Friday, February 13, 2009

Antara pintu dan Awal Pagiku




Malam semakin larut dan aku baru saja kembali dari ruangan kampusku, dimana tempat ku belajar dan sekaligus bekerja. Suasana kampus sudah sangat sepi hanya ada deru deru mesin kecil,yang selalu digunakan oleh pekerja bagian kebersihan untuk membersihkan lantai kampus, karena sudah tidak ada orang lagi di kampus maka waktu yang paling tepat untuk melakukan kebersihan memang pada malam hari.

Perpustakaan masih buka hingga larut malam pukul 1 , seperti itu biasanya pada tiap tiap hari kerja. Minggu depan semua orang akan sangat senang sekali sepertinya untuk menjalani libur, mereka sering bilang Reading week, waktu satu minggu digunakan untuk me review pelajaran pelajaran apa yang telah mereka pelajari di kelas, dan tidak ada kegiatan belajar mengajar- kelas.

Hampir semua mahasiswa pun nampak bingah menyambut reading week. Tapi buat ku sama saja karena memang banyak tugas tugas kuliah yang aku harus selesaikan dan tidak bisa ditangguhkan.

Pagi ini aku datang ke ruanganku cukup pagi. Seperti biasa, mungkin aku atau anne yang pertama kali datang dan membuka pintu ruangan tersebut. Tapi hari ini anne lah yang datang lebih dahulu. 

Anne gadis cantik berambut pirang yang mempunyai otak encer selalu menyambut ku dengan ucapan "Hi, Good morning...How are u doing ??" setiap kali aku membuka ruangan. Tapi kali ini ketika pertama kali aku buka pintu anne tampak lesu dan sedih. Aku bilang "good morning", anne pun hanya menyambut kembali perkataanku dengan nada kesedihan yang ditemani linangan air mata mengalir di pipinya.

Gadis berdarah finlandia ini pun meneruskan kembali percakapannya lewat telepon dengan temanya. Pagi itu sepertinya sangat suram dan tidak seceria biasanya. Kulit putih yang halus itupun sedikit demi sedikit terteteskan linangan air mata yang ditemani dengan suara yang menggambarkan kesedihan yang mendalam.

"Seligkuh.." yah selingkuh, itulah kira kira kata yang paling tepat untuk memulai kehidupanku pagi ini. Perselingkuhan yang dilakukan oleh kekasihnya ini lah yang menyebabkan dirinya sangat kecewa besar. Selingkuh dalam sebuah sebuah hubungan common law.

Common law marriage,(orang lebih suka menyingkat common law) adalah sebuah istilah dimana ketika seorang pasangan tinggal bersama, biasanya minimal lebih dari satu tahun menurut kultur disini, tanpa adanya ikatan pernikahan. Pernikahan bukanlah hal yang sangat ditunggu tunggu bagi kebanyakan dibarat, setidaknya bagi kebanyakan orang yang ada di sekitar ku. Kebanyakan orang tidak mau untuk melakukan pernikahan karena konsekuensinya adalah sangat besar jika suatu saat terjadi perceraian , dimana harus berbagi harta gono gini, harus tetap membiayai kebutuhan anak, jika ada anak, dimana ketika tidak mampu men-support biaya tersebut maka dia bisa masuk ke dalam bui. Mereka lebih senang dengan common law karena tidak adanya ikatan secara hukum yang sangat kuat seperti halnya pernikahan.

Common law memberikan effek yang sangat dahsyat secara psikologis, terlebih bagi orang yang sudah tinggal lebih dari 10 tahun,dan kemudian berpisah. Manusia secara natural memerlukan orang lain untuk berbagi baik senang maupun susah, attachment - meminjam istilah Bowlby seorang psikolog yang mengemukan theory infant-mother relationship. 

Dari satu sisi ini aku kembali menelaah kebelakang betapa islam menggunakan konsep pernikahan untuk mengatur hubungan antara 2 jenis anak adam di bumi ini. pernikahan bukan hanya sekedar untuk mereproduksi generasi masa datang, dia mencakup beberapa elemen elemen manusia yang sangat dilindungi oleh islam. Seperti halnya attachment. 

Beberapa hari yang lalu saya kembali teringat ketika seorang perempuan yang cukup skeptis mengatakan bahwa islam adalah agama yang memberikan tekanan sangat besar terhadap perempuan. Tetapi ketika pemahaman sebuah konsep islam secara menyeluruh sudah dipahami maka kita baru akan melihat betapa stabilnya ajaran ajaranya yang melindungi manusia. Islam tidak menekan dan mengenyampingkan wanita, justru islam sangat menghargai dan melindungi wanita. Dengan adanya pernikahan, seorang wanita dapat terlindungi dengan adanya hukum hukum yang memberika proteksi baik secara fisik dan psikologi. 

Berbeda dengan common law dimana seorang pria bisa memberlakukan wanita seperti halnya seekor binatang. Dia bisa meninggalkanya begitu saja ketika dia sudah bosan "memakai"nya. Tapi permasalah tidak hanya sampai disana, efek efek selanjutnya bisa terakumulasi dan bisa menyebabkan stress yang berkepanjangan yang menuju kepada depresi jangka panjang. Psikologis anakpun bisa terkontaminasi dan tertanggu jika salah satu orang tuanya mengalami tekanan psikologis.

Beberapa jam kemudian aku kembali keruangan tersebut, mata anne pun merah dan membengkak bak jutaan liter air mata tumpah dari bola matanya yang sangat indah dan biru, sebiru lautan samudra hindia.  Aku hanya bisa berdoa dan mengucap dalam hati, semoga anne bisa kembali pulih dan menyapa pagi pagiku dengan senyuman, setiap kali aku membuka pintu ruanganku.

Kanada, 11 Februari 2009.
00.37 dini hari

No comments: