Tuesday, December 21, 2010

Why Christianity must change or die *

Today, I read a book that was written by a liberal Bishop, John Shelby Spong. He is known for his controversies in the Christian world. His book, Why Christianity must change or die, that I read has sort of “forced” Christian fundamentalists to reconstruct their understanding of their religion. As most people know that the tenet teaching of Christianity is Trinity which refers to Jesus consisted of three elements: God, Son of God, and Holy Spirit.

However, Spong proposed that there are many things that should be reconstructed with respect to the teachings of Christianity. One of them is related to the conception of Trinity. According to him, the creed teaching of Christianity was historically formulated by Church in second century, and adopted to be a core teaching of Christianity in third century.

The liberalist Bishop mentioned that one should focus on EXPERIENCE that shaped Christianity. Such experience that occurred to be a reference for shaping Christian belief needs to be reviewed in order to be incorporated with the current situation and condition. The experience that served to be a reference at that time may not be relevant to our current society. Therefore, such experience is subject to new interpretation. Renewing the understanding of Christianity, which may be considered to be against fundamentalist, is meant to make Christian teachings more adaptable to the progressing world.

For example, Spong mentioned his controversial claim that Jesus is not God. Yet, he does not denied the existence of God. He rather acclaimed that Jesus is an example of spiritual person. God presence is called to be spiritual. Having an experience of revelation presence or God presence has a significant impact on individual who is called to be spiritualist. Jesus is considered to be spiritual person because he was able to have a sense of God presence in his life. Jesus is neither God nor Son of God. Therefore, according to Spong, Christians need to follow Jesus as spiritual person rather than God. 

He also attempted to differentiate between Christian fundamentalist and liberalist. He defended that those who have a new understanding of religion that is in line with current condition are still considered to be Christian. But, they are more flexible and open minded.

Fundamentalists usually understand literally what has been written in the bible without taking into account the importance of the development of current situation. Liberalists are more likely to take into account outside factors (e.g., the development of biology and technology) in interpreting and applying Christian teachings. For liberalists, they try to make more Christian teachings fit into the progressing world. They perceive that they are more likely to implement their religious teachings for a wide range of humanity without compromising their belief. Also, getting rid of a discrimination on others (e.g., women and homosexual people) who are not in line with Christian fundamentalist’ understanding is one of liberalists’ objectives. In other words, liberal Christians attempt to accommodate different elements of society by reconstructing their interpretations of biblical text.

In summary, the Bishop wrote his Why Christianity must change or die  is to ask other Christians who understand literally their biblical text to reconstruct their new interpretations on Christian teachings. Thus, such teachings can be in harmony with the development of science and technology while keeping their Christian faith intact.

* This is just my summary of reading Why Christianity must change or die  

Thursday, December 16, 2010

15 Desember

ikarajat_elokuvat_15

Hari ini 15 desember, 2010. Tepat dua tahun yang lalu aku injakan tapak kakiku di tanah yang dingin ini- Kanada. Aku tak tahu seperti apa yang akan terjadi padaku nanti ketika aku mulai menghirup untuk pertama kalinya udara di musim dingin.  Tujuanku saat itu hanya satu. Aku hanya ingin belajar dan mendapatkan gelar master dari universitasku.

Ketika aku melihat kebelakang, betapa banyaknya cobaan hidup yang telah aku alami dalam dua tahun kebelakang. Rasanya tidak mungkin sama sekali bahwa aku dapat melalui cobaan itu melihat kondisiku yang selalu terseok-seok dari berbagai hal, terlebih dari segi finansial. Rasanya aku tidak sadar bahwa aku telah melewati kesulitan-kesulitan hidup yang sombong berdiri menantang. Keajaiban yang selalu terjadi !!. Berbagai macam pekerjaan telah aku lakoni. Mulai dari tukang cuci piring hingga tukang pembersih toilet. Semua ini aku lakukan demi satu: mendapatkan ilmu lebih baik sekaligus meraih gelar akademik yang lebih tinggi dari apa yang telah aku punya saat ini.

Kini waktu masih terus berputar. Jarum jam terus berdetak. Beruntungnya lagi, kiamat belum datang hingga saat aku torehkan tulisan ini. Malam masih tetap berada di putaran waktu tanggal 15 desember. Tepat hari ini adalah hari terakhirku menggali ilmu. Karena esok adalah hari yang sangat menentukan bagi masa depanku. Hari dimana aku harus melakukan sidang untuk tesisku – Thesis Defense.

Mungkin aku bisa katakan bahwa aku menyelesaikan studiku tepat dua tahun. Banyak halangan dan rintangan yang aku telah temui. Tapi juga banyak pelajaran hidup yang tealah aku raih. Bukan hanya dari segi akademik tapi juga ilmu bagaimana mensiasati hidup yang selalu membutuhkan pengorbanan. Hingga aku teringat sebuah tulisan yang tergantung di salah satu laboratorium sewaktu aku masih melakoni cleaning service mulai pukul 10 malam hingga pagi hari.

The greater the difficulty, the more glory in surmounting it

(Semakin besar kesulitannya, semakin banyak kemulian yang terdapat di puncak kesulitannya)

Mungkin hari esok adalah hari yang menentukan sekaligus mengakhiriku perjalanan-perjalanan panjangku demi menggapai impian menjadi seorang yang selalu haus akan ilmu pengetahuan. Mungkin untuk saat ini kesulitan itu akan terhenti sejenak, ketika aku berhasil melewati sidang esok hari. Maka kemenangan itu akan datang. Tapi tidak berhenti untuk tetap mencari ilmu dan mengasah otakku hingga perasan terakhir otakku.

Malam semakin meninggi mencoba meninggalkan tanggal 15 desember dan menuju 16 desember. Aku coba lirikan mataku ke arah bunyi detak jarum jam. Saat ini jarum pendek terhenti hampir di angka 12 dan jarum panjangnya mendekati angka 9 – 11.44 malam.

Mungkin sudah waktunya aku istirahat untuk esok hari…..

Tuesday, December 14, 2010

My reflection on Winter Storm

  Today is very unusual. I will say that this is an extraordinary cold condition that I experienced since I landed in Canada. A big winter storm that has happened since 3 days ago, from Friday, was so bad in compared to other winter times before.

   I as usual always stay in my friend’s house every weekend. When I wanted to go home on Monday morning. I just could not do it because the car of my friend won’t even move and go on. It is because there was too much snow and sounding scary wind. The storm brought a huge volume of snow.The speed of the wind was around 32 km/hour. It made outside condition became even colder. It almost killed me, I would say so. My body was not ready yet when I had to stay outside doing a shuffle.  It was really really cold.

   This winter storm made me realized that we as human being are not supposed to be arrogant. We feel that we can always conquer and control the world and nature. With a lot of inventions and advanced technology that have been created by human, we become our own God. We think that we are the “Creator” because we can control the nature. Such thinking has been shrunken today if we look at the winter storm that has been going on. A visit of such “small” winter storm almost paralyzed us or at least for me it really made me so. It brought the weather down to –32 degree Celsius. It’s just unbelievable. There is nothing that we can do almost.

  The winter storm as of now, Monday night, has slowed down and calmed. Then it reminds me that I need to thank to God that I already resigned from my night work that “tortured” me physically and mentally. I could not imagine what would happen to me if I still worked there. I do not think I can still survive until the dawn comes.

   So, my first big winter storm has touched my heart and mind. It made me humble as human who always makes mistakes and sins every minute. This winter storm made me realized that there is a higher power that created, governs, and sustains this universe – Allah.

 

Wallahualam Bil Muradif

Sudbury,

Monday,December 13, 2010

11.31 pm

Sunday, December 5, 2010

Hukum alam…(pagi)

snow-morning1-300x200

    Pagi hari, ketika aku buka mataku maka seraya otakku mengatakan bahwa hari ini telah menjadi hari sabtu pagi. Suasana tidak begitu cerah, tapi tetap saja hari ini telah menjadi pagi. Iya, suasana pagi yang aku rindukan dalam beberapa bulan ini, karena aku tidak pernah menghirup udara pagi dengan keadaan tubuh yang fit.

   Aku terbangun pukul 7 pagi. Wow..sudah siang ! Tidak juga, dikarenakan musim dingin maka masih ada kesempatan bagiku untuk melaksanakan solat subuh. Ketika musim dingin, maka malam menjadi lebih panjang dan ketika musim panas maka malam menjadi lebih pendek.

   Bangun di pagi hari memberikanku banyak sekali inspirasi untuk tetap menulis. Seperti yang aku torehkan saat ini. Mulai 6 bulan yang lalu, aku tidak pernah terjaga di pagi hari dikarenakan aku harus tertidur setelah letih semalaman bekerja.

Kini aku bisa benar-benar bersyukur menjadi seseorang yang telah terbangun di pagi hari. Hari ku menjadi semakin lebih berarti. Aku menganggap bahwa hidup ini harus seirama dengan hukum alam. Seberapapun biasanya kita dengan aktivitas yang menentang hukum alam, seperti bekerja dari malam hari hingga pagi, maka akan tetap mengalami sebuah kejanggalan dalam hidup. Hidup yang selalu penuh dengan warna–warni harus tetap memegang satu warna- warna hukum alam.

   Alam yang telah dibentuk oleh tuhan dengan sedemikian rupa haruslah diikuti aturan mainnya. Hidup harus selalu seirama dengan hukum alam. Jika siang telah dibentuk untuk manusia agar ia beraktifitas dan mencari makan (tentunya terjaga), maka bagi siapapun yang bekerja di malam hari dan terlelap di waktu siang. Pada dasarnya ia telah melawan hukum alam. Oleh karena itu seberapapun biasanya seseorang dengan pekerjaan itu. Ia tetap tidak hidup seirama dengan hukum alam. Jika musik tidak dibunyikan dengan seirama seberapa pun hebatnya memanipulasi musik itu, maka lambat laun akan terdengar tidak harmonis ditelinga. Inilah yang aku alami. Walaupun telah bekerja malam hari dalam beberapa bulan terakhir, tapi tetap saja irama kehidupanku menjadi tidak harmonis ketika aku terjaga di siang hari.

   Tapi pagi ini senang sekali rasanya, karena aku telah berjalan seiringan dengan hukum alam. Hukum alam diciptakan oleh tuhan, agar dapat mengatur alam semesta dan penghuninya untuk dapat berjalan seirama. Bangunku di pagi hari adalah ritme kehidupan yang sesuai dengan hukum alam. Maka aku telah berjalan dalam rambu-rambu tuhan.

Selamat pagi, biarkan aku buka pagi ini dengan senyuman. Seiring salju-salju yang mulai turun dari langit tersapu angin-angin nakal yang membius setip pori-pori kulit.

Aku mulai menyeruput teh panas yang asapnya masih mengepul…

Westmount, 4 Desember 2010

07.39 pagi

Monday, November 29, 2010

“Ilmu” ketika sakit perut dan “Ilmu” dimalam yang bersalju.

Aku baru saja kembali dari persinggahan Westmount. Perutku benar-benar seperti di hujam peluru yang datangnya bertubi-tubi setelah aku hantam Pecel dengan penuh kesetanan. Kini perutku berperilaku seperti orang kesetanan. Jika terus seperti ini, mungkin lambat-laun aku akan kehilangan cairan dalam tubuhku.

Selain dari rasa perut yang terus melilit. Satu hal yang membuatku merasa menjadi semakin tidak nyaman adalah aku harus bekerja di tengah-tengah malam sunyi yang dinginya tak karuan menusuk sampai ke sum-sum tulang belakang. Dinginnya salju membuat diriku seakan tekelupas dari kulitku. Bertahan dari hari ke hari membuatku selalu menghargai elephant_toilet_575sbetapa pentingnya arti sebuah waktu dan tenaga yang aku punyai dan masih tersisa di dalam tubuh. Selain itu aku juga dapat merasakan dan menghargai dengan sangat dalam bagaimana rasanya menjadi manusia kalangan ekonomi bawah. Satu hal menarik lagi yang aku pelajari adalah bahwa pendidikan mempunyai nilai jual yang sangat mahal bagi sesosok manusia.

Semenjak kecil aku selalu mendengar bahwa agama yang aku percayai memberikan derajat yang sangat tinggi bagi orang yang mempunyai ilmu. Ternyata, begitu aku tumbuh menjadi seorang yang dewasa aku menyadari bahwa konsep itu sangatlah benar. Dengan ilmu seseorang mempunyai posisi yang baik di mata masyarakat. Dan tentunya juga di mata tuhanku.

Hidup menjadi seorang tukang sapu dan tukang pel memberiku banyak pelajaran hidup yang mungkin tak semua orang mendapatkannya. Aku menjadi semakin yakin bahwa ilmulah yang dapat memberikan penghidupan yang layak. Ilmu dapat merubah hidup seseorang. Dengan ilmu seseorang bisa keluar dari kemiskinan yang menyekat urat nadi mereka. Dengan ilmu seseorang dapat merubah sejarah “turunan” keluarga mereka. Keluarga yang sedari dulu hanya tahu hidup di sebuah pasar dan hanya memikirkan uang untuk terus bertahan hidup. Dapat dirubah oleh seseorang dari turunan mereka dengan menjadi seseorang yang kaya dengan ilmu pengetahuan.

Kebanyakan dari orang-orang yang saat ini mempunyai profesi yang sama denganku mereka hanyalah tamatan SMA. Atau bahkan mereka tidak lulus SMA. Kenyataan ini membuatku menjadi semakin menghargai ilmu pengetahuan. Dengan ilmu aku bisa terbang kesana-kemari mengelilingi dunia. Dengan ilmu aku bisa bertemu banyak orang. Dengan ilmu aku mempunyai jaringan yang banyak hingga ke berbagai pelosok belahan dunia. Dengan ilmu aku bisa membuat hidupku tentram dan dengan ilmu jualah aku bisa berbicara dan mengubah orang-orang di sekitarku. Tanpa ilmu aku hanyalah seonggok daging yang diarahkan oleh nafsu kehewananku.

Malam menjadi semakin dingin dan jam terus berdetak menuju pukul 10 malam. Aku harus segera bergegas menuju tempat kerjaku dan harus tetap terjaga hingga pukul 6 pagi. Sambil bercengkerama manis dengan gagang pel dan gagang sapu. Saat ini aku harus tetap berjalan di dalam masa-masa kesulitan hidupku. Sulit memang rasanya ketika kita harus melawan hukum alam (natural law), terjaga di malam hari dimana itu adalah waktu untuk terlelap. Tapi aku selalu ingat bahwa KesulitaN akan selalu tergantikan oleh KemudahaN, dan begitulah selanjutnya irama kehidupan ini. Hidup yang selalu mempunyai warna-warni akan selalu menjadi indah dan damai jika kita jalani dengan penuh keikhlasan dan serahkan pada ilahi yang memberikan kesulitan dan kemudahan.

Jangan terlalu bernafsu menggapai duniawi, tapi gapailah ala kadarnya. Menjadi manusia hanya sementara dan tentunya akan ada situasi lain yang akan mempertanyakan apa yang telah kita lakukan di sini.  Hiduplah dengan mengikuti irama kehidupan yang selalu penuh dengan warna-warni. Untuk mengikutinya, engkau harus menyelam dalam setiap warna yang ia tawarkan.

Canada,

November 28, 2010, 8.48.pm

Sunday, November 7, 2010

Bermimpilah ! karena takdir yang akan merubah takdir


Malam semakin larut. Aku masih saja tetap terjaga disini. Di sebuah kota bernama Sudbury di provinsi Ontario, Kanada. Angin-angin malam berhembus makin kencang dengan membawa butiran-butiran es dari langit yang jatuh lalu tersangkut di atas daun hijau agak kecoklatan.Aku menatap keluar melalui kaca jendela yang basah karena salju mulai mencair di atas permukaannya. Aku teringat dinginya salju yang selalu mencoba merobek pori-pori kulitku. Iya, dingin itu terkadang menang dan berhasil memporak-porandakan kulitku. Kulit berkualitas asia tenggara, tepatnya di sebuah negara kepulauan,yang tak pernah bercengkerama dengan suhu -25 derajat selsius.

Banyak pelajaran menarik yang aku temui selama pengembaraanku mencari sebongkah ilmu pengetahuan. Termasuk kisah ku yang "terdampar" di kota ini. Perasaan terbuang dan terasingkan karena tak ada seorangpun yang aku kenal kecuali seorang professor muda yang telah tinggal lebih dari 10 tahun di kota ini. Kota ini tak pernah terbayangkan sebelumnya seperti apa. Tapi itulah seni dan suka duka sebuah perjalanan dan penjelajahan. Ketika anda berani berjalan maka anda harus berani menghadapi segala ketidak mungkinan yang akan terjadi.Sekalipun nyawa anda meski terancam.

Aku masih ingat jelas ketika baru sampai di Kanada, saat itu bis mulai berangkat tepat pukul 1 malam dari toronto. Salju pun turun sangat kencang, hingga anginya menusuk dan mencoba menembus beberapa tas yang penuh pakaian. Uangpun hanya ada seadanya. Seorang teman mengantarku ke stasiun bis greyhound, bis antar kota yang paling terkenal di Kanada. Bis itu membawaku pergi meninggalkan toronto, kota yang paling hiruk-pikuk di negara yang terkenal karena saljunya. Aku terlelap ditengah perjalanan sambil menahan rasa dingin yang telah menjalar hingga ke seluruh sel-sel pembuluh darahku. Darahku rasanya telah membeku dan tak mengalir di seluruh tubuhku. Aku mulai merasa takut karena aku manusia biasa. Nyaliku seakan menciut. Benar-benar menciut. Seperti balon gas yang dibuka tutupnya dan hendak melejit ke atas langit untuk terbang sejauh mungkin dari tempat ini. Aku kaget ketika aku terbangun di tengah jalan. Semua bebatuan yang berwarna hitam kelam nampak menjadi putih. Batu besar itu menjelma menjadi sebongkah butiran-butiran salju putih yang nampak mencekam di tengah malam.

Tak pernah terbayang olehku betapa mengerikannya salju ditengah malam, amat jauh dari bayangan dan angan-anganku tentang salju selama ini. Aku selalu membayangkan bahwa salju itu indah, tapi rupanya malam itu, segala impian dan bayang-bayangku berubah tentang salju dan musim dingin. Persepsiku berubah dan selama ini persepsiku salah besar. Aku tak percaya televisi yang selalu menggambarkan betapa indahnya salju. Ah, salju itu menyeramkan. Membuat jantungku harus bekerja ekstra dan memompa darah sekuat-sekuatnya hingga ke ujung kakiku.

Aku menjadi semakin takut dan seakan ingin kembali ke tanah air. Perjalanan sebatang kara membuatku hampir menyerah di tengah-tengah perjalanan. Tapi aku teringat apa yang telah aku tanamkan dalam-dalam pada titik sanubariku. Sekali aku langkahkan kakiku untuk mengembara, pantang bagiku untuk kembali walau hanya mundur satu langkah sebelum tujuan pengembaraaanku ada di depan mata. Dalam kesunyian yang aku jalani, aku mempunyai keinginan dan kerinduan yang sangat mendesak. Apa itu?. Keinginan mempunyai pacar ? ah tidak...Keinginan kembali ke tanah air ?, tentu tidak karena pantang aku injakkan tumitku sebelum aku gapai cita-citaku. Keinginan menjadi seorang kaya-raya ketika kembali ke tanah air ? Ah tidak, aku bukan orang yang gila uang walau hidup agak melarat :), tapi aku menikmati suka duka mencari ilmu.

Lalu apa ?. Aku ingin mempunyai teman-teman muda dari Indonesia hingga membentuk keakraban seperti keluarga. Berapapun jumlahnya tak mengapa walau sedikit. Sedikitnya jumlah orang dari negara asal, maka biasanya akan menjadi semakin akrab dan punya ikatan emosi yang sangat kuat.Ingin sekali rasanya mimpi itu menjadi nyata. Tapi aku pikir, itu tidak mungkin. Itu hanya mimpi di siang bolong. Aku agak pesimis, tapi tetap aku simpan dalam-dalam mimpiku itu dengan sedikit harapan. Masih ada kemungkinan, tapi entah kapan dan bagaimana.

Lama sudah aku simpan mimpi dan cita-citaku itu dalam-dalam. Satu tahun telah bergulir. Tapi keadaan tak berubah. Mimpi itu masih tetap menjadi mimpi. Semakin lama semakin dilumat waktu yang terus berjalan menuju kiamat. Aku masih tetap berharap. Musim demi musim telah berganti. Sedih, senang, kecewa, bahagia, pahit, dan manis telah aku kecap semuanya. Tapi tetap belum ada tanda-tanda cita-citaku akan menjadi kenyataan. Semangatku turun. Hampir aku lepas mimpi yang tak mungkin itu: berharap ada sekumpulan orang indonesia berjiwa dan berusia muda serta mempunyai keakraban yang luar biasa. Hingga merasa seperti saudara dan keluarga yang penuh kehangatan. Lagi-lagi tak ada tanda-tanda bahwa itu akan jadi kenyataan. Aku mulai melupakannya sedikit demi sedikit karena aku makin merasa bahwa itu semakin tidak mungkin.

Ketika kita bermimpi, maka segala anggota tubuh,orang-orang di sekeliling, dan juga keadaan di sekitar kita, mencoba untuk menjawab mimpi-mimpi itu. Bermimpilah !! karena mimpi itu keinginan yang terpendam untuk sesaat.

Aku tak menyangka bahwa saat ini, detik ini ketika aku hela nafasku di tengah-tengah dinginnya udara yang mencekam di luar, mimpi itu menjadi nyata dan benar-benar nyata. Aku telah menemukan teman-teman muda dengan keluarganya yang bahagia, walau aku belum berkeluarga(**off the record :)tapi aku tahu apa itu bahagia dalam keluarga.Dan satu lagi, kami mempunyai hubungan sangat erat karena kami telah menjelma menjadi seperti keluarga. Kecil keluarga kami tapi harmonis. Kecil jumlah kami tapi besar keluarga kami. Karena kami orang-orang muda yang mempunyai jiwa yang tak pernah tua. Karena kami selalu tertawa, berbagi bersama, bernyanyi seirama seperti layaknya sanak saudara dalam satu darah. Ini adalah nyata. Mimpiku terwujud !!.

Kini aku percaya. Sesulit apapun hidup yang kita jalani, selama kita berani bermimpi dan terus kita genggam mimpi itu. Walau merapi goncang, walau awan panas memanggang manusia, walau Tsunami menghantam warga yang tak berdosa, maka suatu saat mimpi itu akan menjadi nyata. Iya...nyata seperti apa yang kamu rasakan sewaktu membaca tulisan ini. Nyata seperti bumi yang sedang kamu pijak saat ini. Nyata seperti warna yang kamu lihat. Nyata seperti bayi yang terlahir dari rahim seorang wanita.

Tak ada guna engkau takut untuk bermimpi. Hidup hanya sekali. Sekali engkau mati maka tak ada lagi waktu untuk bermimpi, karena bermimpi hanya ada di dunia ketika engkau masih bernyawa. Maka bermimpilah karena mimpi hanya sekali.

Detik jarum jam terus bergulir mengiringi tetesan salju yang mencair di kaca jendela. Kini aku yakin. Benar-benar yakin bahwa mimpi akan merubah hidup. Jangan pernah engkau remehkan mimpimu. Jangan pernah engkau lepas mimpi yang engkau punya, walau kesulitan terus membungkam. Jangan !! jangan pernah engkau serahkan mimpimu pada kenyataan yang sulit. Karena kesulitan itu hanya sesaat. Benar. Hanya sesaat. Hidup yang selalu dilingkari oleh takdir akan selalu bergulir. Karena mimpilah yang akan menggulirkan takdir.

Salju itu turun lagi lalu membentur kaca jendela kamarku….

Sudbury, 6 November, 2010
11.48 malam

Sunday, October 31, 2010

Habis sudah kata-kataku...


Suara itu tiba-tiba datang !!! Datang seperti gemuruh yang melejitkan jutaaan macam rasa takut dalam dada manusia. Magma telah mendidih. Siap untuk ditukar dengan buih-buih tubuh manusia. Asap-asap putih bergulung dan menggumpal di atas langit. Langit biru yang serentak berubah menjadi kelam dan menakutkan. Gunung merapi itu makin tampak gagah namun ia juga congkak dan buas. Bak sekumpulan lelaki yang menggagahi seorang perawan diatas seprai yang kumal dan lusuh. Kaki-kaki mereka saling berkejaran, berlarian, dan mengangkat deru-deru kematian ke atas langit. Langit yang hanya bisa menatap dan tak mampu lagi mengeluarkan air matanya. Ia hanya bisu dan menyerah pada kebiadaban sang merapi. Semua ternak mati. Tak ada yang tersisa. Para ibu berlarian pontang-panting, sambil membawa anak mereka yang belum lagi habis menghisap air susu dari dadanya. Orang-orang lansia tak sanggup lagi berlari, nafas mereka tersengal-sengal, seakan pasrah untuk menyerahkan urat nadi mereka untuk dilumat oleh panasnya api.

Semua orang tunggang langgang. Singgah sana tampak di porak-porandakan. Gemuruh angin dan debu bersenggama menjadi satu. Awan panas berlari dengan kecepatan maha dahsyat melibas apapun yang menghalanginya. Manusia disekitarnya takut akan kematian.Iya, kematian yang mengenaskan karena mereka sudah tau kapan urat nadi mereka akan berhenti berdenyut.



“Ibu, tunggu...tunggu bu...tung...g..gg....ibuuuuuu.....”, suara itu keluar dari kerongkongan seorang anak yang belum lagi genap tinggal di dunia ini selama 10 tahun ,sambil mencoba meraih jari-jemari sang ibu.



“Ayo nak....ayoo...ibu takut liat asap tebal di atas langit sana”, sang ibu menarik anak dengan sekuat tenaga, sambil menggendong dua buah hatinya yang lain: satu di atas pundak dan satu lagi di dalam pangkuannya.



“Agung takut bu......agungg takut...ibu...rumah kita sudah ngga ada bu...kita mau tinggal dimana ???”, sang anak terseok-seok di atas debu-debu panas yang telah berjatuhan di atas kampungnya. Agung tak mampu lagi berlari. Kakinya terluka. Tertusuk sembilu bambu sewaktu menyelamatkan adiknya dari ayunan di depan rumah ketika sang merapi meletus. Tapat pukul 5 lebih 5 sore hari. Sang ibu masih tetap mencoba menolong anaknya, karena naluri keibuannya yang tetap membara untuk melindunginya.



“Agunnggg....gungg....gungg....gg..g..g”, suara sang ibu masih terdengar berteriak-teriak menyelinap diantara deru-deru kaki para penduduk yang tunggang langgang menyelematkan diri. Wajah sang anak sudah penuh debu letusan gunung merapi. Semuanya tak nampak lagi.



“ibu...ibu...ibu...buu...bu..b...b...”, suara anak itu terdengar diantara jeritan para penduduk yang mati terpanggang awan panas. Sang ibu mencoba menyusup melawan arah, tapi tak mungkin karena segalanya telah menjadi kelam. Suara sang agung perlahan mulai lenyap di telan derap kaki para pengungsi dan di bawa terbang debu-debu panas yang membakar dengan suhu 500 derajat selcius. Agung hilang. Pulang kepada yang Maha Agung.



Sang ibu hanya bisa meratap dan melihat pandangannya yang tertutup abu panas yang menghalangi cahaya yang jatuh di retina-nya. Air matanya jatuh ketika suara seorang manusia yang pernah tinggal 9 bulan di dalam rahimnya lenyap di telan muntahan gunung merapi. Merapi yang tertidur selama 400 tahun, kini mulai terbangun dan tak mengenal ampun. Si ibu mulai lemas, sedih, ingin kembali tapi tak mungkin, ia ikut terbawa arus para pengungsi yang berlari menuju tempat yang lebih aman. Air susunya tumpah ke tanah bercampur debu dari perut bumi, air matanya menetes seakan bercampur dengan dengan mayat-mayat yang telah gosong.

Gemuruh semakin kencang. Kencangnya melebihi bom atom yang pernah diledakan di muka bumi. Genangan-genangan air mata seakan tak mampu untuk menghentikan kemurkaan gunung itu. Manusia menangis, takut dan tak tahu lagi kemana harus mengadu. Disaat awan panas datang, manusia mulai merasa butuh tuhan. Tuhan yang selama ini ia ingkari lalu tiba-tiba dicari, karena tak ada lagi tempat berlari dan meratap.



Ketika langit digoncangkan. Ketika gunung mengeluarkan isi perutnya. Ketika laut menghempaskan ombaknya. Tidakkah manusia berpikir siapa yang telah menyebabkan itu semua. Akan sangat nampak bahwa manusia perlu tuhan ketika ancaman berada di atas ubun-ubun mereka. Kepala mereka berbalik 180 derajat menyembah dan mencari tuhan yang selama ini selalu ia bangkang dan bahkan ia tantang. Goncangan dan dahsatnya membuat manusia ingat siapa yang menciptakan. Mungkin manusia perlu kemalangan untuk mengenal lebih dekat siapa tuhanya. Semuanya telah berubah menjadi darah. Darah yang membeku dan menggumpal bersama debu-debu letusan gunung merapi.

****



“Aisyah dimana ? aisyahhhhhhh…. ?”, jerit sutarto yang belum satu minggu menikah aisyah. Sutarto semakin histeris. Persis seperti orang psikosis yang lagi kambuh- tidak bisa melihat realita dengan semestinya karena ada gangguan psikologis hingga akhirnya hanya bermain dengan fantasinya sendiri. Keganasan becana yang merenggut belahan bagian tulang rusuknya, aisyah, membuat jiwanya goncang. Benar-benar goncang. Seakan hatinya retak dan pecah berkeping-keping lalu dilumat lahar panas yang menyembur.



“Mas, aisyah tidak sempat ikut kami. Ia masih tetap tinggal di atas ketika semua orang mulai mencari jalan turun ke bawah”, jelas shima seorang dokter dari jakarta.



“Kenapa ia tidak turun, dok?”,tanya sutarto sambil mengusap air matanya yang telah tumpah dari pelupuk mata.



“Mereka bilang, mereka masih sayang rumah yang diwarisi nenek moyang mereka”, jelas sang dokter sambil menyambangi mayat-mayat lain yang masih bergelimpangan di atas tanah.



“Kenapa seperti ini ??”, sutarto menjerit

“Tuhan…jika engkau memang tuhan yang Maha adil, dimana keadilan mu?. Aku ingin bertanya tuhan…..Katanya engkau maha baik dan bijaksana?. Lalu mengapa ini yang engkau berikan pada kami. Engkau tidak adil tuhan…jangan bodohiiiii kamiiiiiii….”, suara sutarto lantang menembus hingga kelangit dan menyatu dengan panasnya awan diatas sana.



Ia frustasi. Mulai kehilangan tuhan.Mulai kehilangan rasa percaya pada tuhan. Tuhan yang selama ini ia agung-agungkan lalu dirubah menjadi musuhnya. Kemalangan dan bencana yang merenggut nyawa orang terdekat, kadang membuat orang menjadi membenci tuhan. Mereka selalu mengganggap bahwa tuhan itu baik ketika Dia memberikan yang baik menurut kacamata mereka. Tapi jika sesuatu yang tidak baik terjadi menurut kacamata mereka, maka mereka bilang bahwa tuhan tidak baik. Tuhan Kejam.Tuhan biadab dan Tuhan itu bengis !!



Suara-suara sirine mobil ambulan datang berhamburan di pinggir jalan . Berbagai bantuan mulai berdatangan. Wajah mereka tampak kusut dan layu.Tak ada lagi harapan. Tak ada lagi masa depan. Yang ada hanya tangisan dan ratapan yang masih terdengar di tengah malam yang menjadi semakin kelam. Bersabar dan menjaga pikiran yang positif adalah kunci ketika manusia dilanda oleh kemalangan. Kemalangan yang bisa membuat orang menjadi gila. Gila karena goncangan jiwa yang amat dahsyat. Manusia hanya bisa mengukur dan berencana tapi tuhan yang menentukan. Semua telah terjadi. Dan letusan merapi adalah ketentuan sang ilahi yang tak dapat lagi diutak-atik. Nyawa telah melayang. Istri kehilangan suami. Suami kehilangan istri. Anak kehilangan orang tua. Harga nyawa manusia seakan tak berarti di depan awan panas dan gempa. Mereka harus menyerahkan ruhnya pada gunung yang terbangun setelah lelap selama 4 abad.



“Tuu…haa….nnn…”, ia tersungkur ke tanah sambil meneteskan air matanya .Menangis sedu. Membenamkan kepalanya di atas debu menutupi perkampungannya. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Lalu terlintas di kepalanya segala memori tentang istrinya. Ketika ia mengucapkan ijab qobul. Berdiri di atas pelaminan. Hingga pada waktu pertama kali ia bertemu dengan aisyah, seorang bunga desa yang pemalu tapi juga religi. Tapi itu dulu. Karena aisyah kini telah pergi dilumat merapi dan berubah menjadi debu yang hilang dibawa angin. Aisyah telah menjadi bagian isi perut bumi.



***

Sang ibu yang kehilangan anak bernama agung pun mulai kehilangan dirinya. Berbagai peraasaan trauma datang menghantui. Perasaan bersalah, benci, hingga tak tau lagi kemana ia harus melangkah mulai bercampur aduk. Sang ibu tiba-tiba terbelalak ketika seorang mayat diturunkan dari sebuah mobil ambulan. Matanya tertuju pada pergelangan tangan si mayat. Karena ia mengenali benar bekas luka sewaktu kecil yang pernah terjadi pada anaknya. Ia mendekat. Ia sibakkan debu-debu yang telah menutupi mukanya. Air matanya semakin jatuh menetes di jidat sang mayat. Kini mukanya sudah tak lagi seperti sesosok manusia. Mukanya telah lenyap terpanggang, kulitnya melepuh. Sudah tak dapat lagi dibayangkan betapa sakitnya ketika ia meregang nyawa.



Ia bolak-balik tubuh itu. Semakin ia melihat, semakin pilu hatinya. Ia semakin yakin bahwa mayat itu pernah bernafas dan menghentakan jantungnya untuk pertam kali di dalam rahim nya. Rahim itu kini bergejolak. Bergejolak serasa sewaktu agung masih dalam kandungan. Bayi itu kini sudah tak lagi mempunyai rupa. Tak ada rupa yang pasti. Dan yang pasti hanya satu. Bahwa agung telah mati.



Masa depan tak ada yang pasti sepenuhnya. Tapi kematian di masa depan adalah sebuah kepastian ilahi yang perlu dicermati. Bencana dan kematian sudah sepatutnya membawa manusia mengingat perilakunya yang selama ini bersifat destruktif. Baik terhadap alam maupun sesama.



“Ibu kenal dengan mayat ini ?”, tanya dokter shima yang sedari tadi masih membolak-balik mayat yang sudah tidak dikenali lagi akibat luka kibasan awan panas di sekujur tubuhnya.



Si ibu hanya bisa tersedu dan menangis. Air matanya sudah tak keluar lagi. Sudah kering-kerontang tak ada lagi yang bisa dikeluarkan. Ia hanya mengangguk dan terhisap dalam kepedihannya yang mulai membara di sekujur tubuhnya. Tangan ke ibuannya menggengam pergelangan tangan anaknya, yang meninggalkan bekas luka tak pernah lupa olehnya. Ia menggenggamnya penuh isak tangis. Karena ia adalah darah dagingya. Ia usap tangan anaknya dengan kasih sayang walau sang anak telah mati dan tak punya rupa. Ia pegang jari jemarinya lalu ia buka genggaman tangan anaknya. Agung meninggal sambil menggenggam sebuah kertas di antara jari jemarinya.

Kertas itu diambil oleh sang ibu dan dibacanya dengan tangisan yang tak mungkin terhenti hingga berbad-abad lamanya. Sang ibu membuka gulugan kertas yang sudah terbakar ujungnya, lalu ia membaca urutan huruf-huruf yang terukir di dalam kertas itu.

“PRAY FOR INDONESIA”,



Sang ibu memejamkan mata sambil berkata dalam hati, “apalagi yang harus aku katakan atas becana yang hebat ini, habis sudah kata-kataku”, ia tundukan kepalanya sambil mendekap kedua anaknya yang masih kecil ke dalam dadanya.



*Seorang anak bangsa yang meratap dan berdoa dari kejauhan*

Thursday, July 29, 2010

A reflection of my journey

The sun does not give much its light at 6.48 pm today, summer 2010. I am still sitting here while trying to pour out my ideas into an electronic paper - blog. The sun reminds me back how I ended up in this small city, Sudbury, Canada. Although this is just a small one, but it rendered me a lot of experiences during my journey of seeking knowledge. A shadow of people who are sitting downstairs and their voices were blown by a wind that runs smoothly. I keep writing while enjoying their voices that are not really clear enough to be heard. At this moment, I begin to trace back myself through a tunnel of my life and here is a small reflection of the journey.
It was around one and half years ago, I decided that I wanted to see another part of the world, the West. But, I begin my journey in the very early young age- 12 years-old. Traveling, for me, is a learning process that we will never achieve fully until we get out of a soil where we were born. In fact, traveling is the biggest classroom in the universe. A physical classroom is just a small place where a learning process takes place and contains only small portions of knowledge. But, for a further understanding, human needs to get in touch with a ground where everything is laid down and unorganized. So, those people who received any knowledge from a classroom, they are obliged to put those unorganized stuff into a perspective in a simple way.

Having that in mind, I believe that seeking knowledge can be gained fully if one wants to travel to see different parts of the world. This is not an easy task, yet it is so rewarding for those who believe in the beauty of taking journey in order to gain some knowledge. Taking a journey, without any doubt, will always be surrounded by hardship and difficulties. However, a true traveler (knowledge seeker) will not look at them as burden, instead they view them as parts of a process of satisfying their hunger of knowledge. In fact, those hardship and difficulties are things that make him or her as a true learner.

I have left a place where I was born and come to look at myself who is eligible enough to put unorganized things into a perspective. I think this is a time for me to go to the ground. The time to apply what I have already known and gained, the time to heal, the time to share with others, and the time to look at a future with a full of optimism.

I came with nothing, but now I have almost everything that can be given to others. Until I did not realize that I am almost done with my study in pursuing human development. I chose this because I am interested to know how human develops throughout a life-span, from time to time, from one stage to another. Although I have a little knowledge about my self and others as human being, I feel that I already have a responsibility to put unorganized things into a perspective.
I have to thank to all people who have helped and supported me, materially or psychologically, directly or indirectly, until I arrive in this small city that taught me about human. The size of the city does not really matter because the one that is matter is certain people whom I've met have taught me some knowledge that I can develop and transfer later on to others who are in need.

Thanks God to keep guiding me in every condition and situation, both hardship and happiness. I've come to believe that a faith that human sustains in any condition can help them to go through difficulties in life. Keep learning and never give up whenever you fall down in the middle of your journey. What makes you different from others is when others fall, they don't get up. But when you fall, you always get up and you are ready to give your contagious smile to the world !

July 29, 2010
Sudbury, Canada
8.46 pm

Wednesday, February 24, 2010

02.03

Lampu-lampu jalan mulai redup. Cahaya mentari tak begitu lama bertengger di angkasa bebas. Angin terasa mulai menjalar disetiap permukaan kulit. Seorang pria nampak terseok-seok membawa kopernya yang baru saja turun dari pesawat. Mukanya memancarkan rasa senang, gembira, dan excited yang tak tertahankan ketika menyaksikan butiran-butiran salju terjun bebas dari langit untuk pertama kali dalam hidupnya.

Udara dingin menyapanya secara perlahan seakan hendak berkawan dengan pria itu, ketika pesawat yang ia tumpangi tujuan jakarta-toronto mulai mendarat di pearson international airport. Perasaan gembira benar-benar memenuhi setiap rongga dadanya. Ia masih tak percaya ketika kakinya ia tapakan pada ibu kota negara bagian ontario itu. Udara dingin mulai ia nikmati. Ia hirup napasnya dalam-dalam, sedalam sumur yang pernah ia lihat di kampungnya dulu dimana ia tumbuh menjadi seorang remaja dewasa. Baginya terasa mimpi, karena ia selalu berkhayal untuk dapat sampai ke negeri daun maple itu. Mimpi yang selalu ada dalam setiap lipatan benaknya ketika ia berada di tengah-tengah sawah bersama 2 ekor kerbau warisan sang alharhum ayahanda.

“Assalamulaikum”, suaranya ia coba salurkan melalui telepon umum. Ia genggam erat-erat gagang telepon sambil menahan dingin yang mulai meraba kulit dadanya.

“Walaikumsalam”, jawab seorang perempuan di seberang sana.
“Aku baru mendarat di toronto sayangggggggg...........”, ia mencoba membagikan kesenangan yang tak pernah terjadi sebelumnya, kepada seorang wanita yang menanti kabar darinya semenjak pesawat membawanya melayang ke angkasa dari bandara soekarno hatta.

“Wah...pasti kamu seneng yah disana liat salju...”, balas suara perempuan itu dengan nada yang benar-benar sumringah.

“Aa, nanti kalo kesini bawain salju yah buat miri”, pinta perempuan itu sambil merengek-rengek manja yang rindu akan belaian tanganya, yang selalu ia dapatkan sebelum memejamkan mata ketika malam mulai merengkuh.

“Iya, nanti aku bawain buat kamu...spesial buat istriku tercinta...tentunya buat anak kita juga”, pria itu menjawab penuh dengan kasih sayang. Hingga miri merasa menjadi wanita yang paling dimanja sejagad raya. Benar-benar pria yang mengerti perasaan betina, eh wanita.

“Gimana kamu bawainnya nanti, a ?”, jawab miri yang semakin penasaran sekaligus menguji kesetian suaminya itu.

“Nanti aku masukin dalam termos kecil terus aku bungkus pake plastik, dimasukin dalam ransel terus aku gulung nanti pake daun maple”, jawab pria itu. Sebuah tanda dalamnya rasa cinta yang ia punya pada wanita yang selalu merasa dirinya chubby, sekalipun cermin berkata tidak. Karena cermin tidak pernah berdusta.

****

Ia nampak letih setelah melakukan penerbangan lebih dari 20 jam. Sesampainya di hotel, ia rendamkan tubuhnya di dalam air panas yang kembali memberikan kekuatan untuk dapat melanjutkan cita-cita utamanya untuk meraih gelar Doktor. Jilatan-jilatan air disetiap pori-pori kulitnya, membuatnya merasa semakin tenang dan mendapatkan kekuatan baru setelah melayang bebas diangkasa dalam waktu yang cukup lama. Aroma di sekitar tempat tinggalnya itu memberikan nuansa romantis dan agak sedikit berbeda. Ia teringat akan sesosok wajah istrinya yang lembut dan manis walaupun agak sedikit berminyak ketika cahaya lampu remang-remang mulai menyentuh. Ia merasa sepi. Benar-benar sepi. Kota kecil yang ia sambangi kini seperti kota mati. Tak banyak orang lalu lalang, yang ada hanya volume salju yang semakin bertambah. Gumpalan-gumpalan salju yang turun secara perlahan memberikan pemandangan yang membuatnya takjub. Apalagi di tambah dengan cahaya-cahaya lampu jalan yang remang-remang. Ia rebahkan dirinya di atas kasur yang empuk. Spring bed yang besar. Warnanya putih. Bed cover yang masih harum mengingatkan ia akan aroma tubuh sang miri. Ia menatap ke kanan dan ke kiri yang ada hanya tembok-tembok yang menjadi temannya yang bisu. Andaikan miri ada disisinya mungkin suasanya akan berbeda. Mungkin dingin tak lagi merangkulnya hingga larut malam.

“Aa, kapan kamu selesai studi nya disana ?”, miri menyapanya dengan nada penuh harapan.

“Miri sayang....aku berusaha sekuat tenaga agar aku bisa selesaikan studi ku ini secepatnya...agar kita bisa sama-sama lagi”, ungkap pria itu sambil menahan rasa rindunya yang semakin hebat menyesakkan setiap sudut dadanya yang agak sedikit berbulu.

“Nanti anak kita mau dikasih nama siapa yah ?”, tanya miri yang mulai bingung mencari nama yang bisa terdegar cihuyyy dikalangan orang-orang indonesia.

“Siapa yah.......hmhmhm....aku juga belum ada ide.”,jawab lelaki yang baru saja menikahinya sekitar 2 bulan sebelum keberangkatanya ke kanada demi sebuah gelar PhD.

“Pokoknya aku mau anak kita, kayak bapaknya nanti...pinter, ganteng, hitam manis, penuh jiwa seni, dan romantiss...sss...ssss..”, suara miri yang mulai terdengar kagum terhadap suaminya itu.

“Siapa dulu dong bapaknya gituh lohhhh.....DISEGANI PRIA DICARI WANITA”, tandasnya cepat.
“Aggh...kamu buat aku cemburu aja sich aa ?...disana jangan nakal yah...matanya dijaga, jangan suka melototin yang blonde-blonde atau yang brunet-brunet lo”, tukas miri yang merasa takut kehilangan dan teringat ketika dulu harus bersaing dengan mantan kekasih suaminya, Dinita Melani Anggoro.

“Sayang...aku akan buat anak kita suatu saat nanti bangga akan ayahnya yang akan meraih gelar doktor....begitu dia lahir aku akan berada disisinya...lalu aku sematkan beberapa nama-nama sang pujangga kelas atas yang pernah aku pelajari dulu. Dan aku akan berusaha sekuat tenaga untuk dapat mendampingimu ketika melahirkan anak pertama kita, sayang”, pria itu mencoba mencoba menguatkan kepercayaan sang istri, sambil berusaha menahan tusukan-tusukan jarum kangen yang semakin membahana disetiap rongga dadanya.

“Aku jadi inget dulu...dinita pernah bilang sama aku : Biarlah kita menjadi karang di tengah lautan, asal jangan menjadi ilalang diantara bunga-bunga”, kutip lelaki yang sangat suka menulis cerpen dan kata-kata filosofis itu.

“Kok kamu sebut-sebut dinita sih, aa ?”, miri terasa di bakar api asmara yang membuatnya menjadi cemburu. Mendengar nama dinita seperti mendengar gelegar halilintar yang tak kunjung putus selama 1.5 jam.

“Kalo itu memang bagus, yah kenapa ngga kita ambil, miri ?...maksudnya biarlah kita terpisah untuk sementara waktu walaupun rasanya memang susah, tapi layaknya karang semakin di terpa ombak maka ia akan semakin kuat....begitu juga dengan kita, semakin kita diuji maka kita akan semakin kuat...dan jangan pernah menjadi ilalang yang selalu bersama bunga-bunga indah di taman, walau kita selalu bersama dan nampak indah tapi kita tak pernah diuji, sekali cobaan besar datang maka kita akan mudah musnah dan tergulung oleh permasalahan yang ada...seperti ilalang ia akan hilang untuk selamanya ketika ditebas dan dicabut akarnya dari taman oleh tukan kebun”, pria itu mulai mengeluarkan jurus-jurus gombal rayuannya untuk meyakinkan sang istri yang semakin jablai- jarang dibelai.

“Udah ah....aku pokoknya ngga sudi...kalo kamu sebut-sebut lagi nama Dinita Melani Anggoro mantan pacarmu dulu....ih namanya kayak yang pernah ada di kasus KPK”, cibir miri agak sedikit jengkel.

“Emang nya kamu masih ada perasaan yah sama dia ??”, tiba-tiba suara istrinya terputus dan hilang. Mugkin hilang tenggelam diantara salju-salju yang semakin menumpuk dihalaman hotelnya. Pria itu lalu teranjak. Kaget, merasa sang istri marah besar.

“Astagaa...aku mimpi”, pukul 02.03 dini hari. Jarum jam masih tetap berdetak. Saling berkejaran. Hingga akhirnya ia benamkan lagi kepalanya diantara bantal-bantal yang menjadi teman tidurnya malam itu.

***

Musim dingin masih saja menyisakan percikan-percikan angin yang benar-benar terasa menguliti kulitnya yang sudah mulai kering. Beberapa bulan tinggal di negeri itu menjadikan rasa rindunya semakin terasa sakit dan menusuk-nusuk hingga ke lubuk sanubari. Ia coba selipkan dan benamkan rasa rindunya dalam-dalam agar tak lagi muncul ke permukaan. Hari-harinya ia habiskan melakukan penelitian. Ketika malam datang ia pandangi wajah sang istri yang agak sedikit fotogenik terpampang di meja belajarnya. Kini ia nantikan berita yang benar-benar menggembirakan. Ia menunggu kelahiran sang buah hati yang masih berada nyaman dan tak terusik di dalam rahim sang perempuan yang ia sunting beberapa bulan yang lalu.

“Miri....gimana hamil kamu ? Aku kangen banget nih...mau liat kamu, sekalian menunggu anak kita lahir”, suaranya ia ungkapkan lewat skype yang menjadi media utama untuk menjembatani rasa rindu yang semakin menggila.

“Iya aa, kata dokter aku akan melahirkan sekitar kurang lebih 3 minggu lagi...doain aku yah aa...walaupun kayaknya kamu ngga akan ada di sisiku”, nada miri penuh harapan yang terdengar agak sedikit sunyi dan membatin.

“Pastinya donk....aku doain kamu...aku ngga sabar nih mau ngeliat anak kita dan aku udah siapin nama yang bagus...tapi besok aku akan kasih tau kamu yah”, jawab pria itu mencoba menggembirakan hati sang istri.

****

Dari dalam kamarnya tak nampak lagi aspal-aspal jalanan. Yang ada hanya hamparan warna putih di setiap permukaan jalan. Satu dua orang sesekali nampak dari jendela kamarnya yang sudah dipenuhi salju hingga tak mengizinkan untuk mempunyai pandangan jelas ke arah luar. Diantara rasa dingin yang mencekam dan kesendirian yang selalu menghampirinya di setiap detik. Pria itu mencoba menghadirkan bayang-bayang wajah mantan ke kasihnya, Dinita Melani Anggoro, yang kini telah menjalin hubungan asmara dengan seorang expatriat kelahiran sumenep. Ia kini berdomisili di Taiwan sekaligus menjadi produser radioppidunia,Wijaya Mangkulangit Taieu.

Pria itu kini menerawang jauh menembus langit-langit kamar tinggalnya. Lalu tangannya merogoh tas kuliahnya dan mengeluarkan sebuah buku karangan Kahlil Gibran, Sang Nabi . Tiap lembaran-lembaran buku itu menyimpan berbagai kenangan manis dan pahit ketika pria itu sedang berada dipelukan Dinita Melani Anggoro. Walau kini mereka telah terpisah, tapi pria itu selalu menyimpan buku yang penuh dengan kata-kata manis dari sang pujangga kelahiran libanon itu, Kahlil Gibran. Ia buka halaman buku itu dengan acak hingga akhirnya ia terbawa pada sebuah halaman yang tertulis

“Anak-anakmu datang melalui kamu tapi bukan dari kamu”. Baris sajak itu membawa pikiranya melesat jauh terbang menembus angkasa teringat calon buah hati, hingga ia benar-benar sadar bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah dalam hitungan minggu. Pria itu tersenyum sendiri, bangga pada dirinya, dan tak sabar untuk memberitahukan nama untuk anaknya kepada sang istri.

Suara bunyi kecil menyelinap ke telinganya pertanda ada sebuah message di Yahoo Messengger nya yang masuk. Feelingnya benar-benar tersambung. Dinita tiba-tiba masuk menenggurnya setelah bertahun-tahun menghilang semenjak ia menikahi miri.

“Hallo, apa kabar ?”, Dinita mulai menyapa sambil diakhiri dengan simbol :). Ia merasa kaget karena selama ini dinita tak pernah hadir dalam hidupnya kecuali hanya dalam fantasinya yang agak sedikit nakal.

“Kabar ku baik”, jawabnya kembali melalui yahoo messengger.
“Aku sekarang sedang di rumah sakit...menemani istri kamu melahirkan”, sambung dinita.

Tusssssss. Tiba-tiba koneksi internet pria itu terputus. Belum lagi ia sempat membalas. Sebuah tulisan bertuliskan “You are offline” sudah lagi muncul di halaman screen komputernya. Hatinya senang bukan kepalang mendengar sang buah hati baru saja terlahir ke dunia.

“Aku menjadi ayah”,ucap pria itu pada dirinya yang terkurung dalam kamar yang sepi. Sambil bersukur yang sebesar besarnya pada tuhan.

Ia belum sempat memberikan nama untuk anaknya kepada miri. Tapi ia tetap bertanya di dalam benaknya kenapa dinita tiba-tiba hadir dan memberikan kabar bahwa ia bersama sang istrinya. Ada apa ? Kenapa Dinita muncul ? Untuk apa ia ada disana ?. Perasaanya berkecamuk dan bercampur aduk. Persis seperti semen yang diaduk-aduk dengan pasir dan teringat seperti adukan make-up dinita yang amburadul ketika mereka masih menjadi sepasang sejoli. Itu dulu. Beberapa tahun yang lalu.

Hari semakin larut. Koneksi internet tetap tak dapat tersambung. Hari diluar semakin dingin. Perasaan pria itu memuncah. Senang bukan kepalang. Tersenyum sendirian di dalam kamar dan hanya mendapat balasan permukaan tembok yang tetap datar dan tak ada gelombang. Ia terlelap di atas tempat tidurnya menggengam buku dari mantan kekasihnya itu. Ia terjaga ketika malam baru saja mengganti hari. Tubuhnya dingin. Lupa menggunakan selimut tebal yang masih terlipat rapih di tempat tidurnya. Laptopnya masih menyala, lalu ia hampiri.

“You are connected”, begitu simbol yang ada di monitor laptopnya. Pertanda koneksi internetnya kembali normal. Ia klik sebuah offline message di Yahoo messengger nya

“Aku sekarang di rumah sakit...istri kamu melahirkan anak perempuan...tapi sepertinya tuhan lebih sayang dengannya...anak itu kembali dipanggil oleh yang Kuasa”, bait-bait baris offline message yang dinita kirimkan membuatnya terperanjat seperti dihempaskan dari lantai teratas menara tertinggi di dunia, Al-buruj. Air matanya tak terasa tumpah mengalir membasahi kulit wajahnya. Ia scroll lagi ke bawah pesan di offline message yang ia terima dari mantan kekasihnya itu.

“Dua setengah jam kemudian...miri juga dipanggil menghadap sang pencipta”, hatinya benar-benar remuk. Seremuk kaca yang terhempas dan hancur berkeping-keping. Buku karya Kahlil Gibran masih tergeletak di atas kasur. Dinginya salju masih tetap merambat disetiap tembok kamarnya. Malam semakin larut. Jarum jam masih tetap berdetak dan terhenti di angka 2.03 dini hari ketika ia angkat wajahnya yang menyimpan jutaan kesedihan. Kesedihan yang masih tetap terdiam disudut kamar.

Kanada

Monday, February 1, 2010

Hari masih tetap hujan

Lentik bulu matanya berwarna jingga keemasan. Make-up nya tidak terlalu tebal. Tapi membuatnya tampak semakin manis. Dunia seakan berhenti berputar ketika ia melumat bibirnya yang tipis. Tipis setipis martabak manis yang dijual di pinggir jalan raya salemba, persis di depan Universitas Indonesia. Bayangannya masih terngiang-ngiang di benakku. Terlebih lekuk tubuhnya laik biola buatan Antonio stradivarius. Aku masih duduk di atas kursi berwarna tembaga di sebuah taman yang jarang dikunjungi orang. Retinaku masih menyapu bersih bunga-bunga yang jatuh ke tanah dan terselip di antara rerumputan hijau yang agak basah. Angin sore mulai datang sesekali menampar muka. Aku masih saja tetap termenung di depan tembok yang penuh coretan-coretan pilok anak SMA. Rintik hujan semakin deras jatuh menyentuh tanah. Lembayung mulai menari-nari bersama awan. Mentari mulai tenggelam dan akhirnya hilang di ufuk barat. Hari semakin gelap. Aku masih tertegun. Hampir putus asa.Karena bayanganya pun tak juga hadir. Aku rindu. Iya, rindu sejadi-jadinya akan gerak-gerik bibirnya yang agak sensual seperti bibir kadal.

“Kamu tau ngga sih apa artinya cinta ?”, tiba-tiba sebuah suara parau timbul dari belakang sambil menepuk pundakku. Aku lantas berbalik secepatnya seperti pitung yang hendak menebas kompeni belanda. Tak disangka suara itu mengejutkan aku. Jantungku berdebar kencang. Suaranya halus.

“Hmmh...”, jawabku. Detak jantungku seperti sedang berpacu di arena pacuan kuda. Melihat sosok tubuhnya yang khas seperti biola yang tengah digesek lembut dan agak sedikit menyayat-nyat kalbu. Bola matanya hitam mengkilat seperti habis di semir kiwi. Lentik bulu matanya seolah-olah sanggup menampung bergalon-galon jutaan air hujan yang sebentar lagi akan tumpah.

“Ngga....”, sambungku.

“Cinta itu menunggu”, jawabnya sambil menyelipkan sekuntum bunga edelwais yang ia sematkan diantara rambutku yang sudah sampai ke pundak.

“Maksudmu apa sih? Aku tuh udah nunggu kamu lama banget disini, sampai-sampai hujan udah mau turun lagi”, nadaku menggerutu sambil merasa lega karena sesosok wanita cantik ini berada kembali disisiku. Harapanku kembali lagi hidup. Seperti menemukan oase di gurun sahara.

“Iya..cinta itu menunggu...karena pada dasarnya segala sesuatu itu harus ditunggu..mau makan harus nunggu masak dulu...mau tidur harus nunggu ngantuk dulu...mau pintar harus nunggu belajar dulu...mau mahir belajar bahasa asing harus nunggu latihan dulu...iya menunggu...mau cinta sekalipun yang engkau dambakan harus tetap menunggu perasaaan cinta itu datang”, jawabnya sedikit berorasi tentang cinta dihadapanku.

Aku tak begitu peduli dengan orasi cintanya. Orasi murahan yang tak pernah menyentuh sudut kalbuku. Malam semakin senja. Angin-angin mulai bertiup ke arah barat. Rerumputan itu kembali saling bergesekan dengan yang lainya. Mentari benar-benar telah letih setelah seharian membagi kehangatannya kepada bumi. Cahayanya sedikit demi sedikit mulai hilang dan lenyap di telan lembayung senja. Malam telah tiba. Kami beranjak dari taman. Tinggalah sebatang kara bangku berwarna tembaga dengan rerumputan yang mulai tertiup angin malam.

**
Satu minggu kemudian.

Langit diluar terasa semakin dingin. Rintik-rintik hujan semakin lama terdengar semakin deras. Suara-suara hujan bermain nakal di atas genteng rumahku yang cukup tua. Sesekali aku pandang keluar memandang rumput yang digenangi air hujan yang terus bertambah. Suara air masih tetap terdengar beradu dengan permukaan tanah. Air hujan itu turun jatuh terjun bebas dari atas genting yang sudah agak sedikit karatan.

Suara telepon genggamku mulai berbunyi.

“Halo.....kamu dimana sih say ?”,suara dilla dari seberang sana terdengar manis lembut. Memberikan kehangatan bagiku ketika hujan turun. Telingaku seakan mendengar suara-suara harmoni yang dimainkan di sebuah orkestra kelas dunia. Deru air hujan yang bercampur dengan suaranya yang lembut membuatku semakin mabuk kepayang. Seakan dibius tujuh turunan.

“Aku dirumah”, jawabku pendek.
“Nanti jemput aku di kampus yah jam 5 sore”, pintanya dengan nada agak sedikit manja.
“Iya”, jawabku kembali pendek.

Hujan belum lagi reda. Para tukang ojek payung datang silih berganti menawarkan jasa yang tak bisa aku lupakan. Sampai di kampus, dilla tak nampak. Namun dari jauh aku nampak lekuk tubuhnya yang khas. Bergaun putih, sepatu ber hak tinggi. Aku seakan tidak percaya wajahnya nampak makin cantik dan berbinar-binar walaupun sesekali siraman air hujan menyentuh bibirnya yang manis. Tapi hatiku tiba-tiba terasa terbakar di tengah derasnya hujan yang semakin menderu. Dari jauh, aku nampak dia tengah menunggu air hujan untuk segera reda tapi jarak tubuhnya seperti merapat ke arah pria yang aku tak mengenalnya. Langkahku seperti tertarik magnet dengan gaya yang semakin kencang ke arah mereka. Aku semakin dekat. Semakin aliran darahku bertambah. Benar-benar naik hingga rasanya hendak memuncah dari tempurungku.

“Kenalin ini temen kuliahku”, dilla memperkenalkan lelaki itu sambil melirik ke wajah pria yang bulu dadanya nampak menyelinap diantara lipatan baju kemeja nya yang agak sedikit basah terkena air hujan.

“Andy”, pria itu menyebut nama sambil mengulurkan tangannya. Aku lantas membalas uluran tanganya yang dingin dengan gemuruh di dalam dada yang tak beraturan. Seolah-olah aliran darahku yang mendidih ikut ter-transfer ke dalam aliran darahnya yang dingin. Amarahku hampir tak tertahankan tanpa alasan yang jelas. Aku menjadi semakin berpikir yang tidak-tidak. Pikiranku mulai kalut. Seperti benang layang-layang yang kusut kemudian tersayat benang gelasan sebelum akhirnya dipakai untuk mengikat sandal jepit yang sudah putus.

“Kuliah dimana mas ?”, tanya andy padaku.

“Hmm....ngga, aku ngga kuliah”, jawabku dengan muka merah padam. Malu. Merasa rendah diri karena tak mampu mengenyam bangku mahasiswa. Aku tiba-tiba merasa bahwa dilla memang pantas bersamanya. Pendidikanya lebih tinggi dari aku. Wajar saja jika dilla menyukainya.

“Mas kuliah dimana ?”, tanyaku balik padanya.
“Saya di UI”,jawab pria itu.
“Jurusan apa ?”, tanyaku menyerogoh ingin tau lebih jauh.
“Sastra metalurgi”, jawaban andy membuat aku tercengang, persis seperti orang dungu yang baru mendengar jurusan yang maha dahsyat ini. Karena tak pernah aku mendengar nama jurusan ini walaupun aku tidak kuliah. Penggabungan antara rasa dan logika. Aku semakin merasa rendah diri di hadapan pria tampan, tinggi dan berambut agak sedikit mirip brokoli itu.

Andy pamit lalu pergi menyusuri jalan yang nampak semakin basah oleh air hujan. Sepatunya menginjak genangan air yang terciprat beberapa sentimeter. Aku hanya diam. Dilla juga diam seribu bahasa. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan dan tanyakan pada dilla. Wajahnya berubah ketika andy pergi dan hilang di angkut metromoni jurusan kampung melayu-harmoni. Tapi bagiku dilla tetap cantik walaupun terkena air hujan yang mengandung polusi. Rambutnya hitam mengkilat, terurai, dan ia biarkan setiap air hujan yang berada di ujung rambutnya terjun bebas dan menetes menyentuh tanah.

***

Suasana kafe di sekitar kemang membuat suasana perjumpaan kami terasa semakin romantis. Cahaya remang-remang menyibak mukanya yang manis dan agak terserap oleh suasana malam yang semakin lama semakin kelam. Tapi disana seninya, aku semakin lama semakin suka ketika ia mencoba membenamkan wajahnya lalu tertahan oleh cahaya lilin yang jadi pembatas antara kami. Benar-benar romantis. Persis seperti cintanya anak-anak sma yang sedang dilalap api asmara. Rambutnya ia biarkan menjulur sampai ke pundak. Seolah-olah menyerap cahaya bulan purnama yang terpantul dari aspal disekitar kafe kemang.

“Aku mau tanya sama kamu boleh ngga ?”, bibir manisnya bergerak dan menimbulkan gelombang suara yang tak lebih dari 120 Hz. Sebagian gelombag suara itu terserap oleh angin malam yang sesekali terhempas oleh laju bajaj yang berlari seperti waria di kejar kamtib di daerah taman lawang.

“Boleh...kok gitu sich ngomongnya, say ? Kayak ke siapa aja....”, jawabku sambil menikmati gerak bola matanya yang sedari tadi tidak habis-habisnya membiaskan cahaya-cahaya lilin sedari tadi meremang.

“Kamu pengen ngga sih kalau aku jauh ?”, tanyanya.

“Yah ngga la dil...mana ada sih orang yang mau jauh dari kekasihnya”, jawabku sambil mengunyah roti bakar Edi yang penuh dengan susu kental manis.

“Tapi jauhnya aku ini demi kebaikan aku..dan kamu ”, nadanya mulai merengek, manja, seolah-olah seperti bayi yang hendak disapih dari payudara ibunya.

“Sungguh, aku tak paham maksudmu”
“Iya...ini demi kebaikan aku dan hubungan kita di masa depan”, sambung dilla yang tambah membuat aku menjadi semakin kalut dengan pernyataan-pernyataannya yang menggantung. Uh, dasar emang kebiasaan dari sebelum jadian, juga suka nge-gantung jawabannya. Dasar cewe nge-gantung.

“Aku dapat beasiswa erasmus mundus...untuk melanjutkan kuliahku di eropa”, penjelasanya kali ini benar-benar jelas. Sejelas lampu petromak yang dibawa tukang nasi goreng tek-tek yang suka aku berhentikan setelah jam 12 malam untuk sekedar mengganjal usus di malam hari.

Mendengar beritanya, tenggorokanku seperti dijejali buah simalakama. Ulu hatiku seperti ditohok dengan tongkat kungfu para sakti yang sudah sering naik turun gunung. Roti bakar edi yang tengah aku kunyah rasanya berubah seperti rasa empedu yang aku telan tanpa rasa penawar. Pahit. Sepahit jamu pegel linu yang tak dijampur jahe manis dan beras kencur. Ingin rasanya aku hilang dari muka bumi saat ini. Tapi aku harus memberi keputusan. Aku tercengang. Rasanya seluruh anggota tubuhku telah mati kecuali hati dan jantungku yang masih berdetak keras.

Diam. Aku hanya terdiam.
Diam. Diam seribu bahasa.

“Sayangggg....kamu kenapa ?”, suaranya yang lembut menghentakkanku dari lamunan yang seolah-olah membuatku merasa telah melamun selama satu dasawarsa. Nampaknya dilla sangat paham dengan segala ekspresiku yang semakin lama semakin tak menentu setelah mendengar berita beasiswanya itu .

“Ahhh...ngga...”, aku terjaga dari lamunan di tengah cahaya lilin.
“Oh iya.......aku seneng banget kok kalo kamu bisa pergi keluar negeri melanjutkan studi kamu”, jawabku spontan. Aku tak tahu kenapa mulutku tiba-tiba mengeluarkan kata-kata seperti itu. Aku senang tapi di lain sisi aku menyesal karena membiarkannya pergi dari genggamanku.

“Makasih yah sayanggg....”, ucapan yang lembut itu mengalir dari bibirnya yang disepuh oleh gincu yang berwarna agak sedikit gelap kemerah-merahan. Jari-jarinya yang halus menyetuh tanganku. Ia tersenyum manis dibiaskan cahaya lilin yang membuat suasana semakin romantis. Senyumnya merekah nampak seperti bemo yang penuh dengan penumpang. Kulit tanganya yang halus membius ku hingga terasa mematikan kerja jaringan urat saraf otak bagian kiriku yang mengatur rasionalitas. Aku tau dari belaiannya, ia mengucapkan terima kasih yang mendalam.

“Oh iya aku lupa ngasih tau .....andy juga dapat beasiswa yang sama dan kita juga kuliah di kampus yang sama”, tambahnya di akhir kalimat.

“Ahhh gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.....”, jeritku dalam hati. Benar-benar penyesalan yang tiada tara karena telah melontarkan perkataan yang merelakan kepergiannya. Mendengar andy bersamanya ulu hatiku seperti tertohok duri-duri kaktus yang tak mau tercabut. Busur panah cintanya pasti akan melesat ke dalam hati dilla hingga tak dapat lagi tercabut untuk selamanya. Aku semakin gusar. Tak tahu arah. Bulan sabit yang bersinar di atas kota jakarta mulai beranjak dan berangsur pergi. Hari semakin malam. Malam semakin menggulung. Menggulung perasaan di dalam dada yang semakin berkecamuk. Knalpot-knalpot metromini masuk ke dalam telinga dan semakin menambah guncangan tektonik di dalam relung hati. Aku kalut. Semakin dibuat gila oleh pikiran-pikiranku. Aku tidak rela jika dilla harus satu kuliah dengan andy. Dia pasti akan merenggut dila dari pelukanku. Malam semakin larut. Sudah dua gelas besar teh manis aku tenggak. Tapi rasanya aku masih terasa haus. Haus akan perasaanku . Hari semakin mendekat kepada pagi. Kami pulang.

***
Sehari setelah keberangkatannya ke eropa, aku semakin kalut dan gila dibuatnya. Benar-benar gila. Pikiran menjadi semakin tak karuan. Entah apa yang ada di dalam kepalaku. Rasanya seperti hendak mau pecah. Apalagi ketika aku melihat mereka berdua hilang ditebas belokan ketika aku melepas dilla di bandara soekarno hatta. Cemburuku semakin menjadi-jadi dan menghantui di setiap malam-malamku.

“Ayang....aku baru sampai”, sebuah sms aku terima.
“Alhamdulillah”,hatiku lega setelah mendengar kabar dari dilla bahwa ia sampai dengan selamat di benua yang menjadi pusat peradaban dunia saat ini.

Aku mulai bercerita pada byan, seorang sahabat terbaikku dalam hidup, tentang masalah dilla. Tapi memang kebiasaanku bahwa aku tak pernah mengungkapkan nama asli kekasihku dari dulu pada orang-orang dekatku termasuk byan. Karena memang aku tidak mau nama asli kekasihku di ketahui banyak orang. Aneh. Aku memang orang yang aneh. Aku beritahu namanya adalah miri.

“Apa artinya perpisahan bagi sebuah cinta ?”, tanyaku pada byan yang terkenal menjadi kliniknya anak-anak muda yang sedang dilanda badai asmara hinga akhirnya terporak-porandakan pikiran dan emosinya.

“Ada 2 makna yang bisa engkau ambil dari kejadian itu...yang pertama adalah banyak orang terlupa ketika ada pertemuan harus ada perpisahan. Kebanyakan orang lupa bahwa ketika dia berjumpa pada dasarnya dia sudah memulai untuk menjalankan sebuah perpisahan”, pelajaran nomor satu terlempar dari mulut byan yang memang suka dengan hal-hal yang bersifat philosopis.

Awan nampak semakin beriringan berarak. Daun-daun yang menampung debu siap tersentuh air hujan yang sebentar lagi akan turun. Debu-debu jalanan mulai berterbangan dan hinggap di setiap dinding rumah. Suasana semakin kelam. Sekelam hatiku.

“Lalu apa yang ke dua ?”, tanyaku semakin tak sabar kepada byan.

Byan menelan air ludahnya. Sebelum melanjutkan kata-katanya yang penuh dengan makna dan menggugah.

“Kehilangan cinta adalah sebuah cara dimana engkau diuji untuk menjadi seorang manusia yang bijak....karena engkau tak akan pernah dapat bilang secara utuh kalau engkau mencintai seseorang, jika engkau tidak pernah tau bagaimana rasanya kehilangan sepenuhnya orang yang engkau cintai....kehilangan adalah sebuah proses pembelajaran untuk menghargai sebuah keberadaan...engkau tidak pernah bisa mengatakan sayang jika engkau tak pernah tau seperti apa itu rasa benci...engkau tak pernah bisa mengatakan pagi jika engkau tak pernah melihat malam....engkau tak pernah bisa mengatakan perempuan jika engkau tidak tahu seperti apa laki-laki....sama artinya engkau tidak akan tahu manisnya cinta jika engkau tidak tahu bagaimana pahitnya cinta”, kata-kata bijaknya kali ini memang benar-benar membuat ku terkesima memberikan semangat baru untuk hidup. Tidak sia-sia sepertinya berkenalan dengan seorang byan yang sangat bijak memahami berbagai lika-liku kehidupan. Pantas bagi seorang byan untuk menjadi bijak setelah badai asmara membuatnya tak kurang dari 20 kali mengalami kegagalan dalam dunia cinta.

***

Beberapa bulan kemudian.

“Dilla..aku kangen sama kamu.....kamu kok ngga ada kabarnya lagi sih udah hampir 3 bulan. Andaikan kamu tahu galaunya hati ini...aku galau seperti seorang anak yang ditinggal ibunya...seperti seorang istri yang sedang hamil lalu di tinggal pergi oleh sang suami untuk selamanya...aku khawatir tentang dirimu...apa kamu semakin akrab dengan andy? Atau kamu mungkin kini sudah berada di dalam pelukan andy ketika dinginnya salju mulai menjalar di setiap kulit mu yang halus ?”, tulis ku dalam pesan singkat yang aku kirim lewat facebook.

Tiap menit aku nanti dan aku tunggu di dalam inbox facebook ku. Aku masih tetap menunggu. Menit berganti jam. Jam berganti hari. Hingga hari berganti bulan. Aku tetap tak mendapatkan balasan dari dilla. Yang ada hanya menyaksikan foto-foto yang selalu ia update di dalam facebooknya bersama andy. Di bawah menara eiffel dengan sebuah caption, “unforgettable moment”. Aku semakin ambruk. Seperti ditimpa mesin penghalus aspal jalanan. Hari-hariku makin terasa sedih dan kelam. Tapi aku masih tetap teringat akan kata-kata sahabatku byan yang membuatku tetap bertahan hingga detik ini.

Beberapa bulan telah berlalu semenjak pertemuanku dengan sahabat byan. Kini ia tak dapat lagi kutemui. Mungkin ia sibuk dengan pekerjaannya. Aku coba hubungi lewat sms. Tapi tak kunjung juga aku dapatkan balasan. Aku ingin lagi bercerita dan mengungkapkan segala keluh kesahku pada byan sebagai seorang sahabat sejati. Aku ingin beritahu padanya nama kekasihku yang pernah aku ceritakan padanya waktu itu.

Sebuah email notifikasi baru masuk dalam email ku yang menunjukan bahwa ada sebuah pesan di dalam inbox facebook ku.

“Aku perlu kepastian”, itu jawaban dilla atas sebuah pesan yang pernah aku tulis tentang kegelisahan yang aku alami beberapa bulan yang lalu. Aku tak paham .Benar-benar tak paham maksudnya. Pesannya singkat tapi membuat aku semakin kebelingsatan. Seperti setan tergigit cabe rawit sewaktu menggoda adam untuk memetik buah kholdi. Tak tahu apa maksudnya. Ah dasar perempuan. Sukanya menggantung.

***

Cuaca di luar rumah nampak terik. Benar-benar terik. Aku malas keluar. Suasana jakarta semakin tak karuan persis seperti galau hatiku yang semakin sembraut diterkam pahitnya asmara dan juga merasa kehilangan sahabat tempat berbagi. Rupanya mentari tak begitu lama bertengger di atas ibu kota jakarta. Suasana menjadi mendung. Langit berarak-arak nampak berubah menjadi hitam . Suara-suara petir saling bersautan. Langit seakan nampak tak tahan hendak memuntahkan air hujan. Mungkin langit telah bocor. Satu tetes dua tetes air hujan mulai jatuh membasahi pekarangan rumahku. Jendela kamarku mulai terbersit air-air hujan yang mulai turun. Anak-anak kodok seakan gegap gempita menunggu curahan air hujan yang akan segera datang.

Tiba-tiba suara motor datang menghampiri pintu pagar rumahku. Tak biasanya ada tukang pos pada waktu seperti ini. Tapi tak apalah. Aku mencoba menghampiri kotak surat ku. Dengan satu tangan yang aku letakan diatas ubun-ubunku, agar tak terkena siraman air hujan, aku berlari menjemput surat yang sudah masuk di dalam kotak surat yang terpancang di dekat pagar rumahku. Aku segera rogohkan tanganku yang agak basah ke dalam kotak surat, tanpa sempat membaca aku langsung kembali ke dalam rumah. Basah. Benar-benar basah bajuku.Aku ganti sejenak bajuku setelah aku letakan surat itu di atas meja belajarku. Musik-musik mozart dan beethoven mengalun bersama deru air hujan yang terkadang terdengar lebih kencang dari gesekan-gesekan Austrian philharmonic orchestra.

Aku rasanya tak sabar membuka surat yang ditujukan untuk diriku. Suratnya nampak ekslusif dan mahal. Dibungkus plastik. Jari jemariku mulai menarik surat yang harum dan tertulis dengan tinta berwarna emas. Tak sabar rasanya melihat nama yang tergores di dalam surat itu.


“My dearest friend,

Byan minta maaf yah selama ini ngga sempat ngasih kabar sama kamu kalo aku sudah beberapa bulan ini meninggalkan indonesia untuk melanjutkan kuliahku. Aku berharap semoga kamu baik-baik aja di jakarta. Oh iya, aku mau memberi tahu kamu kalo aku akan menikah disini. Aku janji, nanti begitu aku selesaikan studi ku dan kembali ke indonesia, aku akan perkenalkan istri ku sama kamu. Aku akan datang kerumah kamu. Ini undangan pernikahanku, walaupun kamu mungkin tidak bisa datang tapi setidaknya kamu bisa mengirimkan doa untuk kami yah.”

“Hal : Undangan pernikahan
Dengan memohon kepada tuhan yang maha esa...kami memohon doa dari seluruh sanak saudara/kerabat/handai tolan dan rekan-rekan atas pernikahan kami yang akan dilangsungkan di Hotel Plato, pada tanggal 7 februari 2010, pukul 12.00 siang”.


Bunyi petir menggelegar. Menampar setiap sudut telingaku dan menggetarkan semua yang ada. Deru hujan semakin berlomba-lomba menarik aku untuk terus dapat berjalan mengikuti setiap imajinasi dan memori-memoriku. Rumput-rumput di halaman semakin lama semakin terendam air hujan. Di sudut kanan kamar, hanya ada foto dilla yang tersenyum manis merekah yang memberikanku kehangantan. Di meja komputer masih jelas terduduk dan terdiam dalam bingkai berwarna perak, foto aku dan byan ketika berjalan menyusuri gunung galunggung. Hujan semakin deras. Aku masih tetap terpojok di sudut kamar. Langit semakin menghitam. Volume air hujan semakin bertambah. Hujan semakin deras dan mata ku tertuju pada bagian bawah surat.




“Yang berbahagia
Byan & Dilla ”

Hari masih tetap hujan.