Friday, October 7, 2011

Malam…

Sewaktu aku kecil, banyak orang bercerita kepadaku tentang indahnya malam. Tapi aku belum cukup mengerti apa itu malam. Aku langsung terlelap, ketika dongeng-dongeng mulai digulirkan. Malam hanya menyimpan kelam, tapi hanya bagi orang-orang yang menatapnya dengan hati yang akan melihatnya menjadi terang.

Malam ini, Aku mencoba menatap mata sang malam, tapi hanya gulita yang membalasnya. Aku tak dapat menangkap maksudnya.

Lalu….dimana arti malam itu ?

Disebuah sudut malam,  aku baru menyadari bahwa malam mempunyai makna tersendiri. Malam adalah waktu yang terbaik untuk melihat diri dan kerusakan akibat rasa iri . Malam tercipta untuk menapaki jejak-jejak yang telah dilalui sepanjang hari. Malam adalah akhir dari sebuah permainan yang dimulai semenjak pagi.

Aku arahkan sedikit kepalaku ke atas langit, aku dapati hanya setengah tubuh bulan yang semenjak magrib mulai dijilati oleh cahaya mentari. Cahayanya  belum sempurna.

Malam… Kau memberikan banyak makna bagi siapapun yang ingin berbagi denganmu. Malam adalah lempengan-lempengan yang ditempa jutaan kali, lalu membeku di dalam keheningan. Malam adalah  kumpulan atas apa yang tergores di bawah sinar mentari. Dan malam adalah pelabuhan terakhir setelah seharian mencoba mengais-ngais sisa kehidupan.

Aku beranikan lagi untuk menatap cahaya bulan yang jatuh persis membentur kusen jendela kamarku. Cahayanya pas. Benar-benar pas memberikan cahaya temaram yang beradu bersama cahaya lampu klasik yang terdiam di tembok dekat jendelaku. Pancaran tubuh bulan yang hanya setengah telanjang membuat aku jadi kikuk. Seakan aku ingin menjelma menjadi tulang rusuknya.

Aku hanya bisa melihat malam dari dalam kamarku. Kamar yang sepi tanpa sentuhan jiwa seni. Hanya  biola dan tumpukan buku-buku yang selalu menarik perhatianku.

Tapi apa daya, malam seperti nya ingin menyediri dan tak ingin diganggu. Malam sudah merasa risih ketika aku menatapnya sedari tadi. Ia tahu bahwa aku memperhatikan gerak-geriknya, tapi ia tetap tak bergumam. Mungkin malam sudah muak denganku, atau mungkin saja ia tersipu malu.

Sudahlah….lebih baik aku tinggalkan malam agar ia dapat memberikan keheningan yang sejati. Aku tak ingin mengganggu.

Perlahan aku mulai merasa lelah, beban pikiran dan kehdupan semakin terasa ketika jarum jam sudah hampir berdetak menyentuh angka 12.

Mungkin sudah saatnya aku berselimut di dalam pangkuan malam.

Terima kasih malam.

6 Oktober, 2011, 11.45 Malam

Musim gugur, Toronto

Monday, December 20, 2010

Why Christianity must change or die *

Today, I read a book that was written by a liberal Bishop, John Shelby Spong. He is known for his controversies in the Christian world. His book, Why Christianity must change or die, that I read has sort of “forced” Christian fundamentalists to reconstruct their understanding of their religion. As most people know that the tenet teaching of Christianity is Trinity which refers to Jesus consisted of three elements: God, Son of God, and Holy Spirit.

However, Spong proposed that there are many things that should be reconstructed with respect to the teachings of Christianity. One of them is related to the conception of Trinity. According to him, the creed teaching of Christianity was historically formulated by Church in second century, and adopted to be a core teaching of Christianity in third century.

The liberalist Bishop mentioned that one should focus on EXPERIENCE that shaped Christianity. Such experience that occurred to be a reference for shaping Christian belief needs to be reviewed in order to be incorporated with the current situation and condition. The experience that served to be a reference at that time may not be relevant to our current society. Therefore, such experience is subject to new interpretation. Renewing the understanding of Christianity, which may be considered to be against fundamentalist, is meant to make Christian teachings more adaptable to the progressing world.

For example, Spong mentioned his controversial claim that Jesus is not God. Yet, he does not denied the existence of God. He rather acclaimed that Jesus is an example of spiritual person. God presence is called to be spiritual. Having an experience of revelation presence or God presence has a significant impact on individual who is called to be spiritualist. Jesus is considered to be spiritual person because he was able to have a sense of God presence in his life. Jesus is neither God nor Son of God. Therefore, according to Spong, Christians need to follow Jesus as spiritual person rather than God. 

He also attempted to differentiate between Christian fundamentalist and liberalist. He defended that those who have a new understanding of religion that is in line with current condition are still considered to be Christian. But, they are more flexible and open minded.

Fundamentalists usually understand literally what has been written in the bible without taking into account the importance of the development of current situation. Liberalists are more likely to take into account outside factors (e.g., the development of biology and technology) in interpreting and applying Christian teachings. For liberalists, they try to make more Christian teachings fit into the progressing world. They perceive that they are more likely to implement their religious teachings for a wide range of humanity without compromising their belief. Also, getting rid of a discrimination on others (e.g., women and homosexual people) who are not in line with Christian fundamentalist’ understanding is one of liberalists’ objectives. In other words, liberal Christians attempt to accommodate different elements of society by reconstructing their interpretations of biblical text.

In summary, the Bishop wrote his Why Christianity must change or die  is to ask other Christians who understand literally their biblical text to reconstruct their new interpretations on Christian teachings. Thus, such teachings can be in harmony with the development of science and technology while keeping their Christian faith intact.

* This is just my summary of reading Why Christianity must change or die  

Thursday, December 16, 2010

15 Desember

ikarajat_elokuvat_15

Hari ini 15 desember, 2010. Tepat dua tahun yang lalu aku injakan tapak kakiku di tanah yang dingin ini- Kanada. Aku tak tahu seperti apa yang akan terjadi padaku nanti ketika aku mulai menghirup untuk pertama kalinya udara di musim dingin.  Tujuanku saat itu hanya satu. Aku hanya ingin belajar dan mendapatkan gelar master dari universitasku.

Ketika aku melihat kebelakang, betapa banyaknya cobaan hidup yang telah aku alami dalam dua tahun kebelakang. Rasanya tidak mungkin sama sekali bahwa aku dapat melalui cobaan itu melihat kondisiku yang selalu terseok-seok dari berbagai hal, terlebih dari segi finansial. Rasanya aku tidak sadar bahwa aku telah melewati kesulitan-kesulitan hidup yang sombong berdiri menantang. Keajaiban yang selalu terjadi !!. Berbagai macam pekerjaan telah aku lakoni. Mulai dari tukang cuci piring hingga tukang pembersih toilet. Semua ini aku lakukan demi satu: mendapatkan ilmu lebih baik sekaligus meraih gelar akademik yang lebih tinggi dari apa yang telah aku punya saat ini.

Kini waktu masih terus berputar. Jarum jam terus berdetak. Beruntungnya lagi, kiamat belum datang hingga saat aku torehkan tulisan ini. Malam masih tetap berada di putaran waktu tanggal 15 desember. Tepat hari ini adalah hari terakhirku menggali ilmu. Karena esok adalah hari yang sangat menentukan bagi masa depanku. Hari dimana aku harus melakukan sidang untuk tesisku – Thesis Defense.

Mungkin aku bisa katakan bahwa aku menyelesaikan studiku tepat dua tahun. Banyak halangan dan rintangan yang aku telah temui. Tapi juga banyak pelajaran hidup yang tealah aku raih. Bukan hanya dari segi akademik tapi juga ilmu bagaimana mensiasati hidup yang selalu membutuhkan pengorbanan. Hingga aku teringat sebuah tulisan yang tergantung di salah satu laboratorium sewaktu aku masih melakoni cleaning service mulai pukul 10 malam hingga pagi hari.

The greater the difficulty, the more glory in surmounting it

(Semakin besar kesulitannya, semakin banyak kemulian yang terdapat di puncak kesulitannya)

Mungkin hari esok adalah hari yang menentukan sekaligus mengakhiriku perjalanan-perjalanan panjangku demi menggapai impian menjadi seorang yang selalu haus akan ilmu pengetahuan. Mungkin untuk saat ini kesulitan itu akan terhenti sejenak, ketika aku berhasil melewati sidang esok hari. Maka kemenangan itu akan datang. Tapi tidak berhenti untuk tetap mencari ilmu dan mengasah otakku hingga perasan terakhir otakku.

Malam semakin meninggi mencoba meninggalkan tanggal 15 desember dan menuju 16 desember. Aku coba lirikan mataku ke arah bunyi detak jarum jam. Saat ini jarum pendek terhenti hampir di angka 12 dan jarum panjangnya mendekati angka 9 – 11.44 malam.

Mungkin sudah waktunya aku istirahat untuk esok hari…..

Tuesday, December 14, 2010

My reflection on Winter Storm

  Today is very unusual. I will say that this is an extraordinary cold condition that I experienced since I landed in Canada. A big winter storm that has happened since 3 days ago, from Friday, was so bad in compared to other winter times before.

   I as usual always stay in my friend’s house every weekend. When I wanted to go home on Monday morning. I just could not do it because the car of my friend won’t even move and go on. It is because there was too much snow and sounding scary wind. The storm brought a huge volume of snow.The speed of the wind was around 32 km/hour. It made outside condition became even colder. It almost killed me, I would say so. My body was not ready yet when I had to stay outside doing a shuffle.  It was really really cold.

   This winter storm made me realized that we as human being are not supposed to be arrogant. We feel that we can always conquer and control the world and nature. With a lot of inventions and advanced technology that have been created by human, we become our own God. We think that we are the “Creator” because we can control the nature. Such thinking has been shrunken today if we look at the winter storm that has been going on. A visit of such “small” winter storm almost paralyzed us or at least for me it really made me so. It brought the weather down to –32 degree Celsius. It’s just unbelievable. There is nothing that we can do almost.

  The winter storm as of now, Monday night, has slowed down and calmed. Then it reminds me that I need to thank to God that I already resigned from my night work that “tortured” me physically and mentally. I could not imagine what would happen to me if I still worked there. I do not think I can still survive until the dawn comes.

   So, my first big winter storm has touched my heart and mind. It made me humble as human who always makes mistakes and sins every minute. This winter storm made me realized that there is a higher power that created, governs, and sustains this universe – Allah.

 

Wallahualam Bil Muradif

Sudbury,

Monday,December 13, 2010

11.31 pm

Saturday, December 4, 2010

Hukum alam…(pagi)

snow-morning1-300x200

    Pagi hari, ketika aku buka mataku maka seraya otakku mengatakan bahwa hari ini telah menjadi hari sabtu pagi. Suasana tidak begitu cerah, tapi tetap saja hari ini telah menjadi pagi. Iya, suasana pagi yang aku rindukan dalam beberapa bulan ini, karena aku tidak pernah menghirup udara pagi dengan keadaan tubuh yang fit.

   Aku terbangun pukul 7 pagi. Wow..sudah siang ! Tidak juga, dikarenakan musim dingin maka masih ada kesempatan bagiku untuk melaksanakan solat subuh. Ketika musim dingin, maka malam menjadi lebih panjang dan ketika musim panas maka malam menjadi lebih pendek.

   Bangun di pagi hari memberikanku banyak sekali inspirasi untuk tetap menulis. Seperti yang aku torehkan saat ini. Mulai 6 bulan yang lalu, aku tidak pernah terjaga di pagi hari dikarenakan aku harus tertidur setelah letih semalaman bekerja.

Kini aku bisa benar-benar bersyukur menjadi seseorang yang telah terbangun di pagi hari. Hari ku menjadi semakin lebih berarti. Aku menganggap bahwa hidup ini harus seirama dengan hukum alam. Seberapapun biasanya kita dengan aktivitas yang menentang hukum alam, seperti bekerja dari malam hari hingga pagi, maka akan tetap mengalami sebuah kejanggalan dalam hidup. Hidup yang selalu penuh dengan warna–warni harus tetap memegang satu warna- warna hukum alam.

   Alam yang telah dibentuk oleh tuhan dengan sedemikian rupa haruslah diikuti aturan mainnya. Hidup harus selalu seirama dengan hukum alam. Jika siang telah dibentuk untuk manusia agar ia beraktifitas dan mencari makan (tentunya terjaga), maka bagi siapapun yang bekerja di malam hari dan terlelap di waktu siang. Pada dasarnya ia telah melawan hukum alam. Oleh karena itu seberapapun biasanya seseorang dengan pekerjaan itu. Ia tetap tidak hidup seirama dengan hukum alam. Jika musik tidak dibunyikan dengan seirama seberapa pun hebatnya memanipulasi musik itu, maka lambat laun akan terdengar tidak harmonis ditelinga. Inilah yang aku alami. Walaupun telah bekerja malam hari dalam beberapa bulan terakhir, tapi tetap saja irama kehidupanku menjadi tidak harmonis ketika aku terjaga di siang hari.

   Tapi pagi ini senang sekali rasanya, karena aku telah berjalan seiringan dengan hukum alam. Hukum alam diciptakan oleh tuhan, agar dapat mengatur alam semesta dan penghuninya untuk dapat berjalan seirama. Bangunku di pagi hari adalah ritme kehidupan yang sesuai dengan hukum alam. Maka aku telah berjalan dalam rambu-rambu tuhan.

Selamat pagi, biarkan aku buka pagi ini dengan senyuman. Seiring salju-salju yang mulai turun dari langit tersapu angin-angin nakal yang membius setip pori-pori kulit.

Aku mulai menyeruput teh panas yang asapnya masih mengepul…

Westmount, 4 Desember 2010

07.39 pagi

Sunday, November 28, 2010

“Ilmu” ketika sakit perut dan “Ilmu” dimalam yang bersalju.

Aku baru saja kembali dari persinggahan Westmount. Perutku benar-benar seperti di hujam peluru yang datangnya bertubi-tubi setelah aku hantam Pecel dengan penuh kesetanan. Kini perutku berperilaku seperti orang kesetanan. Jika terus seperti ini, mungkin lambat-laun aku akan kehilangan cairan dalam tubuhku.

Selain dari rasa perut yang terus melilit. Satu hal yang membuatku merasa menjadi semakin tidak nyaman adalah aku harus bekerja di tengah-tengah malam sunyi yang dinginya tak karuan menusuk sampai ke sum-sum tulang belakang. Dinginnya salju membuat diriku seakan tekelupas dari kulitku. Bertahan dari hari ke hari membuatku selalu menghargai elephant_toilet_575sbetapa pentingnya arti sebuah waktu dan tenaga yang aku punyai dan masih tersisa di dalam tubuh. Selain itu aku juga dapat merasakan dan menghargai dengan sangat dalam bagaimana rasanya menjadi manusia kalangan ekonomi bawah. Satu hal menarik lagi yang aku pelajari adalah bahwa pendidikan mempunyai nilai jual yang sangat mahal bagi sesosok manusia.

Semenjak kecil aku selalu mendengar bahwa agama yang aku percayai memberikan derajat yang sangat tinggi bagi orang yang mempunyai ilmu. Ternyata, begitu aku tumbuh menjadi seorang yang dewasa aku menyadari bahwa konsep itu sangatlah benar. Dengan ilmu seseorang mempunyai posisi yang baik di mata masyarakat. Dan tentunya juga di mata tuhanku.

Hidup menjadi seorang tukang sapu dan tukang pel memberiku banyak pelajaran hidup yang mungkin tak semua orang mendapatkannya. Aku menjadi semakin yakin bahwa ilmulah yang dapat memberikan penghidupan yang layak. Ilmu dapat merubah hidup seseorang. Dengan ilmu seseorang bisa keluar dari kemiskinan yang menyekat urat nadi mereka. Dengan ilmu seseorang dapat merubah sejarah “turunan” keluarga mereka. Keluarga yang sedari dulu hanya tahu hidup di sebuah pasar dan hanya memikirkan uang untuk terus bertahan hidup. Dapat dirubah oleh seseorang dari turunan mereka dengan menjadi seseorang yang kaya dengan ilmu pengetahuan.

Kebanyakan dari orang-orang yang saat ini mempunyai profesi yang sama denganku mereka hanyalah tamatan SMA. Atau bahkan mereka tidak lulus SMA. Kenyataan ini membuatku menjadi semakin menghargai ilmu pengetahuan. Dengan ilmu aku bisa terbang kesana-kemari mengelilingi dunia. Dengan ilmu aku bisa bertemu banyak orang. Dengan ilmu aku mempunyai jaringan yang banyak hingga ke berbagai pelosok belahan dunia. Dengan ilmu aku bisa membuat hidupku tentram dan dengan ilmu jualah aku bisa berbicara dan mengubah orang-orang di sekitarku. Tanpa ilmu aku hanyalah seonggok daging yang diarahkan oleh nafsu kehewananku.

Malam menjadi semakin dingin dan jam terus berdetak menuju pukul 10 malam. Aku harus segera bergegas menuju tempat kerjaku dan harus tetap terjaga hingga pukul 6 pagi. Sambil bercengkerama manis dengan gagang pel dan gagang sapu. Saat ini aku harus tetap berjalan di dalam masa-masa kesulitan hidupku. Sulit memang rasanya ketika kita harus melawan hukum alam (natural law), terjaga di malam hari dimana itu adalah waktu untuk terlelap. Tapi aku selalu ingat bahwa KesulitaN akan selalu tergantikan oleh KemudahaN, dan begitulah selanjutnya irama kehidupan ini. Hidup yang selalu mempunyai warna-warni akan selalu menjadi indah dan damai jika kita jalani dengan penuh keikhlasan dan serahkan pada ilahi yang memberikan kesulitan dan kemudahan.

Jangan terlalu bernafsu menggapai duniawi, tapi gapailah ala kadarnya. Menjadi manusia hanya sementara dan tentunya akan ada situasi lain yang akan mempertanyakan apa yang telah kita lakukan di sini.  Hiduplah dengan mengikuti irama kehidupan yang selalu penuh dengan warna-warni. Untuk mengikutinya, engkau harus menyelam dalam setiap warna yang ia tawarkan.

Canada,

November 28, 2010, 8.48.pm

Sunday, November 7, 2010

Bermimpilah ! karena takdir yang akan merubah takdir


Malam semakin larut. Aku masih saja tetap terjaga disini. Di sebuah kota bernama Sudbury di provinsi Ontario, Kanada. Angin-angin malam berhembus makin kencang dengan membawa butiran-butiran es dari langit yang jatuh lalu tersangkut di atas daun hijau agak kecoklatan.Aku menatap keluar melalui kaca jendela yang basah karena salju mulai mencair di atas permukaannya. Aku teringat dinginya salju yang selalu mencoba merobek pori-pori kulitku. Iya, dingin itu terkadang menang dan berhasil memporak-porandakan kulitku. Kulit berkualitas asia tenggara, tepatnya di sebuah negara kepulauan,yang tak pernah bercengkerama dengan suhu -25 derajat selsius.

Banyak pelajaran menarik yang aku temui selama pengembaraanku mencari sebongkah ilmu pengetahuan. Termasuk kisah ku yang "terdampar" di kota ini. Perasaan terbuang dan terasingkan karena tak ada seorangpun yang aku kenal kecuali seorang professor muda yang telah tinggal lebih dari 10 tahun di kota ini. Kota ini tak pernah terbayangkan sebelumnya seperti apa. Tapi itulah seni dan suka duka sebuah perjalanan dan penjelajahan. Ketika anda berani berjalan maka anda harus berani menghadapi segala ketidak mungkinan yang akan terjadi.Sekalipun nyawa anda meski terancam.

Aku masih ingat jelas ketika baru sampai di Kanada, saat itu bis mulai berangkat tepat pukul 1 malam dari toronto. Salju pun turun sangat kencang, hingga anginya menusuk dan mencoba menembus beberapa tas yang penuh pakaian. Uangpun hanya ada seadanya. Seorang teman mengantarku ke stasiun bis greyhound, bis antar kota yang paling terkenal di Kanada. Bis itu membawaku pergi meninggalkan toronto, kota yang paling hiruk-pikuk di negara yang terkenal karena saljunya. Aku terlelap ditengah perjalanan sambil menahan rasa dingin yang telah menjalar hingga ke seluruh sel-sel pembuluh darahku. Darahku rasanya telah membeku dan tak mengalir di seluruh tubuhku. Aku mulai merasa takut karena aku manusia biasa. Nyaliku seakan menciut. Benar-benar menciut. Seperti balon gas yang dibuka tutupnya dan hendak melejit ke atas langit untuk terbang sejauh mungkin dari tempat ini. Aku kaget ketika aku terbangun di tengah jalan. Semua bebatuan yang berwarna hitam kelam nampak menjadi putih. Batu besar itu menjelma menjadi sebongkah butiran-butiran salju putih yang nampak mencekam di tengah malam.

Tak pernah terbayang olehku betapa mengerikannya salju ditengah malam, amat jauh dari bayangan dan angan-anganku tentang salju selama ini. Aku selalu membayangkan bahwa salju itu indah, tapi rupanya malam itu, segala impian dan bayang-bayangku berubah tentang salju dan musim dingin. Persepsiku berubah dan selama ini persepsiku salah besar. Aku tak percaya televisi yang selalu menggambarkan betapa indahnya salju. Ah, salju itu menyeramkan. Membuat jantungku harus bekerja ekstra dan memompa darah sekuat-sekuatnya hingga ke ujung kakiku.

Aku menjadi semakin takut dan seakan ingin kembali ke tanah air. Perjalanan sebatang kara membuatku hampir menyerah di tengah-tengah perjalanan. Tapi aku teringat apa yang telah aku tanamkan dalam-dalam pada titik sanubariku. Sekali aku langkahkan kakiku untuk mengembara, pantang bagiku untuk kembali walau hanya mundur satu langkah sebelum tujuan pengembaraaanku ada di depan mata. Dalam kesunyian yang aku jalani, aku mempunyai keinginan dan kerinduan yang sangat mendesak. Apa itu?. Keinginan mempunyai pacar ? ah tidak...Keinginan kembali ke tanah air ?, tentu tidak karena pantang aku injakkan tumitku sebelum aku gapai cita-citaku. Keinginan menjadi seorang kaya-raya ketika kembali ke tanah air ? Ah tidak, aku bukan orang yang gila uang walau hidup agak melarat :), tapi aku menikmati suka duka mencari ilmu.

Lalu apa ?. Aku ingin mempunyai teman-teman muda dari Indonesia hingga membentuk keakraban seperti keluarga. Berapapun jumlahnya tak mengapa walau sedikit. Sedikitnya jumlah orang dari negara asal, maka biasanya akan menjadi semakin akrab dan punya ikatan emosi yang sangat kuat.Ingin sekali rasanya mimpi itu menjadi nyata. Tapi aku pikir, itu tidak mungkin. Itu hanya mimpi di siang bolong. Aku agak pesimis, tapi tetap aku simpan dalam-dalam mimpiku itu dengan sedikit harapan. Masih ada kemungkinan, tapi entah kapan dan bagaimana.

Lama sudah aku simpan mimpi dan cita-citaku itu dalam-dalam. Satu tahun telah bergulir. Tapi keadaan tak berubah. Mimpi itu masih tetap menjadi mimpi. Semakin lama semakin dilumat waktu yang terus berjalan menuju kiamat. Aku masih tetap berharap. Musim demi musim telah berganti. Sedih, senang, kecewa, bahagia, pahit, dan manis telah aku kecap semuanya. Tapi tetap belum ada tanda-tanda cita-citaku akan menjadi kenyataan. Semangatku turun. Hampir aku lepas mimpi yang tak mungkin itu: berharap ada sekumpulan orang indonesia berjiwa dan berusia muda serta mempunyai keakraban yang luar biasa. Hingga merasa seperti saudara dan keluarga yang penuh kehangatan. Lagi-lagi tak ada tanda-tanda bahwa itu akan jadi kenyataan. Aku mulai melupakannya sedikit demi sedikit karena aku makin merasa bahwa itu semakin tidak mungkin.

Ketika kita bermimpi, maka segala anggota tubuh,orang-orang di sekeliling, dan juga keadaan di sekitar kita, mencoba untuk menjawab mimpi-mimpi itu. Bermimpilah !! karena mimpi itu keinginan yang terpendam untuk sesaat.

Aku tak menyangka bahwa saat ini, detik ini ketika aku hela nafasku di tengah-tengah dinginnya udara yang mencekam di luar, mimpi itu menjadi nyata dan benar-benar nyata. Aku telah menemukan teman-teman muda dengan keluarganya yang bahagia, walau aku belum berkeluarga(**off the record :)tapi aku tahu apa itu bahagia dalam keluarga.Dan satu lagi, kami mempunyai hubungan sangat erat karena kami telah menjelma menjadi seperti keluarga. Kecil keluarga kami tapi harmonis. Kecil jumlah kami tapi besar keluarga kami. Karena kami orang-orang muda yang mempunyai jiwa yang tak pernah tua. Karena kami selalu tertawa, berbagi bersama, bernyanyi seirama seperti layaknya sanak saudara dalam satu darah. Ini adalah nyata. Mimpiku terwujud !!.

Kini aku percaya. Sesulit apapun hidup yang kita jalani, selama kita berani bermimpi dan terus kita genggam mimpi itu. Walau merapi goncang, walau awan panas memanggang manusia, walau Tsunami menghantam warga yang tak berdosa, maka suatu saat mimpi itu akan menjadi nyata. Iya...nyata seperti apa yang kamu rasakan sewaktu membaca tulisan ini. Nyata seperti bumi yang sedang kamu pijak saat ini. Nyata seperti warna yang kamu lihat. Nyata seperti bayi yang terlahir dari rahim seorang wanita.

Tak ada guna engkau takut untuk bermimpi. Hidup hanya sekali. Sekali engkau mati maka tak ada lagi waktu untuk bermimpi, karena bermimpi hanya ada di dunia ketika engkau masih bernyawa. Maka bermimpilah karena mimpi hanya sekali.

Detik jarum jam terus bergulir mengiringi tetesan salju yang mencair di kaca jendela. Kini aku yakin. Benar-benar yakin bahwa mimpi akan merubah hidup. Jangan pernah engkau remehkan mimpimu. Jangan pernah engkau lepas mimpi yang engkau punya, walau kesulitan terus membungkam. Jangan !! jangan pernah engkau serahkan mimpimu pada kenyataan yang sulit. Karena kesulitan itu hanya sesaat. Benar. Hanya sesaat. Hidup yang selalu dilingkari oleh takdir akan selalu bergulir. Karena mimpilah yang akan menggulirkan takdir.

Salju itu turun lagi lalu membentur kaca jendela kamarku….

Sudbury, 6 November, 2010
11.48 malam