ketika Daniel Goleman membuat sebuah gebrakan terhadap publik dengan karya terbaiknya Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. Buku yang kemudian menjadi best seller ini pertama kali disebutkan oleh nancy Gibbs di dalam majalah Times pada tahun 1995.
Lalu bagaimana para ahli intelegensia menemukan istilah ini?
EQ menunjukan akan kemampuan seseorang untuk mengukur, mengidentifikasi sekaligus mengevaluasi emosi diri sendiri maupun orang lain. Tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama dalam segi emosi. Terkadang kita sering melihat orang yang masa bodo sekali dengan lingkunganya padahal kita di dalam hati sudah terbakar kesal sekali, atau mungkin kita sering meggerutu”ihhh..kenapa sih kok dia ngga ngerti kalo gua sebenarya udah ngga betah dengerin dia ngobrol?? ”, dilihat dari satu sisi mungkin saja manusia yang berbicara tersebut mempunyai kemampuan EQ yang rendah sehingga tidak dapat megukur emosi dan raut wajah sang pendengar “setia” tersebut yang sudah seperti cacing kepanasan.
Pada awalnya orang orang menggapkan bahwa inteligensia itu adalah sesuatu yang hanya berhubungan dengan aspek kognitif (cara berfikir). Akan tetapi semenjak awal para pioneer sekaligus peneliti tentang inteligensia sudah mengindikasikan bahwa inteligensi manusia tidak hanya dari segi kognitif akan tetapi juga ada dari sisi lain yang patut dipertimbangkan. Thorndike, pada tahun 1920, mengungkapkan akan istilah inteligensia social,yang dimaksudkan akan kemampuan seseorang untuk memahami dan mengatur masyarakat. 20 tahun kemudian, Weschler, yang menciptakan tes psikologi untuk mengukur intelegensi anak anak hingga orang dewasa, mengungkapkan hal yang senada pula bahwa sebenarnya ada beberapa faktor yang tidak bersifat kognitif yang harus kita lihat dalam memahami sebuah istilah intelegensia. Ilmu merupakan sebuah akumulatif yang disumbangkan oleh manusia manusia sebelum kita. Pada tahun 1983, Howard Gardner menemukan sebuah istilah multiple intelligences. Ia mengungkapkan bahwa multiple intellegence tersebut dibagi menjadi dua bagian. Ada interpersonal dan intrapersonal. Interpersonal intellegence adalah sesuatu yang berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk dapat memahami keinginan, niat, dan emosi orang lain. Sedangkan pada intrapersonal intelligence hal ini dimaksudkan akan kemampuan seseorang untuk menghargai perasaan diri sendiri, sekaligus memahami berbagai emosi yang ada pada diri sendiri. Pada akhirnya istilah “Emotional Intelligence” pertama kali keluar dan digunakan oleh Wayne Payne's dalam disertasinya pada tahun 1985 yang berjudul A Study of Emotion: Developing Emotional Intelligence.
*****
Setelah kulemparkan pertanyaan mengenai pekerjaannya, ia hanya menjawab dengan nada lesu seolah olah dunia ini sudah tidak ada harapan, tetapi masih tampak oleh ku dalam guratan guratan wajahnya bahwa pria ini masih menyimpan berjuta impian dan harapan akan apa yang ia tengah kerjakan pada saat ini. Aku merasa kasihan tetapi aku tak tahu akan apa yang aku harus lakukan untuk membantunya. Terkadang aku merasa bersalah telah lancang melemparkan pertanyaan tersebut.
“Aku melakukan suatu hal yang sudah menghabiskan waktu separuh hidupku tapi ia tak kunjung datang memberikan hasil”, jawabnya datar sambil di akhiri sedikit senyum sebagai tanda ia mengakhiri kalimat-kalimat yang dihasilkan oleh saraf-saraf otaknya dan kemudian di sampaikan kepadaku melalui gerakan lidahnya yang menghasilkan suara dan kemudian ditransfer melalui gelombang udara ke dalam gendang telingaku, hingga akhirnya sampai juga ke jaringan saraf saraf-otakku untuk di proses. Alhasil, aku paham susunan kata-katanya.
“Braggggg......Bragggg...” begitulah memang bunyi lift apartemen kami ketika terbuka yang seolah olah kita berada di peternakan sapi. Kami pun sampai di lantai 7. Aku bergegas keluar dari lift. Ingin sekali rasanya aku lanjutkan kembali bertanya pekerjaan model apakah yang sudah memakan waktu lebih dari setengah hidupnya. Rasa ingin tahu semakin membakar dadaku, beribu ribu tanda tanya menusuk nusuk dadaku, ke leher hingga ke ubun ubun. Apa yang ia lakukan ? Kenapa ia mau menghab iskan separuh hidupnya untuk pekerjaan tersebut ? Apakah pekerjaannya memberikan manfaat bagi orang banyak?. Ugh...ugh...ingin sekali kuangkat lidah ini hingga menyentuh langit langit mulutku untuk bertanya lebih jauh, tapi seolah olah mulut ini terkunci rapat di sangkuti oleh jangkar kapal titanic yang karam 14 april 1912 dan memakan korban 1, 517 orang.
Kami semakin dekat dengan apartemen kami, ia mengeluarkan kuncinya. Sekali lagi menoleh padaku dengan senyum ramahnya yang tak pernah tertinggal. Ia pun membuka pintu apartemennya sambil berkata “Good night”, sebagai tanda perpisahan saat itu. Aku pun menuju pintu apartemenku yang baru saja terbuka. Pandanganku tertuju lurus pada tumpukan buku buku ku. Rasa sesal masih tetap berdentum dentum di dalam hati karena tak bertanya pada pria renta yang ramah itu. Seribu sesal didepan mata tetap menggoda dan menjulur julurkan lidah nya sebagai tanda memporak porandakan akan nyaliku yang menciut untuk tetap bertanya padanya. Aku rebahkan tubuh ku diatas kasur dengan cahaya remang remang lampu belajar yang tepat masuk ke dalam retina ku. Sesekali kucoba memejamkan mata. Tapi tak mau.
Malam semakin larut. Danau masih tampak tenang. Semilir angin malam masih sesekali mencuri -curi untuk masuk diantara celah-celah jendela kamarku. Pukul 2.30 dinihari, aku masih termenung di depan komputer kecil ini. Aku lelah, penat, ingin rasanya berhenti sejenak dari rutinitas ini. Memori tentang lelaki tua itu tetap saja bertengger di kepalaku, sepatunya yang tampak kusam, tas kecilnya yang ia sandarkan pada pundaknya yang sudah menyaksikan asam manis garam kehidupan tetap menyisakan gambaran yang jelas dalam memoriku. Kapan lagi aku dapat bertemu dan bertanya padanya ?
Bintang bintang tetap bertaburan menghiasi sang malam, cahaya jatuh di atas danau yang tenang yang sesekali digerakkan oleh angin malam.
Bersambung....
No comments:
Post a Comment